
Yu keluar dari apartemen Yoshiro dan tidak menyadari dia berpapasan dengan Kosuke, tangan kanan Ken.
"Putus hubungan? Bukankah itu nona Ebisawa?" gumam Kosuke lirih. Ia terpaksa meneruskan langkahnya ke dalam lift, menelan rasa penasarannya. Ia naik ke lantai tiga belas dimana Yoshiro berada.
Ting
Denting lift bersamaan membukanya pintu besi itu membuat Kosuke segera melangkah menapaki koridor panjang yang sepi. Tidak ada seorang pun di sana.
Kosuke berhenti di depan sebuah pintu berwarna abu-abu dan bersiap menekan bel. Di saat yang bersamaan, pintu terbuka menampilkan Shun yang muncul dari kediaman Yoshiro.
"Selamat siang, Tuan Oguri," sapa Kosuke sambil membungkukkan badannya pada pria mengerikan yang pernah bersiteru dengan tuan mudanya beberapa bulan yang lalu.
"Hmm ... " gumam Shun sebelum berlalu. Ia tidak memiliki waktu untuk beramah tamah dengan pria ini. Ada hal lebih penting yang harus ia lakukan, mencari tahu simbol yang tertera di jaket Yu.
"Kebetulan Anda ada di sini. Ada pesan dari tuan Yamazaki untuk Anda dan tuan Yoshiro." Kosuke memberanikan diri mencegat Shun, membuat langkah panjangnya seketika terhenti
"Ada apa?"
Tanpa menunggu waktu lama, Shun membawa Kosuke masuk. Kini ketiganya duduk bersama di ruang tamu kediaman Yoshiro.
"Ada masalah apa sampai tuan mudamu meminta bantuan kami?" tanya Shun to the point. Ia tidak suka berbasa basi saat menghadapi masalah.
Kosuke meletakkan foto seorang pria dengan tato sayap di belakang lehernya.
"Apa Anda mengenalnya?" tanya Kosuke pada Yoshiro yang duduk di depannya.
Diam
Yoshiro tidak menjawab sepatah kata pun. Ia tahu siapa pria yang ada dalam potret itu. Pria itu adalah seseorang yang sangat ingin ia singkirkan agar Yu kembali padanya.
"Siapa?" Shun mengambil gambar yang ada di meja dan mengamatinya.
"Dia pria waktu itu?" tanya Shun pada Yoshiro yang hanya dijawab dengan anggukan.
"Pantas saja aku seperti mengenal simbol itu. Jadi dia benar-benar datang kemari?" Shun menarik sebelah bibirnya, rasa penasarannya terjawab sudah.
"Maaf?" Kosuke ingin tahu apa yang dibicarakan oleh dua orang ini.
"Dia muncul di depan publik sehari setelah ayahnya meninggal dan mengambil alih perusahaan yang hampir gulung tikar," jelas Shun, "Dia merajai penjualan obat kimia berbahaya di pasar gelap."
Glek
Kosuke terpaksa menelan ludahnya begitu mendengar kalimat yang Shun lontarkan. Ia tidak tahu jika keberadaan tuan G atau Kwon Ji Yong ini begitu berbahaya. Pantas saja Ken begitu waspada terkait kerjasama Circle K dan Miracle.
"Apa yang Ken ingin kami lakukan?" tanya Yoshiro angkat bicara setelah terdiam cukup lama.
"Ini terkait dengan kerjasama Miracle dan Circle K. Tuan Yamazaki ingin memastikan tidak ada kecurangan apapun yang mereka lakukan. Jadi, bisakah Anda berdua membantu kami?"
Kosuke mengeluarkan dua buah kartu tanda pengenal dari dalam saku jasnya dan menunjukkan itu pada Yoshiro dan Shun. Di masing-masing kartu itu tampak potret beserta nama mereka. Di bagian atasnya tertulis posisi yang akan mereka masuki : Site Supervisor.
"Pengawas Lapangan? Apa dia gila?" sindir Shun. Ia merasa posisi itu tidak benar, sama sekali bukan keahliannya. Dia dan Yoshiro bekerja menciptakan obat-obatan berbahaya. Mereka terbiasa berkutat dengan larutan kimia di dalam laboratorium berhari-hari atau bahkan berbulan-bulan, menelitinya guna menciptakan inovasi baru di dunia medis. Dan sekarang Ken memintanya bekerja di lapangan?
"Yang benar saja." Shun tampak meremehkan perintah Ken untuknya.
"Jadi, apa tugas kami?" tanya Yoshiro serius, membuat Shun membelalakkan matanya. Dia tidak menyangka Yoshiro akan menerima pekerjaan itu.
"Pengawas lapangan (Site Supervisor) bertugas memastikan pekerjaan sesuai gambar kerja, rincian anggaran biaya, dan jadwal lain yang mengikutinya. Berikut daftar pekerjaan yang harus Anda lakukan," Kosuke mengeluarkan dokumen dari tas yang dibawanya. Disana tertera daftar tugas yang harus pengawas lapangan lakukan.
"Site Supervisor harus mengawasi penerimaan & pengeluaran barang selama proyek pembangunan gedung baru berlangsung. Akan ada laporan kemajuan pekerjaan secara periodik yang dilaporkan pada penanggung jawab proyek. Selain itu, pengawas lapangan mengkoordinir pembuatan gambar yang sesuai dengan pelaksanaan di lapangan (As Built Drawing). Tuan Yamazaki curiga mereka akan membuat satu titik kelemahan pada gedung yang baru dibangun itu dan memicu masalah lain kedepannya. Dengan menempatkan Anda, kita bisa mengantisipasi hal-hal buruk yang mereka rencanakan."
"Kenapa tidak meminta orang lain saja?" Shun masih belum bisa menerima tugas barunya.
"Selain beberapa tugas di atas, Anda juga harus mengelola manajemen tenaga kerja dan perhitungan opname di lapangan. Tuan tidak ingin ada manipulasi sekecil apapun termasuk jumlah kebutuhan material harus sesuai keadaan di lapangan," pungkas Kosuke.
"Itu mudah," ucap Yoshiro mengambil satu kartu atas namanya yang sedari tadi tergeletak di atas meja.
__ADS_1
"Apa kamu bercanda?" Shun menuntut penjelasan Yoshiro yang menerima pekerjaan kasar ini.
"Ada yang lain?" tanya Yoshiro pada Kosuke. Ia tidak peduli pada Shun yang masih tidak setuju dengan keputusannya.
"Posisi ini bertanggung jawab untuk mengatur dan mengawasi keberlangsungan on going progress dari sisi finansial, waktu, & perencanaan. Hanya itu saja intinya," terang Kosuke menyudahi penjelasannya.
"Baiklah. Kapan aku mulai bekerja?" tanya Yoshiro.
...****************...
Sementara itu, di tempat lain tampak Aira dan nyonya Sumari keluar dari mobil yang Minami kendarai. Mereka masuk ke dalam rumah sakit dimana Ken sudah setia menunggunya disana sejak beberapa menit yang lalu. Ia datang dari kantor setelah mengurus beberapa pekerjaan yang tidak bisa ia wakilkan.
"Selamat datang Tuan, Nyonya. Silakan sebelah sini," seorang perawat membimbing ke empat orang itu masuk ke ruang pemeriksaan. Ken sudah membuat janji temu lebih dulu, jadi mereka tidak perlu antre seperti pasien yang lain.
Dokter Maeda tersenyum menyambut pasien khususnya ini. Ia senang karena melihat wanita hamil di depannya tampak lebih segar dibanding kemarin.
"Selamat datang kembali, Nyonya Yamazaki," sapa wanita dengan kacamata di atas hidungnya itu.
"Maaf merepotkan Anda lagi, Dok. Ibu dan suami saya ingin melihat mereka," ucap Aira merasa tak enak hati. Kemarin ia sudah datang bersama Minami, dan ternyata hari ini ia datang lagi.
"Tidak masalah. Saya juga ikut senang melihat betapa aktifnya putra Anda di dalam sana."
Aira mengangguk. Ia mengiyakan perkataan dokter cantik yang berusia sekitar empat puluh tahun itu. Jika bisa, Aira ingin melihat perkembangan anak-anaknya setiap hari, atau setiap pagi-siang-sore, atau bahkan setiap jam. Ia begitu bahagia menyaksikan tumbuh kembang ketiga janinnya yang diperkirakan berjenis kelamin laki-laki itu.
"Mari, silakan."
Aira naik ke atas ranjang pemeriksaan dengan hati-hati. Ia membaringkan tubuhnya dan membuka pakaian yang menutupi perutnya. Perawat yang membawa mereka masuk tadi, kini tengah mengoleskan gel di perut buncit Aira tempat kehidupan baru ketiga calon bayi itu berada.
"Umm," Aira memegangi perutnya saat merasakan tendangan yang cukup keras.
"Anda baik-baik saja?" tanya dokter Maeda saat melihat Aira yang seolah menahan sakit setelah janin di dalam perutnya bergerak.
"Umm, hanya sedikit terkejut, Dok."
Dokter Maeda kembali tersenyum, ia menengok ke arah Ken yang berada cukup jauh dari mereka, "Tuan, mungkin Anda bisa menenangkan mereka selama pemeriksaan ini."
"Anda bisa mengelus perut istri Anda. Mereka akan lebih tenang saat merasakan kasih sayang dari orang-orang yang paling dekat dengan mereka. Selain itu di usia kehamilan ini, mereka sudah bisa mendengar suara-suara."
Ken mendekat dibantu oleh Minami. Ia menuruti saran dokter yaitu mulai meletakkan tangannya di atas perut Aira yang membesar.
Blush
Seketika wajah Ken memerah saat merasakan pergerakan dari anak-anaknya. Ia juga malu karena semua orang di ruangan itu memperhatikannya.
"Ada apa dengan wajahmu? Kamu sakit?" tanya Aira khawatir karena wajah Ken merah padam.
"Suami Anda tidak sakit, hanya sedikit pemalu, Nyonya," celoteh dokter Maeda.
Aira menutup mulutnya dengan tangan, kebiasaannya saat tertawa. Hal itu membuat Ken memalingkan wajahnya, enggan bertatapan dengan siapapun.
"Baiklah, kita mulai pemeriksaannya." Dokter Maeda mulai menggerakkan transducer di atas permukaan perut Aira.
"Nyonya, lihatlah. Itu ketiga cucu Anda, mereka tumbuh dengan sangat baik di dalam sana. Nyonya Aira benar-benar luar biasa," puji dokter Maeda sembari menatap nyonya Sumari.
"Tiga? Aku punya tiga cucu sekaligus?" tanya ibu mertua Aira dengan pandangan tak percaya. Ia menatap Aira dan Ken bergantian, meminta penjelasan karena mereka berdua tidak mengatakannya.
"Benar, Bu. Bayi kami kembar tiga. Maaf karena tidak mengatakannya pada ibu. Kami ingin memberikan kejutan pada semua orang." Aira menjawab protes ibunya.
"Ini benar-benar kejutan. Terima kasih, Sayang." Ibu mencium pipi Aira dengan penuh kasih sayang. Ia benar-benar bahagia dengan berita baik ini.
Dokter Maeda menatap interaksi keluarga di depannya dan ikut merasakan kebahagiaan yang menyelimuti mereka. Ia kembali menggerakkan alat pemeriksaan USG itu dengan hati-hati.
"Memasuki minggu ke 24 ini, tulang dalam telinga bayi telah mengeras, ia dapat mendengar suara dari luar. Anda bisa memberikan mereka perlakuan harian dengan membaca, berbicara, atau bernyanyi. Semakin banyak ia mendengar suara sang ibu, semakin ia mengenalnya ketika kelak akan lahir."
"Apa mereka baik-baik saja?" tanya Ken khawatir. Ia takut terjadi sesuatu pada mereka akibat sikap Aira yang begitu agresif dan membuatnya tidak bisa menolak keinginan istrinya untuk melakukan hal 'itu'. Ia merasa tidak puas dengan jawaban Kaori semalam. Dalam hatinya masih terbersit sedikit ketakutan tentang kemungkinan aktivitas luar biasa itu bisa menyakiti mereka.
"Anda tidak perlu khawatir, Tuan. Masing-masing dari mereka memiliki Kantong Super yaitu cairan ketuban yang melindungi mereka dari gangguan yang berasal dari luar. Cairan ketuban yang melingkupi janin menjadi tempat yang sempurna untuk bertumbuhnya sang janin menjadi bayi yang terlahir sehat. Cairan bergaram itu memberinya kehangatan, melindunginya dari infeksi, mengapungkan tubuhnya yang sedang berkembang. Saat ini, cairan ketuban berisi sekitar segelas besar air yang berganti setiap tiga sampai empat jam."
__ADS_1
"Ukuran mereka sekarang sekitar 0,45 kg dengan panjang 22,9 cm hingga 25,4 cm, kira-kira seukuran panjang boneka barbie. Mereka sangat menggemaskan, bukan begitu, Tuan?" Dokter Maeda sengaja menggoda Ken yang sedari tadi hanya terdiam di tempatnya berdiri.
"Ah, apa Anda sudah masuk kelas khusus ibu hamil?" tanya dokter Maeda begitu selesai memeriksa Aira. Ia meletakkan alat pemeriksaan itu ke tempatnya semula dan kembali ke belakang mejanya.
"Belum, Dok," jawab Aira.
"Perihal itu, Anda bisa menanyakannya pada perawat di depan. Kebanyakan pendidikan tentang kelahiran anak dirancang mulai pada kehamilan usia 32 minggu. Namun, untuk kondisi khusus seperti kehamilan Anda ini, alangkah baiknya jika masuk kelas lebih awal karena Bayi kembar biasanya lebih cepat lahir dibanding kehamilan bayi tunggal."
"Selain itu, banyak wanita menderita anemia dan menjadi kekurangan zat besi selama masa kehamilan. Gejala-gejalanya adalah seperti merasa kelelahan, lemah, lemas, napas pendek, dan jatuh pingsan. Untuk mencegah kekurangan zat besi ini, Anda bisa mengonsumsi makanan dengan kandungan zat besi tinggi seperti hati, daging merah, sirup, sayur daun bayam dan semacamnya."
"Mereka mulai bergerak, Dok?" tanya Ken penasaran. Selama ini ia tidak pernah memperhatikan perut istrinya. Ini pertama kalinya ia merasakan pergerakan mereka.
"Kamu tidak pernah mengelus perut istrimu sebelumnya?" tanya ibu dengan raut wajah heran membuat pipi Ken kembali memerah.
"Makanya jangan membelakangiku saat tidur," bisik Aira tepat di telinga Ken yang juga ikut memerah.
"Dia malu, Bu." jawab Aira seadanya.
Ya, memang benar adanya. Ken selalu menolak saat Aira memintanya mengelus perutnya. Pria itu memilih menyembunyikan tangannya dengan berbalik membelakangi Aira.
"Bayi paling aktif antara usia kehamilan minggu ke-24 dan minggu ke-28. Setelah itu, tidak akan ada cukup ruang untuknya menyempurnakan gerakan atau posisi menyelamnya. Terlebih ada tiga jagoan di dalam sana. Nyonya Aira mungkin akan merasakan 'nikmat' yang lebih saat mereka menendang-nendang."
Aira hanya tersenyum menanggapi penjelasan dokter. Ia meraih tangan Ken dan membawanya ke perut, tepat saat salah satu bayinya bergerak.
Deg!
Jantung Ken seolah berhenti satu detakan saat merasakan kehidupan baru yang ada di dalam sana. Antara senang, malu dan ingin merasakannya lagi. Ia menyesal karena selama ini tidak pernah menuruti permintaan Aira untuk mengelus ketiga putranya itu.
"Karena besar kandungan Anda, sebaiknya Anda mulai bersiap untuk kerepotan menjelang kelahiran. Mulai sekarang dan selanjutnya, Anda perlu senantiasa memperhatikan tanda-tanda menjelang kelahiran. Gejala yang paling sering adalah rasa pegal seperti akan menstruasi, kontraksi pada uterine/peranakan, tekanan pada pinggul (seakan-akan bayi menekan ke bawah) atau kebocoran cairan atau ada sesuatu yang keluar dari organ reproduksi Anda."
"Tolong berilah perhatian kepada tubuh Anda; jika gejala semacam itu seringkali terasa menetap cukup lama tak mau hilang, segeralah hubungi dokter atau perawat kesehatan. Anda memerlukan perhatian dan penanganan medis segera."
"Baik, Dok. Terima kasih atas penjelasan Anda," ucap Aira.
Aira, Ken, ibu dan Minami meninggalkan tempat itu setelah berpamitan. Mereka keluar menuju parkiran. Tepat saat itu Kosuke datang untuk menjemput tuan mudanya.
"Selamat siang, Nyonya," sapa Kosuke pada nyonya Sumari yang setia memeluk lengan menantunya yang tengah berbadan empat. Sungguh terdengar aneh, tapi itulah kenyataannya. Jika pada kehamilan tunggal, ibu hamil sering disebut berbadan dua. Maka untuk Aira yang menyimpan triplets di perutnya, maka ia bisa disebut berbadan empat.
"Siang. Kamu datang untuk menjemput Ken?" tanya nyonya Sumari sambil tersenyum, "Atau menjemput istrimu?" goda wanita paruh baya itu pada asisten pribadi anaknya.
Kosuke tersenyum canggung, "Saya lebih memilih tuan muda dibanding istri saya sendiri," jawabnya berkelakar.
"Baiklah. Tolong jaga dia."
Kosuke tersenyum, ia membukakan pintu belakang mobil yang ia kendarai. Meminta Ken untuk masuk.
"Maaf, Tuan ... " Kosuke membisikkan sesuatu pada tuan mudanya setelah mendengar sesuatu dari earpiece yang ada di telinganya. Ken terpaksa berhenti tepat sebelum masuk ke mobil.
*earpiece: alat bantu dengar yang digunakan oleh orang-orang tertentu untuk menghubungkannya dengan agen yang lain.
"Seseorang mengikuti kita. Saya khawatir dengan keselamatan Nona dan Nyonya," bisiknya.
"Perketat penjagaan. Tambah pengawal bayangan untuk menyertai mereka!" perintah Ken lirih namun tegas.
"Baik!" jawab Kosuke. Ia menatap Minami dan menunjukkan jari kelingkingnya, menandakan bahwa istrinya harus waspada menjaga Aira.
Minami menganggukkan kepalanya. Ia menangkap isyarat yang diberikan oleh suaminya. Tangannya masuk ke saku jas dan diam-diam menyalakan GPS yang sedari tadi tersimpan di sana.
"Ada apa?" tanya Aira. Ia tahu Kosuke mengirimkan kode pada Minami.
"Tidak apa-apa, Nona. Mari," Minami membukakan pintu belakang mobil yang akan ia kendarai. Dari sudut matanya ia bisa melihat seseorang berbaju hitam yang berdiri di atap rumah sakit ini. Dia mengintai mereka dari kejauhan.
...****************...
Beuuhh tegang rasanya bikin endingnya 😥
Semoga Aira baik-baik saja.
__ADS_1
Hanazawa Easzy 🍁