
Yamaken menatap Kosuke dan Minami dengan pandangan serius. Dia tahu kedatangan dua orang ini membawa hal yang serius untuk dibicarakan.
"Sebenarnya kami datang kemari untuk menyampaikan sesuatu."
Kening Mone berkerut, dia belum tahu kemana arah pembicaraan mereka.
Seketika Kosuke kembali meragu, tapi kemudian Minami menguatkan dengan menggenggam tangan suaminya itu erat-erat.
"Katakan saja," ungkapnya sambil menganggukkan kepala dua kali. Dia yakin Mone maupun Yamaken tidak akan melakukan sesuatu yang berbahaya. Keduanya bisa berpikir dewasa.
Kosuke kembali mengambil napas dalam-dalam.
"Nona Kamishiraishi, ada dua kabar untuk Anda. Satu kabar baik sedangkan yang lainnya kabar buruk. Mana yang ingin Anda dengar lebih dulu?"
Mone ikut tegang. "Aku tidak tahu. Katakan saja semuanya."
Kosuke membuka mulutnya, tapi kemudian menutup lagi detik berikutnya. Lidahnya terlalu kelu untuk mengatakan bahwa Anna datang dan diam-diam membuat masalah. Mungkinkah gadis mungil ini akan mempercayai ucapannya? Atau justru lebih membela Anna nantinya?
"Ada apa?" Kali ini Yamaken yang ikut bersuara. Dia tidak tahan melihat keragu-raguan yang tengah menghalangi Kosuke. Sebelumnya, dia tidak pernah seperti ini.
"Anda masih mengingat ibu angkat Anda?" Minami ambil bicara setelah beberapa detik tanpa suara. Tampaknya Kosuke kesulitan mencari kata yang tepat. Jadilah Sang Istri yang mengambil alih keadaan.
"Ibu angkatku? Maksudmu Anna Vyatcheslavovna?" Mone menatap Minami dan Kosuke dengan pandangan heran.
Minami mengangguk mantap. Dia siap mengungkapkan fakta yang ada dan membuat Kosuke lega. Memang seringkali wanita lebih bisa diandalkan untuk urusan pembicaraan yang sensitif seperti sekarang. Dengan kemampuan berbicara yang dimilikinya, mereka bisa memilah kata yang tepat sesuai keadaan yang ada.
"Ada apa dengannya?" Mone mulai bertanya-tanya. Tidak mungkin dia lupa pada wanita yang sudah merawatnya kurang lebih selama lima tahun itu. Yah, meskipun sebenarnya hubungan mereka tidak begitu baik.
"Dia datang," jawab Minami singkat.
Dua kata yang diucapkan oleh wanita hamil itu berhasil membuat sepasang netra Mone membola. "Da-datang?"
Kosuke dan Minami mengangguk bersamaan.
"Benar. Anna masih hidup." Kali ini Kosuke berani bersuara. "Bahkan itu juga yang membuat Tuan Besar mengirim tuan Yamazaki Kenzo dan nona Aira ke Indonesia."
"Eh? Kakak dikirim ke Indonesia? Kenapa aku tidak tahu?" Mone tidak percaya dengan kabar yang baru saja didengarnya ini.
Dibandingkan dengan informasi tentang Anna tadi, justru Mone terlihat lebih terkejut saat Kosuke mengatakan tentang kepergian Aira kembali ke negeri asalnya. Akhir-akhir ini dia terlalu fokus dengan Yamaken sampai lupa tidak berkirim pesan dengan kakak sepupunya itu.
"Sejak kapan kakak dan kakak ipar pergi? Apa mereka baik-baik saja sekarang?"
Kosuke otomatis menoleh ke arah Sang Istri. Dia tidak menyangka fokus dan perhatian Mone justru tertuju pada Aira, bukan wanita Rusia yang pernah tinggal satu atap dengannya.
"Nona Aira dan semua keponakan kesayangan Anda baik-baik saja. Tidak ada masalah apapun. Mereka pergi sejak dua atau tiga hari yang lalu. Anda tenang saja." Minami melepaskan tangan Kosuke dan menggenggam jemari mungil Mone. "Justru Tuan Muda yang meminta kami untuk datang kemari."
Kekhawatiran yang tadi sempat menyapa gadis ini, kini sirna. "Benarkah? Syukurlah."
__ADS_1
"Kakak bilang mereka pergi bulan madu kedua. Aku tidak tahu kepergian mereka atas kehendak kakek."
Kosuke mengangguk. "Tuan dan nona pergi dengan tergesa, sebelum Anna menargetkan mereka."
"Ah, iya. Katakan semua tentang Anna dengan jelas."
Detik berikutnya, Kosuke dan Minami menjelaskan permasalahan pelik yang membuat waktu mereka tersita.
"Saya tidak tahu bagaimana dia bisa selamat dari ledakan waktu itu. Tapi, dia tiba-tiba mendatangi tuan Harada Yuki dan mengatakan bahwa Anda-lah yang telah membunuh ayahnya."
"Aku?" Mone menunjuka hidungnya sendiri.
"Benar. Dan ini masih ada hubungannya dengan kakak Anda, tuan Oguri."
"Heih. Kakakku?"
"Benar." Minami mendekatkan tubuhnya ke arah Mone, mencari posisi yang lebih nyaman.
"Tuan Yuki adalah mantan suami nona Kaori. Dan Anna sengaja ingin mengadu domba pria itu dengan kakak Anda."
Mone mengerutkan keningnya. Dia tidak bisa langsung mencerna penjelasan Minami.
"Tunggu. Maksudmu Anna datang menemui mantan suami Kaori-chan dan berharap bisa memprovokasi pria itu?"
Minami mengangguk. "Benar, Nona."
"Singkat cerita, pergerakannya berhasil terbaca oleh Tuan Muda dan kakek Anda."
Yamaken menganggukkan kepalanya berkali-kali. Dia paham tujuan kakek memaksanya untuk belajar bela diri.
"Dan tujuan utamanya adalah calon istriku ini?"
Kosuke dan Minami kembali mengangguk bersamaan. "Itu dugaan kami. Dia ingin mengacaukan hubungan tuan Yuki, kakak angkat Anda, dan juga nona Kaori. Jika mereka bertengkar dan menyingkirkan satu sama lain, bisa dipastikan Anda tidak ada dalam pengawasan tuan Oguri. Dan setelahnya, dia bisa membawa Anda kembali. Itu baru prasangka kami."
Mone memejamkan matanya. "Dia memang licik. Aku sudah tahu itu sejak lama."
"Eh? Jadi kamu...." Yamaken menatap Mone, membuat mata mereka bertumbuk di titik yang sama.
Mone menggeleng lemah. "Hubungan kami tidak sebaik itu. Sebenarnya paman Takeshi tidak pernah setuju aku tinggal dengan wanita itu. Dia itu toxic. Racun!"
"Dari mana kamu tahu tentang sifatnya itu? Bukankah dia selalu memperlakukanmu dengan biak?"
Mone mengangkat satu sudut bibirnya ke atas, kembali mengingat Anna dan segala plus minusnya.
"Tentu saja baik. Aku menyingkirkan semua musuh-musuhnya. Jika aku hanya gadis lemah tak berdaya, mungkin dia sudah membunuhku di hari pertama kami bertemu."
Kosuke dan Minami bungkam. Mereka memperhatikan apa yang tengah gadis manis ini ungkapkan. Untold story itu hanya tidak pernah mereka dengar sebelumnya.
__ADS_1
"Tunggu. Bukankah dia kenal baik dengan ayahmu?" Yamaken ingat pernah melihat mendiang ayah Mone bersama seorang wanita Rusia. Dan dia yakin wanita itu Anna.
"Benar. Anna memang dekat dengan ayahku. Tapi, dia itu tamak. Dia dan paman Takeshi lah yang sudah merencanakan pembunuhan terhadap kak Shun. Mereka berpikir kakakku akan membahayakan posisi mereka."
"Membahayakan bagaimana?" Yamaken semakin tertarik dengan ulasan yang gadisnya sampaikan.
Mone mengembuskan napas kasarnya. "Ayah memiliki riwayat sakit jantung. Setelah kakak bisa menguasai bisnis, bisa dipastikan bahwa seluruh pengelolaan aset perusahaan akan ditangani oleh kakak. Meskipun tidak ada hubungan darah, tapi ayah begitu menyayanginya. Dia tahu kakak bisa diandalkan untuk menjagaku jika dia sudah tiada."
"Dan itu dianggap sebagai sebuah ancaman. Mereka berdua... ah, lebih tepatnya, Anna ingin menguasai harta ayahku. Jika rencana pembunuhan kakak enam tahun lalu berhasil, bisa dipastikan ayah juga akan tumbang terkena serangan jantung. Dan aku yang tidak tahu apa-apa, akan mudah untuk dimanipulasi. Semua harta benda atas nama ayahku akan dengan mudah dipindahtangankan."
Hening. Ketiga orang yang duduk bersama Mone bungkam, tak ada yang bersuara sama sekali. Pembahasan mereka kali ini bukan hal yang sepele, justru mengungkapkan sisi lain Anna yang tidak banyak diketahui oleh orang.
"Tapi, yang terjadi di luar dugaan. Ayah melihat pembunuh bayaran itu dan merelakan dirinya untuk menggantikan kakak. Dan itu juga yang Anna gunakan untuk menghasutku. Dia memasukkanku ke sebuah akademi milik seorang mafia, mengatakan hanya dengan cara itulah aku bisa membalas dendam pada orang yang telah membunuh ayah."
"Dan akhirnya kamu tahu kebenarannya?" Yamaken merangkul puncak lengan gadisnya, memberikan dukungan moril padanya.
Mone mengangguk dua kali. "Benar. Aku menyelidiki kejadian itu dengan diam-diam. Dan faktanya, Anna dan paman Takeshi sama sekali bukan orang yang baik. Mereka memakai topeng malaikat, tapi pada kenyataannya hanya manusia berhati iblis."
"Mereka memanipulasi semuanya dengan begitu lihai. Selain mencuci otakku dengan memutarbalikkan fakta yang ada, ternyata mereka melakukan konspirasi dengan menyesatkan kakak. Semua data penerbanganku ke Italia dihapuskan, justru tertulis bahwa aku terbang kembali ke Thailand. Selama lima tahun itu, identitasku tersembunyi dengan baik, tak terendus sama sekali oleh agen manapun."
Mone tersenyum detik berikutnya.
"Jika bukan karena kemampuan kak Aira, mungkin aku masih terjebak dengan dua orang itu sampai sekarang. Meskipun aku sudah tahu fakta yang ada, tapi aku tidak bisa meninggalkan mereka. Diam-diam aku mengalihkan aset ayah yang sempat Anna akui sebagai miliknya. Dia itu maniak uang. Semua uang milik orang lain ingin dia ambil. Itu juga yang membuat paman Takeshi tidak bisa melepaskan istrinya."
Yamaken mengerutkan keningnya, menantikan penuturan dari Mone tentang kisah hidup mendiang tuan Takeshi Kaneshiro dan istrinya.
"Paman tahu tentang kelainan mental yang dialami oleh Anna. Itu sebabnya dia tidak pernah melepaskan pandangan dari istrinya. Jika tidak ada yang mengendalikan emosinya, dia jadi seperti orang gila. Ayahnya seorang mafia, tentu dia bisa menghancurkan apa saja yang ada di hadapannya dengan kekuasaan para tukang pukul itu."
"Dan itu pula yang membuat paman setuju untuk menahanku di sisi Anna. Diam-diam dia memangkas ketergantungan Anna pada orang-orang suruhan ayahnya, yaitu dengan menggunakan kemampuan khususku. Paman Takeshi sudah memikirkan semuanya dengan matang."
"Dia tidak terlalu jahat padaku. Justru, dia ingin aku lebih kuat lagi dan bisa menyingkirkan Anna nantinya. Tapi, siapa sangka justru kak Aira menemukanku lebih dulu dan peristiwa tak terduga itu terjadi. Itu sebabnya aku seolah tidak bisa menerima kematian paman begitu saja. Meski terlihat jahat, dia tidak sepenuhnya seperti itu. Dia benar-benar melindungiku dari penguasaan Sang Istri."
Kosuke dan Minami tak bisa berkata-kata. Mereka ingat seperti apa ekspresi Mone beberapa hari setelah peristiwa ledakan di kediaman Takeshi Kaneshiro itu. Gadis berwajah bulat ini seperti mayat hidup, tidak memiliki semangat sama sekali. Dia menganggap satu-satunya alasan untuk bertahan hidup adalah pamannya itu, tapi ternyata dia telah tiada.
"Aku yakin paman Takeshi bisa menyelamatkan diri dari situasi saat itu. Tapi, dia justru mengorbankan dirinya sendiri untuk menyingkirkan keberadaan Anna. Siapa sangka yang terjadi justru sebaliknya?" Bulir air muncul di sudut mata Mone. "Ternyata, Anna masih hidup sampai sekarang. Pengorbanan paman sia-sia saja."
Yamaken menarik tubuh mungil itu ke dalam dekapannya. "Itu bukan salahmu sama sekali. Semua sudah tertulis bahkan sebelum kita lahir ke dunia ini."
"Aku tahu." Mone menghapus satu tetes air mata yang membasahi permukaan wajahnya.
"Sampai dimana pembicaraan kita?"
* * *
Sampai jumpa episode berikutnya. See you...
Salam sayang dari Author,
__ADS_1
Hanazawa Easzy