Gangster Boy

Gangster Boy
Season 2 : Hello Baby Boy


__ADS_3

Aira terduduk di lantai. Ia memeluk lutut dan menyembunyikan wajahnya yang berurai air mata. Ia merasa bersalah karena telah menyakiti perasaan Ken. Bukannya marah, Ken justru memakaikan kalung itu padanya. Mengizinkannya tetap mengingat Yudha, cinta pertamanya.


Ken kembali mendekat dan menepuk punggung istrinya dengan lembut, memberikan ketenangan tersendiri di hati Aira yang masih menangis tergugu tanpa suara.


Tanpa Aira ketahui, sebulir air mata berhasil luruh melewati pipi Ken yang berusaha tersenyum. Ia menangis dalam diam seperti saat Erina pergi.


"Gomen ne..." lirih Aira sambil memeluk Ken, menyembunyikan wajah yang berlinang air mata itu di dalam dekapan suaminya.


(Gomen ne : maaf)


Ken balas memeluk Aira dengan erat, menimbulkan kehangatan tersendiri di hatinya. Luka yang Erina tinggalkan perlahan terobati oleh rasa cinta yang timbul untuk Aira. Jemarinya bergerak perlahan mengelus ujung kepala istrinya. Menyentuh helaian lembut mahkota yang selama ini Aira sembunyikan.


Cup


Ken mencium puncak kepala istrinya, membuat wanita itu mengurai pelukannya dan segera menatap wajah tampan di hadapannya.


"Kenapa kamu begitu baik padaku?" tanya Aira heran.


"Karena kamu istriku, calon ibu dari anak-anakku. Tidak peduli seperti apa masa lalumu, aku memiliki janji kehidupan yang lebih baik untukmu di masa depan." Ken kembali menarik Aira ke dalam pelukan. Membuat istrinya mencium aroma mint yang menguar dari tubuh atletisnya. Ya, Ken baru saja mandi sebelum berkutat di dapur


"Terima kasih.." lirih Aira hampir tak terdengar.


Ken mengurai pelukannya dan menghapus air mata yang sempat menganak sungai di wajah ayu istrinya. Ia tersenyum hangat menunjukkan betapa ia bahagia bisa melihat wajah cinta keduanya yang akan jadi cinta terakhirnya. Semoga saja...


Aira meraih kedua tangan Ken dan menggenggamnya dengan erat, ia tidak bisa berkata-kata lagi untuk menyampaikan kebahagiaannya. Berjuta bunga bermekaran di hatinya, menyambut ketulusan Ken yang tetap mengizinkannya memakai kalung silver dari seseorang di masa lalunya.


Ken menempelkan hidungnya mendekat pada Aira dan tersenyum, "Tetaplah disisiku, temani aku dan anak-anak kita.." ucapnya tulus membuat mata Aira kembali berkaca-kaca. Ia mengangguk sambil menggigit bibir bawahnya. Hal itu tak lepas dari perhatian kedua netra Ken.


"Apa kamu ingin menggodaku?" tanya Ken seduktif/menggoda.


"Hah? Apa?" tanya Aira tak mengerti, "Siapa yang menggoda siapa?" Wajah polosnya benar-benar lucu membuat Ken semakin gemas.


"Sudah pernah ku katakan jangan menggigit bibir bawahmu, atau aku tidak akan menahan diri lagi." bisik Ken yang membuat Aira bergidik ngeri. Pundaknya berjengit membayangkan apa yang ada di pikiran suaminya.

__ADS_1


(berjengit \= bergidik : ekspresi kaget, takut atau respon seseorang karena terkejut. *itu si penafsiran author ya, ngga tau bener atau salah. Gomen ne kalo kurang tepat 😟)


Ken semakin mendekatkan wajahnya ke bibir Aira membuat wanita chubby itu menarik kepalanya ke belakang. Jantungnya berdetak lebih kencang dan tak beraturan. Nafasnya mulai memburu, membuat Ken merasakan hembusan hangat di wajahnya. Jarak keduanya semakin dekat, hanya tersisa beberapa centimeter. Hingga...


Miaww


Kucing Persia yang Ken beli sebelumnya naik ke pangkuan Aira dan menyurukkan kepalanya di antara kedua tuannya. Seolah tak rela jika ia tak ikut andil bagian atas kebahagiaan mereka. Kucing berwarna putih kelabu itu tampak nyaman dan mulai menutup matanya. Tak peduli pada wajah tuannya yang merah padam menahan emosi. Ya, hal lain justru terjadi pada Ken, ia kesal karena momen bahagianya yang hendak mencium Aira justru gagal. Hal itu membuatnya menyesal telah membawa hewan kesukaan Erina masuk ke rumahnya dan Aira.


Melihat kesempatan yang ada, Aira segera menggendong kucing itu dan menjauh dari Ken. Ia duduk di atas kursi dan meletakkan hewan berkaki empat itu di atas pangkuannya. Mengelus punggungnya perlahan, membuatnya semakin merasa nyaman. Ah, sebenarnya Aira tak begitu menyukai hewan. Apalagi hewan itu kesukaan Erina, semakin membuatnya tidak tertarik. Hanya saja ia rasa perlu bersikap baik padanya sebagai ucapan terima kasih karena bisa membuatnya lolos dari serangan Ken.


'Mungkin saja dia akan berguna lain waktu,' lirihnya dalam hati.


Ken merebut kucing itu dari tangan Aira, dan sebagai gantinya ia meletakkan kepalanya di pangkuan istrinya itu. Ia berusaha mengikis rasa canggung yang sebelumnya tercipta, membuat Aira membulatkan matanya.


Miaww


Kucing malang itu tergeletak begitu saja di atas bulu sintetis berwarna ungu, warna kesukaan istrinya. Aira hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Ken yang kekanak-kanakan. Ini bukan yang pertama kalinya Ken bersikap aneh di depannya.


"Apa kamu cemburu pada kucing?" tanya Aira merasa sebal dengan sikap Ken kali ini.


"Hello baby boy.." ucapnya setelah mencium perut rata Aira. Ia semakin mengetatkan pelukannya, membuat Aira merasa jengah/risih. Ia memutar bola matanya dengan kesal.


"Kembalikan kucing itu ke tempatnya semula !!" tegas Aira pada Ken, tapi suaminya itu tak merespon. Menulikan telinga agar kenyamanannya tak terusik.


(menulikan : me + tuli + kan \= pura-pura tuli)


"Aku tahu kamu mendengarku. Kembalikan atau menjauh dariku malam ini !" ancaman Aira berhasil membuat Ken berdiri saat itu juga. Ia mengangkat kucing itu dan memasukkannya dalam kandang. Detik berikutnya ia kembali meletakkan kepalanya di pangkuan Aira.


"KEN?!!" Pekik Aira semakin kesal. Yang ia minta adalah mengembalikan kucing itu ke pangkuannya, bukannya ke kotak putih di pojok ruangan.


"Apa aku salah? Kamu menyuruhku mengembalikannya ke tempatnya semula. Apa ada tempat lain yang lebih cocok untuk hewan kecuali kandangnya sendiri?" Ken memamerkan wajah tanpa dosa yang membuat Aira naik pitam. Wanitanya itu menutup mata karena kesal. Ia malas menanggapi candaan suaminya.


Ken meraih ujung rambut istrinya dan memainkannya dengan menghitung jumlahnya.

__ADS_1


"1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10...." gumamnya sambil memandangi wajah Aira. Ia melepasnya dan mengambil sejumput rambut di sisi lainnya dan kembali menghitung sampai sepuluh. Ken kembali melepaskannya dan beralih ke sisi kanan lagi, menghitungnya sampai sepuluh. Hal itu ia lakukan berkali-kali.


Aira diam tak ingin menanggapi kelakuan minus suaminya. Di usianya yang menginjak tahun ke dua puluh tujuh ini, bagaimana mungkin ia hanya bisa menghitung sampai bilangan sepuluh? Bukankah itu bodoh?


Gayung tak bersambut. Ken menghentikan aktifitasnya karena tak mendapat respon apapun dari wanita di depannya. Ken berbalik dan meraih remote televisi. Ia menghidupkannya dan melihat layar kaca datar di depannya tanpa ekspresi. Tampak iklan dari sebuah brand kecantikan yang menampilkan Ayana Jihye Moon. Seorang wanita asal Korea Selatan yang menjadi mualaf sejak beberapa tahun yang lalu. Perjalanan panjang ia lalui sampai memutuskan untuk berhijab seperti sekarang. Bahkan adiknya sekarang juga ikut masuk Islam.


Beberapa detik kemudian layar kaca itu menampilkan gambar sebuah kompetisi memasak yang terkenal di seantero indonesia.


'Ah, membosankan.' batin Ken.


Ken mematikan saluran televisi digital itu karena tak tertarik dengan acara yang ada. Ia masih menatap layar yang gelap di depannya tanpa minat, berbanding terbalik dengan Aira yang tampak terkejut dengan air menggenang di pelupuk matanya.


Ya, batin Aira tertohok mengingat statusnya sebagai seorang muslim sejak lahir namun kenyataannya itu hanyalah status. Ia bukan muslim yang baik, dimana melaksanakan semua perintah dan menjauhi laranganNya. Ia masih sering mengabaikan sholat lima waktunya.


Tayangan iklan beberapa detik itu berhasil membuatnya tersadar betapa pentingnya agama Islam bagi seseorang. Terlebih untuk mualaf seperti Ayana dengan lingkungan yang tidak mendukung. Ia harus rela pindah ke Indonesia atau Malaysia demi membuatnya nyaman melaksanakan ibadah. Berbaur dengan sesama saudara muslim membuat imannya semakin kuat, meskipun ia harus berpisah dengan teman-teman dan keluarganya di Korea. Aira pernah membaca salah satu artikel berita online tentang proses hijrah gadis berkulit putih itu.


Bagaimana dengannya sendiri? Ia yang terlahir dan besar di lingkungan yang mayoritas muslim, justru memberikan citra yang buruk dengan mengabaikan tugas dan tanggung jawabnya sebagai muslim.


Apa kabar Ken? Sejak menjadi mualaf sehari sebelum menikahinya, Aira belum pernah melihatnya melaksanakan sholat kecuali saat pertama kali dibimbing oleh Pak Amin, ustadz yang membimbingnya mengucapkan 2 kalimat syahadat. Betapa berdosanya ia yang tidak membimbing Ken, membiarkan status muslim hanya ada di kartu identitasnya semata.


"Ken, ayo sholat.." ajak Aira. Netranya menangkap jam dinding yang menunjukkan pukul 05.45 sore. Beberapa menit sebelum adzan maghrib berkumandang.


*******


Hai minna-san, author kembali..


Gomen ne slow update, author sedikit sibuk beberapa hari kemarin & sekarang malah lagi di rumah sakit ini. Jadi maaf jika episode ini kurang maksimal, author ngetik di sela waktu jagain adek yang lagi sakit gegara digigit nyamuk 😢


Tenang, bukan author kok yang sakit. Author-chan mah setrong, sangking setrongnya sampe jam 3 pagi begadang 😂😂 ini demi readers tercinta 😍😄😘😘 *sebenernya demi author sendiri sii,


Kalian jaga kesehatan 😗 See you next day. Ditunggu like, komen & vote nya yaa. Author usahain update secepatnya, jika keadaan memungkinkan 😥😅 Bye-bye...


With love,

__ADS_1


Hanazawa easzy ♡


__ADS_2