Gangster Boy

Gangster Boy
Season 2 : Countdown Timer Clock


__ADS_3

Ken masuk ke kamar mandi dan mulai membasahi tubuhnya di bawah guyuran air dingin yang terpancar dari shower. Jika bukan karena larangan dokter yang memintanya membiarkan Aira 'istirahat' selama beberapa hari, mungkin ia tidak akan tersiksa seperti ini.


"Baka..!"


(baka : bodoh)


Beberapa menit kemudian Aira masuk dan mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi. Ia mengambil ponselnya di atas nakas dan melihat ada beberapa pesan dari Minami yang menanyakan keadaannya dengan Ken. Aira membalasnya, mengatakan ia dan suaminya baik-baik saja.


Drrt drrt


Gawai Aira bergetar menandakan panggilan dari Minami, terlihat dari foto profilnya yang nampak di layar depan. Namun hal lain mengusik atensi Aira, membuatnya mengabaikan panggilan dari asisten pribadinya itu. Ponsel Ken bergetar dan menampilkan sebuah notifikasi di status bar.


(atensi : perhatian)


"Moshi-moshi, bisakah kamu tunggu sebentar?" sapa Aira setelah mengangkat panggilan dari wanita bermata sipit yang ia temui 5 bulan yang lalu itu.


(moshi-moshi \= hallo)


"Ada apa? Apa sesuatu terjadi denganmu nona?" tanya Minami khawatir.


"Tidak. Aku baik-baik saja." jawab Aira. Ia mengambil ponsel Ken dan melihat notifikasi itu masih ada di sana, menampilkan pemberitahuan bahwa Minami sedang menelponnya. Penghitung waktu terus berjalan, membuat Aira penasaran.


"Katakan sesuatu, apapun itu." pinta Aira pada Minami.


"Apa? Apa maksudmu nona?"


Aira tak menjawab. Ia menarik turun bilah notifikasi yang sedari tadi membuatnya penasaran. Dengan sekali sentuhan ringan, ia berhasil masuk ke aplikasi yang terlihat aneh di matanya. Dia belum pernah melihat ini sebelumnya. Disana tertulis berbagai macam aktivitas ponsel Aira, seperti pesan dari Ria dan sebaliknya, juga riwayat panggilannya dengan Minami yang sekarang masih berlangsung.


Aira menekan ikon telepon berwarna hijau yang terlihat di bagian bawah ponsel Ken dan menempelkan benda pipih itu ke telinga kanannya, sementara ponselnya sendiri ia jauhkan ke sisi badan.


"Nona.. Ada apa?" tanya Minami penasaran. Aira bisa mendengarnya dengan jelas.


"Kamu bisa mendengarku?" lirih Aira, mencoba mengetes mikrofon ponsel suaminya.


"Apa yang Anda katakan? Saya tidak bisa mendengarnya." Minami semakin bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi. Suara Aira begitu lemah, ia tidak bisa mendengarnya dengan jelas.


Aira membawa ponsel Ken menjauh dari telinganya, ia menekan ikon telepon berwarna merah di bagian tengah layar sentuh itu.


"Bukan apa-apa. Aku akan menghubungimu lain kali. Selamat istirahat." pungkas Aira, menutup sambungan komunikasi dua arah dari Minami.


Krekk


"Kamu menyadap ponselku?" tanya Aira to the point pada Ken yang berdiri di depan pintu dengan kimono mandi menempel di badannya. Tetes air yang turun membasahi pundaknya tak lagi ia hiraukan. Handuk di tangannya terlepas begitu saja, bertengger dengan tenang di sisi atas badannya. Melupakan aktifitasnya semula, mengeringkan rambut yang ia guyur air dingin beberapa saat sebelumnya.


"Kenapa?" tanya Aira dengan suara bergetar, ia kecewa atas tindakan Ken kali ini, "Kamu tidak mempercayaiku?" pandangan Aira mulai kabur, matanya berkaca-kaca.


Baru pagi ini mereka bertengkar karena kalung saturnus dari Yudha dan akhirnya berbaikan sebelum senja datang. Dan sekarang? Apa mereka akan bertengkar lagi?

__ADS_1


Aira meletakkan ponsel Ken kembali ke atas nakas dan menarik nafas dalam-dalam sebelum menghembuskannya perlahan. Ia duduk di tepi ranjang sambil menutup matanya beberapa detik, mencoba menenangkan pikirannya yang mulai dirasuki berbagai prasangka buruk tentang suaminya. Percuma marah pada Ken, nyatanya hal itu tidak akan bisa merubah masa lalu.


"Apa yang ingin kamu ketahui dariku?" tanya Aira dengan perasaan terluka. Ia merasa harga dirinya tak ada artinya lagi, Ken menyadap ponselnya karena ia tidak mempercayai istrinya sendiri. Hal itu membuat dada Aira terasa sesak. Setelah semua badai yang harus ia hadapi demi bisa membersamai Ken, ternyata Ken tidak bisa sepenuhnya percaya. Lalu apa artinya ia bertahan sampai titik ini?


"Kenapa diam? Tanyakan apa saja yang ingin kamu ketahui, aku akan menjawabnya." ucap Aira sambil menatap manik hitam suaminya yang berjarak beberapa meter darinya. Ia mencoba bersikap setenang mungkin, tak ingin menampilkan gurat marah ataupun kecewa di hadapan Ken.


"Ai-chan, gomen.." Ken bersimpuh di depan Aira, menggenggam tangan istrinya dengan erat.


(gomen : maaf)


"Kenapa?" ulang Aira sekali lagi. Ia tak habis pikir dengan pemikiran suaminya.


Ken tak bisa menjawab pertanyaan istrinya, ia hanya bisa menciumi punggung tangan Aira dengan penuh penyesalan. Perlahan jemari di dalam genggamannya terasa dingin seperti es, membuat Ken mendongak demi melihat wajah istrinya yang terlihat pucat.


"Ai-chan.. Apa kamu sakit?" tanya Ken khawatir. Ia segera bangkit dan bersiap memeriksa dahi Aira, namun istrinya itu memalingkan wajahnya ke arah lain. Menolak sentuhan fisik dari suaminya.


"Aku akan tidur di kamar lain. Tolong biarkan aku sendiri." pamit Aira sebelum beranjak dari duduknya, meninggalkan Ken yang masih terpaku di tempatnya berdiri.


Lagi dan lagi, ia membuat Aira kecewa dan gagal menjadi suami yang baik untuknya. Sejak awal Kosuke menentang idenya namun ia tetap bersikeras menyadap ponsel Aira.


Langkah kaki Aira terhenti tepat setelah membuka pintu kamar mereka. Ken memeluknya dari belakang, memenjara tubuh mungil istrinya dalam dekapan kedua lengannya yang mengalungi leher dan perut istrinya.


"Jangan pergi." bisiknya lemah. Ia tidak bisa menahan perasaan bersalahnya lagi. Ia tidak ingin Aira pergi meninggalkannya, terlebih setelah peringatan yang Yoshiro berikan sebelumnya. Bahaya mengintai calon ibu dari anak-anaknya itu.


"Maaf, aku bersalah." aku Ken dengan lembut. Ia semakin mengetatkan pelukannya, membuat dagunya menempel di bahu mungil Aira.


"Hmmp..." Aira menutup mulutnya dengan tangan. Tubuhnya sedikit membungkuk menahan gejolak di perutnya yang terasa seperti ingin mengeluarkan segala isinya.


"Ai-chan.." panggil Ken khawatir.


Aira melepaskan diri dari dekapan Ken dan berlari menuju closet duduk di kamar mandi, memuntahkan semua makanan yang ia nikmati beberapa saat yang lalu. Ken dengan setia memijit tengkuknya untuk membuat istrinya sedikit lebih lega.


"Kita ke dokter?" tanya Ken setelah melihat Aira membasuh mulut dan wajahnya di washtafel.


Aira hanya menggelengkan kepalanya dengan lemah. Memilih berlalu dari hadapan suaminya, menyembunyikan diri di balik selimut tebal berwarna hitam yang tergeletak di atas ranjang king size mereka. Ia mulai memejamkan matanya, berusaha menenangkan diri dari semua permasalahan yang menimpanya.


Ken berlalu ke dapur menyiapkan minuman hangat untuk Aira. Ia melirik ke kanan dan ke kiri, firasatnya mengatakan ada sesuatu yang tidak benar.


Hening


Tak terdengar suara apapun di sekitarnya, sunyi senyap seperti laut yang terasa begitu tenang tanpa ombak sebelum tsunami melanda. Hal itu membuat tingkat kewaspadaan Ken meningkat. Entah itu karena firasatnya benar, atau ia yang terlalu khawatir.


Ken menggelengkan kepalanya kuat-kuat, mengenyahkan segala prasangka buruk yang menghantui pikirannya. Ia menyeduh minuman yang terbuat dari jahe dan madu untuk menghangatkan perut Aira.


Deg


Tiba-tiba Ken ingat pesan Yoshiro sebelumnya agar jangan meninggalkan Aira sendirian. Detik itu juga ia berlari ke kamar dan mendapati jendela kamar mereka terbuka lebar, membuat udara dari luar masuk ke kamar mereka yang bernuansa gelap. Tampak Aira tertidur dengan lelap di ranjangnya. Ken segera mendekat dan membelai surai hitam Aira dengan kelegaan di hatinya. Hidungnya mencium adanya bau seperti alkohol, obat bius, atau semacamnya. Tapi ia tidak yakin, itu bukan bidangnya.

__ADS_1


Ken beranjak pergi menutup jendela, netranya menatap sekeliling namun tak ada keanehan yang ia dapati. Semua sama seperti sebelumnya.


Tit tit...


Ken berbalik masuk, langkahnya terhenti saat telinganya menangkap suara yang terasa ganjil, seperti detak jam dinding namun lebih cepat dari itu. Ia menajamkan indera pendengarannya, terlihat dari tangan kanannya yang ia tempatkan di belakang telinga agar bisa mendeteksi darimana sumber suara itu berasal.


Kewaspadaannya semakin meningkat mengingat ia tidak menempatkan satu pun jam di kamarnya kecuali jam digital di atas nakas. Ia ingat betul jam itu sengaja ia atur tanpa suara. Darimana suara itu berasal? Mungkinkah ada bom di kamarnya?


Srett


Ken menyingkap bed cover di bawah tubuh istrinya dan mendapati sebuah bom rakitan berwarna merah ada di bawah tempat tidur mereka.



Hanya tersisa waktu lima detik yang tertera di layar countdown timer clock itu.


5...


"Ai-chan.. Wake up!!" Ken coba menggoyangkan lengan istrinya, tapi hasilnya nihil. Tidak ada tanda-tanda Aira bangun dari tidurnya.


(wake up : bangun)


4...


"DAMN !! Tidak ada waktu lagi." Ken melirik penghitung waktu mundur yang menampilkan angka 3. Artinya hanya tersisa tiga detik sebelum bom itu meledak


(damn : sial)


Ken segera menarik Aira dari atas ranjang dan membawanya tiarap di lantai marmer yang terasa dingin itu. Ia melindungi Aira dengan tubuhnya sendiri, agar istrinya itu aman dari serpihan kaca atau benda apapun yang akan membahayakannya.


3...


2...


1...


*******


Hai minna-san...


Jujur author deg-degan bikin adegan ini 😣😣


See you next day, jaga kesehatan kalian yaa. Be stronger gaess 🤗


With love,


Hanazawa easzy ^^

__ADS_1


__ADS_2