Gangster Boy

Gangster Boy
Season 2 : Keributan Kecil


__ADS_3

"Ah Kosuke-Minami, aku menantikan jagoan kalian." ucap Ken sambil menatap kedua asisten pribadinya. Alisnya terangkat menantikan jawaban dari dua orang yang kini saling pandang.


Wajah Minami memerah seluruhnya, sementara Kosuke menatap ke arah lain sambil melonggarkan dasinya yang terasa mencekik leher. Kelakuan Ken benar-benar diluar dugaan, membuat Aira tergelitik.


'Memangnya siapa yang mengganggu bulan madu kami?' gerutu Kosuke dalam hatinya.


Melihat dari ekspresi Kosuke yang tidak senang dengan perkataan Ken, membuat Aira mendekati keduanya. Ia tahu pasti Kosuke merasa terbebani karena harus kembali bekerja, padahal baru libur beberapa hari. Waktu itu jelas-jelas mereka libur satu bulan yang dijanjikan oleh Ken.


"Maaf sudah mengganggu bulan madu kalian. Itu sungguh diluar kendali kami." Aira menundukkan kepalanya saat mengatakan hal itu, membuat Minami dan Kosuke salah tingkah.


"Ah, nona jangan begini." ucap Minami terbata.


"Nona..." Kosuke tampak kesulitan mengungkapkan rasa canggungnya. Ia tidak menyangka Aira akan meminta maaf, tidak mungkin wanita hamil itu mendengar gerutuannya barusan 'kan?


"Kalian berdua libur mulai besok, lagi pula kita sudah membatalkan semua rencana perjalanannya." ucap Ken dari jauh.


"Itu tidak perlu. Saya akan tetap mendampingi nona." Minami berucap tanpa mempedulikan senyum di wajah suaminya yang memudar saat mendengar penuturannya.


Kosuke kesal. Istrinya itu seharusnya tidak perlu membantah. Mereka sudah bekerja terlalu keras, lagi pula masih ada bodyguard lain yang akan melindungi nona mereka. Kenapa masih ingin mendampinginya?


"Mi-chan..." protes Kosuke sambil melirik tajam pada istrinya, membuat Aira kembali tersenyum.


"Apa?" tanya Minami tidak menyadari alasan keberatan suaminya. Obsesinya pada pekerjaan benar-benar membutakan pertanda suaminya yang haus akan kasih sayangnya.


"Ayo makan bersama. Setelah itu kalian bisa pulang lebih awal." ujar Aira sambil menarik tangan Minami menuju meja makan.


Ken dengan sigap menata masakan yang dibuatnya di atas meja. Kosuke dan Minami tampak enggan bergabung dengan Aira yang sudah duduk manis di kursinya.


"Tunggu apa lagi? Ayo makan bersama..." ajak Aira sambil memamerkan senyum terbaiknya.


Minami tersenyum hambar sedangkan Kosuke masih terdiam di tempatnya. Ia heran dengan sikap Aira. Sebelumnya, Minami mengatakan nona mereka tertekan/depresi karena kelakuan Shun, tapi sekarang wanita itu baik-baik saja. Bahkan terlihat lebih bahagia dari sebelumnya, apa yang sebenarnya terjadi?


"Setelah makan temui aku di ruang baca." ucap Ken sembari duduk di sebelah Aira.


Kosuke tak merespon, masih tenggelam dengan dunianya sendiri. Minami menyikut perut suaminya dengan kesal.


"Ah iya. Baik." jawab Kosuke gugup. Hal itu tak lepas dari pandangan Ken dan Aira yang hanya bisa tersenyum.


__ADS_1


Ken mengambil sepotong ayam untuk Aira menggunakan sumpit. Ia membuat Mizutaki, sejenis sup kaldu ayam yg kuahnya kental dan sedikit bening. Masakan itu berasal dari daerah Fokuoka, Jepang bagian Selatan.


Biasanya perlu waktu lebih dari lima jam untuk merebus ayamnya. Dari perebusan yg lama itu maka akan mengeluarkan cita rasa dan kolagen yg baik untuk kesehatan kulit (source info: herdiawan.com)


Tapi Ken hanya memasaknya selama dua jam kali ini. Makanan ini cocok untuk para pecinta ayam seperti Aira. Masakan ini hampir sama seperti sup ayam yang ada di Indonesia, hanya saja menambahkan sedikit jahe dan rumput laut yang bernama konbu untuk menambah cita rasanya.


Untuk mengimbangi nilai gizinya, menu makanan yang berbahan dasar ayam ini juga dilengkapi jenis sayuran seperti jamur dan wortel sebagai pelengkap.


"Makanlah yang banyak agar kalian tidak kelaparan." ucap Ken sambil tersenyum.


"Otou-san, arigatou..." Aira berucap dengan menirukan suara anak kecil yang menggemaskan.


(Terima kasih Ayah)


Tampaknya romansa mereka beberapa saat sebelumnya masih belum hilang untuk Aira. Ia benar-benar menunjukkan rasa cintanya pada Ken, ayah dari anak-anaknya. Ia bahkan mengecup pipi suaminya tanpa merasa malu, padahal masih ada Minami dan Kosuke di depan mereka.


"Sejak kapan istriku jadi agresif seperti ini, hmm?" Ken menatap Aira intens, wajah keduanya hanya berjarak beberapa centimeter. Benar-benar menggemaskan.


"Haruskah kami pulang lebih awal agar tidak mengganggu kalian?" tanya Kosuke yang merasa tidak nyaman. Keberadaannya dan Minami benar-benar hanya seperti angin lalu untuk tuan muda Yamazaki dan istrinya yang sedang dimabuk cinta.


"Ah, ekkhhmmm..." Ken menarik diri dan melanjutkan aktivitasnya mengambilkan makanan untuk Aira.


"Mangkuk?" tanya Minami bingung, tapi tangannya memberikan benda bulat itu pada Aira yang kemudian diterima oleh Ken.


"Aku sungguh minta maaf mengganggu liburan kalian." Aira kembali menundukkan kepalanya pada dua asisten pribadi di depannya.


"Ah, nona tolong jangan mengatakannya lagi." sanggah Minami.


"Baiklah, ayo kita makan." ucap Ken setelah menyerahkan mangkuk pada Kosuke. Ini pertama kalinya mereka berempat makan dalam satu meja, biasanya Kosuke dan Minami memilih makan di tempat lain. Alih-alih sebagai bentuk kesopanan mereka, sejujurnya hal itu membuat mereka canggung seperti sekarang.


"Itadakimasu..." ucap mereka berbarengan.


(Selamat makan)


*****


Moskow, Rusia


DOR

__ADS_1


Sebuah peluru mendarat di kening seorang berbaju hitam yang kini terkapar di lantai. Darah yang mengalir dari luka terbuka itu mengalir ke lantai marmer putih di bawahnya. Nafasnya yang terhenti menandakan ia kehilangan nyawanya saat itu juga.


Prok prok prok


"Kamu menyelesaikannya lebih cepat dari yang ku bayangkan, Mone-chan.." ucap seseorang yang keluar dari balik pintu. Sebuah senyum iblis terpatri di wajahnya.


"Aku melakukannya sesuai instruksi yang Anda berikan, Takeshi Kaneshiro-sama.." ucap gadis itu sambil menundukkan kepala layaknya seorang pelayan.


"Istriku menunggumu di rumah. Pulanglah lebih awal." ucap pria dengan jambang tipis di dagunya itu saat Mone melangkah melewatinya.


Gadis itu melempar pistol yang digunakannya pada salah satu pria yang mengawal Kaneshiro tanpa bersuara. Ia mengunci rapat mulutnya, tak menjawab permintaan pemimpin mafia itu. Tubuh mungilnya menghilang di balik pintu, membawanya menyusuri koridor panjang di hotel bintang lima ini.



"Jangan bermain-main dengannya, atau kalian akan bernasib sama seperti pecundang ini." ucapnya sambil menatap mayat yang terkapar di lantai.


"Apa yang harus kita lakukan? Dia kepercayaan istri Anda." tanya pria yang menerima pistol yang Mone lemparkan sebelumnya.


"Singkirkan tanpa jejak. Istriku lebih mencintai putri angkatnya dari pada suaminya sendiri. Bahkan jika Mone meruntuhkan seluruh perusahaannya sekalipun, ia tidak akan disalahkan." jawab Kaneshiro.


Ting


Mone keluar dari dalam lift dengan senyum terkembang di wajah. Ia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Aku dalam perjalanan pulang, Mom." ucapnya dengan nada seceria mungkin, menutupi kemarahan yang mengakar di hatinya karena pengkhianatan salah satu bawahannya.


"Baiklah. Daddy bersamamu?" tanya suara di seberang.


"Ah, Daddy? Dia sepertinya akan sedikit sibuk. Aku membuat 'keributan kecil' di hotel." jawabnya dengan menggosok hidungnya meski tidak gatal. Itu kebiasaannya saat merasa canggung atau berbohong.


Apakah membunuh orang kepercayaan ibu angkatnya bisa disebut 'keributan kecil'?


*****


*Note : bagian bawah menceritakan tentang Mone, adik angkat Shun yang menghilang 5 tahun yang lalu. Sekarang ia tinggal di Rusia. Kisahnya masih berlanjut di episode berikutnya, jadi maaf kalau terasa aneh atau sedikit membingungkan tanpa ada penjelasan sebelumnya.


Arigatou untuk waktu, like, komen & vote kalian. Gomen ne slow update, ada beberapa hal yang ngga bisa author tinggalkan di dunia nyata jadi sedikit menyita waktu buat nulis. Hontou ni gomenasai 😢


Jaa,

__ADS_1


Hanazawa easzy ^^


__ADS_2