
Shun ingin mereka kembali ke Jepang setelah mengetahui bahwa Takeshi Kaneshiro lah yang selama ini ada di balik ketiadaan Mone. Pria itu menyembunyikan adiknya dengan sangat baik, membuatnya terkecoh dan tidak berhasil menemukannya selama beberapa tahun ini. Berkat bantuan Aira, akhirnya ia tahu dimana adik angkatnya berada.
Aira masuk ke dalam mobil yang akan membawanya pergi dari apartemen mewah di pusat kota ini. Di kursi sebelah ada Kosuke yang duduk sambil mengemudikan laju kendaraan besi ini. Wajahnya tampak menegang, sedikit khawatir dengan aksi nona-nya yang bisa saja membahayakan wanita hamil itu. Terlebih lagi, Aira memilih duduk di kursi depan, bukan di belakang seperti biasanya.
"Apa kamu gugup, Kosuke?" tanya Aira saat mobil yang mereka naiki memasuki jalan lingkar dalam yang disebut koltso.
*koltso artinya cincin, karena jalan lingkar dalam ini seperti cincin yang melingkari jantung kota Moskwa.
"Se.. sedikit." jawab Kosuke terbata-bata.
"Tenanglah, tidak akan ada apapun yang terjadi." ucap Aira sambil tersenyum. Matanya tak lepas memandangi istana Kremlin, yaitu bangunan paling penting dan paling bersejarah bagi bangsa Rusia.
Istana Kremlin, Rusia
Kremlin adalah benteng dan kompleks istana bersejarah di pusat kota Moskwa yang dibangun dari batu bata pada abad ke-15. Kremlin berbatasan dengan Sungai Moskow di selatan, Katedral Santo Basil dan lapangan merah di timur, dan Taman Alexander di barat.
Mobil merah tua itu terus berjalan melewati aspal bersalju Tveskaya-Yamkaya Ulista, meninggalkan kota Moskwa menuju kawasan Belorusskaya. Saat itulah earpiece di telinga Aira berbunyi, terdengar suara suaminya.
*Earpiece awalnya adalah alat untuk menerima panggilan telepon. Earpiece identik sebagai alat komunikasi rahasia yang digunakan oleh anggota pasukan pengawal khusus Atau sejenisnya.
"Ai-chan, bersikap baiklah. Jangan tunjukkan kemampuanmu sama sekali. Semakin banyak kekurangan yang mereka tahu darimu, semakin bagus." instruksi Ken.
Hal yang sama juga didengar oleh Kosuke, mereka terhubung satu sama lain dengan alat bantu dengar canggih itu. Ken sengaja tidak ikut bersama Aira namun masih tetap terhubung dengan istrinya itu. Mengantisipasi kemungkinan terburuk yang akan terjadi.
"Ini ketiga kalinya kamu mengatakan itu. Aku mulai bosan mendengarnya." jawab Aira sambil tersenyum.
"Aku sudah ada di sebelah kediaman Takeshi. Berhati-hatilah." ucap Ken mengingatkan.
"Ya. Kamu juga sama." cetus Aira sambil menahan nafas. Bagaimanapun misinya kali ini membuatnya sedikit was-was. Segala kemungkinan bisa saja terjadi, itulah sebabnya Ken standby di apartemen yang bersebelahan dengan kediaman Takeshi. Jika sesuatu yang buruk terjadi, Ken akan segera menyelamatkan istrinya itu.
Kosuke dan Aira masuk ke dalam lift yang membawa mereka naik ke bagian atas gedung pencakar langit ini. Keduanya mengangguk secara bersamaan saat lift terhenti, menandakan keduanya sudah siap menjalani peran masing-masing.
Ting tong
Kosuke menekan bel yang ada di sebelah kanan pintu. Raut wajahnya tanpa ekspresi, sama seperti para pebisnis yang memang biasanya jarang menunjukkan senyumnya.
"Tuan Kosuke, silahkan masuk." jawab wanita 40 tahunan yang kini berdiri di ambang pintu. Senyum hangat terukir indah di wajah putih khas Rusia miliknya. Kecantikannya tak terelakkan, pantas saja membuat Takeshi Kaneshiro bertekuk lutut di hadapannya.
"Maaf atas kedatangan kami yang diluar jadwal ini. Karena beberapa hal, jadi wawancara dengan nona Mone terpaksa saya percepat." ucapnya sambil menunduk.
"Tidak masalah. Lagi pula putriku free sore ini." jawabnya ramah. Benar-benar wanita yang menyenangkan untuk diajak berbincang. Dia ramah dan murah senyum.
Aira akan mewawancarai Mone terkait iklan yang akan melibatkan gadis 20 tahun itu. Dalam jadwal sebelumnya, wawancara seharusnya dilakukan besok setelah pemotretan. Tapi Aira berinisiatif dengan muncul secara tiba-tiba di kediaman Takeshi. Ia ingin melihat reaksi pria itu saat melihatnya. Menjadi umpan untuk tangkapan yang sangat besar ini.
__ADS_1
"Silahkan duduk. Aku akan memanggil putriku." ucap Anna sebelum berlalu ke dalam.
Langkah kaki jenjangnya menghilang di balik tangga, tertelan dimensi yang tak lagi terkejar oleh mata Aira. Ia duduk di atas kursi panjang berwarna hitam. Ah, lagi-lagi hitam. Apa semua orang sama dengan Ken? Menyukai warna hitam yang menimbulkan kesan misterius.
"Sayang, mereka sudah datang." ucap Anna yang dijawab Mone dengan anggukan kepala.
Gadis mungil itu keluar dari dalam kamarnya dan menuruni tangga melingkar mengikuti ibunya. Ia melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 3.25 sore. Waktu yang seharusnya ia gunakan untuk bersantai harus terjeda sejenak karena permintaan wawancara yang pihak Miracle inginkan.
"Selamat so... re..." sapaan Mone tercekat di tenggorokan saat melihat sosok wanita di depannya. Wanita berjilbab merah hati yang sangat ingin ia temui secara langsung, kini berdiri beberapa langkah di depannya.
Blank. Kosong.
Mone terdiam di tempatnya berdiri. Ia tidak bisa melangkahkan kakinya untuk semakin dekat dengan wanita yang sedang tersenyum itu. Ia tidak siap mendapat kejutan mendadak seperti ini. Hatinya tidak tenang, jantungnya berdetak lebih cepat membuat dadanya naik turun seirama dengan nafasnya yang mulai memburu. Situasi ini terasa canggung. Ia tidak bisa terus begini.
Mone memejamkan matanya beberapa detik, berusaha menenangkan dirinya agar bisa bersikap profesional di depan kakak sepupunya ini. Ia yakin Aira tidak tahu hubungan kekerabatan mereka, jadi ia hanya harus bersikap sebiasa mungkin agar tidak menimbulkan prasangka di hati wanita Indonesia ini ataupun orang dari Miracle yang makan dengannya siang ini.
"Silahkan." ucap Mone dengan menggerakkan tangannya, mengisyaratkan bahwa tamunya bisa duduk.
"Aku sedikit terkejut dengan kedatangan kalian." ucap Anna memecah keheningan di antara mereka.
"Maaf karena mengganggu waktu istirahat nona dan nyonya." ucap Aira dengan lembut.
"Tidak, tidak sama sekali." ucap Anna sambil menyajikan teh yang dibawa oleh asisten rumah tangga mereka.
"Jadi siapa ini? Apa kamu membawa kekasihmu saat bekerja, Kosuke?" canda Anna sambil menatap Kosuke dan Aira bergantian.
"Nama saya Aira. Saya bekerja untuk Miracle Cosmetics beberapa bulan terakhir." cetus Aira tanpa menghilangkan senyum di bibirnya.
"Ah, jadi kalian rekan kerja?" tanya Anna antusias.
"Bisa dibilang begitu." jawab Aira, "Jadi, bolehkah saya mulai wawancaranya sekarang?" tanya Aira menatap Mone yang terus diam sejak pertama menginjakkan kaki di ruang tamu mewah ini.
Mone mengangguk singkat. Aira segera mengambil tablet dari dalam tasnya dan mulai menanyakan beberapa hal terkait dengan karir modelling yang dijalani Mone selama ini. Ia juga menyalakan alat perekam yang ia letakkan di meja.
Wawancara itu berlangsung dengan lancar tanpa kendala apapun. Mone menjawab semua pertanyaan Aira dengan terbuka, karena memang semuanya tentang pekerjaan.
"Saya rasa sudah cukup. Saya sangat senang karena nona bersedia saya usik waktu istirahatnya. Maaf jika hal ini membuat anda tidak nyaman. Sekali lagi saya minta maaf." ucap Aira menundukkan kepala setelah menyimpan tabletnya kembali ke dalam tas.
"Tidak masalah. Aku senang bisa bertemu denganmu." jawab Mone kelepasan bicara.
"Ya?" tanya Aira tak mengerti.
"Oh, maksudku wawancara ini cukup menyenangkan." ralatnya segera. Ia tidak ingin menimbulkan kecurigaan pada Aira atau Kosuke.
Aira tersenyum merespon sikap gugup gadis yang lebih muda lima tahun darinya itu. Wajahnya benar-benar imut.
__ADS_1
"Silahkan diminum tehnya." ucap Anna mempersilahkan tamunya menikmati hidangan yang ada di meja.
Aira menyesap minuman hangat itu perlahan dan kembali memperhatikan kedua wanita di depannya.
"Apa anda hanya tinggal berdua dengan Mone?" tanya Aira basa-basi.
"Apa kamu juga ingin mewawancaraiku?" gurau Anna.
"Ah, maaf." ucap Aira canggung.
"Haha, tidak masalah. Mari kita berbincang selain urusan pekerjaan." ucap Anna, "Aku tinggal dengan Mone dan suamiku. Mungkin sebentar lagi ia akan pulang." jawabnya ramah.
"Aira, apa aku boleh menanyakan sesuatu?" tanya Anna meragu.
"Ya nyonya. Silahkan tanya apa saja."
Anna tersenyum canggung, "Maaf jika ini sedikit tidak nyaman untukmu tapi aku benar-benar penasaran. Yang ku tahu Miracle adalah perusahaan Jepang, tapi wajahmu bukan seperti wanita Jepang pada umumnya. Apa kamu berasal dari luar?"
"Benar." jawab Aira sambil tersenyum, "Saya lahir dan besar di Indonesia tapi sekarang bekerja untuk Miracle di Jepang." jawabnya lugas.
"Sudah lama di Jepang?" kejarnya lagi.
"Beberapa bulan terakhir. Kebetulan saya menikah dengan orang Jepang." jawab Aira jujur.
"Benarkah? Suamiku juga orang Jepang." cetus Anna bersemangat.
"Siapa yang sedang membicarakanku?" tanya sebuah suara pria yang menggema di ruangan 6x8 meter ini.
"Suamiku.." Anna segera berdiri untuk menyambut Takeshi Kaneshiro yang baru saja masuk ke dalam rumahnya ini.
Aira dan Kosuke segera berdiri dan menunduk takzim pada sang empunya rumah. Sebuah senyum terukir di wajah chubby Aira. 'Ikan besar' yang ingin ia tangkap sudah datang. Ia hanya perlu menarik ulur kailnya sejenak sebelum menangkapnya.
"Ada tamu?" tanya Takeshi pada istrinya.
"Mereka dari Miracle. Perusahaan kosmetik yang akan menjadikan Mone sebagai bintang iklan mereka." jawab Anna antusias tanpa mempedulikan kening suaminya yang berkerut.
"Apa yang kamu inginkan dari putriku?" tanya Takeshi to the point. Ia menunjukkan rasa ketidaksukaannya dengan terang-terangan.
"Saya ingin membawa putri anda kembali ke Jepang." jawab Aira penuh percaya diri.
Deg
*******
See you next day 🤗
__ADS_1
Hanazawa easzy ^^