
"Biarkan aku menebus kesalahanku selama ini." pinta Ken, ia mengusap ujung kepala istrinya dengan sayang. Aira terdiam dan menatap Ken dengan bimbang. Sampai saat ini ia belum tahu perasaannya pada Ken, semua terasa hambar.
"Ken.." panggil Aira di sela-sela makannya.
"Hmm..." jawab pria 178 cm itu dengan tenang. Ia duduk di tepi ranjang perawatan istrinya. Sesekali ia mengelap ujung bibir Aira dengan tisu.
"Aku punya satu permintaan." Aira menatap suaminya intens.
"Katakan saja."
"I wanna break up," lirihnya dengan suara tertahan di tenggorokan.
(Aku ingin putus)
Gerakan tangan Ken terhenti, nafasnya tercekat. Ia sudah menduganya, cepat atau lambat dia akan mendengar permintaan ini dari Aira. Ia memejamkan matanya beberapa detik dan berakhir dengan menghembuskan nafas berat. Ia tahu, berbagai kesulitan sudah gadis ini alami demi bisa membersamainya. Dan apa yang ia lakukan? Ia tidak bisa melindunginya, terbukti dari keadaan Aira saat ini.
"Habiskan makananmu," Ken kembali mengaduk sup di depannya yang sempat terhenti beberapa saat lalu, "Kita bicarakan nanti."
Aira menggeleng mantap, "Aku ingin jawabannya sekarang Ken." tuntutnya.
Tangannya meraih bahu kiri Aira, meremasnya pelan seolah tak ingin melepasnya. Setidaknya itu memberinya kekuatan untuk bertahan melawan egonya yang memaksa agar menjerat Aira lebih lama lagi.
Aira memaksakan senyumnya meski terasa janggal. Bukan karena pura-pura, sama sekali bukan. Aira ingin tersenyum dengan tulus, tapi kegersangan hatinya yang membuat otot wajahnya kaku. Ken memperhatikan dengan seksama apa yang akan istrinya sampaikan.
"Aku ingin kembali ke Indonesia."
*****
Semburat kemerahan menghiasai langit Jepang yang mulai terasa dingin menjelang turunnya salju beberapa hari ke depan. Ranting yang kemarin masih memiliki beberapa helai daun, kini hanya tersisa batang yang mengering.
Sepanjang mata memandang, semua orang memakai baju hangatnya. Mereka berlalu lalang kembali dari tempat kerjanya, menghindari hawa dingin yang menusuk sampai ke tulang. Aira yang memakai pakaian lapis 3 saja masih merasa dingin. Ini salju pertama kalinya sejak terlahir 25 tahun yang lalu.
"Aira..." Ria berlari keluar dari kerumunan orang di depan stasiun kereta bawah tanah. Ia tertegun saat melihat wajah Aira yang pucat.
"Ka.. Kamu kenapa Ra?"
"Ngga apa-apa. Cuma capek." jawabnya sambil berusaha tersenyum.
"Kamu sakit Ra? Harusnya bilang." Ria spontan melepas syall yang sedari tadi bertengger di leher dan memakaikannya pada Aira, "Kalo tau kamu sakit gini, aku ngga bakal paksain kamu dateng kesini." sesal Ria.
"Ngga apa-apa," jawabnya hambar.
"Sendirian? Ken mana?" Ria menelisik ke sekeliling Aira tapi tak ia dapati siapapun bersamanya.
"Sibuk," jawabnya sambil tersenyum. Ia melirik ke arah Minami yang tak jauh darinya. Ya, Ken tidak sempat mengantar Aira, jadi asisten kepercayaannya ia tugaskan disana. Minami membaur dengan baik, ia tak terlihat seperti pengawal karena mengganti pakaian kerjanya dengan sweater biasa. Tentu saja ini atas permintaan Aira semalam.
"Kalian baik-baik aja kan?" Ria tampak mengkhawatirkan gadis di depannya. Lagi-lagi Aira hanya tersenyum membuat Ria penasaran. Sekian lama ia tidak melihat senyumnya, ini terasa ganjil. Ia menahan lengan Aira dan menatapnya tajam.
"Ra..."
"Baik. Sangat baik." jawab Aira sembari menangkap jemari Ria. Ia mengedipkan matanya saat melihat Minami khawatir dan bersiap mendekatinya karena Ria bertindak terlalu posesif.
"Tapi feelingku kok bilang kamu nggak baik-baik aja ya Ra.."
"Jangan kebanyakan pakai feeling kak, pake logika aja." Aira kembali tersenyum membuat Ria semakin kalut. Bertahun-tahun ia mengenal Aira, ia tahu dengan baik tabiat gadis satu ini. Ia tersenyum saat menutupi lukanya.
Keduanya diam cukup lama. Ria berkutat dengan berbagai pemikirannya sementara Aira juga tampak memikirkan sesuatu. Langkah kaki mereka terhenti di tepi jalan, bersiap menyeberang bersama puluhan orang lainnya. Begitu lampu merah menyala, mereka bergegas melewati garis hitam putih yang tergambar di aspal. Terlihat seperti sekawanan semut yang akan menyerbu makanan.
"Kak, aku mau pulang ke Indonesia," lirih Aira saat keduanya telah duduk di coffee corner tak jauh dari perempatan tempat keduanya menyeberang jalan tadi. Dan Minami berada 2 meja di belakang mereka.
"Eh? Kok tiba-tiba? Kenapa?" Ria berhenti mengaduk kopinya dan menatap Aira dengan penuh tanda tanya.
"Kangen ibu," jawabnya singkat. Pandangannya terpaku pada vanilla latte di depannya, tapi pikirannya melayang jauh pada percakapan dengan Ken kemarin.
"Ra..." Ria menggenggam tangan Aira yang sedari tadi terdiam, "Ada masalah?"
"Aku minta putus dari Ken," jawab Aira tanpa semangat. Keputusan ini berat untuknya, tapi ia juga tidak bisa membiarkan dirinya terjerat dengan Ken lebih dalam lagi.
"Kamu minta putus? Pisahan maksudnya?" Ria membulatkan matanya, ia terkejut dengan keputusan Aira ini, "Trus Ken jawab apa?".
"Dia minta waktu 10 hari. Setelah itu kita akan membicarakannya lagi."
"10 hari?"
*******
__ADS_1
Di sebuah ruangan bernuansa biru, seorang pria berambut putih masuk sambil bersiul, "Ken ada?" tanyanya pada wanita yang merupakan sekretaris Ken.
"Silahkan masuk Yoshiro-san." jawab wanita itu mempersilahkan sahabat tuannya itu. Yoshiro sudah membuat janji satu jam yang lalu.
"Apa aku mengganggumu?" ia duduk di atas sofa putih, 3 meter di depan Ken yang masih bergulat dengan dokumen di mejanya.
"Aku sibuk. Kembalilah lain waktu," jawab Ken tanpa memandang Yoshiro sedetikpun.
"Oey... Kamu mengabaikanku?" Yoshiro bersiap menyalakan rokok di tangannya, tapi sedetik kemudian gerakannya terhenti. Ia mengurungkan niat menghidupkan pemantik api di tangan kanannya. Ingatannya terbang jauh ke belakang saat Aira membuang rokoknya malam itu. Dia gadis pertama yang berani melarangnya.
"Kamu benar-benar akan melepaskannya (Aira)?"
Gerakan tangan Ken terhenti. Ia menatap dokumen di depannya dengan tatapan kosong, dan berakhir dengan meremasnya sebelum membuangnya ke tempat sampah.
"Kamu datang untuk itu? Pergilah sebelum aku membunuhmu," ucapnya tajam.
"Oey oey oey... Aku dengan senang hati menyerahkan nyawaku jika itu bisa membuatmu senang," Yoshiro tersenyum lebar melihat sahabatnya itu mendekat.
Ken menghempaskan tubuhnya di sofa dan mulai mengurut pelipisnya. Ia belum bisa memberikan jawaban pada permintaan Aira, itu sebabnya ia menghubungi Yoshiro semalam. Tapi sahabatnya itu justru menyuruhnya untuk segera melepas Aira tanpa ragu.
"Aku akan mengejar Aira-chan setelah kamu melepaskannya," sebuah smirk terukir di wajah putih pucat itu. Ya, dia memaksa keluar dari rumah sakit hari ini dan langsung menuju kemari, demi Ken. Ah, mungkin saja demi Aira.
"Jangan mengacau."
"Hahahaha...." Yoshiro tertawa terbahak-bahak. Ia sangat menikmati ekspresi Ken saat ini, ia bahkan sampai memegangi perutnya yang terasa sakit, "Apa kau gila? Hahahaha...."
Ken melempar vas bunga yang tak jauh dari tangannya ke arah Yoshiro dan berhasil pria itu tangkap sebelum mengenai wajah tampannya.
"Mengurus perusahaan sebesar ini saja bisa, kenapa tidak bisa mengatasi seorang wanita?"
"Pintu keluar terbuka lebar untukmu," Ken memejamkan matanya, ia merebahkan diri sambil melonggarkan dasinya berharap beban pikirannya sedikit terurai.
Tawa Yoshiro terhenti dan menatap Ken, "Ikat dia." ucapnya datar. Ken membuka mata dan menatap Yoshiro dengan pandangan devilnya.
"Aku bukan psikopat gila sepertimu." sanggahnya.
"Benar kata orang, jatuh cinta membuat orang jadi bodoh yaa," Yoshiro mengangkat sebelah bibirnya.
Ken tak menanggapi, terserah makhluk itu ingin mengatainya apa.
Ken tampak berpikir serius, terlihat dari alisnya yang bertaut, "Apa?" tanya Ken.
"Seorang anak."
*******
Mentari bersinar di ufuk timur saat Aira melambaikan tangannya ke arah boarding gate dimana Ria berada. Yudha yang berdiri di sampingnya menatap Aira dengan ekspresi ganjil seolah tak ingin pergi. Kunjungannya terasa sangat singkat, ia bahkan belum bertemu dengan Aira secara pribadi.
"Kamu lapar?" tanya Ken sembari menangkap jemari Aira yang berjalan di sampingnya. Gadis itu mengangguk dan segera merapatkan badan setelah Ken menarik pinggangnya. Mereka berjalan keluar dari bandara.
Ken membawa mobilnya menyusuri jalanan kota Tokyo yang mulai ramai oleh kendaraan para pekerja menuju ke kantor.
"Ken..."
"Hmm..." jawabnya dibalik kemudi.
"Tidak masalah libur kerja?" Aira menatap rahang tegas di depannya yang sedang fokus mengendarai mobil. Ken hanya tersenyum dan mengerlingkan sebelah matanya.
Aira menautkan kedua alisnya melihat tingkah Ken yang tidak seperti biasanya, "Kamu membuatku takut." ucapnya.
"Kenapa?"
Aira tak segera menjawab. Ia menghembuskan nafas berat.
"Kamu percaya peramal?"
"Hmm...?" Kini giliran Ken yang menautkan alisnya, tidak biasanya istrinya ini banyak bicara.
"Kemarin aku bertemu peramal saat membeli oleh-oleh dengan kak Ria."
"Apa dia mengatakan sesuatu yang aneh?" Ken menatap istrinya dengan intens. Mobil mereka tengah berhenti di perempatan lampu merah. Aira mengangguk dan mulai menceritakan pertemuan mereka kemarin siang di pusat oleh-oleh.
FLASHBACK
"Aira, ini lucu kan. Lihatlah," Ria menunjukkan gantungan ponsel berbentuk kucing.
__ADS_1
"Hmm.." Aira mengangguk dan memasukkannya ke dalam keranjang.
"Jadi, kalian akan berdamai 10 hari ini?" tanya Ria ingin tahu.
"Damai? Kami bahkan tidak bertengkar,"
"Jadi apa?"
"Ken bilang ingin melakukan banyak hal sebelum aku kembali. Anggap saja sebagai kenangan sebelum kami benar-benar berpisah."
"Apa tidak masalah untukmu?"
"Aku tidak tahu," Aira mengangkat bahu dan kedua tangannya.
"Hei, kau tahu? Pernikahan tidak bisa seperti itu. Bahkan meskipun kamu tidak menyukainya, pasti ada alasan untuk bertahan."
"Aku tidak punya alasan untuk mempertahankan hubungan kami."
"Ra... Pikir baik-baik deh.."
"Udah sore kak. Pulang yuk." Aira mengalihkan pembicaraan, tak ingin melanjutkan pembahasan itu.
Mereka berjalan di depan pertokoan sambil membicarakan banyak hal. Tanpa sengaja seorang anak menabrak mereka dari belakang dan membuat Aira terjerembab ke lantai yang lembab oleh salju.
"Kamu ngga apa-apa Ra?"
Aira mengangguk. Keduanya duduk di sebuah kursi panjang untuk istirahat. Seorang wanita dengan baju yang tampak aneh mendekat dan menunduk di depan Aira. Mengamati wajahnya dari atas ke bawah.
"Apa luka di punggungmu sudah sembuh?" tanyanya tiba-tiba membuat Aira bertanya-tanya.
"Maaf?"
"Cepat pergi dari sini. Ada bahaya mengancammu." ucapnya serius. Wajahnya terlihat mengerikan dengan beberapa bekas luka di sana.
"Maaf bibi, kami hanya istirahat sebentar. Kami akan segera pergi," Ria menegur wanita paruh baya di depan Aira yang termenung.
Wanita itu tak menggubris teguran Ria, ia justru meraih tangan Aira dan melihat garis tangannya dengan seksama, "Tinggalkan dia dalam waktu 2 hari. Jika tidak, selamanya kamu tidak akan bisa pergi."
"Eh?" Aira menarik tangannya karena wanita itu menggenggamnya semakin erat.
"Batu besar. Ada batu besar di depanmu. Itu akan jadi pertaruhan hidup dan matimu, cepat pergi dari pria terkutuk itu. Pergilah nona. Pergi sejauh mungkin." ucapnya semakin mendekatkan wajahnya ke arah Aira.
Ria menarik tangan Aira menjauh saat melihat gadis berjilbab di depannya mulai terpengaruh oleh kata-kata wanita aneh itu.
FLASHBACK END
"Kamu takut?" Ken mengelus puncak kepala Aira dengan sayang, "Semua akan baik-baik saja."
"Bisakah aku mempercayaimu?"
Ken tersenyum simpul dan kembali fokus ke jalanan di depannya. Aira menatap keluar jendela menepis segala keresahannya. Tanpa Aira sadari, wajah Ken berubah muram, ia mengingat rencananya dengan Yoshiro kemarin.
'Ai-chan, gomennasai..'
(Maaf)
*******
Owarimashita...
(Finally...)
Hai readers tercintakuuh 😘😘
Author kembali membawa Aira & Ken buat kalian semua. Maaf kalo masih ada typo, ini author tulis di sela-sela kerjaan dunia nyata yang mulai menggeliat ditagih costumer 😂😂
Sebenernya kemarin kan sempet bikin pengumuman mau hiatus 2 pekan tapi ternyata Aira udah kangen pengen ketemu readers semua, jadilah author sempetin nulis bentar bentar. Curi-curi waktu kerja, ngga papa kan ya? Daripada curi-curi pandang sama doi tapi ngga pernah dipandang balik 😥 *apaan siiy 😅
Jaga kesehatan kalian yaa, sampai jumpa next episode. Author belum bisa pastiin kapan update, diusahakan secepatnya 😋 Jangan lupa kasih jempolnya yaa biar author makin semangat 😘
Jaa mata ne,
With love,
Hanazawaeaszy 😙
__ADS_1