
Shun dan Kosuke mendatangi Yuki di dermaga sebelum ketiganya menuju sebuah pulau kecil tak berpenghuni. Yuki melakukan hal itu untuk berjaga-jaga agar rencananya untuk bekerjasama dengan Shun tidak terundus oleh Anna.
"Bagaimana? Tertarik untuk bermain peran denganku?" Yuki mengangkat satu sudut bibirnya. Dia tahu pria ini pasti akan kesulitan menolak imbalan yang ditawarkannya.
Shun membuang permen karet di dalam mulutnya ke tong sampah yang ada di sudut ruangan. Dengan sigap pria ini memasuki ruangan kayu yang berisi puluhan bahkan ratusan botol minuman keras berbagai merk yang berusia minimal 80 tahun. Itu adalah barang berharga untuk seseorang yang senang melakukan eksperimen seperti Shun.
"Aku boleh mencobanya?" Shun mengambil salah satu botol yang ada dalam jangkauannya dan langsung membuka tutup yang terbuat dari kayu itu. Dia tidak bisa menunggu persetujuan Yuki, rasa penasaran telah menguasai kepalanya.
Seketika aroma anggur yang pekat dan memabukkan menyapa indera penciuman pria ini. Satu jarinya ia celupkan ke dalam mulut botol. Ujung jari kelingkingnya itu menyentuh air berwarna hitam keunguan itu. Shun menjilat jemarinya satu detik kemudian, merasakan sensasi luar biasa yang menyapa lidahnya.
"Aghh!" Shun merasakan tenggorokannya begitu kering. Kadar alkohol di dalam anggur fermentasi ini begitu tinggi, membuat lidahnya terasa pahit yang amat sangat.
Yuki tersenyum melihat antusiasme pria berpakaian serba putih itu.
"Kamu boleh membawa itu pulang sambil mempertimbangkan penawaranku. Kita hancurkan Anna bersama-sama dan kamu bisa mengambil lima puluh botol anggur yang mana saja. Aku tidak akan melarangnya."
Shun masih memasang sikap tinggi di hadapan pria ini, tidak ingin dengan mudah menyetujui penawarannya.
"Apa hargaku serendah itu?" Shun mengingat pria di hadapannya ini pernah menyia-nyiakan Kaori, istrinya.
Yuki tersenyum. Dia tetap low profile meski terlihat jelas bahwa Shun merendahkan harga dirinya ini.
"Lambungku bermasalah dengan anggur. Kamu bisa mengambil sisanya jika misi kita sudah selesai." Yuki berjalan sambil menyentuh satu per satu botol berbagai bentuk itu. "Dia suka mengoleksi minuman, tapi hampir tidak pernah meminumnya, sama sepertiku." Pikiran pria ini melanglang buana, kembali mengingat sosok ayah yang kini telah berbeda dunia dengannya.
Shun mengerutkan keningnya. Dia heran kenapa Yuki begitu baik padanya, menawarkan benda berharga ini sebagai bahan eksperimen untuknya jika berhasil meladeni permainan Anna. Apa masalah yang dimilikinya dengan wanita itu?
"Dia sudah merendahkanku." Yuki berucap seolah mendengar kata hati Shun yang mempertanyakan apa maksud tersembunyi yang ia miliki. "Dia menganggap aku pria yang begitu bodoh, bisa dia gunakan untuk menyingkirkanmu, Oguri-san."
Shun duduk, memperhatikan penuturan pria yang satu tahun lebih muda darinya itu. Kosuke setia berdiri, sudah menjadi hal biasa baginya.
"Dia tahu semua tentang Naga Hitam, tapi tidak mengenal ayahku dengan baik." Yuki ikut duduk, berhadapan dengan Shun. Dengan isyarat tangannya, dia mempersilakan Kosuke untuk duduk di kursi kayu lainnya yang masih kosong.
"Meski Naga Hitam terkenal sebagai geng kriminal paling berbahaya di seantero Nagano, tapi ayahku tidak seperti itu. Dia pria yang baik, tidak pernah kasar apalagi bermain kasar pada kami. Satu-satunya kesalahan terbesar yang dia lakukan adalah tidak lagi percaya pada kakek Yamazaki dan berambisi untuk membesarkan Naga Hitam seorang diri, mengabaikan tuan Yamazaki Subaru."
Baik Kosuke maupun Shun tak menanggapi, mereka khidmat mendengarkan penuturan pria dengan kemeja biru langit itu.
"Mendiang ayahku ingin menunjukkan bahwa dia bisa berdiri dengan kakinya sendiri tanpa bantuan kakek Yamazaki, bahkan sengaja membuat perselisihan dengannya. Tapi, kakek ternyata masih berbaik hati, tidak langsung memusnahkan ayah dan seluruh kroninya."
"Jika saja ayah tidak bekerjasama dengan nyonya Hanako untuk mencelakai Kenzo dan istrinya, mungkin saja dia masih hidup sampai sekarang. Black Diamond tidak harus mengambil nyawanya."
__ADS_1
Shun terhenyak. Dia tidak menyangka kabar seperti itu yang didengar oleh Yuki. Padahal jelas-jelas bukan seperti itu kejadiannya.
"Tunggu!" Shun mengangkat punggungnya yang semula menempel di sandaran kursi. Dia tidak terima nama baik Mone disamarkan dan harus membuat hal ini jelas. Shun tidak rela Mone dikenal dengan keburukan yang tidak pernah dia lakukan.
"Apa maksudmu? Black Diamond yang telah mengambil nyawa bedebah itu?"
Yuki mengangguk, "Itu yang Anna katakan."
Itulah yang dia dengar sebelumnya. Dan dia tidak marah sama sekali meski Shun mengatai ayahnya sebagai bedebah, nyatanya memang dia seorang kriminal yang membungkus kejahatannya dengan topeng malaikat.
PRANG!
Shun membanting botol di tangannya ke lantai, menunjukkan bahwa dia begitu marah. Rasa sayangnya pada Mone melebihi ketertarikannya pada botol wine yang sebelumnya begitu ia kagumi ini.
"Dia tidak bersalah sama sekali. Harada mengambil nyawanya sendiri!" Shun berdiri, merasa geram dengan pernyataan pria di hadapannya.
Kosuke sigap mendekat ke arah Shun, menahan lengannya yang mulai emosi.
"Oguri-san, tenanglah," bujuknya, menenangkan pria yang wajahnya mulai memerah.
"Maaf, apa aku keliru?" Yuki menunjukkan wajah menyesal. Dia tidak tahu sama sekali bahwa perkataannya tadi akan menyulut emosi Shun.
Shun menyingkirkan lengan Kosuke, bersiap pergi dari tempat ini dengan kemarahan yang menyelimuti hatinya.
"Tunggu. Maaf, aku tidak bermaksud membuatmu marah." Yuki sigap berdiri di depan pintu, menghalangi tamunya ini untuk pergi. Sekilas dia melirik cairan hitam yang menodai lantai. Wine yang begitu berharga itu tak lagi Shun pedulikan setelah dia mengatakan sesuatu yang buruk tentang Black Diamond.
"Tolong katakan yang sebenarnya. Mungkinkah wanita itu menyesatkanku lagi?"
BUGH
"Baka!!" Shun meninju pria di hadapannya. Kemarahannya tak lagi tertahan, butuh pelampiasan.
(Bodoh!)
Kosuke menolong Yuki yang jatuh terjerembab di lantai.
"Tuan Oguri, tolong kuasai emosi Anda. Masalah ini tidak akan selesai jika Anda tidak menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi." Kosuke membantu putra tuan Hayato Harada ini untuk berdiri. Dia tidak bisa membiarkan masalah ini semakin berlarut-larut seperti pintalan benang kusut.
Yuki menyeka sudut bibirnya yang berdarah dengan tangan. Rasa baal atau kebas segera menghampiri salah satu bagian wajahnya itu. Pukulan Shun begitu kuat, membuat kepalanya seketika merasa pusing dan pandangan sedikit berkunang-kunang.
__ADS_1
Shun menutup mulutnya rapat-rapat. Dia terdiam, bungkam seribu bahasa, tak ingin menuruti permintaan Kosuke untuk meng-clear-kan masalah ini.
Mau tak mau, Kosuke mengambil tablet dari dalam saku jasnya. Jemarinya menari di atas layar sentuh itu, mencari data autopsi tuan Harada.
"Ini hasil pemeriksaan fisik ayah Anda. Beliau meninggal setelah melakukan seppuku atau harakiri. TIdak ada paksaan sama sekali, apalagi dibunuh dengan kekerasan. Black Diamond tidak pernah menyentuh ayah Anda sama sekali."
Yuki menerima benda pipih itu dengan kedua tangannya dan mengamati laporan yang ada. Saat itu dia terlalu sibuk memikirkan prosesi pemakaman Sang Ayah sampai tidak sempat memperhatikan hasil fisum yang rumah sakit keluarkan.
"Penyebab ayah Anda kehilangan nyawa adalah luka robek di bagian perut sebelah kiri yang membuat perdarahan hebat. Meski saya tidak melihat kejadian itu tapi saya bisa memastikan bahwa Nona tidak membunuh ayah Anda."
Yuki terhenyak dengan pernyataan Kosuke. "Nona? Black Diamond seorang wanita?"
Kosuke terperanjat. Dia tidak menyadari perkataannya barusan yang sudah sedikit kelepasan bicara. TIdak seharusnya dia mengungkapkan hal itu di depan Yuki.
"Benar. Dia adikku, Kamishiraishi Mone!"
Detik berikutnya Kosuke semakin terkejut. Shun justru mengungkapkan jati diri adiknya dengan begitu terang-terangan seperti ini. Apakah ini tidak masalah untuknya nanti?
"Aku tidak pernah bisa memaafkan orang yang meremehkan adikku. Nyawaku tidak lebih berharga dari hidupnya. Jadi, siapa saja yang coba membuatnya menderita, akan berhadapan denganku! Satu lawan satu! Berduel sampai mati!"
Yuki bungkam. Dia tidak tahu sepatah dua patah kata darinya akan memicu perselisihan ini. Anna benar-benar membuatnya tersesat lagi. Dan sekarang dia harus merendahkan diri di depan Shun, memohon maaf padanya.
"Oguri-san, saya benar-benar tidak tahu akan hal itu. Mohon maafkan saya."
Shun mengangkat satu sudut bibirnya. "Maaf, heh? Lupakan saja!"
Tanpa berkomentar lebih lanjut, Shun melenggang bebas meninggalkan rumah kayu itu. Dia melompat ke dalam speedboat dan membawanya pergi dari pulau ini, tak mempedulikan Kosuke yang masih tertinggal bersama Yuki. Keduanya diam, tak berkomentar apapun sampai bayangan tubuh Shun semakin jauh, hampir tak terllhat.
"Aku benar-benar membuat kesalahan fatal." Yuki menyesali apa yang terjadi, tapi tidak bisa berbuat apapun.
Kosuke menatap pria di hadapannya dengan pandangan iba. Yuki sama sekali tidak bersalah, dia hanya tidak tahu kebenaran ucapannya. Itu saja.
"Anda tenanglah. Saya akan mencoba mencari jalan lain. Tuan Muda Yamazaki tidak akan tinggal diam jika sudah tahu situasi menjadi sulit seperti ini."
Binar harapan seketika terpancar di wajah Yuki. "Ah, benar. Dimana Yamazaki Kenzo? Kenapa aku tidak melihatnya beberapa hari ini?"
Glek!
Lagi-lagi Kosuke kelepasan bicara. Dia salah tingkah dengan pertanyaan Yuki ini. Apa yang akan dia lakukan? Mungkinkah dia bisa memberikan jawaban lain? Atau harus jujur bahwa Ken dan Aira tengah 'bersembunyi'?
__ADS_1