
Langit berbintang terlihat di angkasa, menandakan bahwa sudah waktunya bagi manusia untuk beristirahat. Satu dua burung nokturnal justru bergerak dengan leluasa, menatap kegelapan dengan kemampuan khusus yang mereka milliki.
"Ken," panggil AIra, berusaha menyingkirkan pelukan Ken dari perutnya. Pria ini memeluk tubuhnya begitu erat, enggan melepaskannya barang sedetik pun. Pergumulan panas mereka berhenti tiga puluh menit yang lalu, namun Ken masih saja menciumi punggung mulus Aira sesekali.
"Ummhh," balas Ken dengan bergumam. Matanya terpejam, tidak ingin melepaskan kehangatan yang menjadi favoritnya ini. Mereka masih berpelukan, tanpa halangan sehelai benang pun.
"Dasar mesum!"
Ckiitt
Aira kembali mencubit punggung tangan Ken seperti sebelumnya. Dia sebal dengan sifat Ken yang begitu posesif ini.
"Aku lapar. BIarkan aku makan dulu."
Hening. Bukannya melepaskan tautan mereka, Ken justru menyurukkan kepalanya lebih dalam.
"Lepaskan atau kamu tidur di luar seminggu ke depan!" Ancaman Aira berhasil membuat netra Ken terbelalak. Dia langsung melepaskan diri dan terduduk dengan wajah polos tanpa dosa.
"Selalu saja seperti ini!" ketus Aira, memajukan bibirnya. Dia sebal karena Ken seolah tidak pernah puas meski mereka sudah menghabiskan waktu bersama hampir enam jam.
Cup
"Sayang, maafkan aku." Ken mencium pelipis istrinya, setelah menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupinya. "Aku akan ambilkan makanannya sekarang." Ken bersiap beranjak.
"Tidak perlu. Aku tidak lapar!" Aira merajuk, membuat Ken mengurungkan niatnya untuk pergi.
"Ya sudah. Aku juga malas pergi." Pria dengan lesung pipi di wajahnya itu kembali merebahkan diri di belakang Aira.
"Ishh, menyebalkan!" Aira menyingkirkan tangan Ken yang berusaha masuk ke bawah lehernya. "Tidak bisakah kamu membaca keadaan? Aku lapar dan kamu tidak berinisiatif mengambilkan makanan?"
"Heih?" Ken heran dengan respon istrinya. Bukankah Aira sendiri yang menolak dan berkata bahwa dia tidak lapar.
"Bagaimana bisa kamu membiarkan istrimu kelaparan?" Aira bangkit dari ranjang dengan wajah bersungut. Dengan gerakan kilat, dia memakai kimono tidur dan segera menjauh dari jangkauan suaminya.
Ken menatap punggung Aira yang keluar dari pintu dengan kening berkerut. Setahun bersamanya, dan dia belum bisa memahami istrinya. Lain di mulut, lain di hati. Kata-kata wanita seringkali berbeda dengan keinginan di dalam hati mereka. Dan Ken tidak tahu kenapa makhluk cantik itu sulit untuk dimengerti.
Pria bermarga Yamazaki ini tak ingin ambil pusing. Dia memejamkan matanya, ingin terlelap dan mengistirahatkan badannya setelah 'olahraga' malam yang melelahkan. Perlahan fungsi panca inderanya melemah, siap memasuki alam bawah sadar.
Bugh!
Sebuah bantal mendarat di wajah, membuat Ken terkejut. Dia tidak bisa melanjutkan tidurnya.
"Ada apa?" tanya Ken, lagi-lagi dengan wajah tanpa dosa.
"Ada apa?!" Aira mencebikkan bibirnya. "Dasar tidak peka!"
Wanita dengan kimono berwarna putih itu duduk di tepi ranjang, membelakangi suaminya.
__ADS_1
Ken mengurut pelipisnya yang terasa sedikit pening. Tidurnya tidak tuntas, membuat saraf di dalam kepalanya stress dan membuatnya merasa tidak nyaman.
"Aku tidak tahu apa yang kamu inginkan. Katakan dengan jelas." Ken menyingkirkan selimut dari tubuhnya dan memakai kimono seperti yang istrinya pakai. "Aku kesulitan memecahkan kode apapun, itu salah satu kelemahanku. Jadi, jangan memberikan kode saja, aku tidak bisa membacanya."
Bibir Aira semakin mengerucut. Pria ini benar-benar tidak peka.
"Katakan padaku semuanya!" titah Aira dengan wajah masam. Dia tidak senang karena Ken terlalu jujur. Pria ini tidak memanjakannya atau apa, justru langsung meminta agar Aira tidak memberinya kode melainkan langsung mengatakan perasaannya. Benar-benar pria muka tembok!
"Katakan apa?" Kini Ken duduk di sebelah istrinya, menatap wajah bulat tembam itu dari samping.
"Kenapa kamu menahanku dengan paksa?" Aira menuntut jawab atas perlakuan kasar Ken hari sebelumnya.
Plakk
Ken menepuk keningnya sendiri. Istrinya ini sungguh luar biasa. Dia marah karena hal kemarin. Padahal Ken mengira bahwa wanita ini sudah melupakan kejadian tak terencana kemarin. Ternyata penyatuan mereka berkali-kali tak bisa menghilangkan masalah kemarin. Ken salah menilai sifat wanita, menganggap mereka dengan mudah melupakan kesalahan yang ada. Ternyata sebaliknya.
"Tidak ada alasan. Aku hanya ingin memukulmu."
"HAH?" Aira menatap suaminya dengan pandangan heran. "Apa kamu gila?"
Ken menyugar rambutnya dengan tangan. Dia tidak tahu bagaimana cara mengatakan tentang permaslahan mereka. Sulit sekali memilih kata yang tepat saat berhadapan dengan wanita yang tengah marah ini.
"Benar, aku memang gila." Ken coba mengikuti arus, mengiyakan tuduhan istrinya.
"Aku takut kamu akan pergi begitu saja, melawan kakek dengan segala resikonya." Ken menatap manik mata coklat di hadapannya dengan lembut. "Aku mengenal kalian berdua. Baik kakek ataupun istri tersayangku ini," Ken mengelus pipi Aira, "Kalian sama-sama keras kepala. Kamu hanya akan membuat masalah semakin runyam jika meminta pada pria tua itu agar kamu tetap tinggal."
Ken menggeleng. "Tidak. Kamu tidak bersalah sama sekali. Pun kakek, beliau pasti memiliki alasan sendiri kenapa 'mengusir' kita ke tempat ini."
Aira tidak membantah atau mengiyakan. Dia juga memikirkan hal yang sama. Pria lanjut usia itu pasti memiliki pertimbangan tersendiri atas semua keputusan yang diambilnya. Tapi entah kenapa, Aira merasa keputusan itu terlalu memaksa, meminta dia atau Ken untuk tidak ikut campur atas masalah serius yang berkaitan dengan kedatangan Anna.
"Bisa kamu katakan semua padaku agar aku tidak salah paham pada keputusan kakek?"
Ken menghela napas, tahu kemana arah pembicaraan istrinya. Nada bicaranya yang semakin lembut menandakan bahwa wanita ini sudah berhasil menguasai emosinya. Mungkin makanan di dalam perutnya mulai dicerna, membuat Aira sedikit lebih tenang.
"Anna datang dengan tiba-tiba, menyasar Yuki sebagai tujuan pertamanya. Ingat, tujuan pertama, bukan tujuan utama."
Aira mengerutkan kening. Dia tidak berpikir akan hal itu.
"Aku sendiri tidak tahu siapa tujuan utamanya, Mone, kakek, atau kita,"
Aira tampak berpikir. Dia setuju dengan opsi terakhir yang suaminya ucapkan. Kemungkinan terbesar Anna 'bangkit dari kematian' adalah untuk membalas dendam atas keputusan Ken dan Aira yang menjemput Mone dengan paksa.
"Ini kesalahanku. Aku terlalu ceroboh, tidak melakukan pemeriksaan setelah ledakan itu dan menganggap tuan Takeshi dan istrinya tidak akan selamat. Tapi nyatanya, wanita itu datang dengan sendirinya. Dia pasti memutuskan untuk balas dendam setelahnya. Itu sebabnya dia mengejar kita sampai sejauh ini."
Wanita yang sudah melahirkan tiga orang bayi menggemaskan itu menatap langit di luar sana. Dia melangkah menuju jendela, membiarkan wajahnya diterpa angin pantai yang terasa hangat.
"Kedatangannya kali ini tidak bisa dianggap sepele." Ken menyusul istrinya, berdiri satu langkah di samping kanannya. "Dia pasti memiliki rencana terselubung untuk menghancurkan kita secara perlahan."
__ADS_1
"Jika berkaca pada pemikiranmu, kemungkinan terbesarnya adalah dia ingin menghancurkan kita dan merebut Mone kembali. Dia pasti mengetahui kemampuan Mone dengan baik."
Ken mengangguk, mengiyakan teori yang istrinya ungkapkan. "Itu benar. Kemampuan adikmu sebagai Black Diamond sangat diimpikan oleh orang-orang di dunia bawah tanah. Mone bisa menghancurkan apapun di hadapannya jika mode iblisnya diaktifkan. Aku sendiri tidak yakin bisa menang melawannya. Serigala tidak sebanding dengan iblis."
"Kenapa dia mendatangi Yuki, tidak langsung menyerang kita?"
Ken tersenyum. "Kawanan serigala tidak pernah meninggalkan anggotanya."
"Eh?" Aira menatap Ken dengan penuh tanda tanya. Tidak tahu apa yang ingin pria ini sampaikan dengan perumpamaan yang dia ucapkan.
"Ada begitu banyak pengawal di sekitar kita. Apa yang bisa dia lakukan seorang diri?"
Aira mengangguk sekali. Dia setuju dengan alasan Ken yang terakhir. Anna hanya seorang diri dan mereka adalah koloni terbesar di Jepang. Katakanlah satu lawan seribu. Bahkan seorang anak kecil saja tahu siapa yang akan menjadi pemenangnya.
"Bagaimana jika perkiraan kita salah?' Aira melemparkan pertanyaan lain pada Sang Suami. Dia selalu saja bisa melihat satu permasalahan dari sudut pandang yang lain.
"Maksudmu?"
"Bisa saja Anna menyasar hal lain. Kaori misalnya."
Kali ini Ken yang mengerutkan keningnya. "Kaori? Ada apa dengannya?"
Aira mengembuskan napas beratnya. "Yuki adalah mantan suami Kaori. Dan sekarang Kaori menikah dengan Shun. Bisa saja haluannya berubah, membidik pria itu dengan tangan orang lain."
Ken tak menjawab. Seperti biasa, wanita ini memiliki pemikiran yang tajam. Dia bahkan tidak berpikir ke arah sana.
"Sebagai seorang wanita, aku bisa memperkirakan arah pergerakannya dan siapa yang dia tuju."
Ken menghubungkan semua kemungkinan yang ada.
"Jika dia berhasil memprovokasi Yuki, dengan otomatis Kaori akan terpengaruh. Yuki bisa saja berinisiatif merebut wanita itu untuk kembali ke sisinya. Jangan lupakan fakta bahwa mereka itu pasangan yang saling mencintai satu sama lain."
Ken mengangguk. Apa yang Aira ungkapkan itu masuk akal.
"Jadi, apa yang akan wanita itu lakukan selanjutnya?"
"Dia pasti akan memprovokasi Yuki dengan berbagai cara."
"Benar juga. Aku tidak memikirkan hal itu." Ken mengamini pernyataan istrinya.
"Itu tidak begitu penting, karena hubungan Kaori dan Shun tidak buruk. Mereka pasti bisa menghadapinya." Aira tampak khawatir. "Yang harus kita khawatirkan bukan mereka, melainkan Mone."
"Mone?" tanya Ken sangsi.
* * *
Apa yang akan terjadi selanjutnya? See you.
__ADS_1
Hanazawa Easzy