Gangster Boy

Gangster Boy
Hontou ni Gomennasai...


__ADS_3

Aira diculik saat akan pergi dari kamar hotel. Ia disekap di sebuah ruangan tertutup dengan tangan terpasang borgol. Seorang pria datang melepaskan borgol itu yang membuatnya terjerembab ke lantai. Bibirnya mengeluarkan darah karena tak sengaja tergigit. Pria itu mengelap darah di bibir Aira dengan ibu jari lalu menjilatnya.


Aira menatap orang di depannya dengan pandangan jijik. Ia segera menguasai diri dan duduk bersila dengan tenang.


"Apa yang anda inginkan?"


"Ah, gadis yang unik. Pantas saja dia menyukaimu," pria itu meraih dagu Aira tapi langsung ditepisnya.


"Jangan sembarangan menyentuh barang milik orang lain.." Aira menatap orang itu dengan tajam.


"Barang? Yama-chan hanya menganggapmu sebuah barang?"


Aira mengernyitkan dahinya, heran karena orang di depannya ini sepertinya sangat mengenal Ken sampai memanggilnya Yama-chan.


"Jangan memandang rendah dirimu sendiri. Hahaha...." Pria itu duduk di hadapan Aira sambil menyalakan rokoknya.


Tak


Aira mengambil rokok dari mulut orang itu dan membuangnya ke sembarang arah, "Aku benci asap rokok,"


Tiba-tiba raut wajahnya berubah menjadi gelap dan seram, "Apa hakmu mengganggu kesenanganku?" pandangan matanya yang tajam seolah ingin menelan Aira hidup-hidup.


Aira tersenyum dan mengelus pergelangan tangannya yang memerah, "Sekarang kamu menyesal melepaskan ikatan tanganku kan?"


Mata pria itu membulat kala melihat gelang yang Aira kenakan. Ia tahu dengan jelas, gelang itu milik mendiang adiknya. Bahkan Erina masih mengenakannya saat sarapan pagi sebelum mengakhiri nyawanya siang itu.


"Darimana kamu mendapatkannya?" Pria itu mencengkeram lengan Aira dengan sangat erat membuat si empunya kesakitan.


"Bukan urusanmu," Aira berpaling menghindari tatapan tajam orang itu.


"SIAPA YANG MENGIZINKANMU MEMAKAI BENDA KESAYANGAN ADIKKU?" Dia naik pitam dan membentak Aira dengan suara yang sangat lantang.


"Apa anda menginginkannya?" Aira menepis cengkeraman itu dan segera membuang gelang itu menjauh, "Benda menyedihkan," ucapnya sarkas. Ia mengerti alur ceritanya sekarang. Pria di depannya adalah kakak Erina.


Plakk


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi membuat sebelah wajahnya memerah dan terasa pedas untuk beberapa saat. Aira tersenyum semakin lebar.


"Apa anda bisa melakukan hal lain yang lebih membahayakan nyawaku? Ken mencambukku berkali-kali, sekarang hanya sebuah tamparan tidak akan membuatku mati," pancing Aira. Ia siap menerima konsekuensinya. Cepat atau lambat, ia ingin berpisah dengan Ken, meskipun itu berarti selesainya babak kehidupannya. Ia tak peduli, toh ibunya sudah aman sekarang.


"Kau..." geramnya menahan marah.


Srettt...


Yoshiro menarik ikat pinggangnya yang berwarna putih, "Jangan salahkan aku melakukan ini padamu. Aku hanya ingin membantu Ken memberikan hukuman padamu."

__ADS_1


Ctarr


Satu cambukan berhasil mendarat di punggung Aira yang berdiri mematung di depan Yoshiro, menahan perih yang mulai terasa di punggungnya. Yoshiro lanjut memukulnya beberapa kali sampai noda darah tercetak di punggungnya yang memakai atasan berwarna putih.


"Hentikan ! Apa kakak ingin membunuhnya?" pinta seorang gadis sambil menahan gerakan tangan kakak tertuanya.


Aira mendengar suara yang familiar dan menoleh ke arah sampingnya. Ada Yu disana. Aira tersenyum sarkas sebelum tubuhnya limbung ke lantai, pandangannya mulai berkabut.


"Sempurna," dan semuanya gelap. Aira pingsan.


"Rara..." panggil Yu, "Ra...."


*******


3 hari berlalu


"Kami menemukannya," lapor Kosuke pada Ken.


"Kita pergi sekarang. Bawa 200 orang untuk membereskan mereka. Jangan ada satupun yang tersisa," perintahnya sambil memasuki mobil.


Mentari kembali ke peraduannya saat mereka sampai di depan gedung tua yang tak terawat. Ken menyerbu masuk bersama pasukannya, tapi hasilnya nihil. Tak ada tanda kehidupan di sana, hanya sesuatu di tengah ruangan seperti seseorang yang sedang meringkuk. Ken mendekatinya dan langsung bersimpuh begitu tahu itu adalah Aira.


"Aira...." panggilnya meletakkan kepala Aira di lengannya, "Aira, bangun !!" Ia semakin panik saat tak ada respon.


Ken berdiri di depan ruang ICU dengan gelisah. 2 jam berlalu tapi belum satupun dokter keluar dari ruangan berwarna biru itu. Naru berlari menghampirinya, di belakang menyusul ayah, ibu dan kakek yang paling belakang diikuti beberapa pengawalnya.


Plakk


Kakek menampar Ken dengan segenap kekuatannya. Raut wajah renta yang biasanya terlihat tenang itu kini memucat. Sejak menghilangnya Aira, ia tidak bisa tidur sedetik pun di malam hari. Seluruh kota sudah ditelusuri oleh orang-orangnya tapi tetap saja tak ada tanda keberadaan Aira.


Beberapa jam yang lalu, baru saja dia akan menghubungi organisasi internasional saat seorang pengawal datang memberitahu bahwa Ken sudah menemukan Aira.


"Kau tahu kesalahanmu?" tanya kakek.


Ken bersimpuh, "Sumimasen"


(Maafkan aku)


Grrtt


Pintu ICU terbuka, seorang dokter keluar sambil melepas maskernya, "Keadaannya buruk. Akan saya jelaskan di ruangan"


Ken dan kakek mengikuti dokter yang sekaligus kepala rumah sakit ini ke ruangannya.


"Seseorang menyuntikkan sesuatu di tubuhnya. Saya belum bisa memastikan obat apa itu, tapi efeknya benar-benar buruk semacam bisa ular yang melumpuhkan mangsanya." dokter terlihat kesulitan menyampaikan keadaan pasiennya kini.

__ADS_1


"Ada apa dengan istriku?" Ken menatap pria paruh baya di depannya dengan serius.


"Dia lumpuh, kakinya tidak lagi berfungsi. Kami masih mengevaluasi apa yang sebenarnya terjadi. Tapi ada yang sedikit janggal dan bisa dibilang ini adalah sedikit berita bahagia. Dari hasil laboratorium, racun yang tersisa di jarum suntik yang pengawal anda temukan seharusnya membuat si pemilik tubuh ini lumpuh total. Tapi keadaan nona Aira tidak separah itu, hanya lutut ke bawah yang terkena efek obat itu,"


"Maksud anda..." Ken menggantung ucapannya, dia tidak yakin dengan pemikiran dokter.


"Seseorang memberikan obat penawarnya sebelum racun itu menjalar ke anggota tubuh yang lain. Selain itu obat penenang dengan dosis tinggi mencegahnya panik dan menyelamatkan nyawanya,"


"Obat penenang?" kali ini kakek ikut andil bicara.


"Jika tidak salah, racun itu akan bekerja dengan lambat, mematikan syaraf-syaraf yang ia lalui. Tapi dari hasil pemeriksaan, organ tubuh bagian atas nona Aira semua dalam kondisi baik. Obat penenang itu menghentikan racun karena tubuh nona Aira tertidur seketika. Hanya saja karena dosis obat penenang yang diberikan terlalu tinggi, ia jadi belum sadarkan diri sampai sekarang."


"Tertidur?" Ken semakin tak mengerti arah pembicaraan mereka.


"Sepertinya orang yang memberikan penawar dan obat penenang ini berbeda dengan orang yang menyuntikkan racun. Kedua obat yang saya sebutkan di awal berupa tablet, artinya nona Aira meminumnya dalam keadaan sadar. Kemungkinan 30 menit setelah racun itu memasuki tubuhnya. Untuk memastikan, kita hanya bisa mendengar penuturannya nanti setelah ia siuman,"


"Kapan ia bangun?"


"Seharusnya saat ini sudah bangun. Tapi luka di punggungnya mungkin membuatnya trauma dan kesadarannya menurun. Kita hanya bisa menunggu sampai ia membangunkan dirinya sendiri. Atau anda mau mencoba berbicara dengannya?" tawar pria berkacamata kotak itu.


Ken mengangguk mantap dan segera berlari menuju ruang perawatan Aira. Ia duduk di samping ranjang istrinya sambil mengedarkan pandangannya dari ujung kepala sampai ujung kaki.


"Gomen ne..." sebulir air mata membasahi pipinya yang tampak lelah. Bagaimana tidak? Sejak menghilangnya Aira, ia sama sekali tidak tidur dan tidak makan. Hanya suplemen makanan dan vitamin yang berkali-kali ia konsumsi saat kepalanya terasa berkunang-kunang.


(Maaf...)


Ken mencium kening Aira sekilas, kemudian menggenggam tangan mungil yang terpasang berbagai alat yang terhubung ke monitor itu.


"Aira-chan.. Apa kamu bisa mendengarku?" Ken menatap wajah pucat istrinya sambil sesekali mencium jemarinya.


Hening.


Hanya terdengar suara detak jam dinding dan berbagai alat yang ada di ruangan itu, salah satunya CPAP Sleep care, yaitu Continous Positive Airway Pressure yang melingkar di kepala Aira dan terhubung dengan hidungnya


"Kami harus memasangnya. Alat ini digunakan bagi pasien sleep apnea. Orang dengan sleep apnea memiliki kesulitan bernapas saat tidur yang disebabkan karena adanya penyumbatan saluran pernapasan ataupun tidak stabilnya pusat kendali pernapasan. Ketika penyumbatan terjadi, orang dengan sleep apnea akan terbangun mendadak dan sesak napas," jelas dokter saat ia memintanya melepaskan alat yang mungkin membuat Aira tidak nyaman itu.


"Hontou ni gomennasai..." sesal Ken sambil menenggelamkan wajahnya di samping lengan Aira.


(Aku sungguh-sungguh minta maaf)


*******


Gomen gomen gomen... 😭😭


Author lagi ngga bisa konsen. maap kalo ceritanya ngambang ngga dapet feel 😢😢

__ADS_1


__ADS_2