Gangster Boy

Gangster Boy
Season 3 : Sampah Tidak Tahu Diri


__ADS_3

"SAMPAH TIDAK TAHU DIRI!" umpat nyonya Hanako begitu keluar dari ruangan di belakangnya. Ia melangkah cepat, menjauh dari iblis berwajah malaikat yang dulu berstatus sebagai putra tirinya.


"Nyonya, tenangkan dirimu. Saya akan menyelidiki semuanya hingga tuntas." Ucap seorang pria yang selalu setia mengikuti wanita ini kemanapun ia pergi.


Maria, sekretaris utama yang melayani G, segera masuk melewati pintu megah yang terbuka separuh. Netranya langsung menangkap bayangan G yang kini duduk di kursinya sambil tertawa. Ia bahkan memutar tempat duduk itu beberapa kali, membuat badannya berputar 360° seperti anak kecil yang tengah bermain di taman.


"Tuan," ucap Maria menyela aktivitas tuannya.


"Ah, Maria. Hahahaa ..." G kembali tertawa seperti orang gila. Ia bahkan tak segan melepas dasi dan jas pemberian Aira pagi ini.


"Maaf jika saya lancang, apa yang sebenarnya terjadi? Nyonya Kwon ... ah, maksud saya, ibu Anda pergi dengan marah." Maria segera meralat ucapannya karena G tidak pernah suka jika Maria menyebut rubah wanita itu sebagai nyonya Kwon.


"Ah? Haha, bukan apa-apa." G berusaha menghentikan tawanya, "Itu tidak penting lagi. Dan, mulai sekarang kamu bukan bawahanku, jadi kamu tidak perlu bersikap begitu formal padaku. Lagipula, saat ini aku hanya gelandangan. Sampah tidak tahu diri."


"Maaf?" tanya Maria masih belum mengerti. Tuannya ini sungguh aneh, tidak seperti biasanya.


"Lihat dokumen itu. Mulai hari ini aku bebas, bukan CEO di perusahaan ini lagi," G masuk ke ruangan pribadinya yang terhubung melalui sebuah pintu berwarna coklat.


Maria menuruti perintah G, meraih beberapa lembar dokumen yang berserakan di meja. Matanya membulat sempurna setelah melihat pasal demi pasal yang ada dalam surat pengalihan saham di tangannya.



"Bagaimana penampilanku?" tanya G penuh percaya diri.


"Apa yang ... " ucapan Maria terhenti saat melihat penampilan Ji Yong, "Kenapa Anda ... "


"Berhenti berbicara formal padaku!" G pura-pura marah. Senyumnya menghilang seketika, menyisakan wajah menyeramkan yang terlihat misterius.


Glek


Maria meneguk salivanya dengan paksa. Bagaimana tidak? Pimpinan perusahaan ini yang selalu memakai kemeja dan jas formal, kini menjelma menjadi sosoknya bertahun-tahun yang lalu, seorang idol. Hal itu membuat wajah wanita blasteran ini memerah dan gugup seketika.


"G Dragon ... " panggilnya masih tak percaya.


"Apa kamu terpesona padaku?"


Maria masih diam di tempatnya, ia tidak bisa berkomentar apapun. Bahkan kedua kakinya seolah terpaku di lantai, tak bergerak sedikit pun.


"Hey, suamimu akan memukulku jika kamu jatuh cinta padaku. Bagaimana pun juga dia masih kakak sepupuku." G membenarkan lengan jaket yang tadi sengaja ia turunkan, menampilkan kaos putih yang melekat di badannya. Ia sengaja melakukan itu untuk menggoda Maria.


Tukk


"Apa kamu bodoh?" tanya Maria sembari mengetuk tempurung kepala G, "Paman bersusah payah memperjuangkan Kwon Company hingga akhir hayatnya, kenapa kamu justru menyerahkannya pada wanita itu?"


"Yamete!" G segera menjauh dari jangkauan wanita yang tiga tahun lebih tua darinya itu, "Aku tidak sebodoh ayahku."


(Hentikan!)


"Apa? Kamu bahkan berani menghina ayahmu sendiri? Belum puas aku pukul?" Maria kembali mendekat dengan tangan terangkat di udara, bersiap hendak memukul pria dengan tato di belakang lehernya ini.

__ADS_1


G menutup mata, bersiap menerima pukulan yang akan ia rasakan detik berikutnya.


"Bodoh!" Maria menarik tangannya dan memilih duduk di kursi sofa yang ada di ruangan itu, "Duduk dan jelaskan apa yang kamu rencanakan!" tegas wanita dengan blazer dusty pink melekat di tubuhnya yang cukup sintal.


"Itu bukan hal yang penting sekarang. Besok atau lusa kita akan lihat hasilnya." G duduk di meja kerjanya, sembari memandang pigura yang kacanya telah rusak, "Aku akan mengejar Yuzuki."


"Hentikan membicarakan hal-hal di luar urusan perusahaan. Aku tidak peduli apa yang akan kamu lakukan nanti. Aku selama ini berusaha bersikap profesional demi menjaga nama baikmu dan paman. Tapi tiba-tiba seperti ini, bagaimana nasib Circle K kedepannya? Kenapa kamu mengalihkan semua saham milikmu pada nyonya Hanako? Kamu tahu pasti seperti apa tabiatnya."


"Karena aku sangat mengenalnya, makanya aku berani bertaruh jika rencanaku ini pasti akan berhasil." G tersenyum lebar.


"Katakan dengan jelas!" paksa Maria. Ia tidak ingin bermain teka-teki dengan adik sepupu suaminya ini.


"Lihat pasal 3 yang ada di surat itu,"


Sesuai perintah G, Maria kembali membuka lembaran kertas di depannya, "Mulai sejak dokumen ini ditandatangani, seluruh saham Circle K resmi menjadi hak milik pihak kedua; termasuk di dalamnya segala bentuk keuntungan usaha dan resiko yang mungkin terjadi."


"Yups. Resiko yang mungkin terjadi. Haruskah aku menjelaskan resiko apa itu? Bukankah kamu sudah melakukan semua tugasmu dengan baik? Kita hanya tinggal menunggu beberapa jam lagi dan wanita itu tidak akan bisa selamat. Seluruh kekacauan yang akan terjadi besok, menjadi tanggung jawabnya. Siapa yang selamat setelah berani menyinggung Yamazaki Kenzo, si iblis itu?"


Maria mengerutkan keningnya, memikirkan kata-kata G yang barusan ia dengar. Rasanya hal itu benar, tapi entah kenapa dia merasa takut jika pada akhirnya efeknya akan sampai pada perusahaan ini juga.


"Bagaimana jika ... "


"Aku sudah memastikan rencananya berjalan dengan baik. Pastikan saja wanita itu tidak mengetahuinya. Kita hanya bisa menggunakan dia sebagai kambing hitam atas semua kekacauan yang akan terjadi besok. Jadi, tolong gantikan aku untuk mengawasinya. Laporkan segera jika ia tiba-tiba bergerak!"


"Ji Yong-ah,"


"Maria, hanya itu yang bisa kita lakukan untuk membalas kematian tangan kanan ayahku." G menatap langit-langit ruangan ini di atas sana.


"Benar. Memang Kenzo yang mengeksekusinya, tapi dia hanya kambing hitam. Rubah wanita itu meminjam nama ayahku, menyuruh orang kepercayaan ayah untuk menyelundupkan ratusan kilogram zat psikotropika ke China atas nama Yamazaki Kenzo."


"Tunggu, maksudmu nyonya Hanako mengadu domba paman dan Yamazaki sejak awal? Dia memancing kemarahan Yamazaki Kenzo agar pria itu melenyapkan 'mesin uang' yang bekerja untuk paman?" Maria mulai memahami arah pembicaraan G ini.


"Benar. Wanita itulah penyebab utama ayahku meninggal. Aku baru mengetahui fakta ini dari Yuzuki. Dia berhasil meretas dokumen penting yang selama ini disembunyikan dengan baik di dalam komputer jinjingnya."


"Kamu mempercayai Ebisawa Yuzuki itu? Bagaimana jika dia berbohong padamu?" tanya Maria sangsi.


"Dia tidak pernah berbohong padaku. Kami sudah saling mengenal satu sama lain, aku tidak bisa membohonginya, begitupun sebaliknya. Dia menyertakan semua bukti yang mengarah kesana, rubah wanita itu sengaja menyingkirkan ayah perlahan. Dan dengan bodohnya aku masih ada do bawah ketiaknya selama ini." G menarik seulas senyum pahit di bibirnya, membayangkan semua kerja kerasnya selama ini harus ia lepaskan hari ini.


"Apa tuan Yamazaki tahu tentang hal ini?" tanya Maria hati-hati.


"Umm. Yuzuki memberikan salinannya pada asisten pria itu. Mungkin dia sudah tahu, mungkin juga tidak. Entahlah." G tampak ragu dengan ucapannya sendiri.


"Tapi, kenapa nyonya Hanako memilih mencatut nama Yamazaki Kenzo, bukan yang lain?"


"Itu karena kematian Erina, putri pertama tuan Ebisawa, yang terhitung masih keponakan si Wanita Rubah. Gadis itu bunuh diri hampir enam tahun yang lalu setelah Kenzo mencampakkannya. Jadi, demi sakit hati yang ia pendam, ia menjebak Kenzo. Aku benar-benar muak dengan segala taktik adu dombanya. Jadi, aku ingin wanita itu merasakan menjadi korban adu domba itu sendiri. Aku ingin melihat seberapa kejam Yamazaki Kenzo saat jiwa iblisnya menguasai. Ku dengar dia tidak akan melepaskan orang-orang yang telah mengusik ketenangannya." G berdiri di depan kaca, menatap nyonya Hanako yang masuk ke dalam mobil hitam miliknya.


BRAKK


Nyonya Hanako masuk ke dalam mobil setelah membanting pintunya dengan sangat keras. Ia marah sejadi-jadinya setelah menemui G lima menit yang lalu.

__ADS_1


FLASHBACK


"Sebaiknya Anda memeriksa dokumen apa yang Anda tanda tangani," cetus G dengan bangga. Ia tak lagi memanggil wanita itu dengan sebutan ibu. Hal itu membuat nyonya Hanako berpikir keras. G tampak lain dari biasanya.


"Apa? Apa maksudmu?" nyonya Hanako panik dan segera mengambil dokumen di meja yang tertera tanda tangannya.


"Ini?!" matanya membulat menyadari siasat yang dimainkan G. Ia baru saja membaca semua pasal yang tertera dalam surat pernyataan itu. Sebelumnya ia mengira G benar-benar bodoh dengan menyerahkan seluruh saham miliknya.


"INI TIDAK MUNGKIN!!" teriaknya frustasi.


"Kenapa? Apa Anda takut sekarang?" tanya G penuh tekanan di setiap suku katanya.


"Kamu ingin menjebakku?"


"Bukankah ini yang Anda inginkan, nyonya?" G menggerakkan sebelah alisnya naik turun, mempermainkan perasaan wanita licik di depannya.


Nyonya Hanako mengangkat tangannya, bersiap menampar G, namun tangannya tertahan di udara. G mencengkeram pergelangan tangan wanita lima puluh tahun itu dengan erat.


"Kau?!" geram nyonya Hanako.


"Kesabaranku sudah habis. Aku tidak akan mengikuti permainan yang Anda mainkan lagi. Seluruh perusahaan ini sekarang menjadi milik Anda, bukankah seharusnya Anda senang, Nyonya? Bukankah itu yang Anda inginkan? Seluruh aset ayahku ada di bawah kendali Anda sekarang," G menghempaskan tangan nyonya Hanako, "Tapi itu juga berarti Anda harus menanggung semua resikonya sendiri, termasuk jika ada kesalahan atas kerjasama di masa lalu. Aku tidak ada urusan lagi dengan perusahaan ini, apapun yang terjadi. Semoga Anda tidak menyinggung siapapun kedepannya."


"Kamu?! Apa yang kamu rencanakan?" geramnya marah. Matanya berkilat tajam menatap anak muda di hadapannya.


"Tidak ada. Aku bebas sekarang." G merebut surat yang ada di tangan nyonya Hanako dan membuka lembar terakhirnya, "Anda sudah menandatangani pemecatanku sebagai CEO Circle K dan memutuskan segala hubungan kerjasama dengan Diamond, perusahaan agensi milikku selama ini. Dan satu hal lagi, ... " G membuka lembaran di depannya, "Anda menghapus nama Kwon Ji Yong dari kartu keluarga. Itu artinya, kita kembali menjadi orang asing, tidak ada hubungan kekerabatan apapun lagi. Tidakkah ini bisa Anda pahami, Nyonya Hanako yang terhormat?"


"Kamu?!" nyonya Hanako mengeratkan giginya, merasa kesal dan marah sekaligus, "Kamu lupa permintaan ayahmu?"


"Ayah?" G pura-pura berpikir, "Ah, beliau selamanya akan menjadi ayah biologisku. Aku masih ingat dengan jelas apa yang ayahku katakan. Beliau memintaku menjaga dan melindungi 'ibu'. Karena kita bukan lagi ibu dan anak, aku tidak perlu melindungi Anda lagi." G tersenyum lebar, merasa di atas awan.


"Kamu menjebakku!"


"Bukankah itu yang Anda lakukan pada orang kepercayaan ayahku? Menjebaknya dengan memprovokasi Yamazaki Kenzo? Secara tidak langsung, Anda juga yang sudah menghancurkan ayahku dan perlahan mengirimnya menyusul ibuku. Jadi, sekarang terimalah karma dari kejahatan masa lalumu, Nyonya."


"SAMPAH TIDAK TAHU DIRI!" umpat nyonya Hanako sembari berjalan keluar meninggalkan ruangan.


FLASHBACK END


"Ada yang bisa saya bantu, Nyonya?" tanya pria berbaju hitam yang kini duduk di belakang kemudi, membawa kendaraan roda empat itu keluar dari Circle K.


"Selidiki rencana tersembunyi yang b*jingan itu siapkan. Aku yakin dia merencanakan sesuatu atau mungkin mengutus seseorang untuk menyerangku."


"Baik, Nyonya."


...****************...


Huuftt akhirnya kelar juga episode ini, maaf karena lambat (banget) update hari ini.


See you next part, mohon dimaklumi jika masih ada typo.

__ADS_1


Hanazawa Easzy 😉🤗


__ADS_2