
Gemericik air terdengar dari dalam kamar mandi, membasahi tubuh atletis itu dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tangannya sibuk mengusap sampo ke kepala, memijatnya ringan, membuat cairan berwarna hitam itu berubah menjadi busa di antara helai rambut yang tak terhitung jumlahnya.
Sesekali pria itu menengadahkan kepalanya, membiarkan wajah putihnya tersapu air yang mengalir dari shower. Tangannya sibuk meratakan sabun mandi ke seluruh tubuhnya. Senyumnya kembali terukir, mengingat kebersamaannya bersama sang istri beberapa menit sebelumnya. Rasa-rasanya, waktu satu jam yang mereka habiskan masih kurang. Ia tak akan pernah puas menikmati haknya yang satu ini.
Tok tok tok
"Ken, kenapa lama sekali?" terdengar suara wanita pujaan hatinya dari balik pintu, membuat Ken mematikan kran di hadapannya. Ia tak mendengar dengan jelas kalimat yang diucapkan oleh istrinya barusan.
"Ada apa?" tanya Ken cukup keras. Suaranya menggema memenuhi ruangan 2 x 3 meter ini. Tetes-tetes air dari badannya jatuh ke lantai,
"Kamu belum selesai mandi? Kenapa lama sekali? Kosuke sudah menunggumu di bawah," ucap Aira sedikit berteriak. Sudah tiga puluh menit berlalu, tapi suaminya belum juga keluar. Entah apa yang pria itu lakukan di dalam sana.
"Aku akan keluar sebentar lagi." Ken kembali menyalakan kran di depannya, membuat kepalanya kembali basah.
Aira menjauh dari pintu saat terdengar suara air dari dalam. Ia mengerutkan keningnya, heran. Tidak biasanya Ken berlama-lama di kamar mandi. Ia selalu melakukan semua aktivitasnya dengan cepat.
'Apa dia belum puas?' batin Aira menerka-nerka.
Tanpa ingin memikirkannya lebih jauh, Aira menggelengkan kepalanya beberapa kali, berharap pemikiran bodohnya itu segera pergi. Ia menatap pantulan tubuhnya di cermin dengan pandangan tak percaya. Ada begitu banyak tanda yang Ken tinggalkan, mulai dari leher, belakang telinga, pundak, puncak lengan, juga banyak di dadanya. Tanda cinta itu terlihat menjengkelkan di mata Aira.
Ken semakin buas pagi ini. Sepertinya keputusannya untuk mengungsi ke rumah kakek Yamazaki tak bisa ditunda lagi. Ia harus segera pergi ke sana demi keamanan pertahannya di hari-hari terakhir masa nifasnya ini. Ia takut Ken akan lepas kendali dan ia tidak bisa mencegahnya. Jika di rumah kakek, Ken tidak akan berani berbuat kesalahan. Atau dia akan mendapat hukuman.
Ya, semua orang tahu betapa tegasnya pria lanjut usia itu. Beliau tidak akan pandang bulu. Siapa saja yang bersalah pasti akan mendapat hukuman, bahkan meskipun itu adalah cucu kesayangannya sendiri. Seperti beberapa bulan yang lalu, kakek memukul betis Ken dengan rotan demi menebus kesalahannya yang sangat fatal dalam memperlakukan Aira. Ibu sampai menitikkan air matanya kala itu, tidak tega pada siksaan yang dirasakan oleh putra sulungnya itu.
Aira mengepalkan tangannya, kembali menguatkan diri untuk tetap bertahan di sisi Ken demi ketiga anak mereka, dengan segala tabiat baik buruk yang pria itu miliki. Ia memejamkan mata, mencoba menenangkan dirinya sendiri, berdamai dengan keadaan yang kini harus ia hadapi.
Aira menyadari betapa beruntungnya ia sekarang. Ada begitu banyak wanita di luar sana yang mendambakan memiliki seorang suami, anak-anak, dan keluarga yang harmonis. Dan Aira memiliki semua hal itu sekarang, yakni suami yang sangat amat mencintainya, anak-anak yang begitu menggemaskan, serta keluarga yang begitu menyayanginya. Kebahagiaan yang sempurna.
Meski pemaksa dan selalu mendominasi, nyatanya Ken sangat mencintainya. Bahkan mungkin bisa dikatakan bahwa pria itu overdosis cinta sampai membuatnya begitu posesif, agresif, aktif, dan segala bentuk tindakan impulsif lainnya.
Belum lagi dua putra dan seorang putrinya yang sangat lucu. Ada ribuan pasang suami-istri di dunia ini yang begitu mendamba kehadiran buah hati dalam kehidupan rumah tangga mereka. Dan Aira memiliki ketiganya dalam satu kali proses kehamilan. Lagi dan lagi, ia mendapat nikmat yang begitu besar ini dari Tuhan Yang Maha Pengasih.
__ADS_1
Dan nikmat yang paling ia rasakan selama ini adalah kasih sayang dari nyonya Sumari yang memperlakukannya dengan begitu hangat. Wanita paruh baya itu sangat perhatian padanya, membuatnya kembali merasakan kehangatan keluarga yang bertahun-tahun tidak ia dapatkan. Kasih sayang darinya memenuhi hati yang sebelumnya tandus dan gersang. Nyonya Sumari menganggap Aira sebagai putrinya sendiri, tidak pilih kasih sama sekali.
Juga ada Yamaken, Naru, tuan Tsuguri, dan tentunya kakek Yamazaki. Ia memiliki keluarga yang utuh saat ini. Semua itu berkat kasih sayang dari Allah untuknya.
"Sayang, apa yang kamu pikirkan?" suara Ken membuat Aira terlonjak seketika. Ia berdiri di belakang istrinya sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.
"Kapan kamu keluar? Aku tidak mendengarnya," ucap Aira mengalihkan pembicaraan.
Srett
"Apa yang kamu pikirkan, hmm?" Ken membalik tubuh istrinya dalam sekali hentakan. Ia memutar kursi bulat yang diduduki istrinya, sebelum bersimpuh di lantai, menyamakan tinggi mereka berdua.
"Tidak ada," kilah Aira sambil memegang tengkuknya, grogi karena tidak biasa berbohong.
"Ai-chan... " panggil Ken lirih. Ia ingin istrinya ini berbagi cerita dengannya, tentang apapun itu, ia siap mendengarkannya. "Ada apa?"
Aira menundukkan kepala, membuat matanya menangkap bekas tanda cinta yang ia tinggalkan di dada bidang suaminya. Kimono mandi yang dipakai pria itu mengekspos dada bidangnya. Hal itu membuat wajahnya memerah karena malu.
Ken tersenyum menyadari arah pandang istrinya yang membuatnya tersipu malu. Ia senang karena wanitanya begitu aktif pagi ini, berinisiatif memulai duluan dan membuatnya terkejut berkali-kali. Aira yang selama ini malu-malu kucing saat mendapat perlakuan manis darinya, kini justru begitu buas seperti seekor harimau, singa atau bahkan serigala.
"Kamu bisa memberi tanda lebih banyak lagi lain kali," goda Ken sambil membusungkan dadanya penuh percaya diri.
"Mesum!" ketus Aira sebal. Ia membalikkan badan, membelakangi suaminya, kembali menatap pantulan wajahnya di cermin. "Menyebalkan!" gerutunya sambil meraih botol berisi gel lidah buaya di atas meja. Tangannya dengan cepat mengoleskan pasta berwarna bening kehijauan itu ke area lehernya, tempat dimana Ken meninggalkan tanda cintanya.
Cukup sepuluh menit saja, maka tanda kemerahan itu akan sedikit memudar. Meski tidak bisa langsung hilang sepenuhnya, setidaknya akan mempercepat proses kembalinya warna kulit di sekitar area sensitif itu.
"Maafkan aku," Ken merebut gel di tangan Aira dan menggantikannya mengoleskan benda itu ke leher.
Hal itu membuat perasaan Aira melunak. Rasa sebal di hatinya seketika menguap, berganti dengan perasaan hangat karena perhatian yang Ken berikan padanya. Pria itu begitu lembut dan menyayanginya dengan sepenuh hatinya.
"Terima kasih," lirih Aira, menatap wajah Ken yang masih sibuk dengan gel di tangannya.
__ADS_1
"Tidak perlu sungkan. Kamu memenuhi keinginanku, tentu saja aku harus memanjakanmu juga." Ken tersenyum hangat pada istrinya. "Apa ada sesuatu yang kamu inginkan?" tanya Ken seolah tahu ada sesuatu yang ingin dikatakan oleh istrinya.
"Ada!" jawab Aira antusias.
"Apa?"
"Kamu akan mengizinkannya?"
"Hmm," gumam pria lesung pipi itu sambil tersenyum.
"Sungguh?" Aira sedikit ragu.
"Katakan saja. Kamu punya satu permintaan yang tidak akan ku tolak. Hanya satu!" tegas Ken meyakinkan.
"Kamu harus memenuhi janjimu itu."
Ken mengangguk.
"Aku ingin tinggal di rumah kakek dua minggu ke depan," tukas Aira.
Deg!
...****************...
Duuh, so sweet banget sii mereka. Ngiri kan Author tuh 😂😂
Btw, itu mamas Ken bakal ngizinin Ai-chan nggak yaa? 😄
See you,
Hanazawa Easzy
__ADS_1