
"G adalah mantan pacar Yu," ungkap Ken, "Kosuke menemukan banyak fakta penting yang mengejutkanku. Kamu pasti juga akan terkejut mendengarnya."
"Kamu bercanda 'kan?" Aira menuntut jawab pada suaminya.
"Tidak. Itulah faktanya. Dan sekarang mereka kembali berkencan. Yu meninggalkan Yoshiro demi pria itu," jawab Ken.
Aira berjalan gontai menjauhi Ken, "Itu tidak mungkin. Dia memintaku mempercayainya."
Aira masuk ke kamar mandi dan berdiri di depan cermin besar yang menampakkan wajah bulatnya. Ia membasuh wajahnya guna menghalau pemikiran buruk yang seketika menyerangnya setelah mendengar penuturan Ken.
"Ai-chan ... " panggil Ken yang kini berdiri di belakang istrinya. Ia memegang bahu Aira dan menariknya dalam pelukan guna menenangkan istrinya yang terlihat bimbang.
"Katakan semuanya!" Aira mencengkeram jas hitam yang dipakai suaminya sejak berangkat kerja pagi ini. Dia ingin penjelasan lebih rinci tentang hubungan Yu dan G Dragon.
"Ayo duduk. Aku akan mengatakan semuanya padamu," ucap Ken. Ia mengelap wajah istrinya dengan handuk lembut yang baru ia ambil dari rak khusus di samping wastafel.
*wastafel: tempat membersihkan diri (cuci muka, cuci tangan, gosok gigi, bercukur ), letaknya menempel pada dinding (di luar atau di dalam kamar mandi ), dilengkapi dengan keran air, cermin, dan rak untuk menaruh sabun.
"Jangan menyembunyikan apapun dariku," pinta Aira pada suaminya yang hanya dijawab dengan anggukan.
Ken membimbing Aira keluar dari kamar mandi. Keduanya keluar dari kamar dan kini duduk bersama di kursi sofa yang ada di ruang kerja Ken. Sebuah selimut berwarna putih menutupi kaki Aira.
Ken menyerahkan beberapa lembar dokumen yang berisi data Yu dan G. Disana tertera latar belakang hubungan mereka berdua dan beberapa hal lain yang saling berhubungan.
"G dan Yu sudah berpacaran selama dua tahun saat masih SMA, tapi akhirnya hubungan mereka putus akibat paksaan orang tua G. Seperti yang ku katakan di awal, tuan Ebisawa adalah kakak kandung nyonya Hanako. Itu artinya Yu adalah keponakannya. Nyonya Hanako tidak mengizinkan putranya menjalin hubungan dengan keponakannya sendiri dan memisahkan keduanya dengan berbagai cara." Ken menatap Aira dalam-dalam.
"Sekarang mereka kembali berkencan?"
Ken mengangguk, "Umm, itu benar. Yu yang mengatakannya sendiri pada Yoshiro siang tadi. Dia bahkan mengembalikan cincin yang Yoshiro berikan untuknya sebelum ke Rusia. Mereka benar-benar berpisah sekarang," ungkap Ken.
Aira menundukkan kepalanya, merasa ada sesuatu yang salah. Jika benar Yu berada di pihak tuan G, kenapa dia menemui Aira dan mengatakan hal itu?
"Ai-chan ... " panggil Ken, namun tak mendapat respon dari istrinya.
"Sayang, ada apa?" tanya Ken khawatir melihat istrinya yang tiba-tiba murung. Ia menangkup pipi bulat istrinya dengan lembut, berharap istrinya mengatakan hal yang mengganggu pikirannya.
"Yu menemuiku siang tadi,"
FLASHBACK
"Sayang, lihat ini. Baju ini cocok untukmu." Ibu menunjuk sebuah long dress berwarna hijau yang terpasang di manekin, "Cobalah,"
Aira tersenyum, "Apa ada warna lain?" tanya bumil itu pada pramuniaga yang sedari tadi memebersamai mereka.
"Ada. Di sebelah sini, Nyonya." Wanita berseragam biru itu menunjukkan deretan baju yang terletak di bagian dalam toko.
"Sayang, ibu keluar dulu. Ada telepon," ujar nyonya Sumari pada menantunya. Beliau berjalan cepat menuju pintu keluar sambil menempelkan benda pipih berwarna hitam ke telinganya.
"Ini, Nyonya." Ucap pramuniaga wanita itu merujuk pada deretan dress yang dicari Aira. Tampak pakaian berbagai warna yang tergantung dengan rapi.
Aira menerima sebuah dress tanpa lengan warna biru dengan model sama persis seperti yang tadi ditunjuk ibunya.
"Ada warna hitam?" tanya Aira. Ia ingat Ken menyukai warna gelap itu. Dress tanpa lengan pastinya hanya akan ia pakai di rumah, saat berdua saja dengan Ken.
Pramuniaga itu mengambilkan pesanan Aira dan mengisyaratkan agar mencobanya di kamar pas.
*Kamar pas yakni ruangan berukuran sekitar 1 x 1 meter persegi yang biasanya ada di toko pakaian, biasa digunakan untuk mengepas baju yang hendak dibeli.
Sreett
Aira menutup kain penghalang yang menjadi pembatas ruangan sempit itu dengan bagian luar. Ia melepas syal yang melingkar di lehernya dan menggantungnya di dinding. Tangannya sibuk melepas kancing jaket yang dipakainya.
"Lama tidak berjumpa, Rara-chan ... " sapa sebuah suara yang berhasil membuat Aira tersentak dan seketika berbalik. Matanya membulat melihat seorang wanita yang memakai topi dan masker hitam tengah berdiri 3 langkah darinya.
"Siapa kamu?" tanya Aira waspada. Dadanya naik turun dengan cepat, menandakan ia benar-benar takut pada wanita misterius di depannya.
"Sstt ... ini aku," wanita itu melepas masker yang menutupi mulut dan hidungnya. Ia dengan cepat memberi isyarat agar Aira diam.
"Yu?!" bisik Aira. Ia bernapas lega saat menyadari siapa yang kini berbagi udara yang sama dengannya di ruangan sempit ini.
__ADS_1
"Rara-chan, maaf mengejutkanmu, waktuku tidak banyak. Ada hal-hal yang tidak bisa aku katakan untuk saat ini. Tapi aku mohon padamu, apapun yang terjadi atau apapun yang akan aku lakukan nanti, tolong percayalah padaku." Yu meraih jemari Aira yang sedari tadi bersemayam di bawah perut besarnya. Ia menggenggamnya dengan sangat erat.
"Tolong lindungi dirimu sendiri, dan simpan ini," Yu menyerahkan sebuah peluit anjing pada Aira, "Tiup ini jika kamu terdesak atau nyawamu terancam!" pesan Yu.
"Apa ini?" tanya Aira tak mengerti.
"Itu peluit ultrasonik. Benda itu akan memanggil bantuan yang sudah aku siapkan, tiup saat kamu benar-benar tidak bisa mengelak lagi. Tapi, sembunyikan itu dari siapapun, termasuk pengawalmu. Aku tahu Ken mengirimkan banyak pengawal bayangan, dan mungkin salah satu dari mereka adalah mata-mata yang akan menjebakmu."
*Peluit ultrasonik adalah peluit dengan tiupan berfrekuensi tinggi yang hanya dapat didengar oleh binatang dan dikhususkan untuk anjing.
"Aku tidak bisa menyembunyikan apapun dari Ken," ungkap Aira.
"Kamu bisa mengecualikan satu orang itu." Yu tersenyum simpul dan memeluk Aira dengan erat.
"Nonya, apa Anda kesulitan memakainya? Ada yang bisa saya bantu?" suara Minami menyela aktivitas keduanya. Sudah beberapa menit berlalu tapi Aira belum juga keluar. Ia khawatir terjadi sesuatu dengan puannya.
"Tidak. Aku bisa sendiri. Sebentar lagi aku akan keluar," jawab Aira sembari melepas pelukan Yu.
"Aku pergi. Jaga dirimu baik-baik." Bisik Yu sebelum menghilang melewati tirai yang menjadi pembatas dengan kamar pas di sebelahnya.
FLASHBACK END
Aira menunjukkan peluit yang diberikan oleh Yu padanya siang tadi. Sesuai permintaan Yu, dia harus membawa benda kecil itu kemanapun dia pergi.
"Dia membahayakan dirinya sendiri untuk menemuimu," Ken mengelus kepala istrinya.
"Membahayakan diri sendiri?" Aira tidak mengerti apa maksud ucapan suaminya.
"Hmm," gumam Ken mengiyakan pertanyaan istrinya, "Pengawal khusus yang aku siapkan melaporkan bahwa seorang wanita berpakaian hitam hilang dari kejarannya. Dia terlihat mencurigakan, mengikutimu sejak keluar dari rumah sakit," ungkap Ken.
"Syukurlah dia bisa kabur." Aira mengembuskan napas lega.
"Apa kamu benar-benar mempercayainya?" tanya Ken sangsi. Ia tidak yakin dengan tujuan Yu sebenarnya. Masih terlalu samar untuk menilai keberpihakan gadis itu.
"Apa aku salah?"
Aira terdiam mendengar pertanyaan Ken. Apa yang suaminya katakan ada benarnya. Terlalu dini jika menganggap Yu benar-benar ada di pihaknya. Bagaimana jika peluit itu justru mendatangkan bahaya untuknya?
"Jadi apa yang akan kita lakukan?" tanya Aira membuka suara setelah hening beberapa saat.
"Aku akan memastikannya lebih dulu. Untuk sementara waktu aku akan minta Mone menemanimu. Dia mempunyai kemampuan di atas rata-rata."
"Tidak. Jangan libatkan dia," cegah Aira.
"Kenapa?"
"Dia mengatakan padaku bahwa sebelumnya bertemu dengan Yu dan seorang pria yang memiliki tato sayap di leher bagian belakang. Bukankah itu tuan G?"
"Umm," angguk Ken.
"Yu bersikap dingin seolah tidak mengenalnya. Mungkin dia sengaja tidak ingin melibatkan Mone."
Kali ini Ken yang terdiam. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya Yu lakukan. Lingkaran masalah ini semakin luas dan carut marut melibatkan banyak pihak. Ia tidak boleh salah mengambil keputusan.
"Seperti apa hubungan nyonya Hanako dengan Tuan Ebisawa? Apa mereka cukup dekat?" tanya Aira.
Ken seketika mengangkat kepalanya, menatap tepat pada manik mata istrinya, "Hubungan mereka tidak cukup baik belakangan ini. Nyonya Hanako mengambil semua aset yang ditinggalkan kedua orang tuanya, termasuk aset yang seharusnya dimiliki ayah Yu."
"Tuan Ebisawa tidak keberatan?" tanya Aira heran.
"Dia membiarkan hal itu. Sepertinya aku tahu Yu berpihak pada siapa," ucap Ken bersemangat.
"Eh?"
Ken tersenyum miring, aura iblis seketika menguar dari tubuhnya. Ia tahu apa yang harus dilakukan untuk saat ini.
"Ken ... " panggil Aira pada suaminya. Ia takut Ken memiliki rencana yang akan membahayakan nyawanya sendiri.
"Aku tahu apa yang harus aku lakukan. Seperti pesan Yu, kamu hanya harus menjaga dirimu sendiri. Pastikan mereka baik-baik saja." Ken mengelus perut istrinya dengan sayang. Ia bahkan mendekat dan menciuminya tanpa henti membuat Aira merasa geli.
__ADS_1
"Ah, apa ini dress yang kamu ceritakan sebelumnya?" tanya Ken memperhatikan pakaian yang dikenakan istrinya. Sebuah gaun ibu hamil sebatas lutut berbentuk A line. Ada renda-renda hitam yang melingkari bagian perutnya.
"I... Iya, ibu yang memilihkannya untukku," jawab Aira canggung. Ia salah tingkah karena Ken menatapnya dengan senyum terkembang. Sepertinya pria itu memikirkan hal lain yang membuat Aira meneguk ludahnya dengan paksa. Dia tidak akan tidur dengan nyenyak malam ini. Jika tahu akan begini akibatnya, Aira tidak akan memakai gaun tanpa lengan ini. Sebaiknya ia mencari alasan untuk menghindari suaminya.
Cup
Ken menciumi puncak lengan istrinya yang tak terhalang apapun sebelum Aira sempat menghindar. Ia kalah cepat dari suaminya.
"Kamu sangat cantik memakai pakaian ini. Aku akan pesankan pakaian seperti ini lagi agar kamu bisa memakainya setiap malam," ucap Ken disela-sela gerakannya yang tengah menikmati tangan mulus istrinya.
Blush
Wajah Aira memerah seluruhnya. Ia malu mendapat perlakuan suaminya yang bergerak aktif, merabanya dengan gerakan seduktif/menggoda.
"Ken?!" protes Aira saat suaminya bergerak semakin jauh, "Aku lelah. Bisakah kamu membiarkanku istirahat? Kita bisa melakukannya lain kali," bujuk Aira mencoba menahan serangan Ken yang semakin agresif. Pria itu membombardir tubuh bagian atas istrinya, membuat nafas wanita hamil itu semakin berat dan tak beraturan.
"Salahmu sendiri kenapa memakai pakaian seperti itu. Jika kamu lelah, maka biarkan aku yang bergerak. Kamu hanya perlu diam dan menikmatinya," bisik Ken tepat di telinga Aira. Godaan itu membuat bulu kuduk Aira meremang. Pria itu tak akan berhenti sampai ambisinya terpenuhi.
Aira memejamkan matanya, menerima dengan pasrah apa yang akan dilakukan oleh suaminya.
"Bukankah kemarin-kemarin kamu begitu agresif? Bahkan meninggalkan begitu banyak tanda di leherku. Sekarang aku yang akan memegang kendali. Terimalah pembalasanku, Sayang." ucap Ken sembari membaringkan tubuh istrinya dengan hati-hati di atas sofa.
"Bisakah kita pergi ke tempat lain? Ini di ruang kerjamu, Ken." Aira menatap sekeliling, merasa tidak nyaman dengan tempat yang terasa asing ini. Tangannya bergerak menarik selimut putih yang sedari tadi menyembunyikan kakinya dengan baik. Kain berbulu itu kini sedikit menjadi penghalang antara Aira dan suaminya.
"Memangnya kenapa kalau ini ruang kerjaku? Kita bisa melakukannya dimanapun," jawab Ken sembari menyingkirkan helaian rambut Aira ke belakang telinga. Dia mencium telinga istrinya, sengaja menggoda wanita hamil yang telah merebut hati dan cintanya.
"Mesum!!" ketus Aira sambil menarik selimut berbulu itu sampai ke atas kepalanya.
"Sudahlah, aku mau mandi." Pria itu beranjak dari tubuh istrinya dan kembali ke kamar mereka. Ken meninggalkan Aira sendiri di ruangan yang berisi dua rak yang penuh buku-buku tentang bisnis.
Hening.
Hampa.
Aira merasa kehilangan saat Ken meninggalkannya begitu saja. Tapi bagaimanapun juga tubuhnya sangat lelah hari ini. Ia dan ibu berbelanja banyak kebutuhan baby sampai sore menjelang. Jika Ken tetap melanjutkan aktivitasnya tadi, bisa-bisa Aira tidak akan beranjak dari tidurnya besok.
Aira berkeliling melihat-lihat buku yang tersimpan rapi di tempatnya masing-masing. Ia tersenyum mendapati suaminya yang begitu perfeksionis, bahkan dalam urusan menata buku sekalipun. Aira memutuskan kembali ke kamar dan mendapati suaminya yang tengah melakukan ibadah rutin empat raka'atnya sebagai seorang muslim.
Aira duduk di atas ranjang sambil tersenyum, memperhatikan suaminya yang tengah membereskan alas shalatnya. Dia benar-benar suami idamannya.
"Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Ken sembari mendekat ke arah istrinya, "Apa kamu jatuh cinta padaku?"
Cup
Ken mencium puncak kepala istrinya dengan sayang, ia mendoakan kebaikan untuk istri dan anak-anaknya, berharap Ken bisa membahagiakan mereka.
"Ayo kita lanjutkan," ucap Aira sambil menengadahkan kepalanya, menatap wajah suaminya yang kini berdiri di sampingnya.
"Tidak perlu. Kamu harus istirahat. Mereka juga pasti lelah." Ken mengelus kepala istrinya dengan lembut, menolak inisiatif wanitanya untuk melanjutkan aktivitas yang tadi.
"Apa kamu tidak menginginkanku?" tanya Aira sembari melingkarkan tangannya di pinggang Ken.
Ken tersenyum. Apa yang Kaori katakan benar adanya. Jika ia menolak permintaan istrinya, wanita hamil ini akan menganggap dirinya ditolak karena tak lagi menarik. Sungguh menghadapi wanita hamil dengan perubahan hormonnya yang berfluktuasi sangatlah merepotkan. Lebih sulit dibandingkan mengurus bisnis sekalipun.
"Jangan menyesal besok. Kamu yang memintanya sendiri," ucap Ken mendekatkan wajahnya pada Aira. Ia melaksanakan kewajibannya sebagai seorang suami dan Aira melakukan tugasnya sebagai seorang istri. Sudah seharusnya mereka memenuhi kebutuhan lahir batin satu sama lain. Istri adalah pelengkap bagi suami, dan begitu pula sebaliknya.
...****************...
Heuheuu.... 🙈
Gomen ne telat update. Niatnya mau up semalem tapi ketiduran, jadi baru sempet pagi ini edit-edit sama nambahin uwu-uwu yang berhasil bikin author baper. Hwaaaaaa...... 😣😭😭😭😭😭😭😭
Jangan lupa like, komen n vote untuk menghibur author yaa. Beneran author baper maksimal kalo bikin part sweet Ken-Aira. Makanya author berpaling ke abang G sejenak, sebel sama Ken-Aira yang sukanya bikin author ngiri 😢😢😔
Dah ah, maaf kalo masih ada typo. See you next day,
With love,
Hanazawa Easzy 🍁
__ADS_1