
Burung-burung beterbangan kembali ke sarangnya saat langit mulai terlihat kemerahan. Beberapa perawat tampak berlalu-lalang di koridor dengan tugas mereka masing-masing. Seorang wanita dengan setelan hitam datang menghampiri Aira yang terduduk di kursi roda.
"Nona, hari hampir gelap. Apa anda ingin masuk ke dalam lebih dulu?"
Aira mengangguk menyetujui ide wanita yang mengantarnya kemari dari rumah. Lebih dari 30 menit ia menunggu kedatangan Ken di beranda rumah sakit ini, namun belum terlihat batang hidungnya sama sekali.
"Tuan muda sedang dalam perjalanan kemari dan akan segera sampai. Anda bisa menunggu sementara di ruang istirahat." lapornya saat melihat Aira tampak tak senang karena menunggu suaminya cukup lama.
"Tidak perlu melapor padaku. Kita pulang saja." Aira menghentikan kursi roda dengan tangannya sendiri.
"Apa?" bodyguard yang Ken utus itu tidak mengerti maksud Aira.
"Aku lelah. Kita pulang sekarang." jawab Aira datar. Ia tahu sejak awal Ken memang tidak mengizinkannya menjenguk Yoshiro.
"Baik." jawab wanita itu membawa Aira kembali ke lobby. Tepat saat itu Ken keluar dari mobil dan berpapasan dengan keduanya di depan pintu.
Ken menghadangnya, "Mau kemana?"
Aira tetap diam tak ingin menjawab pertanyaan suaminya. Ia terlanjur kesal. Baru kali ini ia merasa sebal pada Ken, pria itu semakin mengekangnya akhir-akhir ini. Tak boleh ini tak boleh itu, jangan makan ini harus makan itu. Ia bahkan tidak mengizinkannya keluar rumah padahal ada begitu banyak penjaga di sekeliling rumah mereka.
"Nona lelah. Kami akan kembali ke rumah." jawab buttler yang bernama Minami itu.
Ken mengerutkan keningnya merasa heran. Selama hampir 4 bulan mereka bersama, ini pertama kalinya Aira merajuk hanya karena ia terlambat datang. Padahal sebelumnya istrinya tak pernah menunjukkan emosinya secara langsung. Perlahan pria itu justru tersenyum dan mengambil alih kursi roda yang diduduki Aira.
"Ambil makanan yang ada di mobilku. Bawa ke ruangan senior." perintahnya sambil berlalu memasuki bagian rumah sakit itu lebih dalam lagi membuat Aira semakin kesal.
"Akhirnya kalian datang. Maaf harus menyia-nyiakan waktu sibukmu, Ken." Oda-san menepuk pundak Ken setelah keduanya berdiri berhadapan.
"Tidak sama sekali. Aku senang bisa menemani istriku kemari. Dia sangat antusias bertemu dengan senior" jawab Ken ramah, "Bukankah begitu Ai-chan?"
"Bagaimana keadaan Yoshiro-san?" tanya Aira mengalihkan pembicaraan. Ia tak ingin menanggapi sindiran Ken.
Raut wajah pria paruh baya itu seketika berubah. Senyumnya memudar berganti dengan raut kekhawatiran, dengan isyarat tangannya ia membimbing Ken dan Aira masuk ke sebuah ruangan tepat disamping ruang perawatan Yoshiro. Itu adalah ruang pengamatan. Darisana mereka bisa melihat Yoshiro yang terbaring di ranjang dengan tangan dan kaki terikat.
"Begitulah kondisinya." lirihnya.
"Kenapa kaki dan tangannya..." ucapan Aira terhenti di kerongkongan. Ia tak tega melanjutkan ucapannya.
"Dia selalu melemparkan apa saja benda yang ada di sekitarnya. Emosinya memburuk saat melihat perawat wanita memasuki ruangannya. Dokter bilang ia menderita prosopagnosia."
__ADS_1
"Aku pernah mendengarnya. Itu salah satu kelainan otak." Ken meresponnya dengan cepat.
"Iya benar. Ia kesulitan mengenali wajah orang lain akibat kerusakan parah pada bagian occipital dan temporal lobe dalam otaknya. Bahkan Yu juga tidak bisa mendekatinya sama sekali. Mungkin juga itu karena perasaan bersalahnya pada Erina yang tidak bisa ia tahan lagi."
Hening. Baik Ken maupun Aira tak ingin menanggapinya. Keduanya ingin menjaga perasaan satu sama lain.
"Ah, maaf aku terlalu terbawa suasana." Oda-san menggaruk tengkuknya karena salah bicara.
"Apa yang sebenarnya terjadi pada putri anda? Apa hubungannya dengan kelainan Yoshiro-san saat ini?" Aira memberanikan diri bertanya
"Eh itu..." pria itu tampak kebingungan memilih kata-kata, "Sebenarnya mereka bertengkar hebat sebelum Erina bunuh diri. Jadi, itu bukan kesalahan Ken sama sekali. Maaf jika aku tidak mengatakannya sejak awal dan justru membebani kalian. Ini murni kesalahanku yang tidak bisa mengayomi kedua anakku itu." Oda-san menatap Ken dengan tatapan rasa bersalah.
"Aku tidak pernah berpikir demikian. Lagipula itu sudah berlalu," jawab Ken datar, "Aku akan menemuinya."
Ken beranjak dari ruangan itu menuju ke ruangan Yoshiro. Aira hanya bisa menatap punggung suaminya yang menghilang dibalik pintu.
Ken masuk dan meletakkan makanan yang telah ia siapkan sebelumnya. Hal itu pula yang menyebabkannya terlambat datang, karena restoran kesukaan Yoshiro selalu banyak pembeli dan harus antri. Sebenarnya ia bisa saja menyuruh pengawalnya yang membeli, tapi ide itu datang tiba-tiba saat ia keluar dari kantornya.
Dengan telaten Ken melepas ikatan pada kaki dan tangan seniornya di akademi itu, "Lama tidak bertemu, senior." sapa Ken saat melihat Yoshiro membuka matanya.
"Apa yang kamu lakukan disini?" tanya pria dengan perban yang membalut kepalanya itu.
"Apa aku harus menyuapimu? Ayolah senior, kamu bukan lagi seorang balita. Aku juga lapar," Ken meletakkan sumpitnya di meja dan membuka kotak makan untuknya sendiri, "Aku harus antri dengan orang yang lain, tidakkah kamu berterimakasih padaku?"
Ken mulai melahap chicken katsu pesanannya. Ia bersikap seolah tak peduli pada orang disampingnya.
"Apa dia ada disana?" Yoshiro melirik cermin besar yang menjadi penghubung ruangannya dengan ruang pengamatan di samping.
Ken tidak menjawab. Ia meneruskan makannya dan tampak tidak terganggu sedikitpun dengan pertanyaan Yoshiro.
"Istrimu... Aku menyukainya." ucapnya lirih.
Deg
Ken menghentikan makannya sesaat dan menatap Yoshiro, "Bagaimana kamu bisa merebutnya dariku jika terus tidak tahu diri seperti ini?" sebuah senyum terukir di wajahnya. Ia sudah menduganya. Mereka punya selera yang sama dalam segala hal, termasuk masalah perempuan.
Yoshiro yang merasa diremehkan langsung melahap makanan di depannya tanpa pikir panjang.
Di ruangan sebelah, Oda-san tersenyum melihat kedekatan mereka berdua. Setelah kematian Erina, keduanya tak pernah lagi duduk berdua seperti ini.
__ADS_1
"Apa yang Ken katakan? Aku tidak bisa mendengar apapun, tapi Yoshiro-san tiba-tiba menjadi bersemangat. Apa mereka cukup dekat?" tanya Aira pada akhirnya melihat interaksi 2 orang di ruangan sebelah.
"Ya. Mereka sangat dekat sebelum kejadian 5 tahun yang lalu. Mereka terbiasa berbagi segalanya, mulai dari baju, sepatu, makanan, game, tugas kuliah, bahkan..." perkataan pria itu terhenti, raut wajahnya kembali menegang,'wanita' lanjutnya dalam hati.
"Ya?" Aira menunggu kelanjutan penjelasan pria di sampingnya.
"Bukan apa-apa." jawabnya sambil menarik kursi yang ada di belakangnya. Ia lega karena kondisi emosional putranya sudah membaik, semua berkat Ken.
Kembali ke ruangan Yoshiro, pria itu menutup kotak makan dan meletakkan sumpit kayu di sampingnya.
"Siap berkelahi, huh?" canda Ken saat melihat Yoshiro menyingsingkan lengan bajunya.
"Kenapa tidak? Jika hadiahnya adalah dia, tentu saja aku akan berusaha keras." jawabnya berapi-api.
"Sebaiknya senior tidak memaksakan diri, semua orang tahu seberapa hebat pesonaku." sombong Ken.
"Tapi dia masuk pengecualian. Dia hanya menganggap dirinya sebuah barang di matamu. Dia tidak menyukaimu sedikitpun. Hubungan kalian hanya sebatas properti dengan majikan, benar kan?"
Ken terdiam cukup lama. Ia sendiri tidak tahu bagaimana harus memperlakukan istrinya. Surat perjanjian itu sudah kakeknya musnahkan tanpa Aira ketahui. Saat gadis itu menghilang, kakek bahkan mempertaruhkan nyawanya demi mencari cucu menantunya ke seluruh pelosok negeri. Ia mengabaikan kondisi kesehatannya sendiri demi menemukan Aira.
"Kapan ia berhasil mengambilnya darimu?" Yoshiro menyandarkan punggungnya ke belakang, kepalanya berpangku jalinan tangan di kepala ranjang. Ia tahu Ken sudah jatuh cinta pada istrinya.
"Sejak aku datang ke apartemen kecilnya. Dia gadis pertama yang berhasil menjepit lenganku dengan pintu." jawab Ken sambil tersenyum, mengingat pertemuan kedua mereka di Indonesia.
"Pembunuh berdarah dingin sepertimu dikalahkan oleh gadis 153 cm itu?" Yoshiro menggelengkan kepala meremehkan sahabatnya itu.
"Bagaimana denganmu? Sejak kapan menyukai istriku?" tanya Ken serius.
"Saat aku mencambuknya..." wajah Yoshiro meredup. Ia tampak terluka saat mengatakannya.
*******
Hai readers semua... Thanks ya yang udah nyempetin waktu mampir ke sini. Jangan lupa like, komen & tap tanda love-nya yaa, masukkin daftar favorit biar tahu kalo udah update. Maklum author sibuk jadi ngga bisa sering-sering update. Sibuk apaan coba? Sibuk halu doong😂😂
Selamat menjalankan ibadah puasa. Inget tetep semangat ibadahnya, jangan gara-gara coretan gaje ini jadi bikin kamu lupa ibadah. Nanti author ikut dosa 😢
See you next part. Bye... 🤗
With love,
__ADS_1
Hanazawaeaszy 😋