Gangster Boy

Gangster Boy
Gangster Boy : Confetti


__ADS_3

Kondisi Aira membaik dan diperbolehkan pulang setelah seminggu dirawat di rumah sakit. Ken sengaja membuat kejutan untuk Aira dengan menutup matanya sebelum masuk ke rumah baru mereka yang telah dihias sedemikian rupa.


"Lihat, Bu. Kakak sudah sampai," ucap Naru sembari mengintip kedatangan kakaknya dari jendela. Ia segera meraih confetti dan memberikannya pada yang lain.



*Confetti adalah guntingan kertas berwarna yang dihamburkan pada waktu pesta


"Semuanya bersiap!" perintah nyonya Sumari bersemangat.


Cklekk


Pintu terbuka, menampilkan Ken yang berjalan pelan sambil membimbing langkah kaki istrinya. Ken memegang lengannya dan memintanya diam di tempatnya berdiri saat ini.


"Ken?" panggil Aira saat langkah kakinya terpaksa berhenti. Ia bertanya-tanya apa yang Ken ingin sembunyikan darinya.


FLASHBACK


"Ken, ini bukan jalan menuju apartemen?" tanya Aira, tampak asing dengan jalanan yang dilalui oleh mereka sekarang.


"Memang bukan," jawab Ken singkat.


"Hah? Kita kemana?" protes Aira spontan.


"Kamu akan mengetahuinya nanti. Tunggu sebentar lagi."


"Haish, selalu saja seperti itu! Menyebalkan seperti biasanya," ketus Aira.


"Azami-kun, apa kamu lapar?" tanya Aira saat melihat bayinya gelisah, menggerak-gerakkan bibirnya seolah ingin menyusu. Ia menggeser tempat duduknya, mengambil salah satu putranya yang tampak mulai membuka mata.


Ken memperhatikan gerakan istrinya yang kini tengah menyusui putra bungsunya. Wanitanya ini tampak sangat bahagia, mengelus pipi tembam bayi merahnya sambil tersenyum. Ken terus diam, memperhatikan interaksi keduanya sampai Aira menyudahi aktivitasnya.


"Apa yang kamu lihat?" tanya Aira ketus saat membenahi pakaiannya. Ia tahu kemana arah pandang suaminya.


Glek


Ken menelan ludahnya dengan kasar. Bagaimanapun juga, ia lelaki normal dan belum menyentuh istrinya seminggu terakhir.


"Melihat istriku. Apa itu salah?" tanya Ken malas.


Aira tak menjawab. Ia membaringkan putranya yang kembali tertidur dengan hati-hati.


"Ai-chan, bolehkah aku..." ucapan Ken terhenti di tenggorokan kala melihat isyarat jari yang diberikan istrinya, memintanya untuk diam.


"Sst, Aya bangun." Aira membawa putrinya, Ayame, dalam pelukan dan lagi-lagi sibuk menyusuinya.


Ken hanya bisa mengembuskan napas kasar, pasrah pada keadaannya sekarang yang harus berbagi kasih sayang Aira dengan ketiga anaknya. Ia memilih sibuk dengan ponselnya, memeriksa beberapa email yang masuk beberapa waktu sebelumnya.


"Sudah?" tanya Ken saat Aira meletakkan Akari ke dalam box.


"Apanya?" heran Aira.


"Memberi makan mereka bertiga," ucap Ken sarkas.


"Mem... memberi makan katamu?" Aira memutar bola matanya, jengah dengan pernyataan yang terucap dari mulut suaminya sendiri, ayah dari anak-anak mereka. "Kamu pikir mereka itu apa? Tidak bisakah kamu mengucapkan dengan bahasa yang lebih enak untuk didengar?"


"Tidak bisa!" ketus Ken dengan perasaan gondok. Ia menahan emosinya sejak dua puluh menit yang lalu, saat Aira mulai menyusui Azami.


"Astaga. Ada apa denganmu? Apa aku salah menilaimu selama ini? Meskipun kamu terbiasa mengatakan hal-hal buruk pada orang lain, tapi aku tidak mengizinkanmu melakukan hal yang sama pada anak-anak kita. Mereka akan menilai tutur bahasamu dan menirukannya nanti."


Ken diam, menatap pemandangan di luar kaca jendela.

__ADS_1


"Sudahlah. Aku tidak akan membahasnya lagi. Maaf jika keberadaan mereka membuatmu tidak nyaman," lirih Aira.


Perjalanan mereka lalui dengan saling diam selama lebih dari tiga puluh menit.


"Maaf," ucap Ken tiba-tiba.


"Sudahlah, lupakan saja," jawab Aira cepat.


"Aku iri pada mereka." Ken mengakui perasaannya.


"HAH?"


"Kamu sibuk dengan mereka bertiga dan melupakanku," ungkap Ken lirih.


"Astaga. Kamu iri dengan anakmu? Yang benar saja," cibir Aira pada suaminya.


"Aku juga membutuhkan perhatianmu. Bukan hanya mereka yang ingin kamu manjakan, aku juga mau." Ken merajuk pada istrinya.


"Baiklah, ayo kemari."


Puk puk


Aira menepuk pahanya, meminta Ken untuk tidur di pangkuannya.


"Boleh?" tanya Ken antusias. Ia layaknya anak kecil yang diperbolehkan mandi hujan, seketika berubah wajah, menjadi semangat dengan mata berbinar.


Aira mengangguk, "Dengan syarat, katakan kita akan kemana!"


Seketika senyum di wajah Ken menghilang. "Lupakan saja!" jawabnya acuh tak acuh. Ia sedikit menjauh dari istrinya, kembali menatap pemandangan di luar kaca mobil.


"Kosuke, kita kemana?" tanya Aira pada asisten suaminya yang duduk di kursi depan, di samping rekannya yang tengah mengemudi.


Suasana lengang kembali menyelimuti sekitar, tak ada yang bersuara sedikit pun. Aira kesal karena Ken dan Kosuke menyembunyikan tempat tujuan mereka dan Ken juga merasa kesal karena Aira tidak lagi memanjakannya seperti biasa.


"Ehm, Tuan," ucap Kosuke mengingatkan bahwa mereka akan segera sampai di tempat tujuan.


"Aku tahu."


Ken mengambil kain hitam panjang dari sakunya dan mendekat ke arah istrinya.


"Apa yang ingin kamu lakukan?" Aira menahan tangan Ken di depan wajah.


"Diam dan menurutlah!" ucap Ken dengan nada dingin dan tajam. Wajahnya menunjukkan bahwa ia tidak dalam emosi yang baik saat ini.


Hal itu berhasil membuat Aira mengalah, membiarkan Ken memakaikan kain hitam untuk menutup matanya. Jika ia kembali mendebat suaminya, ia tidak yakin apa yang akan terjadi kedepannya. Aira takut, Ken melakukan hal-hal ekstrem seperti yang sudah-sudah.


FLASHBACK END


Ken melepas penutup mata yang ia ikat sebelumnya, membuat Aira terpaksa mengerjapkan matanya beberapa kali, menyesuaikan sinar yang masuk ke dalam retina matanya.



Sebuah ruangan dengan dekorasi balon dan boneka yang terlihat begitu mewah. Berbagai balon berbeda warna dengan ukuran beragam diikat menjadi satu, menyambut kedatangan Ken, Aira dan putra putri mereka. Hal itu membuat Aira tertegun di tempatnya berdiri.


Ctakk


Dorr


"Welcome home, Gangster Boy!" teriak Mone, Yamaken, Naru, Yoshiro, Yu, Shun, dan Kaori bersamaan.


Suasana semakin meriah dengan adanya potongan kertas berbagai warna yang berhamburan dari tabung plastik yang dipegang oleh ke tujuh orang yang menyambut mereka.

__ADS_1


"Selamat datang, Sayang." Ibu mendekat dan segera memeluk menantunya yang menahan haru atas semua sambutan yang dikhususkan untuknya dan anak-anak.


"Terima kasih, Bu." Aira menyeka air mata yang tidak bisa ia bendung lagi. Ia kembali memeluk ibu mertuanya setelah mencium pipinya yang mulai tampak keriput termakan usia.


"Selamat datang, Kak." Kali ini Naru dan Mone yang mengucapkannya bersama-sama, membuat Aira harus memeluk keduanya bersamaan.


Semua orang di sana memberikan ucapan selamat datang, seolah Aira baru saja kembali dari medan perang dengan kemenangan mutlak.


"Sudah, sudah. Ayo duduk. Kamu pasti lelah kan?" tanya ibu sembari membawa Aira masuk di bagian rumah yang lebih dalam.



Lagi-lagi Aira dibuat takjub dengan dekorasi yang ada di sana. Lantai kayu di hadapannya terasa begitu homey, hangat dan menenangkan. Sebuah meja panjang lengkap dengan peralatan makan ada di atasnya.



Jangan lupakan meja lain di sebelah dinding yang berisi berbagai macam hidangan yang menggugah selera, termasuk sebuah kue tart spesial yang cukup besar. Selain itu, setidaknya ada 20 jenis makanan Jepang yang ada di sana dan beberapa makanan Indonesia.


Nyonya Sumari mengambilkan makanan untuk kakek Yamazaki. Mereka semua menikmati jamuan ini dengan gembira. Merasa bahagia yang tak terkira atas kedatangan ketiga bayi yang kini ditempatkan dalam box masing-masing.


Acara ini berlangsung hingga sore hari. Semua orang berpamitan setelah berfoto bersama dengan ketiga malaikat kecil tak bersayap itu. Tersisa nyonya Sumari dan Mone yang masih menemani Aira di kamar.


"Terima kasih, Bu." Aira kembali mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan ini dengan mata berbinar.



Sama seperti ruangan utama rumah ini yang penuh dekorasi balon, ruangan pribadi anak-anaknya juga tak kalah mewah. Sebuah replika balon udara dengan kotak rotan di bagian bawahnya, ada di dekat jendela, berdampingan dengan hiasan serupa yang terlihat begitu menggemaskan karena bentuknya yang lebih kecil.


"Tidak perlu sungkan. Suamimu yang sudah mengatur semuanya. Aku tidak melakukan apapun. Benar 'kan, Sayang?" nyonya Sumari mengonfirmasi pada Mone yang tengah menggendong keponakan perempuannya, Aya.


"Ah, iya," jawab Mone spontan. Ia sedikit tergagap, tidak menyangka calon ibu mertuanya akan ikut melibatkannya dalam percakapan kali ini.


Aira menatap Mone dengan pandangan yang sulit diartikan. Sejujurnya ia heran, bagaimana bisa Mone terjebak di keluarga yakuza ini? Bukankah sebelumnya ia menolak mentah-mentah perjodohan yang kakek atur?


Nyonya Sumari melihat ekspresi Aira. Ia tahu menantunya memiliki sesuatu yang harus dibicarakan dengan adik sepupunya, maka ia memutuskan untuk pergi dari tempat ini.


"Jam berapa ini?" tanya nyonya Sumari sembari melihat jam di pergelangan tangannya. "Astaga, aku harus pergi."


Wanita yang memakai kimono berwarna hijau itu segera bangkit dari duduknya.


"Sayang, ibu masih ada urusan di luar. Besok ibu akan datang lagi. Jaga dirimu baik-baik yaa." Nyonya Sumari mencium kening Aira dan pipi cucunya satu per satu. "Cucu oma jangan nakal yaa. Oma akan datang lagi besok pagi."


"Hati-hati di jalan, Bu," pesan Aira saat wanita itu kembali memeluknya sekilas.


"Tentu saja."


Detik berikutnya, Nyonya Besar keluarga Yamazaki itu sudah menghilang di balik pintu. Ia bergegas pergi, memberikan privasi pada menantu dan calon menantunya.


"Apa yang membuatmu berubah?" tanya Aira to the point. Ia melepas jilbab di kepalanya dan meletakkan kain segi empat itu di sisi badannya.


"Itu, sebenarnya..."


...****************...


Sebenarnya apa yaa, see you next episode 🤗😉


Golongan sultan emang sih keluarga yakuza ini, beda lah yaa sama kita-kita 😂😂


With love,


Hanazawa Easzy

__ADS_1


__ADS_2