
Ken dan Aira kembali ke rumah setelah melakukan pemeriksaan di rumah sakit. Dokter Hugo berpesan agar Aira lebih memperhatikan suaminya itu. Hal itu tentu saja tidak Ken sia-siakan. Ia sengaja menggoda istrinya sekaligus menguji kesabarannya. Beberapa waktu terakhir, ia terlalu sibuk di kantor dan jarang bermanja-manja pada Aira.
Dan Ken melancarkan aksinya, berusaha mengelak saat Aira memintanya untuk mandi. Dia sampai harus menunjukkan sikap kekanak-kanakannya agar Aira luluh.
Tidak cukup sampai di sana, Ken dengan terang-terangan memeluk Aira, menggodanya dengan kalimat-kalimat seduktif, termasuk mencium tengkuk wanitanya itu. Aira marah dan akhirnya menginjak kaki Sang Suami sebelum pergi menjauh.
"Berhenti bermain-main atau kamu tidur sendiri malam ini!" Ancaman Aira membuat langkah Ken terhenti. Dari raut wajahnya, Aira tidak main-main sama sekali. Dia serius saat mengatakannya.
"Sayang," panggil Ken, masih berusaha mengambil atensi istrinya.
"Duduk diam di sana. Biarkan aku menyusui anakmu dengan tenang!" Aira mendengus kesal. Hari ini dia sudah cukup bersabar menghadapi bayi besar super spesial yang ada di hadapannya. Ingin sekali rasanya ia memiliki me time dimana tidak terganggu oleh Ken maupun ketiga putra putrinya. Tapi itu mustahil 'kan? Jelas-jelas statusnya sebagai seorang nyonya muda Yamazaki yang juga merangkap sebagai ibu dari baby triplets, tentu saja dia memiliki tugas untuk mengurus Ken dan Si Kembar Tiga menggemaskan itu.
Ken memilih pergi dari ruangan itu. Ia kembali ke kamar pribadinya untuk mengambil air wudhu. Sudah waktunya melakukan ibadah tiga rakaat rutinnya. Lagi pula dia juga ingin memberikan kenyamanan pada Aira dan tidak membuatnya stress berlebih.
Tadinya Ken masih ingin memeluk istrinya, atau setidaknya mengganggu buah hatinya yang kini tengah menikmati makan malamnya lebih awal. Namun, Ken cukup tahu diri. Aira pastilah lelah. Wanita kesayangannya itu sudah menemaninya sejak siang tadi. Dia juga bersabar mendampinginya menemui dokter Hugo. Enam jam sudah mereka habiskan bersama. Meski begitu, Ken belum puas sama sekali. Dia ingin Aira terus membersamainya, mungkin efek demam yang dideritanya membuatnya sedikit sensitif dan ingin dimanja.
Namun sayangnya, imajinasi Ken untuk bermanja-manja dengan Sang Istri kandas seketika. Aira terlihat lelah, baik fisik maupun psikis. Hal itu membuatnya mudah marah. Dan ancaman itu sungguhan, bukan main-main. Jika Ken tetap bersikeras mengganggunya, pasti Aira tidak segan-segan mengusirnya dari tempat tidur. Benar-benar mengerikan!
Ken tengah bersujud di lantai saat Aira masuk ke dalam ruangan. Ia merasa bersalah sudah menghardik suaminya, padahal pria itu belum benar-benar pulih dari sakitnya. Aira segera mengambil air wudhu dan ikut salat di belakang suaminya. Sudah menjadi kewajibannya untuk bersimpuh, berserah diri di hadapan Tuhannya.
Ken yang selesai lebih dulu, tersenyum menatap Aira yang masih melanjutkan ibadahnya dua rakaat lagi. Bagaimanapun juga, Ken mendapat ketenangan hati sejak menjadi muslim. Pikirannya menerawang jauh ke belakang. Dulu, ia merasa hatinya gersang meskipun harta berlimpah. Bahkan sejak kematian Erina, dia hidup seperti binatang, menghabisi yang lemah dan tak memikirkan perasaan siapapun. Dia juga tak memiliki hati sama sekali, menyiksa musuhnya seolah mereka pantas mendapatkannya.
Tapi, sejak ia jatuh hati pada Aira, ada rasa segan untuk menyiksa musuh-musuhnya. Bukti nyatanya, dia tidak tega membunuh tuan Harada. Padahal jelas-jelas keberadaan pria itu sangat berbahaya dan mengancam nyawanya. Bahkan, ia sendiri merasa tak masalah saat tawanannya itu sengaja kakek lepaskan. Entah sejak kapan hatinya menjadi lunak seperti ini. Mungkin Tuhan mengaruniakan rasa kasih dan sayang di dalam dirinya, membuatnya memiliki sikap welas asih pada sesama.
"Apa yang kamu pikirkan?" Aira memegang lengan Sang Suami yang sedari tadi bergeming di tempatnya. Ia duduk mematung di atas alas salat, sibuk berjibaku dengan pikirannya sendiri.
Ken tersenyum, "Tidak ada," ucapnya sambil membelai puncak kepala Aira yang tertutup mukena berwarna coklat susu.
Aira meraih tangan Ken dan mencium punggung tangannya dengan penuh rasa hormat. Sebagai seorang istri, sudah menjadi keharusan untuk menghormati suaminya.
Cup
Sebuah kecupan mendarat di kening Aira, membuatnya menutup mata. Hatinya menghangat mendapat perlakuan manis dan lembut dari pria yang telah mengambil tanggung jawab sebagai suaminya sejak setahun lalu.
"Gomen ne," ucap Aira begitu mata keduanya bertumbuk di titik yang sama. Ia merasa harus meminta maaf untuk perlakuannya pada Ken sebelumnya.
__ADS_1
(Maaf)
"Kenapa harus minta maaf, hmm?" Ken menarik istrinya dalam pelukan. "Aku sengaja menggodamu, melihat sejauh mana kamu bisa bersabar menghadapi kelakuan burukku ini."
"Aku tahu." Aira mencubit hidung mancung suaminya, membuat pria itu kembali tersenyum.
"Jangan sakit!" pinta Aira, menatap manik mata suaminya dalam-dalam.
"Kamu mengkhawatirkanku?" Ken membaringkan Aira di atas pangkuan. Ia memainkan pipi bulat wanitanya dengan jari telunjuk, menusuknya pelan seolah tengah bermain squishy. Tak segan ia mencubitnya karena merasa gemas. Benar-benar pasangan yang manis. Sweet couple.
Squishy adalah mainan yang bisa kembali pada bentuk semula sekalipun ditusuk atau diremas-remas. Mainan ini memiliki tekstur yang lembut dan kenyal. Bahan dasarnya terbuat dari spons (busa) yang lembut, fleksibel dan empuk. Squishy biasanya berupa karakter-karakter lucu seperti boneka, kue, makanan, permen dan sebagainya.
"Aku tidak mengkhawatirkanmu. Aku khawatir pundi-pundi uangku menghilang. Siapa yang akan membelikan diapers untuk anak-anak? Lalu bagaimana mereka bisa mendapat pendidikan terbaiknya tanpa finansial yang memadai?" Aira menarik wajah suaminya untuk mendekat dan mencium bibirnya sekilas. "Aku takut tidak ada pria yang lebih kaya darimu yang pantas menjadi suamiku. Selain itu, aku takut aku akan menjanda seumur hidupku jika kamu tidak ada lagi."
Ken terkekeh. Ia geli mendengar pernyataan istrinya.
"Sejak kapan kamu menjadi wanita materialistis seperti ini?" Ken memainkan hidung Aira, mencubit dan menariknya sampai berwarna kemerahan.
"Sejak aku menikah denganmu." Aira menahan jemari Ken, membuat hidungnya tak lagi tersiksa. "Aku bukan materialistis, tapi itu sebuah tuntutan hidup. Bagaimana bisa aku hidup tanpa uang. Memang benar saat orang mengatakan bahwa uang bukan segalanya. Tapi kamu pasti lebih paham dibandingkan siapapun, bahwa segala sesuatu di dunia ini membutuhkan uang."
Ken lagi-lagi tersenyum. Saat berdebat dengan istrinya, dia akan mengalah dan membiarkan wanita ini berceloteh sesuka hati. Pada dasarnya, wanita memang lebih banyak berbicara dibandingkan pria. Dan sejujurnya, Ken adalah pria yang begitu meminimalisir percakapan saat bersama orang lain. Tapi, entah kenapa saat berhadapan dengan Aira, bahkan saat hanya berdua seperti sekarang, pria itu menjadi lebih aktif.
"Apa kamu lelah?" tanya Ken, kembali memainkan jemarinya di wajah Aira. Ia meraba alis mata istrinya yang cukup lebat, membuat karakternya terlihat jelas.
Aira mengangguk. Ia memejamkan mata, menikmati sentuhan halus suaminya.
"Aku suka alis matamu," ungkap Ken seolah siap mendongeng untuk istrinya.
"Hmm." Aira bergumam tanpa membuka kelopak matanya.
"Ini terlihat alami, kamu bahkan tidak membentuknya. Ini menunjukkan bahwa apa yang kamu lihat adalah yang apa yang kamu dapatkan. Kamu suka berterus terang dan tidak takut untuk jujur."
"Apa itu sebuah pujian untukku?" tanya Aira di sela-sela ucapan Ken.
"Itulah kenyataannya. Kamu bersedia memberitahu orang lain tentang suatu kebenaran ketika kamu pikir bahwa mereka memang perlu mendengarnya. Bentuk alis mata ini benar-benar membuatmu terlihat dapat dipercaya dengan penampilan mata yang berkualitas. Itu sebabnya kamu mudah mendapat kepercayaan dari ibu. Bahkan kakek juga sangat menyukaimu sejak awal beliau melihatmu."
__ADS_1
Aira tersenyum mendapat sanjungan dari suaminya. Ia tidak memikirkan hal ini sebelumnya. Memang dia memiliki kemauan yang kuat dan selalu berusaha menjaga kepercayaan orang lain padanya.
"Kamu bisa memegang kendali saat keadaan genting sekalipun. Dan kamu cukup nyaman dalam mengambil alih pasukan, itu artinya kamu adalah seorang pemimpin yang lahir alami. Tapi sayangnya, kamu lebih suka menjadi yang dominan dalam suatu hubungan."
"Apa kamu seorang cenayang? Kenapa kamu seolah tahu segalanya tentangku?" tanya Aira sambil membuka matanya, menatap manik hitam pekat suaminya dalam-dalam. Keningnya berkerut dalam, menyelidiki dari mana suaminya ini mendapat ilham untuk menjabarkan karakter dan sifatnya hanya dengan melihat bentuk alis matanya. Cukup aneh, 'kan?
"Aku bukan cenayang. Tapi aku tahu semuanya tentangmu. Aku bahkan tahu apa yang ada di dalam pikiranmu," ungkap Ken penuh percaya diri.
"Heih? Coba katakan apa yang sekarang aku pikirkan!" pinta Aira sambil menangkup rahang Ken dengan kedua tangannya. Ia penasaran bagaimana suaminya akan menjawab tantangannya kali ini.
'Aku lapar.' Aira membatin.
"Kamu lapar?" tanya Ken sambil tersenyum.
"HAH?" Aira menelan ludahnya. Ia beranjak duduk, tak percaya jika Ken benar-benar bisa membaca pikirannya.
'Bagaimana mungkin? Apa dia benar-benar tahu apa yang aku pikirkan?' batin Aira kembali bertanya-tanya.
"Aku tahu semuanya. Kamu tidak bisa menyembunyikan apapun dariku." Ken semakin percaya diri saat melihat ekspresi wajah Aira.
'Menyebalkan. Kenapa wajahnya justru terlihat semakin tampan sekarang?'
"Terima kasih pujiannya. Aku memang tampan sejak lahir." Ken kembali berhasil membuat Aira terhenyak. Wanita itu semakin tidak percaya.
"Sudah ku katakan aku tahu semuanya." Ken benar-benar merasa berada di atas angin. Ia berhasil memenangkan perhatian istrinya ini.
"Sudahlah. Waktunya makan malam." Aira beranjak dari duduknya dan membereskan alas salat yang dipakainya.
Ken terkekeh. Sebenarnya dia tidak bisa membaca pikiran Aira, hanya menebaknya saja. Dan kebetulan tebakannya tadi tepat sasaran, membuat wanita itu semakin tak percaya diri.
Aira keluar dari ruangan ini, bersiap menuju dapur untuk menyiapkan makan malam. Ken segera menyusulnya, berniat membantu istrinya memasak. Tentunya ia bisa menggoda pujaan hatinya lagi seperti sebelumnya. Itu menjadi rutinitas favorit Ken belakangan ini.
...****************...
Gemes dah ah sama couple satu ini 😍😘😘
__ADS_1
See you,
Hanazawa Easzy