Gangster Boy

Gangster Boy
Gangster Boy : Senjata Makan Tuan


__ADS_3

Aira meminta Ken untuk tidak mencampuri urusan Mone dan Yamaken. Tapi, siapa sangka ternyata pria itu bukan hanya tidak akan mencampuri masalah asmara adik kembarnya, tapi dia melindungi mereka dari Sang Kakek. Ken tidak ingin pria lanjut usia itu sampai tahu keberadaan dokter yang entah siapa namanya. Hal itu membuat Aira merasa heran, tidak menyangka suaminya akan berbuat demikian.


Dan tentang tuan Harada dan nyonya Hanako, lagi-lagi Aira dibuat tercengang dengan fakta yang ada. Kaburnya tawanan mereka dari ruangan bawah tanah di kediaman kakek itu, ternyata sengaja dilakukan. Kakek Yamazaki ingin tahu ada berapa banyak pengkhianat Naga Hitam yang tersisa sebelum membantai mereka suatu hari nanti. Sungguh pola pikir seorang yakuza dimana seorang yang kuat akan menguasai lawannya yang lebih lemah. Menyeramkan.


Ken dan Aira menikmati sarapan pagi bersama-sama. Pria itu memasak makanan yang sederhana namun dirasa cukup untuk mencukupi kebutuhan gizinya pagi ini.



"Kamu yang memasaknya?" tanya Aira pada hidangan di atas meja yang tidak menggugah selera makannya sama sekali. Hanya ada tamagoyaki atau telur gulung yang bersanding dengan sup tofu dan sawi putih.


"Ada apa? Kamu tidak suka?" tanya Ken pada istrinya.


"Tidak apa-apa. Aku bisa makan semuanya." Aira berkilah demi membesarkan hati Sang Suami. Ia segera mengambil sumpit di depannya dan mulai menikmati makanan sarat protein dan karbohidrat di depannya.


Jika boleh memilih, sebenarnya ingin sekali Aira menyingkirkan dua makanan di atas meja ini. Lebih baik ia memasak hidangan yang lainnya seperti ayam lada hitam, ayam panggang, atau cumi goreng tepung. Semua bahan makanan itu ada di dalam lemari pendingin, tapi Ken justru membuat makanan yang sederhana ini, bahkan tergolong jenis masakan yang terlalu sederhana.


Takk


"Kalau memang tidak suka, jangan dimakan!" Ken beradu sumpit dengan Aira. Ia bisa melihat dengan jelas ekspresi wajah istrinya yang enggan memakan masakannya ini.


"Tidak masalah. Apapun yang kamu masak, aku akan memakannya." Aira menyingkirkan sumpit Ken dengan lembut. Ia juga berusaha tersenyum untuk menutupi keengganannya kali ini. Aira tahu betul tugasnya sebagai seorang istri, yakni harus menghargai apapun yang suaminya usahakan.


Aira mulai memasukkan suapan pertama ke dalam mulutnya. Hambar. Makanan di depannya hampir tidak ada rasanya sama sekali. Ia mengecapnya beberapa kali, tapi tetap saja tidak ada rasanya. Wanita itu mengambil kuah sup dengan sendok di tangannya. Tetap saja, rasanya seperti tidak ada bumbu yang Ken masukkan sama sekali.


"Bagaimana rasanya?" tanya Ken. Ia sengaja tidak memasukkan bumbu apapun ke dalam masakannya untuk melihat seperti apa respon Sang Istri kali ini. Apakah dia kan mencemoohnya karena rasa makanan ini yang tidak jelas? Atau justru akan menceramahinya macam-macam? Akan lebih baik jika Aira marah padanya, itu pasti akan terlihat menggemaskan.


"Lumayan. Masih bisa dimakan." Aira tidak ingin membuat masalah apapun. Dia masih bisa memakannya. Lagi pula, saat kecil dulu, ia pernah merasakan seperti apa rasanya kelaparan karena tidak makan sehari semalam. Jadi ia tahu bagaimana harus menghargai sebutir nasi di hadapannya. Ini sudah lebih dari cukup untuknya. Bahkan, makanan ini menyadarkannya bahwa seringkali ada berbagai hal yang harus kita terima meski kita tidak menyukainya sama sekali. Ya, begitulah hidup.


Ken terhenyak melihat istrinya yang tetap memakan sarapan paginya. Hatinya teriris melihat sikap Aira yang tidak mengeluh, marah, ataupun mencemoohnya. Wanitanya ini begitu berbesar hati. Bagaimana bisa dia bersikap begitu dewasa seperti ini?


Seketika perasaan sesal yang begitu dalam merayap di hati pria 28 tahun ini. Ia menyesal karena sudah sengaja mengetes istrinya dengan makanan hambar buatannya. Lidahnya terasa kelu untuk sekadar mengucapkan maaf atau mengakui perbuatannya kali ini.


Ctakk


Sumpit yang ada di tangan Ken patah, bersamaan dengan suapan terakhir yang masuk ke mulut Aira.


"Aku akan mengambilkan makanan yang baru untukmu." Aira membereskan hidangan di atas meja makan ini. Ia membuang sumpit patah Ken ke tempat sampah tanpa mengatakan apapun. Ia tahu Ken sudah mengujinya, dan sepertinya pria itu menyesali perbuatannya sekarang.


Aira berkutat di dapur, menghangatkan sup tofu yang ada di panci dan menambahkan beberapa bumbu dapur seperti garam, gula, dan lada untuk memperbaiki rasanya. Ia mencicipinya dan kembali membawakannya ke depan Ken.


"Makanlah. Aku akan siapkan bento untukmu." Aira beranjak dari hadapan suaminya, bersiap kembali ke dapur.

__ADS_1


*Bento atau o-bentō adalah istilah bahasa Jepang untuk makanan bekal berupa nasi berikut lauk-pauk dalam kemasan praktis yang bisa dibawa-bawa dan dimakan di tempat lain. Seperti halnya nasi bungkus, bentō bisa dimakan sebagai makan siang, makan malam, atau bekal piknik. 


"Kenapa?" tanya Ken sambil menahan ujung baju Aira, membuat wanita itu terpaksa menghentikan langkahnya.


"Hmm?" gumam ibu tiga anak ini, mempertanyakan sikap Ken yang menahan kepergiannya.


Ken diam di tempatnya duduk. Ia sedikit menundukkan kepala, merasa malu pada dirinya sendiri. Dia ingin mengejutkan istrinya, tapi malah ia sendiri yang terkejut. Seperti istilah lama, senjata makan tuan.


"Habiskan makananmu." Aira mengucapkannya sambil mengelus puncak kepala suaminya dengan lembut. Sikapnya ini seperti seorang ibu yang memaafkan tingkah menjengkelkan anaknya. Ia pergi setelah melepaskan tangan Ken dari ujung bajunya.


Ken memakan sarapan paginya dalam diam. Dia semakin menyadari betapa beruntungnya memiliki seorang Khumaira Latif menjadi pendamping hidupnya. Dia wanita yang dewasa, keibuan, dan tidak pendendam sama sekali. Satu sifat buruknya hanyalah mudah marah saat ia menggodanya, atau saat dirinya melewati batasannya seperti pagi ini. Selebihnya, semua baik-baik saja, seolah tanpa cela sama sekali. Kepribadiannya sungguh luar biasa.


...****************...


-Kota Bangkok, Thailand


Matahari naik sepenggalah saat seorang wanita keluar dari kamar mandi. Sebuah handuk mengular di atas kepalanya, menutupi mahkota hitam legamnya yang basah. Ia terpaku di tempatnya berdiri saat menyaksikan pemandangan di depannya yang terlihat mencengangkan.



Seorang pria yang sangat Kaori kenal tengah berbaring di atas ranjang dengan pose yang menggelikan bak seorang model majalah dewasa.


"Apa yang kamu lakukan? Tidak ada fotografer di sini," canda Kaori sambil berjalan ke arah suaminya. Ia duduk di depan Shun, berbagi ranjang yang sama dengannya seperti semalam.


Srett


"Apa kamu sengaja menggodaku?" tanya Shun sambil memainkan ujung rambut basah Kaori dengan jemarinya. Ia menciumnya, merasakan aroma mint dari sampo yang istrinya gunakan.


"Menggoda apanya?" Kaori berusaha melepaskan diri dari dekapan suaminya, tapi nampaknya tidak akan berhasil. Tangan kekar Shun mencengkeram lengannya dengan erat, membuat dokter cantik ini tak bisa berkutik sama sekali.


"Mau kemana hari ini?" tanya Shun sambil membaringkan istrinya ke atas ranjang. Kini mereka saling berhadapan dan menatap manik mata satu sama lain.


"Umm, bagaimana kalau ke Khao Yai?" cetus Kaori memberi ide.


"Khao Yai?" Shun tidak mengerti dimana kota itu berada. Bahkan namanya saja terasa sedikit asing di telinganya.


"Iya, Khao Yai. Tempat ini tampak agak berbeda dengan sebagian besar provinsi di Thailand. Jaraknya cukup jauh, setidaknya kita membutuhkan waktu tiga jam perjalanan dari sini. Tapi udaranya sejuk, seperti hamparan pegunungan di Eropa," jelas wanita yang masih memakai kimono mandi ini.


Shun mengerutkan keningnya. "Tidak ada shinkansen?" tanyanya.


(Shinkansen atau kereta peluru adalah jalur kereta api cepat Jepang yang dioperasikan oleh empat perusahaan dalam grup Japan Railways. Shinkansen merupakan sarana utama untuk angkutan antar kota di Jepang, selain pesawat terbang. Kecepatan tertingginya bisa mencapai 300 km/jam)

__ADS_1


"Heih? Shinkansen?" Kaori terkekeh mendengar pertanyaan suaminya. "Tidak ada. Ini bukan Jepang, Sayang." Kaori mencubit hidung Shun karena merasa gemas. Suaminya ini pasti merasa malas jika harus menempuh perjalanan darat selama berjam-jam.


"Aku akan mencari tempat penyewaan helikopter di sekitar sini." Shun beranjak bangun, hendak mengambil ponselnya di atas nakas.


Srett


"Umm," gumam Kaori sambil menggelengkan kepala. Ia menarik tangan Shun agar mengurungkan niat mengambil ponselnya sendiri. "Aku tidak mau pakai heli!" tegas wanita tiga puluh tahun ini pada suaminya.


"Kenapa?" tanya Shun sebal. Jelas-jelas mereka bisa menghemat waktu jika menggunakan moda transportasi udara satu ini.


"Aku ingin menikmati perjalanannya. Kita bisa saling berpegangan tangan, berbicara satu sama lain tentang masa kecil kita, dan berbagai kegiatan lainnya. Bukankah itu menyenangkan?" Kaori masih bersikukuh dengan permintaannya.


"Baiklah." Shun akhirnya mengalah.


"Aku sudah lihat review di internet. Tempat yang paling terkenal di Khao Yai adalah Khao Yai National Park yang ditetapkan sebagai taman nasional sejak tahun 1962. Di sini, kita bisa berendam atau sekadar bermain di air terjun Haew Suwat. Sebelumnya tempat ini menjadi lokasi syuting film Leonardo DiCaprio yang berjudul The Beach pada tahun 2000. Ada juga Pha Diao Dai atau Lonely Cliff. Tempat itu menawarkan salah satu pemandangan terindah di Thailand." Kaori kembali menjelaskan tempat yang akan mereka kunjungi dengan semangat berapi-api. Shun hanya bisa tersenyum melihat ekspresi istrinya yang jarang ditunjukkan di depan umum. Biasanya, wanita ini menampilkan sifat yang ramah dan tenang sesuai profesinya sebagai seorang pelayan publik.


"Ada tempat yang lainnya?" tanya Shun sembari memainkan jarinya di atas pipi Kaori yang terasa kenyal dan lembut.


"Aku ingin pergi ke Chokchai Farm untuk belajar membuat es krim dari susu sapi asli. Kita akan membuatnya setelah mengambil susu langsung dari peternakan. Selain itu, ada beberapa atraksi seru seperti pertunjukan cowboy atau rodeo. Setelahnya, kita akan makan steak paling enak di Thailand di area Chokchai Farm."


"Hanya itu?" tanya Shun asal bicara. Sebenarnya ia tidak begitu mendengarkan apa yang istrinya ucapkan. Fokusnya tertuju pada belahan dada istrinya yang terlihat karena kimono yang dipakainya tersingkap.


Glek


Shun hanya bisa menelan salivanya, menahan hasrat yang tiba-tiba menyeruak ingin menguasai istrinya lagi seperti beberapa jam yang lalu. Wanita ini sudah menjadi candu untuknya, mengalahkan egonya yang dulu selalu berpikir bahwa Ken dan Yoshiro menjadi bodoh karena seorang wanita. Pada kenyataannya, ia sendiri tengah mengalami hal itu. Sepertinya hukum karma bersiap menderanya mulai sekarang. Ia akan menjadi budak cinta istrinya, wanita cantik bernama Yamada Kaori.


"Ah, iya. Khao Yai adalah salah satu daerah penghasil wine terbaik di Thailand yaitu PB Winery atau Gran Monte. Kita bisa melihat langsung perkebunan anggur, proses pembuatan wine, sampai mendapatkan tips cara memilih wine yang baik, mencicipi, dan meminumnya langsung di tempat. Apa kamu tertarik?" tanya Kaori pada Shun.


"Aku lebih tertarik padamu. Kamu lebih memabukkan dari wine apapun di dunia ini," ucap Shun lirih dan dalam.


"Apa?" Kaori tidak bisa mendengar dengan jelas perkataan suaminya. Ia tidak tahu apa yang tengah pria ini pikirkan. Satu yang pasti, ia tidak akan bisa lolos dari suaminya ini untuk beberapa jam ke depan. Terlihat sorot matanya yang berkilat tajam, menandakan bahwa Shun menginginkan 'sesuatu' darinya.


Jantung Kaori berdegup kencang, memompa darah dari organ vitalnya menuju ke seluruh tubuh dengan cepat. Perasaan ini membuatnya kesulitan untuk berkata-kata, bahkan napasnya seolah tercekat di tenggorokan. Ia akan menjadi santapan spesial suaminya pagi ini.


Shun bergerak cepat, menikmati bibir di depannya yang terasa manis. Istrinya tidak melawan sama sekali, justru membalas perlakuannya ini. Bulan madu ini sungguh pilihan yang tepat untuk keduanya yang saling mendamba satu sama lain. Ribuan panah cinta melesak di dalam dada, membuat keduanya dimabuk kepayang oleh asmara. Uh, manisnya.


...****************...


Hwaaaaaa.... Abang Shun bikin panas dingin pagi-pagi gini. Dah jomlo, mana ujan pula. Lengkap dah ah penderitaan Author 😢😭😭😭😭😭


Bai bai, hiks... 😢😢

__ADS_1


Hanazawa Easzy


__ADS_2