
Ken bermain playstation dengan kakek dan mengabaikan Aira. Ia bahkan tidak peduli pada ucapan istrinya yang mengancam akan pergi. Menjadi gamer adalah rutinitasnya di akhir pekan ketika masih ada di akademi.
Alih-alih refreshing ke taman hiburan, kebun binatang, atau sebagainya, Ken justru lebih menikmati waktunya untuk berdiam diri bercengkerama dengan stik PS selama seharian penuh. Bibi Tsu sampai menyuapi Ken jika hal itu terjadi agar tuan muda tidak melewatkan makannya.
"Mereka berdua tidak akan tertolong." ucap ibu melihat keputusasaan dari wajah menantunya.
"Eh?" Aira kaget mendengar suara nyonya Sumari, ibu mertuanya yang kini berdiri dua langkah di belakang.
"Ayo, lebih baik kamu ikut denganku." ajak ibu.
Aira menuruti titah wanita yang sudah melahirkan suaminya 27 tahun yang lalu. Ia tak habis pikir dengan perubahan sikap suaminya hari ini. Awalnya Aira pikir Ken akan menghabiskan waktu dengan bermanja-manja seperti sebelumnya saat mereka hanya berdua saja, tapi yang terjadi justru sebaliknya.
"Dia memaksamu membelikannya?" tanya Sumari membuka percakapan setelah berjalan beberapa langkah tanpa suara.
"Iya." jawab Aira singkat. Perasaan kesal yang terpendam di hatinya membuatnya irit kata.
Jika saja yang mengajak bicara masih seumuran dengannya, mungkin Aira memilih diam. Tapi kenyataannya ia harus bersikap baik pada orang yang lebih tua, terlebih yang bertanya adalah ibu mertuanya. Calon nenek dari anak-anaknya.
"Dengan uangmu?" tanya wanita berbaju merah itu sambil berbalik dan menatap menantunya.
Langkah kaki Aira terhenti dan menatap Sumari dengan wajah penuh tanda tanya, 'Bagaimana ibu bisa tahu?'
"Iya." jawab Aira pada akhirnya. Ibu menatapnya dengan pandangan yang sulit untuk diartikan, membuat Aira sadar bahwa semua anggota keluarga Yamazaki memiliki pengaruh memporakporandakan pertahanan mentalnya.
"Tapi, darimana ibu tahu hal itu?" tanya Aira penasaran.
"Karena dia terikat janji denganku" jawab Sumari sambil tersenyum dan melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti beberapa saat.
Aira mengerutkan keningnya karena tidak mengerti apa janji yang ibu katakan, tapi tidak sepantasnya ia menanyakan hal itu. Mungkin saja itu hal yang rahasia. Aira mempercepat langkahnya. Mereka berdua jalan bersisian melewati beranda rumah yang seluruhnya terbuat dari kayu.
Ya, kebanyakan rumah di pedesaan memang masih menggunakan kayu sebagai material utama pembangunnya. Selain karena mengikuti adat istiadat nenek moyang, rumah kayu juga terasa lebih homely dari pada bangunan modern seperti yang ada di perkotaan. Semewah apapun kehidupan di kota, terasa lebih membahagiakan hidup di desa.
*homely : comfortable atau nyaman.
Dan kediaman keluarga Yamazaki ini seluruhnya terbuat dari kayu dengan pondasi bebatuan yang kokoh di bawahnya. Menyenangkan jika di lihat, terutama saat langit berubah gelap seperti sekarang dimana lampu-lampu mulai dinyalakan dan membiaskan sinar kekuningan. Aira merasakan kekesalannya pada Ken mulai terkikis, berganti dengan rasa damai dan tenang.
"Masih marah?" tanya ibu sambil menggenggam jemari menantunya.
Aira menggeleng sambil tersenyum. Ini pertama kalinya mereka sedekat ini. Membuat Aira merasakan kasih sayang dari seorang ibu yang belum pernah ia rasakan.
"Ini baju hangatnya, nyonya." seorang pelayan wanita tampak mengangsurkan sebuah pakaian yang terlipat rapi.
"Mm..." gumam Sumari menerimanya. Ia berbalik menghadap Aira.
"Pakailah." pinta wanita 50 tahun itu.
"Untukku?" tanya Aira ragu.
__ADS_1
Tanpa menunggu waktu lama, Aira melepas jas milik Ken yang melekat di tubuhnya dan menggantinya dengan baju hangat berbulu pemberian ibu.
"Berikan baju Ken padaku." pinta ibu.
Aira menurutinya tanpa bertanya.
Wuzzh
Sumari membuang pakaian berwarna hitam itu ke sembarang arah, membuatnya teronggok di tanah bersalju. Aira membulatkan matanya, terkejut dengan sikap wanita di depannya
"Tidak ada yang boleh mengambil baju itu! Dan ingat, jangan ada yang memberitahu Ken kemana kami pergi." titah nyonya di rumah ini yang dijawab dengan anggukan oleh pelayannya.
"Baik." jawabnya patuh. Ia meninggalkan tempat itu setelah menunduk pada Sumari dan Aira.
"Ayo pergi." Sumari mengajak Aira memasuki mobil hitam yang terparkir di pelataran.
Kendaraan besi itu membawa kedua wanita yang berbeda generasi menyusuri jalanan kelok khas pegunungan. Pemandangan kota yang dipenuhi kerlap kerlip lampu tampak seperti ribuan kunang-kunang yang menghiasi gelapnya malam. Aira kembali takjub pada pemandangan di kejauhan itu, mengingatkannya bahwa hanya dengan kuasa Allah dia bisa berada di sini. Semua luka dan air mata mengantarkannya pada keluarga yang ia miliki sekarang.
"Dingin?" tanya ibu sembari menggenggam jemari Aira. Wanita hamil itu mengangguk dan menatap ibu mertuanya dengan senyum simpul di wajah.
Tak lama kemudian kendaraan yang mereka naiki berhenti di pelataran luas yang disinari sinar kuning keemasan yang memancar dari lampion yang terletak di berbagai sudut.
Aira mendongakkan kepalanya begitu keluar dari mobil. Ia menatap pemandangan menakjubkan yang ada di depannya. Sebuah bangunan klasik lima puluh meter dari kakinya berpijak. Indah. Ya, satu kata itu agaknya belum cukup menjelaskan panorama buatan manusia satu ini. Kata cantik, nyaman, homely, keren, dan sederet kata pujian lainnya pantas disematkan untuk penginapan itu.
"Ini dimana bu?" tanya Aira saat keduanya berdiri sejajar, mulai menaiki anak tangga yang tertutup salju di kedua sisinya.
"Tempat persembunyian kita." jawab Sumari sambil mengerlingkan matanya. "Awas hati-hati dengan langkahmu, licin." ucapnya memperingatkan.
Dan benar saja, Aira hampir jatuh terjerembab detik berikutnya jika saja ibu tidak segera meraih tangannya. Kakinya terpeleset tangga yang dipijaknya.
Keduanya sampai di mulut salah satu bangunan yang paling megah di antara semuanya. Sebuah tiang kayu besar tampak berdiri kokoh di sisi kanan dan kiri Aira.
"Selamat datang nyonya." sapa wanita dengan yukata cantik yang membalut tubuhnya.
*yukata \= kimono \= baju khas negeri sakura
Sumari mengangguk, "Apa kalian sudah menyiapkan pesananku?" tanya ibu kemudian.
"Sudah nyonya. Mari saya antar." tangan wanita itu terulur menunjukkan arah kemana ketiganya akan pergi.
Aira kembali takjub saat memasuki bangunan klasik itu lebih dalam lagi. Hening dan tenang dengan lilin aroma terapi di sisi kanan kiri koridor yang dilaluinya. Uap panas menyembul di antara dinding kayu yang mereka lewati.
"Silahkan." perempuan itu tersenyum ramah setelah membuka pintu.
Sumari masuk ke dalamnya diikuti Aira yang masih menerka-nerka apa yang ibunya ingin ia lakukan saat ini. Dua orang wanita tampak menunggu di dalam, tentunya dengan senyum paling indah yang terukir di wajahnya. Paras cantik nan putih itu terlihat bercahaya di tengah ruangan yang sedikit temaram. Ah, kecantikan khas negeri sakura ini tak ada tandingannya.
__ADS_1
Seketika perasaan aneh menjalar di hatinya. Bagaimana mungkin Ken bisa memilihnya? Padahal ada begitu banyak wanita yang pastinya memiliki paras yang lebih cantik darinya.
Tentang permainan takdir yang harus ia lalui sampai di titik ini, rasanya begitu klise. Seperti sebuah cerita drama di layar kaca, memaksa pemain utamanya berjibaku dengan air mata dan keringat demi memerankan lakon yang diinginkan sutradara.
Pun sama dengannya, ia harus berjuang melawan ego dan kemarahan Ken yang terkadang menjelma menjadi iblis. Membuatnya seolah tak akan bisa hidup lagi jika berhadapan dengannya. Berkali-kali nyawanya terancam, dan tentu saja semua masih ada hubungannya dengan Ken.
"Ai-chan, kamu mendengarku?" sebuah suara menyela, menyadarkan wanita hamil itu dari kilas balik peristiwa luar biasa yang terjadi sejak tujuh bulan yang lalu. Sejak ia bertemu dengan pria yang menabraknya saat sedang jogging, yang membuat ponsel mereka tertukar dan berakhir dengan pernikahan konyol ini.
Ah, pernikahan konyol? Tidak, bukan begitu. Sungguh semesta begitu mudahnya memberikan jalan agar skenario Tuhan terlaksana. Hanya saja Aira yang belum mengetahui kemana peristiwa tak sengaja itu bermuara. Menggiringnya mendapat kebahagiaannya bersama Ken, setelah jalan terjal berliku tentunya.
"Sayang, apa yang kamu pikirkan?" kali ini tangan Sumari bertengger di lengan menantunya. Sebuah senyum ia sunggingkan demi menatap ibu dari cucunya kelak.
"Ah, maaf. Bukan apa-apa." jawab Aira sedikit tergagap.
"Ayo." Sumari mengajak Aira masuk ke dalam ruangan.
"Selamat datang nyonya. Silahkan simpan pakaian Anda." pinta salah satu dari kedua wanita yang tampaknya bekerja sebagai terapist disini sambil menyerahkan bath robe (handuk kimono) pada Aira.
Beberapa menit berikutnya, Sumari dan Aira menikmati pijat refleksi dari dua wanita tadi. Ini pertama kalinya Aira pergi ke tempat spa. Tadinya ia berpikir bahwa sepertinya ini pemandian air panas seperti yang pernah ia kunjungi dengan Ken sebelumnya. Tapi ternyata sedikit berbeda.
Tempat ini ada untuk memanjakan pengunjungnya dari penat yang seringkali didapat akibat rutinitas perkotaan yang tak ada habisnya. Ya, di akhir pekan pasti tempat spa dan pemandian air hangat menjadi destinasi favorit para pekerja kantoran. Apalagi di puncak musim dingin seperti sekarang, berendam air hangat adalah aktivitas paling menyenangkan.
"Ai-chan, maaf membawamu pergi dengan paksa." ucap Sumari merasa bersalah karena sedari tadi menantunya tidak mengeluarkan sepatah katapun.
"Tidak. Ibu tidak perlu minta maaf. Lagi pula begini lebih baik. Aku memang sedang kesal pada Ken." jawab Aira, kembali mengingat peristiwa sebelumnya. Dimana Ken mengabaikannya dan tetap asik bermain video game bersama kakek. Benar-benar kekanakan.
Sumari tersenyum lebar, "Itulah alasannya aku melarang Ken membeli playstation atau apapun semacamnya. Aku lebih suka dia berlatih menembak daripada bermain game yang membuatnya lupa waktu." jelas ibu.
"Maaf, aku tidak tahu tentang itu bu." ucap Aira merasa sedikit bersalah.
"Tidak masalah. Sesekali dia juga perlu mendapatkan kebahagiaannya tersendiri. Dan kita bisa menghabiskan waktu bersama seperti sekarang ini." Sumari tersenyum menatap menantunya yang terpisah satu meter di sampingnya.
"Dia pasti merepotkanmu." ucap Sumari kemudian.
"Hm, sedikit." jawab Aira canggung.
"Apa Ken berlaku baik padamu?"
"Dia sangat baik bu, sampai membuatku bertanya-tanya benarkah suamiku itu adalah pria yang menikahiku 7 bulan yang lalu? Rasanya mereka memiliki sifat yang berbanding terbalik. Ken yang kasar dan pemarah berubah menjadi pria yang lembut dan manja. Dia begitu suka menggodaku." curhat Aira.
Dan disaat yang bersamaan, pria yang sedang Aira bicarakan tengah menatap sebal pada jas miliknya yang teronggok di atas salju.
'Kemana istrinya? Apa yang sudah ia lewatkan?'
*****
With love,
__ADS_1
Hanazawa easzy ♡