Gangster Boy

Gangster Boy
Gangster Boy : Kamu Sengaja Mempermainkanku?


__ADS_3

Bulan sabit tampak menggantung di atas langit. Bintang gemintang terlihat bercahaya, menghiasi langit yang berwarna hitam pekat.


"Apa kamu sengaja mempermainkanku?" tanya Ken begitu langkah kakinya terhenti di tepi pantai. Tanpa alas sama sekali, mereka berlari. Ah, lebih tepatnya Aira menarik tangannya untuk pergi keluar rumah setelah berteriak memanggil Sakura, meminta wanita itu menjaga ketiga anaknya.


"Bukankah kamu lapar? Ini solusinya."


Kening Ken berkerut dalam. Apa maksud wanita berwajah bulat ini? Apa hubungannya lapar dan berdiri diam di pantai saat malam hari? Bukankah dua hal itu tidak ada korelasinya sama sekali?


"Tunggu di sini." Aira melepaskan tangannya dari lengan Sang Suami. Detik berikutnya, wanita 153 cm itu berlari menjauh, mengambil ember berwarna oranye yang tergeletak di atas pasir.


Kerutan itu semakin dalam. Mata tajam Ken memicing. Apa yang akan Aira lakukan? Kenapa dia mengambil ember itu? Apa mereka akan bermain pasir, membuat istana atau semacamnya? Berbagai pertanyaan menggelayuti pemikiran pria 28 tahun ini. Dia benar-benar tidak tahu apa rencana wanita kesayangannya. Seringkali dia memiliki ide-ide di luar nalar.


"Kita akan mencari kerang di sini." Seolah tahu keterdiaman Ken mengandung berbagai pertanyaan, Aira menjawab hal itu.


Ken masih bungkam, dia mengamati penampilan istrinya dari ujung kaki hingga ke ujung kepala. Piyama satin itu terlalu tipis untuk menghalau angin laut di tempat ini. Dia bisa saja sakit keesokan harinya.


"Lupakan saja. Ayo kembali." Ken menarik tangan Aira, berniat membawanya pergi kembali ke dalam rumah. Sudah pukul sembilan malam, udara hangat berganti dengan rasa dingin yang menggigit.


Sreett


Aira menarik tangannya dari genggaman Ken. "Pergilah sendiri. Aku akan tetap mencarinya."


Wanita dengan jilbab segi empat menutupi kepala itu terus menjauh dari suaminya. Dia tidak peduli jika Ken ingin kembali. Tapi dia ingin melanjutkan kegiatan mencari kerang di sini. Sendiri bahkan lebih nyaman, dia leluasa pergi ke sana kemari tanpa ada yang melarangnya.


"Apa kamu gila?" tanya Ken, melihat Aira mulai menapakkan kakinya ke dalam air laut, melangkah dengan hati-hati di antara batu karang yang menonjol.


"Jangan bertindak bodoh. Itu berbahaya. Air laut pasang saat malam hari. Kita bisa mencarinya besok pagi!" Ken menarik tangan Aira. Wanita itu baru saja berjongkok, siap mengambil kerang di sebelah kakinya.


Cengkeraman itu semakin erat saat Aira coba melepaskan tangannya dengan paksa. Ken menatap wanitanya dengan pandangan tajam, menunjukkan superioritasnya yang tak ingin dibantah.


"Kamu terlalu banyak berpikir, Sayang." Bukannya takut melihat amarah Ken yang terpancar dari wajahnya, Aira justru menyapukan tangannya yang basah ke wajah suaminya.


"Kamu?!" Ken tidak bisa menahan gemuruh di dalam dadanya lagi. Dia ingin Aira mendengarkannya. Titik!


"Aku terbiasa melakukan ini sejak kecil," tukas Aira, menatap tepat pada manik mata hitam di hadapannya. "Dibandingkan ketakutan terseret ombak, aku lebih takut tidak bisa membeli makanan esok hari."


Deg!


Hati Ken mencelos. Dia tahu istrinya ini bukan terlahir dari keluarga berada sepertinya. Entah luka dan kepedihan apa saja yang dia rasakan selagi kecil. Ibunya yang berada dibalik jeruji besi, memaksa Aira bertahan hidup seorang diri.


Perlahan Ken melepaskan tangan Aira. Dia tahu wanitanya ini bukan sekadar mencari kerang seperti dugaannya, melainkan sedang mengulang kembali masa-masa kecilnya saat itu. Mungkin dia merindukan masa lalunya.


Pria lesung pipi ini membiarkan istrinya berjongkok, mengambil kerang di bawah sana seperti rencananya semula.


"Lihat. Ini besar, 'kan?" Aira menunjukkan kerang putih di tangannya sambil tersenyum bahagia. Mungkin ekspresi itulah yang Aira kecil tunjukkan belasan tahun yang lalu. Di saat dia dan Yamaken bermain dengan berbagai mainan mewah pemberian kakek, di belahan bumi lainnya seorang gadis tengah mengais kerang kecil dari pantai demi sesuap nasi.


Aira berpindah tempat. Dia tidak ingin menyia-nyiakan penampakan kerang-kerang kecil yang tertangkap matanya. Dia bersemangat mengambilnya satu per satu kemudian memasukkannya ke dalam ember kecil di tangan kirinya.


"Kamu tahu berapa harga satu kilogram kerang ini?" Aira menunjukkan embernya yang mulai terisi seperlimanya. Gerakan wanita ini begitu cepat, seolah sudah terbiasa melakukannya setiap hari. Jelas-jelas ini bukan pekerjaan yang mudah. Tanpa penerangan sama sekali, hanya dengan bantuan cahaya bulan, bagaimana bisa melihat ke dalam lautan?


"Berapa?" Ken merespon pertanyaan istrinya. Sejujurnya, dia tidak tahu kehidupan rakyat jelata seperti istrinya ini. Dia sudah terbiasa hidup dengan berbagai fasilitas yang ada.


"Lima ribu rupiah." Aira tersenyum. "Aku bisa dapat lima kilo sekaligus."


Ken kembali bungkam. Otaknya berpikir cepat. Jika satu kilogram kerang dihargai lima ribu, maka yang Aira dapatkan hanya 25.000 rupiah saja. Jika dikonversi ke Yen, itu hanya sekitar 190 yen. Yang benar saja! Dengan uang sedikit seperti itu, bagaimana bisa membeli makanan? Di Jepang, uang itu bahkan tidak cukup untuk membeli soft drink di sana.


"Kalau mencarinya pagi hari, terlalu banyak orang. Aku hanya akan dapat sedikit." Aira masih bermonolog. Dia bercerita seperti apa tips dan trik untuk mencari kerang agar cepat terkumpul banyak. Juga jam berapa laut sedikit surut sebelum kembali naik airnya. Hal-hal remeh temeh yang tidak banyak diketahui orang, Aira mengahapalnya di luar kepala.

__ADS_1


Grep


Ken memeluk Aira dari belakang. Dia tidak bisa menyembunyikan lagi rasa simpati yang diam-diam menggunung di dalam hatinya.


"Eh?" Aira berbaik, menatap wajah sedih Ken dengan penasaran. "Ada apa?"


Bukannya menjawab pertanyaan Aira, Ken justru semakin erat memeluk pinggang istrinya. Dia benar-benar salah mengira Aira akan melakukan hal bodoh dengan mencari kerang di saat air pasang. Justru dialah yang bodoh karena tidak tahu ada begitu banyak orang di dunia ini yang jauh lebih tidak beruntung dibandingkan dia dan anak-anak lainnya yang terlahir dengan sendok emas di mulutnya.


"Ken?" Aira tidak tahu apa yang terjadi pada suaminya. Dia terlalu asik bercerita sambil mengais kerang, tidak menyadari apa yang Ken lakukan sampai tiba-tiba memeluknya dengan erat seperti sekarang.


Tanpa membuang waktu lagi, Ken mengurai pelukannya dan kemudian melepas piyama atasnya.


"Ap-apa yang kamu lakukan?" Aira tergeragap, menyaksikan perut kotak-kotak milik Sang Suami yang tertangkap retina matanya.


Tanpa berkata apapun, Ken memakaian baju itu di tubuh mungil Aira yang tentu saja kebesaran.


"Hey," sela Aira, menahan tangan Ken yang berusaha memasukkan biji kancing ke tempatnya masing-masing.


"Diamlah. Pakai ini dan biarkan aku yang melakukannya untukmu." Ken berkata tanpa menatap Aira. Seluruh atensinya tertuju pada jemarinya yang sibuk memasang kancing paling atas pakaiannya di tubuh Aira.


Detik berikutnya, Ken mengambil ember yang ada di tangan Aira. Dengan bertelanjang dada, Ken berjalan ke bagian pantai yang lebih jauh. Dia berjongkok dan mulai mengambil kerang yang tertangkap retina matanya.


Aira tersenyum melihat Ken yang tengah menggantikan kegiatannya. Hatinya tersentuh merasakan ketulusan pria itu. Dia salah paham sebelumnya, mengira Aira hanya bermain-main dan sekarang justru meminta istrinya agar tetap diam di sini. Bahkan, dia rela melepas piyama bagian atasnya agar Aira tidak kedinginan. Benar-benar suami idaman.


Kilatan kebersamaannya dengan Ken kembali berkelindan di dalam kepala. Luka dan air mata di masa lalu telah tergantikan dengan cinta dan kasih sayang yang pria ini hadiahkan untuknya. Juga tiga malaikat kecil tanpa sayap yang kini menghiasi hari-harinya. Nikmat mana lagi yang bisa seorang Aira dustakan? Tuhan begitu baik padanya.


Hanya dalam hitungan menit, ember kecil itu terisi penuh oleh kerang. Ken segera mendekat ke arah Aira yang duduk di atas batu.


"Apa ini sudah cukup?" tanya Ken, berdiri menjulang di hadapan istrinya.


Dengan antusias, Aira mengangguk.


Wanita berpipi chubby itu menepuk batu di sebelahnya yang masih kosong, meminta Ken duduk di sebelahnya.


"Ayo pulang," ajak Ken, berusaha menarik tangan Aira untuk bangkit dari tempatnya beristirahat.


"Duduklah," pintanya dengan suara lembut yang terdengar begitu merdu di telinga seorang Yamazaki Kenzo.


Mau tak mau, Ken meletakkan embernya di atas pasir dan duduk di samping wanitanya, ibu dari ketiga anak-anaknya.


"Bulannya indah." Aira menunjuk bulan sabit di atas saja. Dia menengadahkan kepala satu detik setelah Ken terduduk di posisinya.


"Kamu lebih indah," jawab Ken sambil menatap wajah istrinya dari samping.


Aira menoleh dan tersenyum. Tidak biasanya Ken bisa merespon kalimatnya dengan kata-kata indah dan manis seperti tadi.


"Bintangnya bersinar cerah," pancing Aira, ingin mendengar gombalan lain dari laki-laki satu ini.


"Kamu lebih dari sekadar bintang untukku," timpal pengusaha muda berbahaya ini. Tak ada senyuman sama sekali, Ken tetap memasang wajah datarnya.


Ckiitt


Aira meraih hidung Ken dan mencubitnya dengan gemas.


"Dimana kamu belajar kata-kata seperti itu, huh?"


Aira tahu di Jepang tidak banyak kalimat-kalimat godaan seperti di Indonesia. Jadi, dia sedikit heran darimana Ken belajar mengatakan hal-hal unfaedah seperti barusan?

__ADS_1


Bukannya menjawab pertanyaan Aira, Ken justru menahan tengkuk wanita ini dan mengecup bibirnya sekilas.


Bugh!


"Dasar mesum!" pekiknya, menyudahi tautan bibir yang tidak terduga.


"Ayo pulang." Ken beranjak berdiri, mengambil ember berisi kerang itu dan membawanya kembali ke rumah.


Di belakang sana, Aira tersenyum melihat punggung Ken yang menjauh. Dia masih ingin duduk di sini, menikmati hembusan angin pantai yang dia rindukan. Anggaplah ini me time setelah bertahun-tahun berkutat dengan kehidupan membosankan di ibukota.


Ken terus melangkah, tanpa tahu istrinya masih tertinggal di tempatnya. Wanita itu tak beranjak satu inchi pun, kembali menatap gugusan bintang di kejauhan.


Barulah saat meletakkan ember itu di dapur, Ken menyadari bahwa Aira tidak ikut kembali bersamanya.


"Astaga, wanita itu!" Ken mengepalkan tangannya. Dia segera kembali ke tempatnya semula. Dia akan menggendong Aira dengan paksa, membawanya pulang dengan segala cara.


"Apa yang kamu lakukan di sini? Apa kamu mau mati kedinginan, huh?" Ken sedikit meninggikan suaranya, berteriak sambil berdiri di hadapan Aira yang menyembunyikan wajah di atas lututnya.


Tak ada respon sama sekali. Aira tetap memeluk lututnya dan tidak menghiraukan pria di hadapannya.


"Ai-chan," panggil Ken, duduk bersimpuh di depan Aira. "Ayo pulang," bujuknya sambil mengusap puncak kepala Aira. Ia mengira wanita ini tengah menangis, terlihat dari punggungnya yang terisak sesekali.


"Maaf, aku tidak bermaksud mengatakan hal buruk itu padamu. Aku tidak akan meninggalkanmu." Ken meraih jemari Aira, berharap wanita ini mau mengangkat wajahnya dan balik menatap ke arahnya.


"HWAAAA!!!!" Aira sengaja mengagetkan Ken, membuat pria itu terperanjat dan jatuh terduduk di atas pasir.


Gelak tawa terdengar detik berikutnya. Aira terlihat begitu bahagia. Dia berhasil membuat jebakan untuk suaminya.


Kedua mata Ken membola. Dia segera bangkit dan meraih tubuh Aira ke dalam gendongan.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Aira, mengalungkan tangannya di belakang leher Ken agar tidak terjatuh.


"Apa lagi? Tentu saja menghukummu. Gadis nakal harus di hukum!"


Kali ini kedua netra Aira yang membola. Dia tahu hukuman apa yang ada di dalam kepala Yamazaki Kenzo. Dia bisa membantai musuhnya tanpa belas asih. Tapi, hukuman baginya dari pria ini adalah memporakporandakan pertahanannya sampai pagi. Itu pasti.


"Lepas! Turunkan aku!!" Aira berontak, ingin melepaskan diri dari dominasi suaminya.


"Salahmu sendiri ingin mengerjaiku. Lihatlah nanti bagaimana kamu memohon untuk terus bersamaku."


Aira menggeleng. Dia tidak ingin Ken mempermainkannya. Dia tahu seperti apa tabiat Ken. Pria ini tidak akan melepaskannya begitu saja.


"Ah, anak-anak mencariku. Waktunya mereka menyusu." Aira berdalih, mencoba menggunakan anak-anak sebagai alasan.


"Ada Sakura yang mengurus mereka. Saatnya aku mengurusmu!"


Aira menggeleng cepat. "Berhenti! Aku tidak ingin melakukannya! Tubuhmu kotor. Penuh keringat."


Aira terus saja mencari berbagai alasan. Dia serampangan mencari kemungkinan untuk terlepas dari hewan buas berbahaya ini. Tubuh Ken memang bekeringat setelah mencari kerang sebelumnya.


"Kalau begitu, hukumanmu adalah membersihkan tubuhku!"


* * *


Whooaaaa ayang mau ngapain sama mamak? Ada yang tahu? Hihihiiii....


So sweet banget dah abang satu ini? Siapa si yang ngajarin gombalin neng Aira, Bang? Hahaha.

__ADS_1


Sampai jumpa di bab berikutnya. See you,


Hanazawa Easzy


__ADS_2