
Jam dinding menunjukkan pukul sepuluh malam saat Ken membawa Aira kembali ke rumah. Tanpa alas kaki, dia terus melangkah menapaki lantai marmer mengilat di balkon bawah. Tatap matanya yang tajam menunjukkan bahwa pria ini tidak dalam mood yang baik.
Aira mengerjainya, berpura-pura menangis dan membuat Ken khawatir. Nyatanya, wanita ini hanya iseng saja. Jahil.
Dua orang pengawal berpakaian serba hitam itu memperhatikan tuannya dari kejauhan. Keduanya berjaga di depan pintu sepanjang waktu, berganti dengan pengawal lainnya setelah delapan jam bekerja. Kakek Yamazaki yang sudah mengutus orang-orang ini untuk mengamankan cucu menantu dan cucu buyutnya. Pria itu tampaknya sangat menyayangi Akari, Ayame, dan Azami.
Saat Ken melewati mereka, keduanya menundukkan badan 45 derajat, tidak berani menatap langsung wajah marah yang tengah menggendong istrinya.
"Apapun yang kalian dengar, jangan masuk!" titah Ken sambil lalu. Jejaknya samar-samar masih terlihat. Beberapa butir pasir pantai tertinggal di lantai, entah berasal dari kaki Ken atau Aira.
"Baik, Tuan." Keduanya menjawab bersamaan sebelum menutup pintu yang Ken tinggalkan.
Pria dengan kumis tipis di bawah hidungnya masih menundukkan kepala. Dia adalah pengawal yang hampir Ken bunuh saat ada di tempat spa.
Waktu itu hubungan Ken dengan Aira belum terlalu baik. Nyonya Sumari mengajak menantunya pergi ke spa sekaligus pemandian air panas. Tapi, karena kondisi Aira yang saat itu sedang kurang fit, justru pingsan di dalam kolam. Tanpa memikirkan resikonya, pria pengawal ini langsung menggendong Aira menuju kamar istirahatnya.
Dan kemudian apa yang terjadi? Ken murka, memukulinya membabi buta karena kecemburuannya. Dia tidak ingin siapapun melihat tubuh wanita kesayangannya. Apalagi saat itu Aira hanya mengenakan handuk seperti yang dikenakan orang-orang saat berendam di onsen. Ken berubah menjadi iblis, hampir saja nyawanya ini melayang.
Sementara pengawal berkumis ini mengingat kejadian di tempat spa, rekan kerjanya juga mengingat betapa gilanya seorang Yamazaki Kenzo pada istrinya. Dia adalah supir yang mengantar keduanya ke taman bermain. Tadinya dia ikut bahagia karena Tuan Mudanya terlihat lebih sisi manusianya sejak dekat dengan istrinya. Tapi, hal tidak terduga terjadi.
Kencan Ken dan Aira berubah menjadi malapetaka. Entah bagaimana ceritanya, Ken menggila, menggendong istrinya seperti seonggok barang di atas bahu dan membantingnya ke kursi belakang. Bahkan dua hari berikutnya, datang dokter dan Yoshiro yang kemudian mengamankan wanita Indonesia ini dari suaminya sendiri.
Yoshiro yang terkenal sama kejamnya dengan Ken, membawa tubuh mungil Aira yang terbungkus selimut. Entah apa yang terjadi pada wanita malang itu. Sepertinya Ken memenjara wanitanya dan melampiaskan nafsunya sehari semalam tanpa henti, sampai membuat wanitanya pingsan. Tapi setelahnya Ken benar-benar berubah menjadi iblis. Dia menghancurkan semua benda pecah belah di dalam rumah.
Kemarahan pria ini dipicu karena Yoshiro membawa Aira dengan paksa ke apartemennya. Dan sekarang, wajah Ken terlihat lebih baik. Meski mereka tidak tahu penyebab pria ini marah, tapi sorot mata tajamnya bukan lagi milik iblis yang selama ini mendominasi hidupnya. Kemarahan itu lebih kepada kekhawatiran karena istrinya sering melakukan hal-hal yang tidak masuk akal. Dan Ken akan memberikan hukuman spesial untuk wanitanya itu.
Dua pengawal itu masih menunduk dalam, mengingat kilas balik rumah tangga tuan mudanya. Seorang iblis berdarah dingin, tiba-tiba menikah dengan wanita biasa. Seperti cerita-cerita fiksi di dalam novel saja, pikirnya.
"Ken," panggil Aira lirih. Dia takut Ken akan lepas kendali. Tubuhnya masih melayang di udara, berada dalam dekapan suami sahnya. Mata bulatnya melirik sekeliling, tidak ada seorang pun di sekitar mereka. Pada siapa ia harus meminta tolong? Hanya ada Sakura dan dua rekan pengasuh bayi lainnya di ruangan baby triplets.
"Jangan main-main denganku!" titah Ken sambil membawa istrinya ke kamar pribadi mereka di lantai atas. "Kamu tidak bisa lari dari hukumanmu."
Aira bungkam. Bibirnya mengerucut. Dia tahu tidak bisa lagi mengelak dari keinginan suaminya. Lagipula, sudah menjadi tugasnya sebagai seorang istri untuk memenuhi kebutuhan lahir dan batin suaminya, 'kan? Pria yang telah menikahinya setahun lebih ini jarang memberinya hukuman ekstrem. Kalaupun dia membuat masalah, nanti juga bisa dibicarakan di atas ranjang sebelum tidur. Selalu seperti itu.
"Lepas tanganmu!" Suara Ken berhasil membuat lamunan Aira terjeda. Dia kembali ke masa sekarang dimana tubuh mungilnya ada dalam dekapan seorang pria pewaris utama keluarga yakuza.
"Hah?" Aira mengurai jalinan tangannya yang sedari tadi bertaut di belakang tengkuk Ken. Apa yang akan pria ini lakukan padanya?
Brukk
Tanpa aba-aba, Ken menjatuhkan tubuh mungil Aira dari dekapannya. Hanya butuh waktu sepersekian detik saja sampai punggungnya mendarat di atas ranjang empuk ini. Aira memejamkan mata, merasa dikejutkan oleh tindakan abstrak pria ini padanya.
"Kamu harus bertanggung jawab karena sudah menipuku." Ken menundukkan badannya, mengikis jarak di antara mereka. Hanya tersisa dua jengkal sebelum bibirnya mendarat di gumpalan daging tipis berwarna salem itu.
Bugh
Aira menghindar sepersekian detik sebelum Ken berhasil menciumnya, membuat wajah tampan pria ini terbenam di atas bed cover. Meski jarang berlatih beladiri beberapa waktu ini, bukan berarti kemampuan Aira menghilang begitu saja. Responnya masih cukup baik dan cepat, sampai bisa kabur dari serangan Ken yang tiba-tiba itu.
"Cuci wajah dan bersihkan badanmu. Aku tidak suka aromanya!" Aira masih mencoba mencari alasan. Dia sendiri beringsut mundur, sampai punggungnya tertahan kepala ranjang. Terlihat jelas bahwa Aira sengaja menghindari suaminya yang ingin mengajaknya 'olahraga malam'.
__ADS_1
"Aku tidak akan melarikan diri. Cepat lah mandi, tubuhmu berkeringat. Aku akan menunggumu di sini." Aira mendorong tubuh Ken yang baru saja berhasil naik setelah mencium selimut hangat di bawahnya.
Dengan menahan gondok, pria 28 tahun ini melangkah pergi meninggalkan seorang Khumaira Latif seorang diri. Dia marah, kesal, sekaligus malu. Misinya untuk mencium istrinya gagal total.
BAMM
Suara debaman pintu terdengar nyaring, menandakan pria ini tidak sedang baik-baik saja. Dia marah pada dirinya sendiri. Gemericik air yang terdengar dari dalam kamar mandi menandakan bahwa Ken benar-benar menuruti permintaan Sang Istri, yakni mandi. Di saat emosinya memuncak, dia masih bisa mengendalikan diri dan tidak memaksakan kehendak pada istrinya. Lain dengan setahun lalu yang tidak akan segan mengambil haknya dari Aira dengan paksa.
"Astaga!" lirih Aira, mengembuskan napas kasar melalui mulutnya. Wanita bertubuh mungil ini membenahi posisi duduknya dan segera menghabiskan segelas air putih di atas nakas.
Wanita ini menatap piyama hitam kebesaran yang Ken pakaian beberapa jam yang lalu. Bibirnya mengulas senyum, menyadari bahwa Ken begitu memperhatikan keadaannya. Pria itu tidak ingin ia kedinginan, mengabaikan tubuh bagian atasnya sendiri yang tak lagi berbalut apapun.
Aira berdiri, menghampiri laptop yang standby 24 jam. Komputer portable itu terhubung dengan setiap kamera yang ada di kediaman Anna. Setidaknya ada sepuluh kamera pengintai dan beberapa alat penyadap suara yang asisten suaminya pasangkan di apartemen mewah itu.
Tak cukup sampai di sana. Bahkan, pena milik Anna juga ikut ditukar, diganti dengan pena perekam suara yang dilengkapi micro GPS di dalamnya. Itu semua sebagai tindakan antisipasi yang Ken dan Aira pikirkan. Meski keduanya berada jauh ribuan kilometer dari wanita Rusia itu, bukan berarti mereka tidak bisa ikut campur mengamankan misi kali ini.
Jemari Aira menari-nari di atas tuts laptop, mengetik deretan huruf dan angka yang kemudian muncul di layar monitor. Wanita ini berusaha membaca titik koordinat kediaman Anna, bersiap untuk kemungkinan terburuk. Wanita ini pasti memiliki pelindung yang tidak biasa sampai bisa bertahan setelah ledakan besar itu.
Waktu berlalu beberapa menit. Aira masih berkutat dengan laptopnya saat Ken keluar dari dalam kamar mandi. Rambutnya yang basah menelurkan tetes air yang kemudian jatuh membasahi handuk mandi warna hitam yang melekat di tubuhnya.
Grep
Ken memeluk Aira dari belakang, membuat istrinya ini berjengit karena terkejut.
"Kamu mengejutkanku!" protes Aira, tak mengindahkan kepala pria ini yang kini menempel di atas bahunya.
"Diam dan lihatlah." Kesepuluh jemari mungil itu kembali menari-nari tanpa henti. Sesekali dia memasukkan kode tertentu sebelum menekan tombol enter. Otaknya bekerja dengan cepat, mengingat semua bahasa pemrograman yang tersimpan di kepala. Bukan hal yang mudah untuk mengakses bahasa komputer seperti ini. Tidak semua orang bisa melakukannya, bahkan termasuk Ken.
"Taraaa...!" seru Aira, menatap layar monitor yang menampilkan rekaman kamera CCTV.
Kening Ken berkerut. Dia tidak tahu apa yang membuat ibu dari anak-anaknya ini begitu bahagia. Itu hanya rekaman kamera CCTV biasa, tidak ada yang spesial sama sekali. Apa bagusnya?
Seolah mendengar pertanyaan pria ini dalam hati, Aira menggerakkan mouse di atas meja, memilih satu tampilan kamera dan memutar rekaman itu beberapa menit kebelakang. Tampak Kosuke yang berpakaian seperti petugas kebersihan keluar dari dalam sebuah apartemen mewah.
"Ini?!" Kedua bola mata Ken terbelalak. Dia tahu betul siapa itu. Meski tidak melihat wajahnya, Ken paham betul postur tubuh dan cara jalan Kosuke.
"Aku meretas seluruh kamera keamanan di sekitar kediaman Anna. Dan kamu harus lihat ini."
Atensi Ken terfokus pada layar yang berjarak setengah meter dari wajahnya itu. Dia memicingkan mata, takut melewatkan sesuatu. Aira memutar rekaman kamera itu beberapa menit sebelum Kosuke pergi dimana seorang wanita Rusia keluar dari kediaman Anna.
"Stop!" seru Ken.
Gambar di layar terhenti seketika, menampilkan sosok wanita paruh baya yang menjinjing tas sambil membenahi mantel yang dipakainya.
"Perbesar!" pinta Ken tanpa sadar. Dia bahkan tidak peduli dengan Aira yang menatap wajahnya dari samping dengan heran. Obsesinya untuk menemukan musuh dan membantai mereka lebih besar dibandingkan memeperhatikan ekspresi Aira.
'Dia mulai kehilangan kendali lagi,' lirih Aira dalam hati. Dia tahu seperti apa seorang Yamazaki Kenzo. Sekali dia melihat mangsanya, tidak mudah untuk melepaskannya.
Merasa tidak sabar karena Aira tidak menuruti perintahnya, Ken menggeser duduk istrinya ini. Dia mengambil alih mouse dan keyboard dalam sekejap mata. Hal itu membuat Aira tersenyum.
__ADS_1
Tanpa menunggu waktu lebih lama, Aira beranjak dari duduknya, meninggalkan Ken yang masih berkutat dengan tampilan bibi Maria dan segala gerak geriknya.
Aira mempercayakan pengawasan itu pada suaminya. Dia ingat jika Ken menyuruhnya memasakkan sesuatu.
"Masak apa ya?" Aira melangkahkan kakinya menuruni anak tangga satu per satu. Dia mengingat makanan kesukaan suaminya. Tidak ada yang spesial sebenarnya. Pria itu bisa makan apa saja asalkan tidak terlalu pedas. Dan lidahnya juga tidak masalah memakan makanan Indonesia yang seringkali terasa manis.
Aira mulai berkutat di dapur. Dia membuat chicken katsu dan sup jamur enoki. Kerang yang mereka dapat sebelumnya tidak bisa langsung diolah, harus direndam dalam air selama semalaman untuk membuat pasir dan kotoran di dalam cangkang menghilang. Jadilah dia akan memasak seadanya saja.
Dengan cekatan wanita 26 tahun ini mulai menyiapkan bahan masakan dari dalam lemari pendingin. Dia menambahkan sedikit lada dan garam saat membumbui potongan ayam yang berbentuk dadu di depannya. Meski hanya makanan sederhana, tapi Aira juga ingin memastikan rasanya.
"Nona, apa yang sedang Anda lakukan? Biarkan saya yang melanjutkannya," ucap seorang asisten rumah tangga yang bertanggungjawab di dapur. Dia bertugas memasak hidangan untuk tuan dan puannya serta seluruh pengawal dan pengasuh bayi yang Ken boyong ke tempat ini. Dia tidak sengaja melihat Aira berkutat di dapur saat ingin mengambil air minum.
"Tidak perlu, Bibi. Aku bisa melakukannya sendiri. Bibi istirahat saja," pinta Aira, mengusir dengan halus wanita lima puluhan ini.
"Tapi, Nona..."
"Tidak apa-apa." Aira bersikeras. Dia ingin membuat makanan untuk Ken dengan tangannya sendiri.
Wanita yang kini mengenakan setelan pakaian tidur itu benar-benar merasa tidak enak dengan nonanya. Sudah menjadi tugasnya untuk memenuhi kebutuhan tuan dan puan yang sudah membayarnya mahal ini. Kakek Yamazaki atau nyonya Sumari bisa murka jika tahu pekerjaannya tidak dihandle dengan baik.
"Bibi istirahat saja, ya?" Aira kembali membujuk wanita ini yang masih setia menemaninya.
"Tapi, ini kewajiban saya sebagai asisten rumah tangga."
"Ini juga kewajibanku sebagai seorang istri." Aira tersenyum, mendorong wanita ini dengan halus untuk pergi. "Bibi istirahat saja, ya."
Mau tak mau, wanita ini kembali masuk ke dalam kamarnya di ujung ruangan. Dia bahkan lupa tujuan awalnya untuk mengambil air minum dari dapur.
"Bibi, aku bisa melakukannya sendiri." Aira kembali berceloteh saat melihat wanita itu kembali mendekat. Tangannya sibuk memotong tahu putih yang akan ia tambahkan ke dalam sup jamur nantinya.
"Maaf, Nona. Saya hanya akan mengambil air minum," ucapnya lirih setelah menundukkan kepala sejenak. Hal itu membuat Aira terpana. Dia sudah salah sangka.
Detik berikutnya, Aira tertawa tanpa suara, menertawakan dirinya sendiri. Wanita lima puluh tahun itu segera pergi setelah selesai dengan hajatnya, mengisi botol berkapasitas satu liter dengan air mineral steril dari dispenser yang ada.
Hanya dalam hitungan menit, masakan Aira sudah tersaji di atas nampan. Dia siap membawa makanan itu menuju kamar saat tiba-tiba sebuah pikiran tentang Ken menyapa.
"Dia sudah menemukan mangsanya. Itu artinya, dia tidak akan tidur sampai pagi demi mengulik Anna dan wanita itu. Apa yang harus aku lakukan? Tidak baik jika dia tidak tidur sama sekali," gumam Aira.
"Ah, aku ada ide." Aira meletakkan nampan yang semula ada di tangannya ke atas meja. Dengan sigap wanita 154 cm ini melangkah menuju kotak P3K di ruang tengah. Dia mengambil sesuatu dan membawanya kembali ke dapur.
"Maaf, Sayangku. Hanya ini yang bisa mencegah sisi iblis yang selalu menyertaimu."
Aira melarutkan satu tablet ke dalam segelas air yang akan dia berikan pada Ken. Seketika wajahnya berubah cerah. Dia yakin misinya kali ini tidak akan gagal. Obat itu larut sempurna dan tidak tercium bau apapun. Ken tidak akan curiga.
* * *
Obat apa yang akan Aira berikan pada Ken? Nantikan bab berikutnya. See you,
Hanazawa Easzy
__ADS_1