Gangster Boy

Gangster Boy
Gangster Boy : Ketakutan Setengah Mati


__ADS_3

Suara gelak tawa terdengar menggema, berasal dari dua orang berbeda usia yang tengah mengamati tampilan layar laptop di hadapan mereka. Mereka terlihat begitu bahagia, tak ada beban sama sekali.


Prok prok prok


"Ann, aku tidak menyangka kamu memiliki ide jitu seperti ini." Maria menepuk tangannya tiga kali, mengapresiasi nonanya yang memiliki ide menarik. Dia bahkan tidak pernah berpikir hal ini sebelumnya.


Apa yang Anna lakukan di luar rencana yang telah mereka atur sebelumnya. Wanita ini memang terkenal kejam dan berbahaya, jika sisi iblisnya yang berbicara. Itu seperti orang lain, rekam jejaknya untuk menghabisi lawan berbanding terbalik image atau tampilan tubuhnya yang halus dan anggun.


"Jangan senang dulu, Bibi. Kita lihat, pertunjukkannya masih berlanjut. Ah, bahkan baru dimulai." Arah pandangan Anna kembali tertuju pada layar laptop. Disana terlihat rekaman kamera yang menunjukkan Yuki panik mengamankan panel listrik di hadapannya. Meski dari jarak jauh sekalipun, Anna tahu apa yang sedang pria itu lakukan, mencoba mematikan pasokan daya yang ada.


"Dia terlihat begitu panik." Maria berkomentar, mengangkat satu sudut bibirnya menunjukkan bahwa dia merasa di atas awan sekarang. "Kamu benar-benar kejam, Ann!" pujinya.


Diam-diam Maria merasa bangga. Usahanya untuk memprovokasi nonanya ini berhasil. Semua yang ia dan Anna lakukan tidak sia-sia. Mereka bisa menikmati pertunjukkan menarik di depan mata, meskipun hanya lewat media. Mereka harus tetap bersembunyi karena tempat inilah yang paling aman menurut mereka.


Anna ataupun Maria bisa saja keluar dari apartemen, menyaksikan kejadian itu dengan mata kepalanya secara langsung, tapi takutnya pergerakan mereka tertangkap mata-mata atau bawahan Ken. Bisa kacau jadinya.


"Tidak ada orang yang tidak panik saat mendapat ancaman bahwa tempat kerjanya akan diledakkan. Aku sudah membuat detail rencana sedemikian rupa, tidak boleh ada yang salah sama sekali." Anna mulai menyesap minuman di tangannya, meletakkan wadah berisi popcorn di pangkuannya. Dia benar-benar menikmati waktu yang menurutnya sangat berharga ini.


"Kamu menakut-nakutinya?" Maria penasaran, sebenarnya apa yang Anna lakukan sampai membuat Yuki ketakutan setengah mati.


"Tentu saja. Aku sengaja memamerkan lalat-lalat pengintai itu di pameran rotobik yang dilihatnya minggu lalu. Dikatakan mereka akan menyerap daya listrik dari alat-alat yang dihinggapinya. Dia pasti panik dan ketakutan jika hal itu benar-benar terjadi. BOOMM. Ledakkan itu sudah tergambar di kepalanya."


"Itu sungguhan atau...?" Maria mengerutkan keningnya. Dia tidak tahu nonanya ternyata memiliki pemikiran yang lebih licik darinya. Dia berniat memprovokasi Kaori dengan cara yang tidak terlalu ekstrim, tapi Anna justru membuat musuh mereka mati kutu. Benar-benar luar biasa.


"Bibi tenang saja, kita nikmati pertunjukkannya."


"Hey, kamu sungguh membuat jantungku berdetak lebih kencang sekarang." Maria benar-benar tidak sabar. "Apa yang akan terjadi selanjutnya? Apa lalat kecil yang menggemaskan itu benar-benar akan meledak?" Wanita lima puluh tahunan itu dibuat penasaran.

__ADS_1


Maria berkutat dengan pemikirannya sendiri. Apakah lalat-lalat palsu itu akan meledak atau tidak? Rasanya terlalu klise jika dikatakan sebuah robot seukuran biji jagung itu bisa menarik daya listrik dari alat berat di sekitarnya. Teknologi apa yang Anna gunakan? Maria sendiri tidak tahu ada hal seperti itu. Ini pertama kali ia mendengarnya.


Ribuan kilometer dari kedua wanita beda usia ini, tampak Aira yang semakin sibuk dengan tarian jemarinya di atas tuts huruf dan angka. Dia benar-benar berkejaran dengan waktu sekarang. Hanya dalam hitungan detik segala kemungkinan bisa saja terjadi. Dan yang pasti, dia tidak ingin dua wanita ini menang.


"Ken, bagaimana?" Aira melirik suaminya sekilas. Ia baru saja menghubungi Shun dan mendapat informasi bahwa tidak ada pergerakan sama sekali.


"Tidak ada. Mereka tidak muncul sama sekali. Terakhir Anna memang mengirimkan drone, tapi tidak ada kelanjutannya." Ken kembali fokus pada kamera yang mengintai Anna dan Maria. Keduanya terlihat begitu santai, duduk berdua menikmati minuman dingin dan popcorn. Benar-benar menjengkelkan.


"I got it!" seru Aira saat layar monitor di depannya menampilkan pemandangan yang lain. Tampak rekaman kamera dimana terjadi kepanikan yang luar biasa di pelabuhan. Silent yang Kosuke tanamkan di komputer portable milik Anna berhasil mereka retas. Semua aktivitas dari alat elektronik itu bisa Aira ketahui seluk beluk dan seluruh isinya. Tapi, sekarang bukan waktu yang tepat untuk melakukan hal itu.


"Perbesar resolusinya!" pinta Ken, mengalihkan pandangan dari satu monitor ke monitor yang lain. Retina matanya tertaut pada tampilan di layar yang menunjukkan adanya seorang pria berlari menjauh dari panel listrik di hadapannya.


"Apa yang terjadi?" tanya Ken dan Aira berbarengan. Mereka belum bisa menangkap gambaran cerita yang sebenarnya. Dilihat dari postur tubuh, kemungkinan besar itu adalah Yuki. Pelabuhan itu adalah tempatnya bekerja sebagai pengurus barang-barang eksport import.


Dan lagi, mereka ingat Mao mangatakan bahwa ia mendengar Maria atau Anna menyebut nama putra mendiang tuan Harada. Hal itu membuat keduanya yakin bahwa Anna memang menyasar Yuki sebagai tujuan utama penyerangannya kali ini. Benar-benar wanita licik penuh intrik.


Di detik yang sama, ponsel yang ada di tangan Ken bergetar, menunjukkan nama Harada Yuki di layar ponselnya.


"Yuki?!" gumam Ken penuh keterkejutan. Pria yang tengah mereka lihat di rekaman kamera, kini menghubunginya lewat sambungan telepon.


Dengan sigap, pria 28 tahun itu menekan ikon berwarna hijau yang terus bergerak-gerak minta disentuh.


"Yamazaki-san, Anna mengirimkan drone kecil yang akan meledak di tempat kerjaku!" Suara Yuki terdengar panik. Hela napasnya tak beraturan, berlari menjauh dari kontainer dan crane yang dihinggapi lalat-lalat buatan itu.


Sekilas pandang Ken menatap Aira. Wanita berwajah bulat itu mengangguk, mengiyakan pernyataan suara yang terdengar menggema itu. Ken sengaja mengaktifkan fungsi loudspeaker di ponselnya.


"Dia mengatakan bahwa alat kecil itu bisa meledak setelah kelebihan daya. Aku sudah mematikan seluruh daya yang ada di pelabuhan."

__ADS_1


NGIIIIINGGGG


Suara denging yang amat nyaring membuat Yuki berhenti berbicara. Kepalanya begitu pusing seketika, membuatnya tak bisa berpikir dengan jernih.


Ken dan Aira juga mendengarnya, membuat kedua orang ini kembali saling pandang dalam keterdiaman masing-masing. Mereka menggeleng di saat yang bersamaan. Sudah terlambat. Tidak ada yang bisa mereka lakukan. Denging nyaring itu terjadi akibat gangguan sinyal yang tertangkap ponsel, menandakan ada daya lebih besar yang lebih mendominasi tempat itu. Artinya....


Di tempat Yuki berada, orang-orang semakin panik. Lalat-lalat yang hinggap di atas sana mulai mengeluarkan asap putih. Bukan hanya satu, tapi kesemuanya. Jika dihitung, mungkin ada puluhan atau bahkan ratusan lalat yang berkumpul menjadi satu koloni, hinggap di sepanjang crane pengangkat alat berat itu.


"Ada apa ini?" celoteh salah satu pria yang tidak tahu apa-apa. Dia baru saja datang setelah mendengar suara keributan di kejauhan.


Para staf lain ikut mendekat setelah melihat ada asap putih yang membubung dari salah satu crane. Sedangkan operatornya juga masih ada di dalam kabin.


"TAKAHIRO-SAN, KELUAR DARI SANA SEKARANG!" Yuki berteriak, meminta operator alat berat itu untuk segera meninggalkan pos kerjanya.


Asap yang terlihat semakin pekat, seperti saat dilakukan fogging atau semacamnya. Tidak ada yang tahu kejadian sebenarnya kecuali Yuki sendiri.


"SEMUANYA MENYINGKIR! PERGI DARI TEMPAT INI SECEPATNYA!" Yuki tidak tahu bagaimana harus mengamankan orang-orang yang berada di bawah tanggung jawabnya. Sambungan telepon yang ia lakukan dengan Ken terputus seketika bahkan sebelum terdengar suara dari lawan bicaranya. Dia tidak memiliki alternatif lain, hanya bisa menggunakan instingnya sendiri untuk menyelamatkan diri.


Krakk krakkk krakkk


Terdengar suara yang berasal dari atas crane, membuat orang-orang itu menoleh seketika ke sumber suara. Mereka masih terkejut dengan situasi yang ada. Asap putih dari hewan kecil yang dikatakan sebagai lalat itu semakin pekat, juga dengan perintah Yuki yang tiba-tiba.


Bisik-bisik orang-orang itu semakin santer terdengar. Mereka tidak tahu bahaya besar tengah mengintai keselamatan nyawanya. Teriakan Yuki seolah angin lalu, justru semakin banyak staf yang mendekat, ingin tahu peristiwa apa yang terjadi di sektor 36 ini.


Apa yang akan terjadi selanjutnya? Bisakah Yuki menyelamatkan diri? Apa yang akan Ken dan Aira lakukan dari jarak jauh?


Nantikan bab berikutnya. Jangan lupa tinggalkan komentar kalian yaa. See you,

__ADS_1


Hanazawa Easzy


__ADS_2