
Ken kembali memasuki kamarnya setelah berkonsultasi dengan Kaori. Dia harus memperlakukan istrinya dengan baik kedepannya. Wanita adalah makhluk yang rapuh. Tidak peduli seberapa tangguhnya dia menghadapi bahaya di depannya, tapi dalam hati mereka sensitif, mudah tersentuh dan tentu saja mudah menangis.
Ken mengamati wajah Aira yang terlelap di atas ranjang. Wajahnya tampak lelah dan pucat. Hal itu membuat Ken khawatir. Dia segera menempelkan punggung tangannya di kening Sang Istri, tapi suhu badannya normal, tidak demam sama sekali. Mendapati fakta itu, membuat Ken mengembuskan napas lega.
Cup
Lagi-lagi Ken mengecup kening Aira cukup lama, menenangkan hatinya sendiri yang masih merasa bersalah. Dia tidak menyangka akan terjadi hal seperti ini. Istrinya tetap sama seperti wanita lain di luar sana yang tidak bisa ditebak apa isi hatinya. Mereka negitu lihai menyembunyikan perasaannya, membuat Ken sulit menebak apa yang Aira inginkan.
Ken tahu, Aira begitu menyayangi ketiga buah hati mereka. Tak jarang ia harus begadang sepanjang malam demi memenuhi keinginan baby Akari, Ayame dan Azami yang selalu menyusu bergantian.
Istrinya adalah sosok yang begitu sempurna, ia lemah lembut, mudah tersentuh dan melibatkan perasaan dalam segala tindakannya. Berbeda dengan pria yang lebih mengedepankan pertimbangan logika dalam mengambil sebuah keputusan. Namun, seringkali Aira juga mengejutkan Ken dengan ide-ide brilian yang tersimpan di otaknya.
Berbagai permasalahan pelik perusahaan seperti yang mereka bahas sebelumnya, seolah tak ada jalan keluar lagi untuk menyelesaikannya. Tapi, setelah Ken meminta pendapat Sang Istri, ternyata dia menyarankan hal-hal yang tidak Ken pikirkan sebelumnya. Mungkin perbedaan struktur otak antara pria dan wanita yang mempengaruhi pola pikir mereka.
Ken sendiri mengakui betapa hebatnya Aira. Dia memiliki banyak kemampuan tersembunyi yang tak banyak diketahui orang. Dia tidak memperhatikan hal itu sejak awal. Meski dulu Yamaken melaporkan padanya bahwa Aira bisa menembak target dengan tepat setelah tiga hari berlatih, Ken tidak tertarik sama sekali. Dulu ia berpikir bahwa itu karena kemahiran kakeknya dalam mendidik seseorang, bukan karena kemampuan yang istrinya miliki.
Dan baru beberapa bulan terakhir ini, Aira semakin menunjukkan tajinya. Ia bisa memecah kode keamanan, meretas sistem jaringan antar negara, bahkan mengerti pasar kosmetik di Asia Tenggara. Entah kenapa Ken merasa semakin bersalah. Dia belum bisa menjadi suami yang baik untuk istri sesempurna Aira. Sungguh itu sebuah tamparan yang sangat keras untuk Ken.
Selain kemampuan tak kasat mata itu, nyatanya Aira menguasai seni beladiri dengan sangat baik. Terakhir kali, wanita itu bahkan berhasil menyelamatkan nyawanya dari serangan yang dilakukan oleh Tuan Harada. Tanpa belati lemparan Aira yang bersarang di pundaknya, pastilah pemimpin geng Naga Hitam itu sudah menghabisi nyawanya.
Dan apa yang Ken lakukan setelahnya? Dia bahkan sengaja mengerjai Aira dengan pura-pura pingsan. Pantas saja ibu tiga anak ini marah. Ken yang seringkali tidak mengerti akan situasi yang terjadi, justru sengaja membuat masalah dan pada akhirnya Aira kesal dan marah.
Tak sedikit wanita bisa bekerja banting tulang seharian penuh. Mereka bahkan bisa menyeimbangkan pekerjaan dan keluarganya dengan sangat baik. Banyak perempuan yang kaya prestasi, hidupnya nyaris bahagia setiap hari dan tidak pernah terlihat meneteskan air mata.
Tapi kenyataannya, perempuan adalah sosok yang diciptakan memiliki perasaan mudah tersentuh dan rapuh. Untuk urusan hati, perempuan sangat mudah tersakiti. Jadi, penting bagi semua orang, khususnya para pria memperlakukan perasaan perempuan dengan sangat hati-hati. Mereka adalah sosok yang pandai menyimpan perasaannya. Entah itu sedang bahagia, marah, sedih, atau kecewa, perempuan bisa dengan mudah bersikap biasa saja, seolah tak terjadi apapun.
Ken tiba-tiba teringat pada perjuangan Aira saat melahirkan ketiga putra putri mereka. Wanitanya itu bersikeras ingin melahirkan secara normal meski pihak rumah sakit menyarankannya untuk melakukan operasi sesar. Dan pada akhirnya, perjuangan antara hidup dan mati itu terjadi dengan begitu dramatis. Dua bayi mereka, Akari dan Ayame lahir melalui persalinan normal. Dan Si Bungsu Azami, terpaksa diambil melalui pembedahan karena Aira kehabisan tenaga dan pingsan.
__ADS_1
Sungguh pengorbanan Aira itu tak akan bisa Ken balas dengan apapun. Bahkan meskipun seluruh harta dan aset milik keluarga Yamazaki diberikan pada wanita Indonesia ini, itu tak akan sebanding dengan perjuangan hidup dan matinya dua bulan yang lalu.
Tik
Sebulir air mata berhasil luruh dari indera penglihatan Ken, mendarat dengan mulus tepat di pipi Aira, membuat wanita itu mengerjapkan matanya. Tidurnya terusik karena keberadaan setetes benda asing yang membasahi wajahnya.
"Ken?" panggilnya lirih begitu melihat Sang Suami tengah mengusap matanya dengan kasar, sebelum bulir-bulir yang lain kembali berjatuhan.
"Kamu menangis? Ada apa?" tanya Aira dengan suara serak khas bangun tidur. Dia segera mengambil posisi duduk dan mengamati wajah suaminya, melupakan perasaan pribadinya beberapa saat lalu yang trauma akan perlakuan pria ini. Ken mengambil haknya saat Aira tidur. Bahkan pria ini begitu bersemangat, melupakan kondisi fisik Aira yang kelelahan setelah mengurus triplet. Dan bodohnya lagi, perlakuan Ken pada Aira bisa dibilang sedikit kasar.
"Maaf sudah menyakitimu. Terima kasih karena masih bertahan di sisiku." Ken memeluk istrinya dengan sangat erat. Dia tak peduli pada air matanya yang terus mengalir, membasahi pundak Aira tempatnya meletakkan dagu.
"Aku tidak akan melakukan kebodohan ini lagi. Maafkan aku," ungkap Ken setulus hati. Pelukannya semakin erat, membuat tubuh keduanya saling menempel satu sama lain, tak lagi berjarak seperti sebelumnya.
Puk puk puk
Aira membalas pelukan Ken, bahkan menepuk-nepuk punggung suaminya dengan irama yang konstan. Ia tersenyum mengetahui bahwa pria ini sudah menyadari kesalahan sebelumnya yang cukup fatal.
Mendapati mood Aira sudah membaik, Ken membawa istrinya ke dalam pangkuan setelah menempelkan punggungnya ke kepala ranjang.
"Apa yang terjadi denganmu? Kenapa tiba-tiba menangis?" tanya Ken sembari memainkan beberapa helai rambut Aira yang tergerai di bahunya.
"Itu semua karena kamu!" ketus Aira, meninju dada suaminya dengan kepalan tangannya.
"Argghh, dadaku. Seseorang panggilan dokter untukku." Ken pura-pura kesakitan. Dia memegangi dadanya sambil menundukkan badan, membuat kepalanya mendarat di paha Aira. Ia tak segan-segan mencium paha istrinya dan mencoba bergerak ke arah lain yang membuat Aira merasa geli.
"Dasar mesum!" hardik Aira mendapati suaminya berhasil mencuri-curi kesempatan dalam kesempitan. Dia sengaja melakukan ini. Sial!
__ADS_1
Aira menarik pundak Ken dan menahannya dengan lengan, berharap pria ini berhenti menggodanya dengan melakukan gerakan-gerakan seduktif yang tak terkontrol.
"Jangan macam-macam! Aku masih marah padamu!" geram Aira dengan rahang mengerat. Ia sungguh kesal pada ayah dari anak-anaknya ini. Semakin hari, tingkahnya semakin tak terkendali. Sungguh menyebalkan!
"Jadi, katakan padaku apa yang terjadi sebenarnya." Ken menarik kepala Aira ke arah dada bidangnya, berharap perlakuan hangatnya ini bisa mencairkan dinding tak kasat mata yang sebelumnya menghalangi mereka.
Aira tak langsung menjawab. Jemarinya iseng bergerak menusuk-nusuk dada suaminya yang terlihat dari luar. Ikatan tali kimono yang dipakainya agak sedikit kendur, membuat tubuh bagian atasnya terekspos.
"Apa aku membuatmu takut?" pancing Ken karena Aira masih belum juga bersuara.
"Hmm," gumam Aira sambil menganggukkan kepalanya.
"Maafkan aku," terang Ken merasa bersalah.
Hening
Tak ada yang bersuara. Pasangan suami istri itu saling diam, berusaha menenangkan hatinya masing-masing.
"Aku tiba-tiba ingat dengan peristiwa malam itu, sehari sebelum senior Yoshiro membawaku pergi dari apartemen. Aku juga ingin melupakannya, tapi itu terbayang begitu saja saat kamu melakukannya dengan kasar. Bisakah kamu jangan mengulanginya lagi?" pinta Aira serius. Ia mencengkeram kimono tidur suaminya dengan erat.
"Maafkan aku. Aku benar-benar menyesal." Ken meraih jemari Aira dan mengecup punggung tangannya sekilas.
Aira tersenyum. Kemarahan di hatinya sungguh sirna, berganti dengan rasa cinta yaang meluap-luap di dalam dada.
"Aku akan melakukannya dengan lembut dan hati-hati kedepannya."
...****************...
__ADS_1
See you
Hanazawa Easzy