
Ken dan Aira berbincang malam, mengungkapkan pemikiran masing-masing perihal kedatangan Anna dan kemungkinan rencana balas dendam darinya.
"Dia pasti akan memprovokasi Harada Yuki dengan berbagai cara." Aira mengungkapkan teorinya. Dia memiliki keyakinan akan hal ini mengingat pembawaan pria itu yang tidak terlalu dominan dan cenderung penurut.
"Benar juga." Ken menolehkan wajah ke samping, menatap wanitanya yang memasang ekspresi serius. "Aku tidak memikirkan hal itu."
Aira menggeleng, membuat Ken heran. "Itu tidak penting."
"Tidak penting?" ulang pria yang kini semakin intens menatap wajah bulat Aira.
"Umm. Hubungan Kaori dan Shun tidak buruk. Mereka pasti bisa menghadapinya." Aira menengadahkan kepala ke atas, menatap bintang gemintang yang menggantung di angkasa.
"Lantas?" Ken meraih jemari istrinya, menggenggamnya dengan erat.
"Yang harus kita khawatirkan bukan mereka, melainkan Mone." Wajah keibuan itu kini terlihat khawatir. Sejak awal memang dia tidak ingin pergi dari Jepang karena ingin melindungi adik sepupunya itu.
"Mone?" tanya Ken ragu. "Tidak ada hubungan antara Yuki, Kaori dan Mone. Jangan berpikir terlalu jauh. Kamu hanya terlalu mengkhawatirkan adikmu."
"Aku berpikir terlalu jauh?" Aira menatap Ken dengan tajam. "Bagaimana mungkin tidak ada hubungannya? Sejak awal yang menjadi sasaran mereka adalah Shun Oguri."
"Maksudmu?"
Aira melepas tautan jemari Ken di tangannya dengan paksa. Dia sebal karena pria ini sekarang terasa begitu bodoh. Dimana insting tajamnya sebagai seorang yakuza?
"Lima tahun yang lalu, yang seharusnya tertembus timah panas itu adalah Shun. Jika saja paman Kamishiraishi tidak menggunakan dirinya sebagai tameng, anak angkatnya itu pasti hanya tinggal nama sekarang." Aira kembali mengungkapkan teori kritisnya. Ken setia mendengarkan.
"Kita semua tahu, sejak awal tuan Takeshi dan Anna takut anak angkat multitalenta itu akan membahayakan masa depan mereka." Aira beranjak, mengambil sebuah tablet yang ada di atas nakas. Jemarinya bergerak cepat, membuka file berupa gambar dan tulisan yang tampak asing di mata Kenzo.
"Apa itu?" tanya pria dengan jambang tipis di dagunya.
"Aku sudah lama membuat ini. Beberapa waktu setelah kita kembali dari Rusia." Aira menyerahkan benda pipih dengan layar touchscreen itu pada Sang Suami. "Ku pikir ini tidak akan berguna. Untung saja aku belum menghapusnya."
Ken menerima pemberian Aira dan mengamati data yang ada di hadapannya.
"Setelah kita sampai di Jepang, aku meneliti rekam jejak tuan Takeshi dan Anna, termasuk bisnis dan aset atas nama mereka."
"Apa yang kamu dapatkan?"
"Anna seorang maniak uang." Aira menggeser layar tablet di tangan Ken ke samping, menampilkan halaman lain yang dia buat beberapa bulan yang lalu.
"Dia berasal dari keluarga berada. Ayahnya politisi berpengaruh sebelum runtuhnya Uni Soviet."
Pernyataan Aira membuat kening Ken berkerut cukup dalam. Dia tidak menyangka istrinya ini pernah mengulik data orang yang mereka anggap sudah meninggal.
__ADS_1
"Aku tidak tahu bagaimana detail kejadiannya, tapi Anna pernah ditahan beberapa bulan atas tuduhan pembunuhan. Tahukah kamu siapa yang dia bunuh?"
Ken menggeleng, tidak bisa membaca atau menebak jalan cerita selanjutnya dari wanita kelahiran Rusia itu.
"Dia membunuh dua adiknya agar seluruh harta warisan Sang Ayah bisa dia nikmati seorang diri."
Ken bergidik ngeri, tidak menyangka ada orang seperti itu. Terlebih lagi, dia seorang wanita. Itu cukup aneh. Ah, bahkan bukan hanya aneh. Wanita itu pasti sudah gila. Matanya tertutup obsesi akan harta dan membantai saudaranya.
"Bagaimana bisa dia lepas begitu saja setelah melakukan kejahatan yang sekejam itu?"
Aira mengangkat satu sudut bibirnya ke atas. "Dokter menyatakan bahwa dia mengalami gangguan jiwa."
"Hah?" Lagi-lagi Ken terhenyak.
Aira mengetuk-ngetuk layar di hadapannya yang kemudian menampilkan data rekam medis dari seorang pasien bernama Anna Vyatcheslavovna.
"Anna Vya.. tches... lavov... na? Itu namanya?" Perhatian Ken justru tertuju pada nama yang terasa sulit untuk diucapkan oleh mulutnya. Sudah menjadi rahasia umum jika nama-nama orang Rusia memang tidak mudah untuk dilafalkan. Terkhusus untuk orang-orang Asia seperti Ken dan Aira.
"Dia dirawat di rumah sakit khusus penderita gangguan mental dan dinyatakan sembuh beberapa bulan setelahnya."
"Dia benar-benar sembuh?"
Ctakk
Ken mengusap kepalanya yang baru saja menjadi korban wanita barbar ini. Dia juga tidak berniat membahas hal itu, hanya saja pernyataan Aira membuatnya terkejut.
"Gangguan jiwa seperti itu tidak bisa disembuhkan, hanya bisa dikendalikan." Aira kembali mengembalikan fokus utama pembicaraan mereka. "Tuan Takeshi yang bisa mengendalikan Anna."
Ken mengurut pelipisnya. Ada denyutan tak beraturan yang dia rasakan setelah mendengar penjelasan dari wanita jenius ini.
"Jangan membahas wanita itu lagi." Ken menekan tombol kunci pada tablet milik Aira, membuat layar benda pipih itu mati total. "Katakan intinya saja."
Aira menggelengkan kepalanya beberapa kali. Tabiat Ken sungguh banyak berubah. Pria ini menjadi semakin malas berpikir. Selalu ingin sampai di tujuan lebih awal. Padahal dulu, dia selalu ingin mengetahui suatu kejadian sedetail mungkin.
"Anna ingin menguasai harta peninggalan paman Kamishiraishi Shu, ayah Mone. Itu sebabnya mereka menutup semua identitas gadis itu. Untung saja kita bisa menemukannya. Jika tidak, entah apa yang akan terjadi padanya."
Ken bungkam. Dia tidak bisa berkomentar akan apa yang terjadi.
"Sampai di mana pembahasan kita?" Aira kehilangan topik pembicaraan mereka.
"Sejak awal yang menjadi sasaran mereka adalah Shun Oguri." Ken mengulang kata-kata Aira beberapa saat yang lalu.
"Ah, iya." Aira mengembuskan napas beratnya. "Tentang Anna, Mone, Shun, Kaori, dan Yuki. Mereka saling berhubungan."
__ADS_1
Aira berbalik, membuat setengah badannya bersandar pada besi berulir di belakang punggung.
"Jika perkiraanku benar, maka Anna akan mendatangi Yuki dan membuat perselisihan dengan memanfaatkan masa lalu pria itu dengan Kaori."
Ken memillih diam. Analisa wanita ini selalu masuk akal.
"Dia akan membuat Shun kehilangan muka dan hubungannya dengan Kaori memburuk. Bukankah pria itu pernah menjadi orang kepercayaan tuan Harada sebelum berseteru dengan geng Naga Hitam? Shun memilih berdiri di sisimu bersama Yoshiro."
Ken terbelalak. Dia tidak menyangka Aira tahu tentang kasus itu.
"Dari mana kamu tahu tentang hal ini?" Ken tidak bisa menahan rasa penasaran di dalam hatinya.
"Apa kamu lupa?" Aira tersenyum penuh arti. "Jangankan melacak traffic kalian, menemukan Mone di Rusia saja bisa aku lakukan."
Glek!
Benar. Ken melupakan satu hal, yakni Aira adalah ketua tim khusus rajawali yang bisa mengintai musuhnya dari kejauhan. Sungguh berbahaya.
"Mungkin saja Anna akan menggunakan nama Shun untuk mengacaukan Yuki. Dengan begitu, dia tidak perlu menghabiskan banyak tenaga untuk melawan Shun. Semoga saja Yuki tidak terlalu bodoh untuk Anna manfaatkan."
Ken mengembuskan napas beratnya.
"Apa yang harus kita lakukan? Kita tidak bisa tinggal diam begitu saja."
Plakk!
"Itu sebabnya aku marah saat kamu membawaku dengan paksa ke tempat ini!" Aira kemball memukul suaminya, kali ini lebih keras dari sebelumnya.
"Gomen ne,"
(Maafkan aku)
"Sudahlah. Nasi sudah menjadi bubur." Aira merasa tak perlu marah. Hanya akan membuang tenaganya. "Aku punya rencana."
"Apa itu?"
* * *
Whooooaaaa.... As always, emak Aira emang cerdas!! Mantap jiwa!
Penasaran sama aksi papa Ken dan Mama Aira? Jangan lupa tinggalkan jejak yaa. See you,,
Hanazawa Easzy
__ADS_1