
Ken menyusul ke taman belakang dan mendapati Mone tengah memeluk lengan ibunya sambil menangis. Ibu berusaha menyembunyikannya foto-foto Mone bersama seorang dokter di tempat kerjanya. Namun usahanya gagal, Ken tetap melihatnya.
"Siapa dia? Wajahnya tidak asing," tanya Ken, berusaha mengenali pria di dalam foto yang kini ada di tangannya.
Mone dan nyonya Sumari saling pandang, tidak tahu bagaimana caranya merebut foto itu sebelum Ken mengenalinya.
"Kakak ipar, itu.... Bisakah kamu mengembalikannya padaku?" Mone memberanikan diri mendekat ke arah Ken.
"Kenapa aku harus menuruti permintaanmu?" Ken berbalik dan pergi dari tempat itu. Berbagai pertanyaan berkecamuk memenuhi otaknya. Ken samar-samar ingat pernah bertemu dengan pria itu, tapi tidak yakin. Ada begitu banyak orang yang ia temui selama ini, mana mungkin ia bisa mengingatnya satu per satu.
Krekk
Ken masuk ke dalam kamar pribadinya. Amplop coklat yang ada di tangannya ia simpan di salah satu laci sebelum mengirim pesan pada Kosuke. Ken meminta asisten pribadinya untuk menyelidiki hubungan Mone dengan pria yang ada di dalam foto.
"Kosuke, ada tugas penting untukmu. Aku akan mengirimkan foto seseorang. Kamu selidiki latar belakangnya, mulai pendidikannya, keluarga, bahkan juga pekerjaannya," titah Ken.
"Baik, saya mengerti." Kosuke menyanggupi perintah tuannya.
Ken meletakkan ponselnya di atas nakas sebelum meninggalkan tempat istirahatnya ini. Kakinya melangkah menuju kamar anak-anak yang ada di ruangan sebelah.
"Anak-anak sudah tidur?" tanya Ken sembari melirik jam digital di atas nakas yang menunjukkan pukul sembilan malam. Ia mendekati Aira yang berdiri di samping box dimana ketiga anaknya berada.
"Umm. Mereka baru akan bangun tiga atau empat jam lagi. Ada apa?" tanya Aira saat melihat Ken seperti memikirkan banyak hal.
"Bukan apa-apa." Ken memeluk Aira dari belakang. Ia menghirup aroma lavender dari leher istrinya dan memejamkan mata detik berikutnya. Tangannya mulai bergerak, mengelus perut rata istrinya.
"Jangan di sini!" cetus Aira sembari berusaha melepaskan kuncian suaminya.
"Kalau begitu, kita pergi ke tempat lain."
Hap
Ken segera mengangkat tubuh mungil Aira dan membawanya pergi ke kamar utama di rumah ini. Tidak ada seorang pun yang boleh mengganggu kemesraan mereka kali ini.
"Turunkan aku, Ken!" pinta Aira, agak mendesak suaminya. Ia merasa tidak nyaman saat melewati ketiga pengasuh bayinya di ambang pintu.
Ken tidak mempedulikan permintaan istrinya. Dia tetap membawa Aira ala bridal style sebelum membaringkannya di atas ranjang.
"Aku merindukanmu," bisik Ken sambil melepas kancing piyama bagian atas istrinya.
Jantung Aira berdegup kencang. Setelah sekian lama tidak mendapat sentuhan suaminya, Aira merasa sedikit takut. Terlebih wajah Ken sekarang seperti menyimpan masalah. Ia takut Ken akan memperlakukannya dengan kasar.
"Ken," lirih Aira sambil menahan gerakan tangan suaminya yang mulai bergerilya ke berbagai bagian tubuhnya.
__ADS_1
Ken menatap istrinya dengan mata berkilat penuh gairah. Keinginannya untu memiliki Aira, tak bisa dicegah lagi. Dia sudah terlalu lama menahan diri dan tidak bisa membendung hasrat laki-lakinya. Dia butuh pelampiasan sekarang.
"Aku tidak akan menyakitimu. Percayalah," bisik Ken di telinga kanan Aira.
Cup
Pria itu mengecup bagian sensitif istrinya dan mulai menikmati santap malam di hadapannya yang terasa begitu spesial. Dua bulan berlalu tanpa sekalipun Ken mendapat pelepasan. Dan akhirnya malam ini dia bisa mendapatkan haknya sebagai seorang suami. Hak yang hanya bisa ia dapatkan dari istrinya yang sah secara agama maupun negara. Keduanya terikat perjanjian langit yang agung, tidak mudah terpisahkan begitu saja.
Sebenarnya Ken begitu menginginkan Aira setiap malam setelah tahu masa nifas istrinya sudah selesai. Tapi rutinitasnya di kantor justru semakin sibuk akhir-akhir ini. Selain itu, Ken juga merasa tidak tega jika harus membangunkan istrinya yang terlihat kelelahan setelah mengurus baby triplet kesayangannya.
Meskipun sudah ada Sakura dan dua orang rekannya, nyatanya Aira masih tetap sibuk menyusui mereka satu per satu. Belum lagi jika mereka menunjukkan sifat manjanya, dimana Aira tidak bisa melepaskan mereka dari dekapan. Mungkin nanti, saat mereka sedikit lebih besar maka Aira akan memiliki sedikit waktu lebih untuk dirinya sendiri.
...****************...
Tok tok tok
Aira mengerjapkan matanya saat mendengar ketukan di pintu kamarnya. Ia menatap jam yang menunjukkan angka empat, itu artinya ia tertidur beberapa jam setelah menunaikan kewajibannya sebagai seorang istri.
Aira segera membenahi piyamanya yang kusut masai dan mengikat rambut panjangnya sembarang. Ia segera menuju pintu untuk melihat siapa yang ingin menemuinya sepagi ini. Mungkin saja itu salah satu pengasuh anak-anaknya.
Krekk
Pintu berwarna putih itu terbuka, menampilkan sosok wanita 52 tahun yang tampak lelah. Wajahnya sedikit pucat dengan lingkaran hitam di sekitar matanya.
Aira menengok ke belakang dimana Ken masih terlelap dalam tidurnya. Setengah tubuh pria itu tersembunyi di balik selimut, hanya tampak bagian perut ke atas yang bertelanjang dada.
"Ada apa, Bu? Ibu terlihat kurang istirahat. Apa ibu sulit tidur semalam?" tanya Aira saat mereka sampai di ruang kerja Ken di lantai bawah. Ia menggenggam jemari ibu mertuanya yang duduk di hadapannya, lutut mereka saling menempel satu sama lain.
Suasana begitu hening, hanya terdengar detak jam yang menempel di dinding. Masih terlalu pagi untuk mulai beraktivitas.
"Kamu melihat amplop besar yang Ken bawa semalam?" tanya nyonya Sumari dengan raut wajah khawatir.
"Amplop besar?" Aira membeo.
Nyonya Sumari menceritakan detail kejadian beberapa jam yang lalu, saat Ken memergokinya dan Mone di taman belakang.
"Ibu takut Ken akan mencari masalah dengan pria di foto itu. Mone bilang dia yang akan menyelesaikan sendiri masalah itu. Ibu harap kamu akan berbicara pada Ken agar dia tidak ikut campur urusan Mone dan Yamaken. Anak itu mudah tersulut emosi jika berkaitan dengan masalah adik kembarnya."
Aira menghela napasnya. Ia menyadari sesuatu, pantas saja wajah Ken semalam terlihat tidak begitu bersahabat. Ternyata ada masalah seperti ini.
"Aku akan berbicara padanya nanti."
Nyonya Sumari masih memainkan jemarinya, menandakan bahwa ia masih belum tenang dan memiliki masalah lain. Aira mengamati ekspresi ibu mertuanya dengan seksama.
__ADS_1
"Apa ada yang lain, Bu?"
Wanita kelahiran Yokohama itu tampak menggigit bibir bawahnya. Ia merasa kesulitan memilih kata yang tepat di depan menantunya.
"Ada masalah yang lebih genting dari ini," ungkapnya khawatir. Ia ragu apakah harus mengatakan ini pada Aira atau tidak.
"Katakan saja, Bu. Mungkin aku bisa membantu. Kalaupun tidak, maka Ken pasti akan menyelesaikannya untuk Ibu." Aira meraih jemari wanita yang telah melahirkan suaminya 28 tahun yang lalu.
Nyonya Besar di keluarga Yamazaki ini berusaha menarik napas dalam-dalam sebelum mengatakan isi hatinya. "Ini tentang tawanan kita, nyonya Hanako dan tuan Harada."
Kening Aira berkerut dalam saat mendengar dua nama itu. Ia hampir melupakan masalah ini karena sibuk mengurus keseharian anak-anaknya. Dia memang tidak ingin berurusan dengan mereka lagi.
"Ada apa, Bu?" Pertanyaan itu lolos dari mulutnya. Aira sendiri merasakan kekhawatiran yang tiba-tiba datang menyapanya.
"Tuan Harada melarikan diri semalam. Dia tidak ada di ruangan bawah tanah. Entah bagaimana caranya bisa pergi dari sana," ungkap Ibu Ken dengan lidah kelu. Ia tahu seberapa ketatnya pengamanan di rumah itu.
"Bagaimana dengan nyonya Hanako?" tanya Aira penasaran.
Wanita dengan piyama hijau itu menggelengkan kepala, mengisyaratkan bahwa sesuatu yang buruk terjadi pada wanita yang seusia dengannya itu. Kejadian tak terduga yang membuatnya tercengang.
"Dia ditemukan tewas dengan luka tusuk di lehernya. Pisau yang digunakan untuk menikamnya adalah belati kecil milik geng Naga Hitam. Sepertinya mereka melenyapkan wanita itu karena menghalangi orang-orang yang berusaha membebaskan tuan Harada." Nyonya Sumari mengulangi penjelasan yang disampaikan oleh asistennya.
Aira menutup mulutnya rapat-rapat. Ia tidak bisa berspekulasi kali ini karena tidak ada petunjuk sama sekali. Semuanya masih abu-abu, belum tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Apa Ken tahu tentang hal ini?" tanya Aira lirih.
"Belum. Sepertinya dia mematikan ponselnya sejak semalam." Nyonya Sumari menunjukkan waktu terakhir Ken aktif di salah satu aplikasi berkirim pesan.
Aira kembali mengembuskan napas kasarnya. Tenggorokannnya terasa kering. Berbagai pikiran kini memenuhi kepalanya. Ia harus bisa mencari kesempatan untuk berbicara dengan suaminya.
"Untuk masalah Mone, aku yakin bisa meyakinkan Ken. Tapi tentang tuan Harada itu, aku tidak yakin dia akan diam saja." Aira merasa ragu dengan sikap Ken nanti. Suaminya itu pasti akan langsung pergi ke kediaman kakeknya begitu mendengar kabar buruk ini. Ken sudah mempercayakan dua orang itu pada kakeknya.
"Aku akan kembali. Mungkin dia sudah bangun." Aira melirik kamarnya di lantai atas, tempat suaminya berada.
"Ibu percayakan itu padamu. Terima kasih, Sayang." Nyonya Sumari tampak sedikit lega. Beban pikirannya sedikit terurai. Ya, sedikit.
...****************...
Waah ada-ada aja nih. Baru juga sweet-sweetan dikit, eh ada masalah lagi sama mereka. Bisa nggak yaa si Ai-chan bujuk suaminya biar ngga emosi? Jangan-jangan Ken bakalan cari kesempatan dalam kesempitan lagi kayak sebelumnya 😂😂
Ih, bayangin aja jadi gemes sama daddy satu ini, pengen karungin bawa pulang buat teman hidup *eh?? 😆😆
See you soon,
__ADS_1
Hanazawa Easzy