Gangster Boy

Gangster Boy
Season 3 : Wasiat Bodoh


__ADS_3

G memijat pelipisnya perlahan, ia beberapa kali menggelengkan kepalanya dalam diam. Rasanya ia belum bisa mempercayai kejadian satu jam yang lalu. Dia terbangun pagi hari di kediaman Ken, bahkan berhalusinasi dengan menganggap Aira sebagai ibunya. Itu semua efek alkohol yang ia konsumsi semalam belum hilang sepenuhnya.


"Ada apa, Tuan? Apa Anda sakit?" tanya supir pribadi G yang duduk di belakang kemudi. Ia sesekali melirik pada tuannya yang duduk di kursi belakang.


"Tidak," jawabnya singkat.


"Ada yang bisa saya bantu?" tanya pria itu khawatir pada keadaan G yang tidak biasa.


"Minta seseorang untuk membersihkan makam ibu dan bawakan seikat bunga lili putih untuknya."


"Baik."


Kendaraan roda empat itu sampai di pelataran parkir Circle K. Seorang pria segera membukakan pintu belakang tempat tuan mereka berada.


"Selamat pagi, Tuan G."


G hanya membalas sapaan pegawainya dengan mengangkat tangan, menandakan bahwa ia mendengar salam dari mereka.


"Tuan, ada nyonya di ruangan Anda. Beliau memaksa ingin bertemu." Maria menyambut kedatangan tuannya dan segera melaporkan keberadaan nyonya Kwon.


"Hmm," jawab G bergumam sembari melangkah ke dalam lift khusus yang akan membawanya ke lantai 13, tempat ruangannya berada.


"Apa jadwalku hari ini?" tanya G sembari menatap jam di pergelangan tangannya.


"Pagi ini, ada rapat akhir perencanaan produk bersama Miracle, peninjauan gedung baru dan persiapan acara pembukaan besok. Siang ini, Anda memiliki janji temu dengan para manager dari Diamond. Mereka ingin Anda datang dalam acara pemilihan brand ambassador minggu depan," lapor sekretaris utama Circle K sekaligus orang kepercayaan, Maria.


"Ada yang lain?" tanya G.


"Tidak ada. Anda bisa istirahat lebih awal malam ini."


Ting


Denting nyaring terdengar bersamaan dengan terbukanya pintu lift, memaksa G harus keluar dan berjalan melalui koridor pendek menuju ruangannya.


Ceklekk


G terhenti di depan pintu guna menarik napas sejenak, menyiapkan hatinya bertemu dengan wanita kesayangan ayahnya selagi beliau masih hidup dulu.

__ADS_1


PRANG


Sebuah pigura melayang dan membentur tembok di samping pintu masuk. Hampir saja G terkena lemparannya jika ia langsung masuk ke dalam ruangan. Tampaknya rubah wanita itu marah padanya. Jika tidak, ia tidak akan mengamuk seperti ini.


"Tuan, haruskah saya ... "


"Tidak perlu. Kalian semua pergi dari sini. Masuklah jika ibu sudah pergi," G mengusir para pekerjanya agar tidak mendengar apapun yang akan nyonya Hanako ucapkan. Satu yang pasti, perkataan yang akan keluar dari mulut wanita itu, tidak pantas didengar oleh siapapun. Jika bukan karena permintaan terakhir ayahnya, mungkin wanita ini sudah ada di alam baka.


"Tolong jaga ibumu dengan baik. Apapun yang dia lakukan, kamu harus melindunginya!"


Pesan mendiang ayahnya selalu G ingat. Itulah sebabnya ia tidak bisa tidak menuruti kemauan ibu tirinya ini. Wasiat bodoh dari ayahnya membuat G hidup segan, mati tak mau.


G masuk ke ruang kerjanya setelah memastikan semua staf sudah keluar. Ia bersiap menghadapi wanita yang berstatus sebagai ibunya dalam kartu keluarga. Perlahan, ia mengambil pigura yang tergeletak di lantai. Itu adalah foto yang selalu ia simpan di laci meja kerjanya. Fotonya berdua dengan Yu yang tengah tersenyum menghadap kamera.


PLAKK!


Sebuah tamparan keras mendarat di wajah G. Tampaknya ibu tirinya ini sedang ada di puncak emosinya. Satu-satunya cara terbaik untuk bertahan adalah diam seribu bahasa.


"Apa kamu bodoh? Aku memaksa Yuzuki masuk ke perusahaan dan menekannya agar dia bergantung padamu. Aku mendukungmu untuk mendapatkannya, kenapa kamu justru melepaskannya begitu saja? Dia bahkan mengundurkan diri dari perusahaan ini. Meskipun aku hanya ibu tirimu dan menginginkan semua aset milik ayahmu, tapi sebagai seorang wanita yang pernah mencintai pria bodoh itu, aku akan memenuhi permintaan terakhirnya."


"Dia memintaku untuk membuatmu menikah dengan gadis yang kamu suka. Tidak ku sangka kamu sebodoh ini! Dan yang paling bodoh disini adalah aku sendiri. Mencintai pria bodoh dan mengurus anaknya yang sama bodohnya. Bagaimana bisa aku tetap memperjuangkan keinginannya meski ia sudah tiada?" omelan nyonya Hanako berhasil membuat hati G tergerak. Meski wanita itu menggunakan kata-kata yang tidak nyaman untuk di dengar, bahkan mencela mendiang ayahnya, tapi dia tampak jujur kali ini.


"Apa maksudmu?" tanya G tak mengerti. Semua hal yang berkaitan dengan Yu tak pernah bisa ia abaikan begitu saja.


"Surat pengunduran diri atas nama Ebisawa Yuzuki terkirim pagi ini ke perusahaan. Kamu bahkan tidak tahu?" tanya nyonya Hanako dengan nada yang lebih rendah. Ia mengurut pelipisnya dan duduk di kursi yang tak jauh dari mereka berdua.


'Terkirim?' batin G mulai gelisah. Jika benar yang ibunya katakan, berarti Yu tidak akan datang ke sini lagi.


G mengambil ponselnya dan segera menghubungi Yu, namun hasilnya nihil.


"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan."


Hanya terdengar suara operator wanita yang menandakan bahwa panggilan G tidak tersambung.


"Dia tidak ada di manapun, bahkan apartemennya juga kosong," lirih nyonya Hanako putus asa.


G mengepalkan tangannya. Ia tidak tahu pertemuannya dengan Yu kemarin adalah yang terakhir. Hatinya terasa sakit karena sudah menolak ajakan Yu yang meminta hidup bersama dan memulainya semua dari awal.

__ADS_1


"Ibu, bukankah ini yang kamu inginkan?" tanya G seraya meletakkan beberapa lembar kertas yang ia ambil dari dalam laci meja kerjanya. Ia sudah menyiapkan dokumen ini cukup lama.


Surat Pengalihan Saham Circle K


Kening nyonya Hanako berkerut, mencoba menilai apa yang G ingin dia lakukan sekarang.


"Sebagai rasa terima kasihku karena ibu pernah mencintai ayahku dengan tulus, aku akan memberikan semua saham atas namaku pada ibu. Aku tidak ingin memperebutkannya lagi. Ibu lebih berhak atas perusahaan ini daripada aku sendiri.


"Heih? Lelucon apalagi ini? Kamu mengolokku?" nyonya Hanako meragukan G, mungkin saja ada niat buruk di balik pengalihan saham ini.


"Aku minta maaf karena tidak memperlakukan ibu dengan baik selama ini." G menundukkan badan di depan ibu tirinya.


"Baiklah jika itu maumu."


Srett srett


Nyonya Hanako menandatangani empat lembar dokumen di depannya tanpa memeriksa lebih dulu. Ia tersenyum menyadari putranya itu begitu bodoh sampai menyerahkan kepemilikan Circle K padanya.


"Seperti yang ibu inginkan, aku akan mengejar Yuzuki. Tolong restui kami, bu." G masih menundukkan badannya dengan senyum terkembang.


"Aku merestuimu. Pergilah!" jawab nyonya Hanako sembari mengelus kepala putranya.


Sebuah senyum miring tergambar di wajah G. Sisi iblis yang sedari tadi tersembunyi dengan baik, kini muncul dan membuat nyonya Hanako terkejut.


"Apa yang kamu rencanakan?" tanya wanita lima puluh tahunan itu sembari berjalan mundur. Ia ketakutan melihat ekspresi wajah anak muda di hadapannya. Itu sungguh menyeramkan.


"Sebaiknya Anda memeriksa dokumen apa yang Anda tanda tangani," cetus G dengan bangga. Ia tak lagi memanggil wanita itu dengan sebutan ibu. Hal itu membuat nyonya Hanako berpikir keras. G tampak lain dari biasanya.


"Apa? Apa maksudmu?" nyonya Hanako panik dan segera mengambil dokumen di meja yang tertera tanda tangannya.


"Ini?!" matanya membulat menyadari siasat yang dimainkan G.


"INI TIDAK MUNGKIN!!" teriaknya frustasi.


...****************...


Apa yaa isi suratnya? Ugh, penasaran 💃

__ADS_1


See you next day 🤗


Hanazawa Easzy


__ADS_2