Gangster Boy

Gangster Boy
Gangster Boy : Mone Terabaikan


__ADS_3

Yamaken tiba-tiba bertindak brutal, dia mencium Mone dengan liar, bahkan meninggalkan beberapa tanda cinta di tubuhnya yang tertutup. Hal itu tentu saja membuat gadis 20 tahun itu syok, terkejut, terhenyak, dan kehilangan kata-kata. Gejolak di dalam hatinya tak bisa dia bendung lagi. Ingin merasakan sentuhan liar itu lagi.


Namun, tanpa aba-aba, Yamaken membawanya menuju ruang pribadi kakek Yamazaki di bagian belakang rumah ini.


Tok tok tok


Yamaken mengetuk pintu di hadapannya dengan yakin. Tekadnya sudah bulat, ingin berbicara langsung pada pria lanjut usia itu. Tidak ada yang perlu ditutup-tutupi lagi.


"Kakek, ini aku."


Mone linglung. Perasaan aneh di dalam hatinya tak kunjung reda, mengalahkan logika yang selalu ia andalkan selama ini.


"Masuk." Terdengar suara kakek dari dalam ruangan.


Bukannya masuk, Yamaken justru membalikkan badannya dan kembali mencium Mone. Dia melakukannya dengan singkat namun penuh perasaan, membuat hati gadis ini semakin lemah.


Greg


Yamaken membuka pintu geser itu ke samping, membuat ruangan bagian dalam terlihat oleh dua sejoli ini.


Keringat dingin mulai membasahi pelipis Mone. Dia mempererat tautan jemarinya dengan Yamaken. Perasaan aneh itu muncul lagi. Rasa ingin disentuh lagi dan lagi, membuatnya hilang fokus total. Sama sekali tak bisa berpikir lagi.


Dan pandangan tajam kakek pada mereka, membuat gadis ini gentar. Dia takut kakek tahu bahwa Yamaken baru saja mencumbunya di gudang senjata. Padahal jelas-jelas pria tua ini masih meragukan hubungannya dengan Yamaken.


"Masuk!" titah kakek menggema, membuat Mone mendekat. Mau tak mau dia harus mengangkat kepala, membuat tatap matanya bertumbuk dengan pandangan tajam ksatria pedang ini.


"Duduklah." Kakek masih sibuk membuat kaligrafi Jepang, yakni seni menulis huruf artistik yang banyak digemari orang-orang lanjut usia untuk mengisi kekosongan waktu.


"Ada apa?" tanya kakek to the point begitu muda mudi ini duduk di atas zabuton masing-masing.


*zabuton adalah sebuah bantal Jepang untuk duduk. Zabuton umumnya dipakai saat duduk di lantai dan juga dipakai saat duduk di kursi.


Yamaken mengambil napas dalam-dalam kemudian melirik calon istrinya yang terlihat pucat. Bulir-bulir keringat dingin membasahi pelipisnya, menandakan bahwa dia canggung dan tidak nyaman ada di ruangan ini.


"Apa yang ingin kalian bicarakan?" Kakek ikut menatap gadis yatim piatu ini.


"Malam ini, kami tidak akan melanjutkan latihan berkuda seperti yang kakek jadwalkan." Yamaken menatap lurus ke depan, memaku mata elang milik kakeknya. "Mone sakit."


'Eh?' Mone terhenyak, dalam hati heran dengan perkataan pria yang masih menggenggam tangannya. Dia sehat dan baik-baik saja, tidak sakit seperti yang pria ini katakan.

__ADS_1


Kakek kembali menatap wajah pucat Mone, mengamatinya dengan tajam. Bulir keringat yang tampak di dahinya, membuat pria tua ini tak ingin menyangkal pernyataan cucunya.


"Kami akan tetap menikah. Dengan atau tanpa izin dari kakek. Misi itu, kami tidak peduli."


Deg!


Jantung Mone berhenti berdetak sepersekian detik. Pria ini menabuh genderang perang, menyulut kemarahan kakek Yamazaki dengan sengaja.


Kakek menghentikan gerakan tangannya, menatap kaligrafi di depannya yang hampir selesai. Pernyataan Yamaken membuatnya tidak nyaman.


"Lakukan saja apa yang kalian inginkan."


Meja berkaki pendek itu menjadi penghalang diantara mereka bertiga, menyembunyikan tautan tangan Mone dan Yamaken yang semakin mengerat. Juga tangan kakek yang mengepal di bawah meja.


Chabudai atau meja berkaki pendek yang dipakai dalam rumah-rumah Jepang tradisional itu memiliki tinggi 15 hingga 30 cm, cukup untuk menutupi emosi pihak yang berseteru dalam diam ini.


"Kobayashi-san, antarkan mereka untuk istirahat." Titah kakek tanpa menatap dua tamunya. Kakek bersiap melanjutkan kaligrafi yang dibuatnya. Kemarahan dalam hatinya dia pendam, tidak berniat mengungkapkannya.


"Mari, Tuan, Nona." Tuan Kobayashi mempersilakan dua orang ini untuk pergi. Kakek sudah mengusir mereka, tidak baik jika ada di tempat ini lebih lama lagi.


"Tidak, cukup antar dia saja. Ada yang ingin aku bicarakan dengan kakek." Yamaken melepas tautan tangannya pada jemari calon istrinya.


"Apa yang..."


Yamaken mengangkat tangannya. Dia tidak ingin mendengar pertanyaan apapun dari kekasih hatinya ini.


"Kembalilah bersama tuan Kobayashi!" titah Yamaken tanpa menatap wajah bulat gadis itu. Pandangannya tertuju pada satu titik tanpa berkedip, ujung kuas kakek yang terus bergerak di atas kanvas.


Glek!


Ini pertama kalinya Mone melihat sosok lain dari Yamaken yang membuatnya semakin penasaran dan meragu. Siapa sebenarnya pria ini? Mungkinkah dia masih sama seperti pria lemah yang mengizinkannya berkencan dengan orang lain saat itu? Atau inilah sifatnya yang sesungguhnya?


"Nona, silakan ikut saya." Tuan Kobayashi mendekat, mengisyaratkan dengan tangannya agar Mone beranjak dari duduknya.


Mone masih menatap wajah Yamaken dari sisi kirinya, berharap pria ini menoleh barang sejenak. Dia ingin melihat pusat matanya, mencari tahu sosok seperti apa yang kini berjuang mati-matian untuknya.


Jauh panggang dari api, harapan Mone tak terwujud. Kehadirannya di sini bagaikan angin lalu. Yamaken tak meliriknya sama sekali. Mone terabaikan.


"Nona Kamishiraishi, silakan ikut saya." Tuan Kobayashi mengulangi kata-katanya. "Silakan."

__ADS_1


Mone bimbang, menatap kepala pelayan dan Yamaken bergantian. Dia tidak ingin meninggalkan kekasihnya seorang diri, berhadapan dengan monster bertangan dingin seperti Yamazaki Subaru ini. Kakek yang mulai terlihat renta ini adalah orang paling berbahaya di seantero Jepang. Dia tidak pandang bulu saat ada yang bertentangan dengannya, bahkan jika itu cucunya sendiri. Mone tidak ingin terjadi sesuatu dengan calon suaminya.


"Pergilah!" perintah Yamaken detik berikutnya.


"Mari, Nona." Seorang pelayan wanita membantu Mone untuk berdiri, sedikit memaksanya agar mau beranjak dari tempat duduk. Tuan Kobayashi tahu diri, tidak mungkin menyentuh calon cucu menantu keluarga tempatnya mengabdi. Dia meminta salah satu pelayan membantunya membawa Mone pergi.


Raut kekhawatiran menghiasi wajah pucat milik gadis ini. Dia tidak ingin pergi meninggalkan Yamaken seorang diri dalam menghadapi kakek.


Yamaken tak menoleh sedikit pun, mengeraskan hati agar tidak iba dan membatalkan tekadnya membiarkan Mone pergi. Ada hal penting yang harus dia bicarakan dengan kakek di belakang gadis itu.


Greg


Suara pintu yang kembali tertutup, menandakan bahwa di ruangan ini hanya ada Yamaken dan kakek.


"Katakan!" Suara dingin nan berat itu segera berucap.


"Siapa yang mengusik kita?" Yamaken mengangkat wajahnya, menatap pria yang menikahi neneknya enam puluh tahun yang lalu.


"Untuk apa kamu menanyakannya? Mau melawannya seorang diri, heh?"


Ctakk


Yamaken meletakkan lencana miliknya ke atas meja. Itu adalah tanda yang diberikan saat seseorang berhasil melewati ujian bela diri dari akademi. Artinya, dia memiliki kemampuan dasar untuk bertarung dan menggunakan beberapa senjata seperti senapan, panah, granat, nunchaku, dan termasuk di dalamnya adalah menggunakan shuriken atau bintang ninja.


Kakek mengangkat sudut bibirnya. Dia tidak menyangka cucu yang selama ini dia abaikan bisa ada di titik ini, memamerkan lencana akademi yang didapatkan dengan susah payah.


"Siapa yang kita hadapi kali ini?" ulang Yamaken kemudian. Dia ingin tahu duduk permasalah yang sesungguhnya, sampai membuat syarat agar Mone mengajarinya bela diri seperti kemampuan yang dimilikinya.


"Kalian akan tahu nanti." Kakek menggulung kaligrafi di depannya. Tinta yang tergores di sana telah mengering sempurna.


"Selamat atas kelulusanmu. Meski terlambat 13 tahun dari kakakmu, Kenzo, kamu tetap membuatku senang." Kakek beranjak bangun setelah mengikat gulungan kaligrafi hasil karyanya. Dengan langkah pasti, pria lanjut usia itu menyimpan benda itu dalam lemari, bergabung dengan yang lainnya.


"Jika kamu jeli, kamu akan melihat siapa yang tengah menargetkan kekasih kecilmu itu. Berhati-hatilah!" pesan kakek membuat kening Yamaken berkerut. Dia harus mencari cara lain untuk mendapatkan jawaban. Percuma menuntut penjelasan dari pria tua ini. Beliau tidak akan mengungkapkannya dengan cuma-cuma.


...****************...


Apa yang akan terjadi selanjutnya? See you next episode. Bai-bai....


Hanazawa Easzy

__ADS_1


__ADS_2