
Yamaken dan Mone baru saja keluar dari dalam apartemen dengan topi dan masker yang menutupi wajah masing-masing. Mereka tidak ingin orang-orang mengenali mereka, khususnya Yamaken yang seorang publik figur. Akan kacau jadinya jika ada fans atau semacamnya yang mengganggu mereka.
"Padahal tidak ada yang mengenaliku. Kenapa aku harus menggunakan ini juga, heh?" Mone tampak sedikit kesal. Dia tidak nyaman saluran pernapasannya terhalang kain tipis warna hitam ini.
Yamaken mengangkat satu sudut bibirnya, tapi tentu saja tak terlihat oleh siapapun.
"Aku takut ada pria lain yang jatuh cinta padamu." Dengan penuh percaya diri Yamaken menjawabnya. Dia bahkan tak segan mencubit hidung minimalis Mone yang ada di balik masker. Menyenangkan rasanya bisa menggoda gadis mungil ini.
"Yaakk! Singkirkan tanganmu dariku!" sungut Mone, menyingkirkan tangan Yamaken dengan segera.
Drrtt drrtt
Saat keduanya asik bercanda, ponsel pintar milik gadis 20 tahun ini bergetar. Nama Minami tercetak di sana membuat Mone segera mengisyaratkan agar Yamaken diam selama ia menerima panggilan ini.
"Moshi-moshi, Minami-chan," celetuk Mone, menahan gondok di dalam hatinya karena Yamaken kembali mencubit. Kali ini bukan hidung, tapi pipinya yang tembam. Hal itu membuat kedua netranya membola.
Plakk
Tangannya tak tinggal diam, memukul lengan calon suaminya dengan keras. Gadis bar-bar satu ini tidak akan tinggal diam jika seseorang mempermainkannya seperti ini.
"Kamishiraishi-san, arah jam sepuluh. Kami datang." Suara Minami terdengar, mengonfirmasi lokasi setelah mendapat titik GPS yang diaktifkan oleh Mone.
"Baik. Kami sudah ada di depan sekarang." Mone menajamkan penglihatan, melihat ke arah kedatangan sebuah mobil hitam yang melaju ke arah mereka.
Hanya dalam hitungan menit, mobil dengan berbagai peralatan canggih itu terhenti tepat di depan Mone dan Yamaken. Pintu belakangnya otomatis terbuka saat Kosuke menekan salah satu tombol di sebelah monitor kecil yang menampilkan info lalu lintas di sekitar mereka.
"Yamazaki-san, Kamishiraishi-san, silakan masuk," tukas pria yang barusan menundukkan kepalanya sejenak. Dia memepersilakan dua pasangan muda mudi ini untuk segera bergabung dengan istrinya di belakang sana.
"Umm. Douzo arigatou gozaimasu." Mone berucap setelah membalas sapaan pria itu.
*terima kasih banyak
"Selamat datang, Nona," sapa Minami, menolehkan kepala sambil tersenyum pada gadis 152 cm yang menginjakkan kaki di dalam mobil ini dua detik yang lalu.
"Apa kabar ibu hamil?" Mone segera mendekat dan mengelus perut buncit Minami.
"Baik. Sangat baik. Seperti yang Anda lihat sekarang ini." Arah pandang Minami kini tertuju pada pria dengan pakaian serba hitam yang berdiri satu langkah di belakang gadis ini. Wajahnya tertutup topi dan masker, tapi dari postur tubuh dan parfum yang dipakainya, Minami bisa memperkirakan siapa pria ini.
"Selamat datang, Tuan Muda," salam Minami, mengangguk sejenak pada rekan kriminal yang Mone bawa. Ramah tamah dengan Mone harus ia akhiri segera, tidak banyak waktu tersisa. "Selamat bergabung."
Yamaken terkekeh. "Kamu mengenaliku, MInami-chan?" Yamaken sigap melepas masker yang menutupi wajahnya.
__ADS_1
Minami hanya mengangguk satu kali. Dia tidak mungkin tidak mengenali tuannya. Bahkan sekilas pandang pria ini tampak seperti Yamazaki Kenzo di mata Minami. Tapi kemudian dia ingat bahwa yakuza satu itu sekarang ada di Indonesia, jadi tidak mungkin ada bersamanya sekarang.
"Aku minta maaf atas nama kakak, kami harus mengganggu waktu istirahatmu, Minami-chan." Kali ini Yamaken yang menundukkan kepala.
Dengan segera Minami menggeleng. "Tidak sama sekali, Tuan. Saya senang bisa sedikit membantu."
Dengan cekatan Mone mengambil rompi anti peluru yang tergantung di salah satu sisi mobil box ini.
"Apa ini untuk kami?" Mone menanyakan hal itu, padahal tidak ada orang lain kecuali mereka bertiga di kotak persegi panjang yang mulai tertutup pintunya ini.
"Benar. Hanya untuk berjaga-jaga, mencegah kemungkinan buruk yang ada."
"Sudah siap, Tuan, Nona?" Suara Kosuke terdengar, membuat Mone dan Yamaken segera duduk di kursi masing-masing, menghadap layar monitor dan panel kontrol yang ada.
"Kami siap. Ayo berangkat." Suara cempreng Mone terdengar, sampai di telinga Kosuke yang bersiap menekan pedal gas di bawah kakinya.
Perlahan tapi pasti, mobil berbentuk kotak seperti ekspedisi pengantar barang itu segera melaju. Untuk orang awam, mereka pasti mengira kalau kendaraan ini sama seperti mobil antar jemput barang pada umumnya, mereka tidak tahu ada berbagai peralatan canggih yang tertanam di setiap sisi mobil ini.
"Minami-chan, kamu sudah menyalakan VPN-nya?" tanya gadis yang kini mulai sibuk, menggerakkan jemari di atas tuts keyboard yang ada. Satu detik sebelumnya, dia masih sibuk mengenakan sabuk pengaman, tapi sekarang sibuk dengan piranti elektronik favoritnya.
"Sudah, Nona."
"VPN?" Yamaken membeo dengan kening berkerut. Dia pernah mendengarnya, tapi tidak terlalu memahami istilah asing ini.
"Bagi para hacker, VPN sangat berguna untuk menyembunyikan identitas kami. Itu cukup untuk mengamankan lalu lintas jaringan yang ada, termasuk mengamankan data saat terhubung dengan Wi-Fi publik atau semacamnya."
Yamaken mengangguk patuh. Dia tidak memahami hal itu, tapi setidaknya sudah memiliki gambaran apa yang dimaksud VPN itu.
"Ah, Yamazaki-san, tolong ambilkan headphone itu." Mone menunjuk alat bantu dengar yang ada di atas kepala calon suaminya. Minami juga mengenakan alat itu, meski masih sebatas tergantung di lehernya saja.
"Ini." Yamaken bukan hanya memberikan headphone itu pada Mone, tapi memakaikannya sekaligus. Dia bahkan menyingkirkan helai rambut yang menutupi wajah gadis pujaannya. Hal itu membuat Minami tersenyum, ia melirik sekilas sebelum kembali fokus pada program di depannya.
Yamaken menundukkan badan di samping Mone, tangannya berpegangan pada tiang besi yang terpancang di sana.
"Aku tidak tahu ada dunia seperti ini di otak kalian. Benar-benar kompleks ya," puji Yamaken, mengamati kode tertentu yang tengah Mone ketikkan ke atas layar.
"Otakmu saja yang bebal. Hanya berisi naskah skenario," cibir wanita yang kini kembali sibuk, menekan salah satu tombol warna oranye di sisi kanan tubuhnya. Setidaknya ada puluhan tombol komando yang ada di depannya, tapi gadis ini tidak terlihat bingung sama sekali.
"Kamu salah," elak pria dengan lesung pipit di kedua sisi wajahnya ini. "Otakku sudah penuh olehmu." Lagi-lagi Yamaken mencubit hidung Mone, membuat gadis itu segera menggeleng-gelengkan kepalanya ke samping.
Plakk
__ADS_1
"Sudah aku katakan untuk menyingkirkan tanganmu!" ketus Mone kesal, menampik tangan calon suaminya untuk menjauh. Dia sedang konsentrasi meretas jaringan di sekitar mereka, tapi Yamaken justru sengaja mengganggunya.
"Jika masih menggangguku, aku akan pergi pada kakek dan membatalkan pertunangan kita!" ancam Mone dengan mata berkilat tajam.
"Ahahaha. Baiklah. Baiklah. Aku menyerah. Aku tidak berani mengusik kucing kecil yang menunjukkan taringnya." Yamaken tidak mau gadisnya murka. Ia segera menjauh, kembali ke kursinya sendiri, menjadikan Minami sebagai penghalang antara ia dan gadisnya.
Minami hanya bisa tersenyum, merasa terhibur dengan interaksi dua orang di sekitarnya. Setidaknya itu bisa mengikis kekhawatiran yang tengah ia rasakan sebelumnya. Bayi di dalam perutnya begitu aktif bergerak, seolah ingin ikut beraksi. Sesekali ia harus memegangi perutnya saat tendangan bayi itu terasa begitu keras, menimbulkan rasa nyeri sampai membuatnya mengernyitkan dahi.
"Bagaimana situasinya sekarang?" Suara Aira terdengar dari video call di depan monitor Minami. Wanita ini sedari tadi sibuk menghubungkan Aira dan Shun melalui panggilan video untuk berkomunikasi satu sama lain.
"Whooaa. Kakakk!" seru Mone, berteriak girang melihat wajah bulat kakak sepupunya. "Aku merindukanmu!" teriaknya tanpa berpikir lebih panjang. Ia mengalihkan perhatiannya sejenak, mengabaikan deretan kode huruf dan simbol yang membuatnya sibuk sebelumnya.
"Ah, Mone-chan." Raut wajah tegang Aira sedikit terurai. "Kamu sudah berhasil mengaktifkan kontra drone-nya?"
Mone mengangguk mantap. "Sudah. Semua berjalan lancar di sini."
Aira mengangguk. "Syukurlah. Aku masih memantau Yuki. Sepertinya kita akan sedikit terlambat. Tidak perlu panik dan lakukan tugas kalian dengan baik. Aku mengawasi dari kejauhan dan akan memberikan komando pada kalian secepatnya."
"Baik!" jawab Mone dan Minami bersamaan.
"Adik ipar, apa yang kamu lakukan di sana?" tanya Aira saat melihat Yamaken sibuk dengan rubik di tangannya. Pria ini tampak begitu santai, tak terganggu sedikit pun dengan percakapan kompleks antara ia, Minami, dan juga Mone.
"Ah, holla kakak ipar. Ini ya?" Yamaken mengangkat benda kotak warna warni di tangannya ke depan kamera. "Ini keahlianku. Bermain. Mau coba?"
Aira menggelengkan kepalanya. Dia tahu kenapa Mone seringkali mengeluh padanya. Sikap Yamaken seringkali berbanding terbalik dengan kakaknya yang selalu saja waspada. Dia justru tampak tenang seperti bukan dalam misi menantang maut. Ada sedikit keraguan di hati seorang Khumaira Latif, bisakah pria ini menjalankan misinya?
"Sebaiknya rubikmu itu sudah selesai sebelum kalian sampai di pelabuhan." Aira mengingatkan agar pria ini bisa fokus dengan tugasnya kali ini.
"Tenang saja. Aku akan menyelesaikannya dalam beberapa detik saja." Jemari Yamaken bergerak lincah, memainkan rubik di dalam genggaman tangannya.
"Taraaaa...." Yamaken memamerkan rubik di tangannya yang sudah tersusun rapi sesuai warnanya masing-masing.
"Baguslah. Aku mengandalkanmu." Aira menunjukkan jempolnya, salut karena pria ini bisa menyelesaikan permainan yang dirasa rumit bagi sebagian orang. Yamaken bisa menata deretan warna itu hanya dalam hitungan detik. Itu artinya otaknya cemerlang, sama seperti suaminya.
"Aira-chan, apa yang terjadi dengan Harada Yuki?" Kali ini suara Shun yang terdengar. Dia tidak tahu keadaan rival cintanya saat ini.
Aira mengambil napas dalam-dalam, menata hatinya untuk mengungkapkan fakta yang ada.
* * *
Apa yang akan terjadi? Bisakah mereka menyelesaikan misi ini?
__ADS_1
Nantikan bab berikutnya. Jaa mata ne,
Hanazawa Easzy