
Yamaken, Mone, Kosuke, dan Minami berhasil mengatasi lalat peledak yang Anna kirimkan. Koloni besar yang datang menghadang berhasil Yamaken pecahkan dan akhirnya mereka meledak setelah Mone melemparkan tiga buah granat sekaligus. Benar-benar luar biasa.
Sebagai imbalan rasa terima kasihnya, Yamaken mencium pipi Mone setelah ledakan itu terjadi. Pria itu bahkan bersiap memberikan hadiah lebih.
'Apa dia akan menciumku?' batin Mone sambil memejamkan matanya. Dari arah pandangan Yamaken yang melihat bibirnya, tentu pria itu ingin menciumnya, 'kan?
'Dia sudah memejamkan matanya, itu artinya dia mengizinkanku melakukannya,' cetus Yamaken di dalam hati. Dia semakin berani mendekatkan wajahnya yang kini hanya berjarak beberapa centimeter saja. Bahkan embusan napas masing-masing juga terasa hangat di wajah.
Waktu seolah berjalan begitu lambat. Jarak tujuh centimeter yang memisahkan kedua insan ini terasa begitu jauh. Yamaken tidak sabar untuk segera mengecup bibir ranum gadisnya.
CIIIITTTT
DUKK
Kening Mone menghantam hidung Yamaken, membuat pria itu memundurkan kepala seketika itu juga. Rasa nyeri luar biasa terasa, membuat pria tampan itu memegangi organ penciumannya.
"Itai!" pekiknya, kesakitan tiba-tiba mendapat hantaman kepala wanitanya.
Mobil warna hitam yang dikendarai Kosuke tiba-tiba berhenti, membuat Yamaken dan Mone terkejut seketika. Gadis itu mencengkeram kemeja Yamaken erat-erat dan menatap calon suaminya dengan pandangan khawatir. Dia tidak memiliki keseimbangan yang bagus, membuat tubuhnya oleng.
Brukk
Sepasang muda mudi ini jatuh terjerembap ke lantai. Tubuh Mone berada di atas dan Yamaken di bawahnya. Namun jangan bayangkan adegan manis yang sering terjadi di drama romansa layar kaca. Kenyataannya, rasa sakit luar biasa yang harus Yamaken rasakan.
Kepalanya terantuk koper besi yang berisi senjata bazoka, kakinya terinjak oleh Mone yang tidak memiliki pijakan, dan tangannya terpelintir di belakang badan. Sepertinya ini nasib paling malang yang ia rasakan selama hidupnya 28 tahun ke belakang.
"Ah, gomen ne." Mone segera menarik diri, tidak membiarkan tubuh 48 kilogramnya terus membebani pria ini. Dia tidak sengaja ingin melakukan hal itu pada calon ayah dari anak-anaknya kelak.
*maaf
Minami segera mendekat, membantu Mone berdiri.
"Anda baik-baik saja, Nona?" Wanita hamil enam bulan ini mengamati Mone dari ujung kaki hingga ke ujung kepala. Dia takut gadis ini terluka atau mengalami cidera.
Dengan cepat Mone menggeleng. "Aku baik-baik saja."
"Ah, aku tidak sengaja. Maafkan aku." Mone segera berjongkok, membantu Yamaken duduk. Dia meraih lengan calon suaminya dengan pandangan khawatir. "Maaf," ulangnya lagi untuk ke sekian kali.
Yamaken tak berkomentar. Dia marah, kesal, malu, dan tentu saja kecewa karena gagal mencium bibir wanitanya. Wajahnya merah padam, menahan emosi yang mulai memuncak. Dadanya bergemuruh, ingin memaki tapi tidak tahu harus menyalahkan siapa.
Di depan sana, terdengar keributan yang membuat ketiga orang ini saling pandang. Mereka bertanya-tanya dalam hati, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa tiba-tiba mobil ini berhenti?
Detik berikutnya Yamaken bangkit berdiri, berjalan cepat ke bagian depan mobil. Dia harus melihat penyebab kendaraan ini terhenti tanpa aba-aba.
Baru saja Yamaken melangkahkan kaki hendak keluar, Mone menahan lengannya.
"Jangan kesana," cegahnya sambil menggelengkan kepala.
"Humm?" Pria 28 tahun ini tidak tahu kenapa Mone tidak mengizinkannya keluar. Dia ingin membantu Kosuke menangani permasalahan ini. Atau setidaknya ia ingin tahu apa yang terjadi.
"Kosuke bisa mengatasinya seorang diri. Jika kamu keluar, justru akan memicu kecurigaaan mereka. Lihat wajahmu. Apa kamu ingin keluar dengan keadaan seperti itu?"
Seketika Yamaken menoleh ke samping, mengamati tampilan cermin yang menampilkan pantulan wajahnya. Darah kering mengalir di pelipisnya, turun hingga ke pipi. Peluh yang membanjiri wajahnya membuat debu dan kotoran yang ada menempel di sana. Dia benar-benar terlihat kumal sekarang.
"Masih yakin ingin keluar dengan wajah jelekmu itu?" sarkas Mone, kembali ke bagian belakang mobil dan duduk di kursinya sendiri.
Minami mengulas senyum. Dia sedikit terhibur dengan interaksi dua muda mudi ini. Rasanya hatinya ikut menghangat melihat perdebatan mereka. Mone yang seringkali berkata jujur, ah bahkan terlalu jujur membuatnya tahu bahwa gadis ini sungguh unik. Dia berbeda dengan gadis lainnya di luar sana.
'Pantas saja Tuan Muda menyukainya,' gumamnya dalam hati. Ia kembali duduk di kursinya dan memasang headphone yang sempat ia lepaskan saat menolong Mone tadi.
Yamaken hanya bisa meneguk salivanya dengan paksa. Dua orang wanita yang bersamanya kini sibuk dengan urusan masing-masing, mengabaikannya. Mau tak mau Yamaken tidak bisa melakukan apapun.
Pria ini duduk di atas kursi yang ada di sebelah kemudi dan mulai menyeka peluhnya dengan tangan. Satu tangannya terulur meraih saku dan mengambil earpiece yang ia simpan di sana.
"Ken," panggil Yamaken pada saudara kembarnya yang kini ada di Indonesia.
"APA KAMU GILA?!!" Teriakan Yamazaki Kenzo membuat Yamaken memejamkan matanya. Dengingan segera terdengar di telinganya. Dia tidak tahu akan mendapat teriakan dari pria bar-bar itu.
"Kenapa melepas earpiece-mu, huh?" Suara Ken sedikit merendah tapi masih terdengar jelas kemarahannya. Dia begitu panik saat mengetahui adiknya tidak lagi memakai alat bantu dengar seperti perintahnya.
"Kalau ingin bunuh diri, jangan ajak orang-orangku," sarkas pria yang kini menyugar rambutnya dengan tangan. Dia tidak tahu jalan pikiran adiknya satu ini. Sungguh diluar dugaan.
Rasanya ayah tiga anak ini hampir terkena serangan jantung saat mengetahui perintah Yamaken pada Kosuke. Tanpa memikirkan resikonya, dia meminta asistennya itu untuk menambah kecepatan mobil yang dikendarainya. Benar-benar ide yang gila.
__ADS_1
Yamaken tak merespon. Dia membiarkan kakaknya melampiaskan kekesalan yang sedari tadi mengakar di dalam hati dan pikirannya. Sebenarnya, Yamaken juga tidak merencanakan hal itu. Ini pertempuran pertamanya, dia sama sekali tidak berpengalaman. Tapi, insting bertarungnya itu muncul seketika saat melihat situasi bahaya yang mereka hadapi.
Terdengar helaan napas seorang Yamazaki Kenzo. Dia mati-matian mengendalikan diri untuk tidak menyuarakan sumpah serapah yang ada di dalam otaknya.
Kedepannya masih ada misi lain yang harus saudaranya ini lakukan. Selama Anna belum teratasi, dia belum bisa tenang.
"Nyawamu hanya ada satu. Pikirkan baik-baik jika ingin bertingkah seperti tadi!" Dengan penuh tekanan di setiap kata yang Ken ucapakan, pria ini memperingatkan adiknya.
Bukannya marah, Yamaken justru tersenyum. Dia memang sudah memikirkan hal ini sebelumnya. Dia tahu Ken pasti akan marah padanya karena melepas alat bantu dengar yang ada di telinganya. Tapi, dia juga ingin bertindak seorang diri, tidak hanya mengandalkan arahan kakaknya terus menerus.
"Bagaimana situasinya sekarang?" tanya Yamaken, mengamati kode huruf dan angka yang masih menjadi kesibukan utama istrinya.
"Tidak baik, juga tidak buruk." Yamaken mengambil rubik miliknya yang ada di lantai. Benda itu sempat ia letakkan di dasboard mobil sebelum mengambil alih komando pada Kosuke beberapa saat lalu.
Kening Ken berkerut. Dia tidak tahu maksud perkataan adiknya. Tidak baik, juga tidak buruk. Apa artinya itu?
"Katakan dengan jelas!" titahnya, dalam dan tajam.
Yamaken tak langsung menjawab. dia justru mengambil air mineral dan meminum cairan tanpa warna itu hingga tandas, menyisakan udara kosong di sana.
Krakk krakk
Yamaken asik memainkan rubik di tangan, sementara kedua netranya memaku pandang pada Kosuke. Pria yang memakai rompi anti peluru itu terlihat menundukkan kepala sejenak. Sepertinya pria itu tengah meminta maaf pada lawan bicaranya.
"Singkirkan permainan itu dari tanganmu atau aku tidak akan mengizinkan kalian menikah!" ancaman dari Ken membuat Yamaken seketika itu juga melempar rubik di tangannya. Dia tidak ingin hubungannya dengan Mone kandas. Tidak sama sekali.
Tanpa melihatnya sekalipun, Ken tahu adiknya itu sedang bermain-main dengan benda kesukaannya.
"Apa yang terjadi?" Ken mengulangi pertanyaannya. Dia tidak bisa menghubungi Kosuke. Stok kesabaran ia perbarui lagi untuk menghadapi pria yang memilik wajah serupa dengannya.
"Aku tidak tahu. Tanyakan pada Kosuke saja nanti." Yamaken acuh tak acuh dengan pertanyaan kakaknya.
"Kamu?!"
"Aku kehilangan ciuman kekasihku karena asistenmu itu. Aku menolak menjadi juru bicaranya!" ketus Yamaken sambil melepas earpiece hitam itu dari telinganya.
"Astaga!" keluh Ken mendengar jawaban Yamaken barusan. Entah apa yang terjadi di sana. Dia tidak bisa menelaah kata-kata yang adiknya ucapkan.
"Ada apa?" tanya Aira, melirik pria yang kini menutup wajahnya dengan tangan. Dia terlihat putus asa.
Detik itu juga Aira mengerutkan keningnya. Dia tidak tahu siapa pria gila yang suaminya maksudkan disini.
"Minami-chan, apa yang terjadi?" tanya Aira.
Minami menjelaskan situasi yang terjadi. Kosuke tidak sengaja menabrak sebuah mobil yang terparkir di bahu jalan. Mereka telah berhasil mengatasi ancaman yang Anna kirimkan, tapi justru harus terhenti karena kecelakaan kecil ini.
Aira menghela napas lega. Bukan masalah yang besar sama sekali. Itu membuatnya tenang.
"Bagaimana keadaan kalian? Ada yang terluka?" tanya wanita yang kini kembali mengaktifkan mode pemindaian di hadapannya. Dia berhasil membaca dari mana sumber komando lalat-lalat itu berasal. Sekarang hanya tinggal menunggu dan mereka bisa mengetahui dimana pusat kontrol itu berasal.
"kami baik-baik saja, Nona." Minami melirik Mone yang terlihat baik-baik saja. "Tuan Muda sedikit terluka karena tidak sengaja terbentur tiang besi sebelumnya."
Aira tersenyum mendengar penuturan asisten pribadinya.
"Luka itu tidak akan membuatnya mati dengan cepat, 'kan?" candanya.
Minami dan Mone terkekeh.
"Tidak akan. Yamaken hanya akan mati jika aku meninggalkannya, Kak." Kali ini Mone yang menjawab. Dia bisa dengan jelas mendengar pertanyaan kakak sepupunya barusan setelah memakai headphone di telinganya.
Yamaken menolehkan wajah, menatap Mone dengan kening berkerut. Dia tidak tahu percakapan seperti apa yang calon istrinya ini lakukan. Kenapa membawa namanya?
"Syukurlah." Suara Aira kembali terdengar. "Minami-chan," panggil wanita berdarah Indonesia itu.
"Ya, Nona."
"Apa perutmu baik-baik saja? Tidak ada keluhan sama sekali?" tanya Aira penuh perhatian. Dia mendengar wanita ini mengaduh saat situasi genting terjadi beberapa saat yang lalu.
"Ah, ano..." Minami bingung bagaimana harus menjawabnya. Dia tidak ingin membuat nonanya khawatir.
"Saya baik." Hanya dua kata itu yang bisa Minami katakan. Lagipula rasa sakitnya tak lagi terasa.
"Misi berikutnya, kamu tidak perlu ikut. Pergilah ke rumah sakit dan lakukan pemeriksaan. Aku tidak ingin membuat kalian berdua dalam bahaya."
__ADS_1
Minami tak bisa berkata-kata. Dia terharu dengan perhatian yang wanita ini berikan khusus untuknya. Padahal dia hanya seorang asisten saja. Tapi, Aira seperti menganggapnya keluarga atau sahabat.
"Mone-chan, aku percayakan sisanya padamu. Kalian bertiga bisa menghabisi orang itu. Aku akan mengirimkan lokasi lengkapnya. Aktifkan pemindai di PCmu." Suara Aira terdengar begitu jelas.
"Baik, Kak. Aku tahu."
"Terima kasih, Nona." Kali ini suara Minami terdengar, membuat Aira tersenyum.
"Umm." Aira mengiyakan, menganggukkan kepalanya. Tidak ada yang lebih penting dibandingakan menjaga keselamatan wanita yang telah banyak berjasa padanya ini. Wanita berjilbab segi empat itu tahu diri. Tanpa Minami, mungkin saja dia tidak akan sampai di titik ini.
"Waktu kalian tidak banyak. Bergegaslah!"
"Baik, Kak!" Dengan sigap Mone menyanggupi perintah kakaknya.
Di saat yang sama, Kosuke masuk ke dalam mobil dan kembali duduk di balik kemudi. Dia memberikan uang kompensasi pada pemilik kendaraan yang ditabaraknya barusan. Uang bukan masalah karena itu memang kesalahannya yang kurang berhati-hati.
"Suamiku, Nona memberikan tugas lain untukku. Kita berpisah di sini." Minami mendekat, sengaja berpamitan pada suaminya.
"Eh?" Kosuke meraih tangan Minami yang menempel di bahunya. "Ada apa?"
Minami tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Bukan hal yang serius. Nona meminta kalian pergi mencari orang itu tanpa aku. Bisa, 'kan?"
Wanita hamil itu tidak mengatakan bahwa dirinya harus memeriksakan diri ke rumah sakit. Dia tidak ingin membuat suaminya khawatir. Lagipula memang benar Aira yang menyuruhnya, itu tergolong tugas, 'kan?
"Apa kamu baik-baik saja?" Kosuke mengelus perut Minami yang semakin membuncit.
"Aku baik-baik saja," aku wanita yang kini tersenyum ke arahnya.
"Tapi..."
"Cepat selesaikan misi ini. Kita makan malam bersama nanti. Aku tunggu di rumah, ya."
Cup
Sebuah kecupan singkat mendarat di pipi pria yang belum memahami situasi yang ada. Misi apa yang istrinya ini bicarakan.
"Aku pergi," pamit Minami detik berikutnya.
Kosuke berdiri, mengantar kepergian Minami yang berpindah menuju salah satu mobil berisi pengawal bayangan yang diutusnya.
Minami melambaikan tangan sebelum membuka pintu belakang mobil warna hitam itu. Dia pergi lebih dulu bersama dua orang kepercayaan tuannya.
"Minami-san, kemana kita pergi?" tanya pria berbaju hitam yang ada di balik kemudi.
"Antarkan aku ke rumah sakit di pusat kota. Pastikan kalian tidak mengatakan hal itu pada suamiku."
Pria itu tersenyum simpul. "Dia akan panik jika tahu istrinya pergi melakukan pemeriksaan. Apa kandunganmu bermasalah?"
Mereka cukup akrab karena sudah bekerja untuk keluarga Yamazaki selama bertahun-tahun. Bahkan Minami dan pengemudi ini berasal dari akademi bela diri yang sama.
"Tidak. Aku baik-baik saja. Tapi Nona memintaku memeriksakannya."
Pria itu mengangguk. Dia tahu Nona siapa yang rekannya maksudkan.
"Kehadirannya seperti hujan di tengah musim kemarau," gumamnya sambil membawa kendaraan roda empat ini berbelok di pertigaan jalan, semakin menjauh dari Kosuke dan rekan-rekan yang lainnya.
"Hmm?" Minami tak mengerti. Kenapa tiba-tiba pria bertubuh tegap itu memuji nona mereka.
"Aku masih mengingat betapa gilanya tuan Yamazaki Kenzo melawan musuhnya. Tapi sekarang, dia berubah total. Serigala liar itu sudah mendapatkan pawangnya. Luar biasa."
Minami tersenyum mendengar pernyataan itu.
"Mungkin itu yang dinamakan kekuatan cinta yang bisa merubah segalanya."
Ketiga orang itu terus berbincang, membahas hal tidak penting lainnya.
"Nona Kamishiraishi, apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Kosuke pada gadis mungil yang kini berdiri di sampingnya. Mereka sengaja turun dari mobil untuk mengantar kepergian Minami.
Mone menarik napas dalam-dalam. "Misi berikutnya menanti kita. Menangkap orang yang mengendalikan drone-drone itu. Apa kamu siap?"
* * *
Hwaaa.... Akhir bulan yang menegangkan. Akhirnya selesai juga satu konflik besar ini. Gimana gimana? Puas nggak? Semoga kalian puas yaa...
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan komentar kalian. Author menerima kritik dan saran dari kalian dengan tangan terbuka. See you next day.
Hanazawa Easzy