Gangster Boy

Gangster Boy
Gangster Boy : Penjelasan Aira


__ADS_3

Matahari telah tenggelam sempurna sejak beberapa menit yang lalu. Aira tengah membantu para asisten rumah tangganya di dapur, menyiapkan hidangan makan malam untuk para tamunya.


"Bibi, tolong siapkan piring dan gelas di meja."


"Baik, Nyonya."


Di sisi yang lain, Mone membawa sepiring besar udang asam manis ke meja makan, bergabung dengan cumi lada hitam dan beberapa hidangan yang lain. Dia tampak begitu bahagia, siap menyantap hidangan laut yang berhasil menggugah seleranya ini.


"Kapan mereka akan datang, Kak?" tanya gadis 20 tahun itu pada kakak sepupunya.


"Mereka sudah ada di perjalanan."


"Bagaimana dengan kakak ipar?" tanya Mone.


Aira melirik kamar pribadinya dengan Ken di lantai atas. Tidak ada suara apapun di sana, tidak seperti dua atau tiga jam yang lalu, saat suara gaduh meramaikan kediaman mewah ini.


"Aku akan melihatnya."


Aira menaiki anak tangga satu per satu dan sampai di depan pintu kamar beberapa detik kemudian. Langkahnya terhenti, berusaha memasang wajah garang yang menjadi andalannya saat menghadapi Ken.


Di saat yang sama, di balik pintu itu tampak Ken tengah berbincang dengan seseorang melalui ponsel pintarnya. Handuk kimono masih menempel di tubuh atletisnya. Dia baru selesai mandi, membuat pikirannya sedikit lebih segar. Minyak aromaterapi yang Aira tambahkan di bak mandi, membuat tubuhnya lebih fresh dan bisa berpikir dengan kepala dingin.


"Penerbangannya diundur besok. Kondisi Kaori sudah membaik, tapi masih harus istirahat malam ini. Tolong sampaikan permintaan maafku pada istrimu."


Ken mengembuskan napasnya. "Umm, tidak masalah."


Lengang. Tak ada satu pun di antara dua pria ini yang bersuara meski beberapa detik telah berlalu.


"Ada apa?" tanya Shun. Dia tahu kondisi sahabatnya ini tidak dalam keadaan baik-baik saja.


"Dia mendiamkanku lagi."


"Hmm? Itu masalahmu. Tidak ada hubungannya denganku!" sarkas pria 29 tahun ini.


Tit

__ADS_1


Ken memutus sambungan telepon sepihak. Dia berniat meminta pendapat Shun tentang apa yang harus dia lakukan untuk mendapat perhatian Aira lagi. Tapi yang terjadi justru pria itu membuatnya semakin kesal.


Ken melempar ponselnya ke atas ranjang, tepat saat Aira masuk ke dalam ruangan ini. Dia berjalan mendekat ke arah lemari dan mengambilkan pakaian santai untuk suaminya.


Beberapa detik berikutnya, satu stel pakaian itu sudah melekat di tubuh Ken. Aira membantu suaminya berpakaian tanpa mengucap sepatah kata pun. Dia masih mempertahankan mode diam andalannya untuk menguji seberapa sabar suaminya ini. Aira sudah mendiamkan Ken sejak pria itu menggila, membanting segala benda yang ada dalam jangkauannya.


"Ai-chan," panggil Ken pada akhirnya. Dia menatap wajah istrinya yang terpantul di cermin.


"Hmm," gumam Aira di sela-sela deru halus hairdryer yang ada di tangan kanannya. Tangan lainnya masih bergerak aktif, menyisir rambut hitam Ken dengan jari. Entah seberapa jengkelnya Aira, dia tetap berusaha memenuhi kebutuhan lahir dan batin Yamazaki Kenzo. Itu sudah menjadi tugasnya sebagai seorang istri, sebagai pelengkap untuk suaminya.


"Kamu marah padaku? Apa salahku?" tanya Ken ragu-ragu.


"Menurutmu?" Aira membalikkan pertanyaan suaminya.


"Itu ...." Ken menundukkan kepalanya. Dia tidak bisa mengerti jalan pikiran istrinya. Apa yang sudah membuat wanita ini marah sampai mendiamkannya. "Aku tidak tahu."


"Apa kamu tahu? Ada tiga kesalahan fatal yang kamu lakukan di saat yang bersamaan."


"Apa itu?"


"Kesalahan pertama, kamu ingin aku hamil."


"Kesalahan ke dua, kamu ingin aku hamil lagi," lanjut Aira.


"HAH?" Ken bingung dengan pernyataan istrinya. Apa yanh dia ucapkan sama seperti kalimat sebelumnya.


"Kesalahan ke tiga, kamu ingin aku hamil lagi dan lagi!" cetus Aira sambil menahan senyum. Sebenarnya tawanya ingin meledak saat melihat wajah Ken yang kebingungan. Terlihat jelas di wajah tampannya, bahwa pria ini tidak mengerti dengan pernyataan yang istrinya kemukakan.


Ken memutar badannya, menghadap Aira yang berdiri menjulang di hadapannya. Jemarinya sudah menempel di pinggang ramping wanita ini.


"Kamu mengulang hal yang sama dua kali." Ken protes.


"Tidak. Itu hal yang berbeda!" Air menggeleng, bersikeras dengan pendapatnya.


Kerutan di kening Ken semakin dalam. Dia merebut pengering rambut yang ada di tangan Aira dan meletakkannya di meja. Dia ingin mendengar penjelasan Aira tanpa gangguan apapun. Kenapa ibu dari baby triplet ini mendiamkannya.

__ADS_1


"Kamu ingin aku hamil? Jelas-jelas anak kita masih begitu kecil. Mereka masih membutuhkan perhatian kita berdua. Dan kebutuhan ASInya akan semakin bertambah seiring dengan pertambahan usia mereka. Jika aku hamil, otomatis gizi untuk mereka akan terbagi lagi."


Ken diam, mendengarkan penuturan istrinya.


"Ke dua, kamu ingin aku hamil lagi. Itu artinya, akan ada kehidupan baru yang akan menjadi tanggung jawab kita berdua. Orang-orang zaman dulu mengatakan bahwa banyak anak, banyak rezeki. Itu memang benar adanya, Tuhan sudah menyiapkan rezeki untuk setiap makhluk ciptaanNya. Tapi, kehadiran mereka juga berarti amanah untuk kita. Kita belum bisa menjamin masa depan Akari, Ayame dan Azami, bagaimana bisa kamu merencanakan memiliki anak lagi? Masa depan seperti apa yang akan kamu janjikan pada mereka? Bergelut di dunia hitam, sama sepertimu? Atau mengangkat pedang seperti kakek buyut mereka?"


Ken tak bisa menjawab pertanyaan istrinya. Dia memang kekanak-kanakan. Ken mengakuinya.


"Ke tiga, tubuhku belum benar-benar pulih. Bahkan hanya kedatangan tamu bulanan dan sedikit kurang tidur seperti semalam, hampir membuatku pingsan. Aku memiliki riwayat darah rendah sejak kecil. Tidur larut malam dan tidak sempat istirahat pasti akan menumbangkanku detik berikutnya. Itulah kelemahanku. Dan begitu aku menjadi lemah, maka kamu juga akan ikut merasakan imbasnya."


"Walaupun dokter menyatakan hamil sambil menyusui dapat dilakukan bila sang ibu tidak memiliki riwayat kontraksi dini, tetap saja menyusui saat hamil sebaiknya tidak dilakukan setelah usia kehamilan lima bulan." Aira melanjutkan penjelasannya.


“Hamil sambil menyusui bisa memicu kontraksi rahim, jadi harus lebih hati-hati. Sebenarnya, saat hamil dan masih menyusui, konten ASI berubah. Bayi yang masih menyusu juga akan menyadari rasa susu yang berbeda, meski mereka belum bisa mengungkapkannya."


"Semakin besar kehamilan, semakin sensitif ibu dan janin terhadap rangsangan dari menyusui tersebut. Tentunya riwayat kesehatan juga menjadi faktor besar terhadap tingkat bahaya hamil sambil menyusui. Belum lagi saat proses persalinan nanti. Apa kamu sudah siap untuk kemungkinan terburuk yang bisa terjadi? Bagaimana jika aku tidak ada untukmu lagi? Bisakah kamu mengurus anak-anak seorang diri? Atau kamu berpikir untuk mencari penggantiku setelahnya?"


DEG!


Ken tak bisa berkata-kata. Tentu saja dia tidak ingin Aira pergi darinya, apapun alasannya.


"Gomen ne. Hontou ni gomenasai." Ken menyesali kebodohannya. Dia tidak berpikir sejauh itu.


(Maaf. Aku sungguh-sungguh minta maaf)


Aira tersenyum, mengelus puncak kepala suaminya yang kini tertunduk penuh penyesalan.


"Sekarang giliranmu menjelaskan!" titah Aira.


"Eh?" Ken mengangkat kepalanya, kembali mendongak demi menatap wajah istrinya. "Men ... menjelaskan apa?"


"Kenapa kamu marah dan menghancurkan semua barang yang ada? Apa kamu pikir itu semua datang sendiri tanpa uang?" ketus Aira.


"Emm ... itu. Aku..."


...****************...

__ADS_1


See you next episode yaa..


Hanazawa Easzy


__ADS_2