Gangster Boy

Gangster Boy
Gangster Boy : Serigala Tua


__ADS_3

Minami datang menghampiri Aira setelah Kosuke menghubunginya. Ia membantu Aira makan.


"Bolehkan saya memanggil Anda 'Nona' seperti dulu?" tanya Minami sambil membereskan peralatan makan Aira.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu? Kamu bisa memanggilku apa saja. Aku tidak keberatan bahkan jika kamu ingin memanggil namaku." Aira menunjukkan senyum simpul di bibirnya. Ia merasa sedikit lega setelah berbagi keluh kesah dengan ibu hamil satu ini.


"Itu, Nyonya Sumari meminta saya memanggil Anda 'Nyonya'. Tapi itu membuat saya merasa jauh, seolah ada jarak yang begitu terasa."


"Ibu hanya khawatir dengan penilaian orang di luar sana. Tapi aku tidak. Bukankah aku sudah memintamu berhenti berbicara dengan bahasa formal sejak pertemuan pertama kita? Dari segi usia, seharusnya aku lah yang lebih menghormatimu, Minami-chan." Aira meraih tangan asistennya. "Aku sudah menganggapmu seperti kakakku sendiri. Jadi saat kita hanya berdua seperti ini, bisakah kamu menganggapku sebagai adikmu?"


Kali ini Minami yang terharu akan permintaan nona-nya. Mau tak mau, ia hanya bisa menyanggupi permintaan aneh ini. Aira yang memiliki segalanya, justru menganggap asisten pribadinya sebagai seorang kakak? Adakah seorang Nyonya yang memperlakukan bawahannya semulia itu?


Keduanya saling berpelukan, menyalurkan rasa hangat di hati yang lainnya. Dua wanita berbeda usia itu kembali tersenyum. Aira merasa lebih tenang dan Minami merasa begitu beruntung bisa bertemu dengan Nona sebaik Aira.


Tok tok


"Nyonya, operasi Tuan Muda sudah selesai. Sekarang dia akan dipindahkan ke ruang perawatan." Seorang wanita berpakaian hitam melapor pada Aira, dia adalah salah satu pengawal khusus nyonya Sumari.


"Umm. Terima kasih." Aira menjawabnya sambil beranjak berdiri dari duduknya.


Wanita berjilbab itu melangkah dengan tenang menuju ruang operasi yang ia tinggalkan setengah jam yang lalu. Tepat saat itu pintu terbuka, menampilkan wajah Ken yang terlihat lebih baik dari sebelumnya.


"Untuk sementara, pasien harus istirahat total. Hanya ada satu orang yang boleh menungguinya. Yang lain silakan tunggu di luar." Seorang petugas mengingatkan, mengusir dengan halus beberapa orang yang ikut masuk ke ruang perawatan ini.


"Aku akan menjaganya. Kamu istirahatlah," pinta ibu pada Aira yang terus ada di sisi Kenzo.


Aira menggeleng dengan tegas. "Tidak, Bu. Izinkan aku yang menungguinya. Dia terluka saat bersamaku, tentu saja aku harus memastikan kondisinya baik-baik saja."


Nyonya Sumari tersenyum mendengar kemauan menantunya. Wanita yang sudah melahirkan tiga cucu untuknya ini memang keras kepala, sama seperti putranya sendiri, Yamazaki Kenzo. Ah apa mau dikata? Mungkin memang keduanya ini berjodoh.


"Biarkan kakak ipar di sini. Ayo kita kembali," bujuk Yamaken pada ibunya yang seolah tak rela meninggalkan ruangan ini.


"Kakak ipar, hubungi aku jika kamu membutuhkan bantuanku." Yamaken mengucapkannya sambil mendorong nyonya Sumari keluar. Aira hanya bisa mengangguk dan menunjukkan senyum simpul di wajahnya. Ia harus tegar menghadapi situasi ini. Masa kritis Ken telah lewat, ia bisa bernapas lega sekarang. Hanya tinggal menunggu efek obat anestesinya habis, maka Ken akan segera siuman.


Aira beranjak dari duduknya, menutup tirai yang menghubungkan kamar VVIP ini dengan pemandangan langit di luar sana yang mulai terlihat gelap.


"Hoam." Aira menutup mulutnya yang menguap dengan tangan. Ia kembali duduk di sebelah ranjang perawatan suaminya dan menggenggam tangan itu erat-erat.


"Sayang, buka matamu," lirih Aira sembari menatap wajah suaminya yang terpejam. Ia menyingkirkan helai rambut yang mengarah ke pelipis pria 28 tahun ini.

__ADS_1


Beberapa menit berlalu dalam keheningan. Aira sesekali menyeka wajah suaminya yang berkeringat. Padahal air conditioner di dinding berfungsi dengan baik, tapi entah kenapa keringat masih membanjiri wajah suaminya.


Tak terasa, hampir satu jam Aira menunggui Ken. Perlahan ia meletakkan kepalanya di tepi ranjang, coba memejamkan mata sejenak. Meski ia bersikeras untuk menjaga Ken, nyatanya tubuhnya juga butuh istirahat. Pertempuran hebat siang tadi benar-benar menguras fisik dan mentalnya.


-Di saat yang sama, ratusan kilometer dari Nagano-


BYURR


Seorang pria mengerjapkan matanya setelah dipaksa sadar oleh guyuran air yang membasahi kepalanya. Ia pingsan setelah mendapat siksaan dari para pengawal yang menahannya di tempat ini. Tetes-tetes kecilnya masih tersisa, jatuh membasahi sepatu yang dikenakannya. Wajahnya babak belur akibat pukulan dan tendangan yang menyasar padanya.


Duk duk duk


"Lama tidak bertemu, Hayato Harada-san," sapa kakek Yamazaki pada pria yang sangat dikenalnya ini.


Pria yang bernama tuan Harada itu tak menjawab. Ia mengangkat sebelah bibirnya, merasa jengah dengan sosok tua yang kini menemuinya. Di belakang tetua ini, beberapa pengawal berbaju hitam menyertainya.


"Kalian tunggu di luar!" titah kakek pada semua pengawalnya.


"Tuan," panggil salah seorang diantara kelima agen khusus ini. Orang itu khawatir akan keamanan tuannya.


Kakek bergeming tanpa ekspresi, membuat kelima pengawal pribadinya mau tak mau harus keluar dari ruangan bawah tanah ini. Selepas kepergian Ken menuju rumah sakit, para pengawalnya meringkus tuan Harada yang terluka parah. Tak lupa, Nyonya Hanako juga terseret ke dalam permasalahan ini. Entah apa yang akan terjadi pada keduanya. Satu yang pasti, mereka kini tertahan di dalam gudang bawah tanah yang ada di kediaman kakek Yamazaki.


"Apa yang kamu lakukan pada cucuku sampai membuatnya terluka?"


Hening


Hawa dingin seketika menyelimuti ruangan temaram itu, membuat nyonya Hanako semakin ketakutan. Keringat dingin segera membanjiri pelipisnya, menetes melalui dagunya. Ia hanya wanita biasa, tanpa ilmu bela diri sama sekali. Tidak ada yang bisa ia lakukan jika bahaya mengancamnya.


Kakek melirik wanita paruh baya yang kini gemetar ketakutan. Sekali pandang saja, kakek tahu bahwa wanita lemah ini tak ada gunanya sama sekali. Dia memang licik, tapi bodoh. Mengurusnya sama saja membuang tenaga.


Duk duk


Kakek berjalan mendekat ke arah tuan Harada dengan bantuan tongkat di tangannya. Kondisinya sedikit memburuk akhir-akhir ini, dan diperparah saat mendengar kondisi cucu kesayangannya dalam keadaan kritis.


"Aku tahu kamu tidak menyukai keputusan cucuku yang berusaha membersihkan pasar dari 'sampah' yang dulu kita nikmati bersama. Aku juga tidak setuju dengan keputusannya itu. Tapi aku sudah terlalu tua untuk mengurusnya, jadi biarkan saja dia melakukan apapun semaunya. Aku bisa memaafkan satu kebodohanmu, tapi aku tidak bisa memaafkan siapapun yang melukai darah dagingku."


Srett


"AGHH!" Teriakan tuan Harada terasa begitu memekakkan telinga. Kakek Yamazaki mencabut belati dari bahu pria itu dengan sangat cepat, membuat darah segar segera mengalir membasahi kemeja berdebu yang melekat di tubuhnya.

__ADS_1


Tuan Harada semakin pucat, ia menatap pundaknya yang kini terasa nyeri dan ngilu di saat yang bersamaan. Aroma darah yang kuat menandakan bahwa lukanya kembali terkoyak. Ia mungkin bisa mati jika tidak mendapat pertolongan segera.


"Kita lihat berapa lama kamu bisa bertahan." Kakek berkata sambil membalikkan badan. Langkahnya terhenti di depan pintu. Ia mengambil sebuah shuriken dari balik lengan kimono hitam yang dipakainya. Ia melirik nyonya Hanako dengan ujung matanya.


*shuriken : pisau ninja berbentuk bintang untuk melukai lawannya.


Sreet


Jleb


Pisau mengilap itu menancap tepat di puncak lengan nyonya Hanako, membuatnya menjerit sejadi-jadinya. Ia panik, menggerak-gerakkan tangannya yang terikat dengan gerakan sembarang, berharap tangannya bisa terbebas dari ikatan. Bukannya merasa lega, pergerakan nyonya Hanako justru membuat pisau berbentuk bintang itu semakin dalam mengoyak lengannya. Darah segar segera merembes membasahi bajunya.


Kakek mengangkat satu sudut bibirnya, meremehkan wanita licik yang kini terlihat seperti cacing kepanasan. Ia masih berbaik hati kali ini, tidak ingin bertindak terlalu jauh. Biarlah Ken atau Aira yang akan menghukum dua kriminal ini. Tentunya jika nyawa mereka masih bisa bertahan sampai waktu itu tiba.


BAMM


Kakek keluar dari ruangan pengap ini, membanting pintu di belakangnya dengan keras menimbulkan suara debaman yang kuat.


"Tidak ada yang boleh memberi mereka makanan. Berikan saja minum dua jam sekali. Pastikan mereka masih bernyawa sampai cucuku kembali!" pesan kakek pada dua pengawal yang berjaga di depan pintu. Ia tak segan membuat dua tawanannya menderita, namun tak mengizinkan mereka mati dengan mudah. Serigala tua itu menunjukkan kekejamannya.


...****************...


-Rumah Sakit Umum Daerah Nagano


Jam dinding menunjukkan pukul 11.25 malam, 35 menit menuju tengah malam. Suasana hening menyelimuti ruangan steril berukuran 6 x 8 meter ini. Tirainya yang berwarna biru senada dengan kain selimut yang menutupi tubuh pasien di atas ranjang.


Aira tertidur dengan kepala tertunduk di atas ranjang. Tangannya masih menggenggam jemari suaminya dengan erat. Ia baru terlelap sekitar satu jam yang lalu setelah menyusui ketiga putra putrinya yang kini tertidur lelap di box masing-masing. Ketiga bayi merah itu sampai di ruangan ini dua jam yang lalu.


Puk puk


Sebuah tepukan mendarat di puncak kepala Aira, membuat wanita berjilbab itu sedikit terusik. Ia mengerjapkan matanya dan mengangkat kepalanya demi memeriksa siapa yang telah. mengganggu tidurnya. Matanya membola saat menatap pemandangan tak terduga di depannya.


...****************...


Hwaaa... Siapa yang Aira lihat yaa? Penasaran? Author juga 😅😅


See you next episode. Jangan lupa like, komen, vote, share, etc💃


Bai bai,

__ADS_1


Hanazawa Easzy


__ADS_2