Gangster Boy

Gangster Boy
Gangster Boy : Pingsan


__ADS_3

Ken memperkenalkan ketiga putra putrinya pada para tetua di keluarganya. Mereka menyambut ketiga penerus Yamazaki itu dengan suka cita.


"Ah, bukankah lusa adalah hari ulang tahun pernikahan kalian? Bagaimana mungkin kita tidak membuat perayaan?" tanya wanita yang memakai yukata berwarna biru itu. Inisiatifnya sontak diamini oleh semua orang yang ada di sana.


Di tengah desas desus para tetua yang asik membicarakan perayaan anniversary pernikahan yang pertama itu, Aira justru terlihat tidak nyaman di tempatnya berada. Ia merasa pusing. Pandangan matanya terasa buram dan berbayang. Ia juga merasa mual di saat yang bersamaan. Keringat dingin membasahi telapak tangannya.


"Nyonya, ada apa?" tanya Sakura yang mendekat saat melihat wajah puannya memucat.


"Bisa tolong ambilkan air minum yang hangat?" pinta Aira lirih saat merasakan tenggorokannya kering.


"Saya akan segera mengambilkannya," jawab Sakura lugas.


"Ada apa? Kamu sakit?" tanya Ken, memeriksa dahi istrinya. Suhu tubuhnya normal, tidak demam, namun terasa sedikit dingin.


"Oekk." Aira merasa ingin muntah. Ia terpaksa membungkam mulutnya dengan tangan. Detik berikutnya, ia segera berdiri, berniat keluar dari ruangan ini. Aira melihat semua orang yang ada di depannya, tapi anehnya ia tak bisa mendengar suara mereka. Hening. Tak ada suara sama sekali. Pandangannya kabur. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali. Dan tiba-tiba semuanya gelap.


BRUKK


Lutut Aira membentur lantai kayu dengan keras. Ken refleks menangkap tubuh istrinya.


"AI-CHAN!!" panggil Ken panik. Ia mencoba menggoyangkan lengan istrinya, namun tak ada respon.


Semua orang terdiam, menatap Ken yang merengkuh istrinya ke dalam dekapan.


"AI-CHAN, BUKA MATAMU!" teriak Ken seperti orang frustasi.


Drap drap drap


Derap langkah Ken begitu cepat meninggalkan ruangan luas ini. Ia bahkan melangkah tanpa alas kaki, membiarkan kaus kaki hitamnya menjejak lantai. Tak ada waktu untuk memakai sepatu yang ia tinggalkan di depan pintu beberapa saat sebelumnya.


Ken membaringkan Aira di atas ranjang. Seorang pria berkacamata mendekat dan segera memeriksa keadaan Aira. Dia adalah dokter kepercayaan kakek sekarang, Kobayashi Shou, putra tertua tuan Kobayashi.


Pria itu menempelkan stetoskop di dada Aira, memeriksa detak jantungnya. Pemeriksaan ia lakukan juga di perut wanita berjilbab itu, menyusul kemudian memeriksa kelopak mata Aira dengan senter kecil di tangannya.


"Tuan, siapa yang selalu bersama istri Anda empat atau enam jam terakhir?" Pria 35 tahun itu bertanya pada Ken setelah selesai melakukan tugasnya.


"Itu aku. Aku selalu bersama nyonya." Suara Sakura menyela sebelum Ken menjawab pertanyaan itu. Ia masuk ke ruangan ini membawa minuman hangat yang Aira minta sebelumnya. "Apa yang terjadi? Apa nyonya baik-baik saja?" tanyanya khawatir.


"Kapan terakhir dia makan?" tanya Shou to the point.


"Eh, makan?" Sakura menatap Ken, meminta kesaksiannya.


"Kami belum makan siang," jawab Ken sedikit canggung. Ia ingat kemarahan Aira setelah ia menggigit lidahnya. Itu yang membuat istrinya marah dan akhirnya urung makan siang bersama.

__ADS_1


'Ah, bodoh!' kesal Ken dalam hati. Ia menyesal sudah membuat istrinya murka. Padahal tadinya ia hanya ingin menggoda wanita kesayangannya itu.


"Jika nyonya belum makan siang dengan tuan, berarti dia hanya makan beberapa potong buah sejak pagi," jawab Sakura jujur. Ia menundukkan kepala, merasa bersalah karena tidak memperhatikan makan puannya.


"Maafkan saya," ucap Sakura sambil menundukkan kepala, menunjukkan rasa bersalahnya.


"Sebenarnya, ini bukan kasus yang besar. Nyonya hanya butuh istirahat lebih banyak." Shou meletakkan beberapa butir obat di atas meja.


"Secara medis, pingsan disebut sinkop. Kondisi ini bisa berlangsung selama beberapa detik atau beberapa menit. Peristiwa ini terjadi disebabkan oleh melambatnya aliran darah ke otak secara mendadak, sehingga otak tidak mendapat suplai oksigen yang cukup."


"Apa penyebabnya?" tanya Ken ingin tahu.


"Pingsan terjadi karena tekanan darah menurun secara tiba-tiba dan menyebabkan berkurangnya aliran darah ke otak. Kondisi yang bisa memicu pingsan antara lain stres, ketakutan, cuaca yang terlalu panas, dan perubahan posisi secara tiba-tiba. Tanda awalnya adalah mual, cemas, bernapas dengan cepat, dan berkeringat dingin tiba-tiba." Dokter Shou menjelaskan.


Ken ingat, sebelumnya memang tangan Aira mengeluarkan keringat dingin. Tapi ia pikir karena Ken canggung atau takut berdiri di depan para tetua keluarga ini.


"Namun, berdasarkan hasil pemeriksaan saya, sepertinya nyonya pingsan karena tekanan darahnya begitu rendah."


" Tekanan darah?" tanya Ken membeo.


"Iya benar. Darah rendah adalah kondisi yang seringkali disepelekan oleh orang-orang. Para dokter pasti akan melarang para penderitanya melewatkan waktu makan karena dapat menyebabkan penurunan kadar gula dan tekanan dalam tubuh mereka." Penjelasan itu masih berlanjut.


"Dalam beberapa kesempatan, orang tidak menyadari bahwa perutnya sudah sangat kosong dan membutuhkan asupan tenaga. Kondisi ini biasanya terjadi pada mereka yang terlalu sibuk sehingga melewatkan jam makan. Hal ini bisa saja membuat mereka pingsan. Bisa dibilang penyebabnya adalah tubuh kekurangan bahan bakar untuk otak."


"Perlu pemeriksaan lebih lanjut?" tanya Ken meminta konfirmasi dokter pria di hadapannya.


Sakura mengangguk, mengiyakan perintah kakak tertuanya itu.


"Saya tinggalkan vitamin dan obat pereda asam lambung disini. Obat ini bisa dikonsumsi jika istri Anda merasa tidak nyaman dengan perutnya setelah siuman nanti," pesan pria itu sembari membereskan perlengkapannya.


"Terima kasih." Ken mengantar dokter itu sampai ke luar pintu.


Dari kejauhan tampak ibu kandung dan ibu mertuanya sama-sama mendekat. Mereka pasti ingin tahu bagaimana keadaan Aira.


"Dimana Aira?" tanya nyonya Sumari.


"Dia ada di dalam," jawab Ken lirih.


"Boleh ibu masuk?" Kali ini bu Anita yang bersuara.


Ken hanya menjawabnya dengan anggukan, membiarkan wanita itu menemui putri kandungnya.


"Bisa kita bicara?" tanya Nyonya Sumari, menahan lengan putranya yang bersiap pergi.

__ADS_1


Ken tampak ragu. Ia tidak ingin berada jauh-jauh dari istrinya.


"Aira aman bersama ibunya. Ayo,"


Nyonya Sumari mengajak putra sulungnya duduk di beranda yang ada di belakang kamar Ken dan Aira. Ia menatap putranya tepat pada manik mata hitamnya yang tampak layu.


"Kamu bertengkar dengan istrimu?" tanyanya penuh perhatian.


Ken menggeleng. Ia menundukkan kepalanya, merasa bersalah karena sudah membuat Aira marah dan urung makan. Hal itulah yang menjadi penyebab utama istrinya pingsan. Jika saja ia tidak menggoda Aira, mungkin istrinya itu tidak akan pingsan. Begitu pikir Ken dalam hati.


"Pasti kamu yang membuatnya marah. Memangnya apa yang kamu lakukan, huh?"


Hening


Ken terdiam cukup lama. Ia malu mengakui peristiwa yang terjadi hampir dua jam yang lalu.


"Kamu tidak melanggar larangan dokter kan? Kamu tidak memaksa Aira untuk melakukan 'itu'?"


Ken lagi-lagi hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Apa yang kamu lakukan pada istrimu?" ulang nyonya Sumari dengan gemas karena putranya tak kunjung bersuara. "Bagaimana ibu bisa membantumu jika kamu tidak mengatakan apa yang terjadi sebenanrnya?" ketus wanita 52 tahun itu.


"Aku menggigit lidahnya," aku Ken lirih.


"Apa? Ibu tidak mendengarnya?" tanya wanita itu. Ia memicingkan mata, menantikan jawaban putranya.


"Aku menggigit lidahnya." Ken berucap sambil memegangi tengkuk kepalanya. Ia yakin ibunya pasti akan murka setelah mendengar pengakuannya ini.


PLAKK


"APA KAMU GILA?" hardik nyonya Sumari sambil memukul tempurung kepala putranya. Benar dugaan Ken, ibunya ini pasti marah.


"Pantas saja dia mengabaikanmu!" ketus ibu tiga anak ini.


"Apa yang harus aku lakukan, Bu?" tanya Ken penuh sesal.


Nyonya Sumari menghela napasnya. "Dengarkan ibu... "


...****************...


Si emak bar-bar yaa bun 😂😂


Semoga Aira baik-baik saja 💙

__ADS_1


See you,


Hanazawa Easzy


__ADS_2