Gangster Boy

Gangster Boy
Season 2 : Kepiting Rebus


__ADS_3

Note :


Dear para jomblowan jomblowati yang budiman, kuatkan diri kalian untuk membaca ke-uwuan Ken-Aira di bawah ini 😂😂


Mari saling berpegangan tangan dan saling menguatkan satu sama lain. Hingga saatnya tiba nanti, kita bisa uwu-uwu sama pasangan halal kita.


Percayalah janji-Nya bahwa wanita yang baik untuk laki-laki yang baik pula... 🤗😍


Mohon maaf untuk yang masih dibawah umur, bisa skip aja cerita ini langsung baca next episode..


*****


"Aku akan mencobanya." cetus Aira tiba-tiba.


"Apa maksudmu?" tanya Ken tak mengerti.


"Aku akan mencari tahu, kenapa Mone tiba-tiba menghilang dan memperbaiki hubungannya dengan Shun. Sepertinya ada salah paham disini." ungkap Aira yakin.


"Ai-chan, itu terlalu berbahaya. Jangan bertindak bodoh." cegah Ken.


"Aku hanya ingin memperbaiki hubungan mereka. Aku tahu rasanya sendirian tidak memiliki saudara satupun. Dan aku pikir aku tahu alasan Mone menghilang. "


"Alasan?"


"Dia mungkin berpikir ayahnya meninggal karena Shun dan itu sebabnya ia menghilang karena enggan melihat wajahnya lagi." ungkap Aira


Ken terdiam mendengar alasan yang dikemukakan istrinya. Itu cukup logis mengingat usia Mone yang saat itu masih 15 tahun pasti belum bisa berpikir dewasa. Ia masih mengandalkan ego dan pemikirannya sendiri tanpa mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.


"Apa yang akan kita lakukan?" tanya Ken. Pada akhirnya ia menyetujui ide Aira untuk mengurus hal itu lagi.


Ting tong


Terdengar bunyi bel yang membuat Ken dan Aira saling pandang. Masih terlalu pagi untuk bertamu di rumah seseorang.


"Siapa yang datang sepagi ini? Bukankah kita sudah meliburkan Kosuke dan Minami? Lagi pula jika itu salah satu dari mereka, kenapa harus menekan bel? Mereka bisa langsung masuk seperti biasanya." gumam Ken lirih.


Drrt drrtt


Disaat yang sama ponsel Ken berbunyi, dari manager di perusahaan. Ken memberi isyarat bahwa ia harus menerima teleponnya, karena mungkin itu berkaitan dengan urusan pekerjaan. Aira mengangguk dan memilih mendatangi pintu untuk melihat siapa yang datang bertamu.


Wanita hamil itu melihat dari lubang kecil di tengah pintu, terlihat Kaori berdiri di sana membuat Aira tanpa ragu membuka pintu di depannya. Ya, semalam dokter cantik itu mengirim pesan padanya ingin membicarakan sesuatu yang penting.


"Ohayou Khumaira-san.." sapa Kaori dengan senyum canggung. Tangannya bertaut di belakang badan seolah tengah menyembunyikan sesuatu.


"Ohayou. Silahkan masuk." jawab Aira singkat. Ia berjalan mendahului Kaori dan menunduk untuk menyiapkan sendal berbulu untuk tamunya. Kalung saturnus miliknya tergantung bebas, keluar dari piyama yang ia kenakan dan bersanding dengan helai rambutnya yang sedikit ikal di ujungnya.


*Ohayou : selamat pagi


"Maaf jika mengganggu waktumu karena datang terlalu pagi." ucap Kaori sopan.


"Tidak masalah." jawab Aira kembali berdiri sambil membenahi anak rambutnya yang sedikit berantakan karena menunduk tadi. Ia membawa helaian hitam itu ke belakang telinga tanpa menyadari ada orang yang sedang mengamatinya.


Deg


Netranya terpaku pada sosok di belakang Kaori yang tengah menatapnya. Perasaan tidak nyaman seketika menyelimuti hatinya. Orang yang membuatnya trauma seminggu yang lalu kini berdiri di depannya dengan wajah sendu. Tatapan matanya seolah menyiratkan ia tengah terluka.


"Oguri Shun..." lirih Aira.

__ADS_1


Pandangan mata mereka bertumbuk untuk beberapa saat. Aira terpaku di tempatnya, ia tidak bisa bergerak seolah waktu berhenti berputar. Membuat ingatan perjumpaan pertama mereka di Thailand kembali berputar di kepalanya dengan sangat jelas.


Hal yang sama terjadi pada Shun. Ia menatap kalung saturnus yang Aira kenakan dan kembali mengulang memori yang sama dengan Aira. Gadis saturnus yang ia rindukan kini berdiri tiga langkah di depannya.


Bayangan tindakan kotornya beberapa hari yang lalu terasa menikam ulu hatinya, membuatnya merasa sangat malu. Bukannya bersikap baik pada Dewi Penolongnya, justru ia serakah dengan menginginkan Aira jadi miliknya seutuhnya. Benar-benar bodoh dan tidak tahu diri.


Shun berbalik, memilih pergi dari tempat itu sebelum Ken melihatnya. Ia malu karena pernah berfikir akan memisahkan Ken dan Aira demi memenuhi egonya. Ia yang membutuhkan bantuan Ken, tapi ia sendiri yang membuat Ken membencinya dengan berusaha 'merusak' Aira.


"Jangan pergi, ada yang harus kita bicarakan." pinta Aira dengan suara parau. Sejujurnya ia juga tidak ingin bertemu dengan pria itu, tapi hati nuraninya terusik melihat hubungan persaudaraan Shun-Mone yang merenggang. Ia ingin membuat mereka bertemu dan menyelesaikan kesalahpahaman yang tersimpan sejak lima tahun yang lalu.


"Aku mendapatkan alamat adikmu." ucap Aira membuat langkah Shun terhenti.


"Silahkan masuk. Kita bicarakan di dalam." ucap Aira mempersilahkan kedua tamunya untuk masuk. Ia berlalu ke kamar dan memakai jilbab pashmina hitam yang ia ambil dari dalam lemari.


Dengan cepat ia memakai kain persegi panjang itu dan menautkan sebuah peniti di bawah dagunya. Detik berikutnya ia mengambil satu ujung menutupi dadanya dan ujung lainnya ia arahkan ke punggung melewati bahu mungilnya. Itu jurus andalan Aira untuk menyembunyikan mahkota hitamnya, berusaha menutup aurat dan memenuhi syari'at sebagai seorang muslimah.


"Siapa yang datang sepagi ini?" tanya Ken yang keluar dari kamar mandi dengan setelan jas melekat di tubuhnya.


"Shun dan Kaori." jawab Aira sambil mendekat ke arah suaminya, "Kamu akan pergi lagi?" tanya Aira seolah tak rela membiarkan suaminya berangkat ke kantor. Sejak Kosuke diliburkan, Ken harus kembali ke perusahaan dan membiarkan Aira sendirian di rumah.


Ken mengangguk sambil membenarkan kancing kemejanya. Aira mengambil sebuah dasi dari dalam laci dan memakaikannya pada Ken. Wanita itu membuat simpul dengan cekatan dan merapikannya.


Cup


Ken meraih tangan Aira dan mencium jemari istrinya yang tengah merapikan pertalian dasi di leher Ken. Perlakuan tiba-tiba itu membuat bahu Aira berjengit, seolah sesuatu mengusiknya. Jemari istrinya itu salah satu titik sensitifnya, Ken baru menyadarinya.


Cup


Ken melakukan hal yang sama di jemari yang lain, membuat wajah Aira memerah seutuhnya. Ia malu dan berusaha menarik tangannya. Ken sengaja menggodanya, ia tahu itu.


Cup


Ken tak mengindahkan permintaan istrinya dan semakin melancarkan aksinya dengan mencium telapak tangan Aira yang terbuka. Hal itu membuat tubuh Aira seolah tersengat ribuan volt listrik, membuat jantungnya berdetak semakin tak karuan. Sepertinya tubuhnya semakin sensitif, mungkinkah itu efek hormonal pada trimester kehamilan? Entahlah, Aira tidak memiliki pengetahuan mendalam tentang hal itu.


"KEN?!" pekik Aira saat tiba-tiba Ken menarik pinggangnya dan memutari tubuhnya. Pria itu kini berdiri di belakang Aira. Detik berikutnya mereka jatuh terduduk di atas kursi sofa berbulu yang berwarna hitam. Ken menarik tubuh mungil Aira dengan satu tangan sementara tangan yang lain ia lingkarkan di depan leher istrinya.


"Diam atau mereka akan mendengarnya." bisik Ken seduktif.


*seduktif : menggoda


Aira menutup mulutnya dengan tangan yang terkepal, membiarkan Ken yang mulai mengendus puncak kepalanya. Sebelah tangan Aira yang terbebas mencengkeram tangan Ken yang berusaha bergerak lebih jauh membuka piyama tidurnya.


"KEN?! Hentikan sekarang, ada Kaori dan Shun di luar." lirih Aira sambil berusaha menahan berbagai serangan Ken pada tubuhnya.


"Jangan pernah menyebut nama itu lagi. Aku cemburu." ucap Ken semakin mengetatkan tautan lengannya di tubuh Aira.


Pernyataan Ken membuat mata Aira membulat, Ken cemburu?


"Puftt..." Aira berusaha menutup mulutnya yang tertawa membuat suaranya tertahan.


"Ada apa? Apa yang kamu tertawakan?" tanya Ken seraya membalik tubuh Aira. Kini mereka saling berhadapan, membuat Ken bisa melihat dengan jelas istrinya yang mati-matian menahan tawa di depannya.


"Tidak. Bukan apa-apa." jawab Aira sambil berusaha mengatur nafasnya. Ia merapikan kemeja dan dasi Ken yang sedikit berantakan.


"Aku akan siapkan sarapan." ucap Aira sambil beranjak berdiri. Ia tidak ingin suaminya terlambat bekerja karena ia lambat mengurus keperluannya.


"Kenapa tertawa? Katakan padaku, kenapa kamu tertawa!" tuntut Ken pada istrinya yang sedang mematut diri di depan cermin. Jiwa otoriternya keluar tanpa Ken sadari.

__ADS_1


"Bukan apa-apa." Aira berbalik menatap Ken. Ia menangkup rahang tegas suaminya sambil tersenyum, "Suamiku ini sangat pencemburu sekarang. Aku bertanya-tanya apa perubahan hormon juga terjadi pada seorang suami saat istrinya hamil muda?" canda Aira.


"Ish..." Ken mendesis sambil menarik tangan Aira yang melekat di pipinya barusan.


"Aku serius. Jangan pernah menyebutkan nama itu lagi di depanku!" tegas Ken.


"Apa sifat posesif suamiku ini benar-benar sudah mendarah daging? Bahkan menyebut nama orang lain saja membuatnya cemburu?" gumam Aira, tangannya memainkan dasi hitam yang melekat di kemeja marun suaminya.


"Aku benar-benar cemburu saat mengingat dia bukan orang lain. Senior bertemu denganmu lebih dulu. Ia jatuh cinta padamu bahkan sebelum kita bertemu. Aku hanya takut kalian memiliki alasan untuk bersama saat aku tidak ada."


"Apa kamu tidak mempercayaiku? Hatiku hanya untukmu." ungkap Aira.


"Aku percaya padamu, tapi aku tidak bisa tenang saat memikirkan tatapan senior yang terlihat masih menginginkanmu." Ken berucap sambil menautkan kening mereka berdua.


"Terlebih lagi, dia bisa saja..." Ken menutup mulutnya dengan segera. Ia tidak melanjutkan kalimatnya atau mungkin akan membuat trauma istrinya kembali datang mengingat peristiwa memilukan seminggu yang lalu. Peristiwa penyerangan Shun pada Aira yang membuat mereka semua batal berangkat mencari Mone, adik Shun.


"Aku hanya ingin menemukan Mone-chan, percayalah." Aira coba meyakinkan suaminya yang tampak goyah.


"Hmm... Aku percaya." jawab Ken lugas. Ia mencium Aira sekilas sebelum menjauhkan wajahnya, "Ayo keluar temui mereka." ucap Ken sambil meraih palto berwarna hitam dari tangan Aira.


*palto : baju hangat khas musim dingin


"Kamu merusak suasananya. Aku akan melanjutkannya nanti malam." bisik Ken sebelum berlalu. Meninggalkan Aira dengan wajah memerah seperti kepiting rebus.


Langkah Ken terhenti di depan Kaori dan Shun yang masih berdiri di ruang tamu.


"Apa yang membawa master obat mematikan dan kekasihnya ini berkunjung ke rumahku begitu awal hari ini?" sindir Ken dengan tatapan tajam pada Shun. Ia enggan bertemu dengan seniornya itu setelah apa yang terjadi sebelumnya. Jika bukan karena memikirkan keadaan Aira, mungkin Ken sudah membunuhnya saat itu juga.


"Aku yang mengajaknya kemari. Jadi kamu bisa menyalahkanku." jawab Kaori canggung. Ia tahu kemarahan Ken belum reda.


"Tentu saja aku akan menyalahkan dokter yang memberikan anestesi (obat bius) dosis tinggi pada istriku. Dia membahayakan nyawa istriku dan hampir merenggut nyawa anakku. Haruskah aku melaporkan kejadian ini pada asosiasi dokter agar mereka mencabut izin praktekmu?" kata-kata Ken semakin pedas membuat Kaori menelan ludahnya.


"Ah, Kaori-chan jangan dengarkan dia. Apa kalian sudah sarapan?" tanya Aira memecah suasana.


"Ken, ayo bantu aku menyiapkan nasi." Aira mendorong tubuh kekar suaminya untuk kembali ke belakang. Ia memaksanya mengisi mangkuk dengan nasi yang masih mengeluarkan uap.


"Kaori-chan, tolong ajak senior kemari. Kita akan makan bersama." ucap Aira renyah seolah tidak pernah terjadi masalah apapun diantara mereka.


Tak


Ken memukul sendok nasinya dengan kasar, memberikan kode pada Aira bahwa ia tidak suka dengan sikap Aira yang begitu baik pada dua orang yang hampir membunuhnya.


"Kita harus memuliakan tamu. Jangan merajuk lagi." ucap Aira sambil mencium pipi suaminya yang sedikit membungkuk.


Kedekatan mereka berdua tak lepas dari pandangan Shun yang berjalan di belakang Kaori.


"Apa dia bukan manusia?" lirih Shun pada Kaori.


*****


Uwuuuuuu.... Author ngga kuat 🏳🏳😂😂


Selamat menghalu readers semua 🤗


See you next day,


Hanazawa easzy ^^

__ADS_1


__ADS_2