
Tuk tuk tuk...
Seorang pria mengetuk-ngetuk meja kayu di depannya sambil tersenyum. Ia melirik jam di pergelangan tangannya, seolah menantikan berita gembira yang sebentar lagi akan ia dengar.
Benar saja, tak berapa lama kemudian ponselnya berdering. Ia mengangkatnya sambil menerawang butiran salju yang turun dari langit.
"Dia menangkap umpannya." terdengar suara dari seberang sambungan telepon selularnya. Hal itu membuat senyumnya makin lebar. Detik berikutnya ia meletakkan ponselnya itu ke atas meja, menampilkan foto Ken dan Aira saat kencan di Disneyland beberapa bulan yang lalu. Seorang pria mendekat membawa laptop berwarna putih milik Yoshiro.
"Oguri-sama, tidak ada informasi penting dari penelitian Yoshiro. Apa yang akan kita lakukan dengan benda ini?" lapornya dengan suara datar.
"Benarkah? Berikan itu padaku. Dia pasti akan datang mengambilnya sendiri." Shun menengadahkan tangannya, bersiap menerima komputer jinjing dari pria bertato di hadapannya.
Dua detik berlalu namun tak ada tanda-tanda pria itu mendekat. Ia bahkan semakin mempererat cengkeraman tangannya di benda pipih di samping badannya.
"Ada apa?" tanya Shun curiga.
Pria dengan tato di belakang lehernya itu mundur satu langkah. Ia ingat informasi yang istrinya katakan pagi ini bahwa nyonya muda Yamazaki tengah mengandung. Bagaimanapun ia berhutang satu nyawa padanya. Jika bukan karena permintaan Aira, bisa dipastikan ia kini sudah ada di dalam peti mati dan tidak bisa mendampingi istrinya melahirkan.
Shun berdiri, ia berjalan mendekati pria itu. Ia tahu pasti ada sesuatu yang membuat orang suruhannya ini ragu.
"Mau melawanku?" Shun mengacungkan pistol di depan kening pria bertato itu. Ia bersiap menarik pelatuk dengan jari telunjuknya. Dalam kamusnya, tidak ada ampun untuk pembangkang. Bawahan yang tidak patuh adalah pengkhianat yang harus dimusnahkan, itu prinsipnya.
"Turunkan senjatamu, Shun-kun." ucap sebuah suara menginterupsi.
Yoshiro mendekati keduanya. Ia melirik pria bertato yang berhasil mengelabuhinya kemarin dengan pandangan mematikan. Ia punya dendam tersendiri, namun nyawa pria itu harus ia lindungi sesuai permintaan Ken. Entah pembalasan seperti apa yang akan Ken lakukan, ia tidak akan ikut campur.
"Ayo kita bicara." ajak Yoshiro pada teman seperguruannya itu.
"Kamu coba melindunginya?" tanya Shun memamerkan smirknya. Ia menurunkan pistolnya dan melempar senjata api itu pada salah satu pengawal yang setia stand by di dekat pintu.
"Kenapa menargetkan orang yang tidak bersalah (Aira)?" tanya Yoshiro dengan mimik wajah tidak senang, ia coba mengalihkan pembicaraan ke topik lain yang lebih penting.
"Mengkhawatirkan istri orang lain, huh? Bukankah kamu juga pernah menyiksanya sebelum akhirnya justru jatuh cinta padanya?" sindir Shun sambil meletakkan tangannya di pundak Yoshiro, berjalan memutarinya dengan senyum devil terpatri di bibirnya. Ya, ia menyelidiki banyak hal tentang kehidupan Ken dan istrinya, termasuk campur tangan Yoshiro selama ini.
"Aku berani bertaruh kamu tidak akan bisa membunuhnya jika berhadapan langsung dengan Aira." geram Yoshiro. Ia tersinggung atas olok-olok Shun padanya.
__ADS_1
"Hahahaha... Apa dia sehebat itu?" tawa garing Shun menggema di udara.
Klik
Shun menjentikkan jarinya, memanggil pengawalnya untuk mendekat.
"Ikat dia. Masukkan ke ruang bawah tanah! Jangan biarkan seekor semut pun mendekatinya!" perintahnya dengan wajah sengit. Sejujurnya ia marah karena Yoshiro membuatnya urung membunuh pria berbaju hitam yang tidak patuh padanya.
Dua orang pengawal segera melaksanakan perintah tuannya itu tanpa bantahan. Mereka pergi beberapa detik setelahnya. Shun kembali duduk dan menatap sahabatnya di dunia gelap itu di sela-sela aktivitasnya membuka laptop yang berisi data-data Aira.
"Apa yang menarik dari wanita itu?" tanya Shun penasaran.
"Dia bisa membobol Miracle hanya dalam waktu satu jam." Yoshiro duduk di hadapan Shun, menatapnya dengan pandangan serius. Tak ada nada bercanda sedikitpun. Hal itu membuat Shun menghentikan aktivitas jemarinya yang sedang merangkai huruf dan angka untuk memecah kode keamanan laptop Yoshiro. Kenapa tidak menanyakannya saja pada si pemiliknya? Bukankah itu lebih mudah?
"Miracle? Satu jam?" Shun menggelengkan kepalanya tanda tak percaya. Ia pernah berhasil meretas jaringan yang Ken buat, namun beberapa menit berikutnya komputernya mati total. Mereka berbalik menyerangnya dengan virus yang hampir meluluhlantakkan sistem keamanan yang ia atur berlapis-lapis.
"Percaya atau tidak, itulah kenyataannya. Aku akan melindunginya meskipun semua orang meninggalkannya. Dia mutiara yang sangat langka. Ku harap kamu tidak menyesal telah melukainya, Shun-kun..!!" Yoshiro beranjak pergi tanpa membawa laptop miliknya.
"Kenapa tidak merebutnya dari Ken? Aku tahu kamu bisa melakukannya." ucapan Shun membuat langkah Yoshiro terhenti. Ia berbalik menatap Shun dengan pandangan datarnya.
"Kalian menjadi lemah karena seorang wanita. Bahkan rela mengorbankan nyawa untuk mereka?" Shun mengangkat sebelah bibirnya. Tak habis pikir dengan Ken dan Yoshiro. Kehebatan keduanya di dunia yakuza tak terbantahkan, tapi menjadi lemah hanya karena wanita. Dulu mereka sama-sama menyukai Erina membuat keduanya bermusuhan setelah kematiannya. Dan sekarang mereka bahu membahu melindungi Aira. Apa hebatnya mereka?
"Wanita bukan kaum lemah. Mereka membuat kami menjadi manusia seutuhnya. Meredam iblis yang selama ini menguasai jalan hidupku dan Ken. Tunggulah giliranmu, pastikan wanita yang kamu sukai bukanlah Aira-chan." Yoshiro melanjutkan langkahnya, meninggalkan Shun dengan tangan mengepal dan gertakkan gigi yang menandakan ia tengah menahan emosinya.
*******
Di sebuah gedung pertunjukkan, tampak ratusan orang duduk rapi di kursinya masing-masing. Mereka tengah mengikuti acara meet and greet dorama yang tengah naik daun di negeri sakura ini. Yamaken didaulat menjadi pemeran utamanya, membuatnya harus naik ke atas panggung dan menyapa semua penggemarnya.
Ia mengenakan setelan merah marun yang dipadu dengan t-shirt dengan warna yang lebih gelap. Rambutnya agak sedikit panjang demi mendukung karakter yang harus dimainkannya. Ia tersenyum melambaikan tangannya pada semua orang selama beberapa menit. Namun saat MC mulai mengambil alih acara, raut wajah Yamaken terlihat gusar dan khawatir.
Ken berkali-kali menatap manajernya, namun hanya dibalas dengan gelengan kepala. Ken mendengar berita tentang keadaan Aira dan membuatnya khawatir. Ia izin meninggalkan acara itu tapi manajer Yan melarangnya karena dia bintang utamanya disini. Ia meremas mikrofon di tangan kanannya sambil menatap jam di pergelangan tangannya berkali-kali.
Sementara itu di tempat lain, Minami masih setia menunggui Aira yang belum sadarkan diri. Kondisinya sudah sedikit membaik tapi belum ada tanda-tanda ia akan siuman.
Krekk
Ken masuk ke dalam ruang perawatan Aira diikuti Kosuke di belakangnya membuat Minami segera berdiri. Ia cukup tahu diri untuk memberikan kursi yang ia duduki untuk tuan mudanya.
__ADS_1
"Istirahatlah, aku akan disini sepanjang hari." ucap Ken mempersilahkan asisten istrinya untuk pergi setelah menjaga Aira semalaman. Kosuke dan Minami keluar dari ruangan berwarna putih itu, memberikan privasi untuk tuan dan nonanya.
"Minami-chan.." Kosuke menarik istrinya dalam pelukan. Entah kenapa ia merasa takut kali ini. Ia punya firasat jika orang yang akan mereka hadapi tidak akan mudah. Bukan orang sembarangan.
Minami tak menjawab apapun. Ia membalas pelukan suaminya itu dengan mulut terkunci. Sebenarnya Yu menghubunginya beberapa saat yang lalu, memintanya lebih berhati-hati namun lidahnya terlalu kelu untuk mengatakannya. Ia belum tahu dengan pasti apa langkah mereka selanjutnya.
'Orang itu pasti akan segera menangkapku. Tolong jaga Rara dengan baik, aku mengandalkanmu.' pesan Yu sebelum menutup teleponnya.
"Apa ada sesuatu yang ingin kamu katakan?" tanya Kosuke setelah ia mengurai pelukannya.
Minami membuka tas yang ia bawa dan menyerahkan beberapa lembar kertas yang ia satukan dengan penjepit berwarna hitam. Disana tertera laporan yang Yu kirimkan tentang orang yang ada di belakang kasus teror yang menimpa Ken dan Aira, juga data diri eksekutor yang telah menyuntikkan obat bius dosis tinggi pada nonanya.
"Darimana kamu mendapatkannya?" tanya Kosuke penasaran.
"Nona Ebisawa Yuzuki yang mengirimkannya beberapa jam yang lalu. Aku takut dia dalam bahaya sekarang. Apa yang akan kita lakukan?" tanya Minami khawatir.
"Aku akan menghubungi Yoshiro-san.." Kosuke segera menjauh dari istrinya demi menghubungi pria ahli obat itu.
Seseorang mengintai keduanya dari balkon lantai 2 rumah sakit. Minami berbalik dan tidak sengaja memergokinya. Tidak ada waktu untuk mengatakan kecurigaannya pada Kosuke, Minami langsung berlari mengejarnya dan meninggalkan Kosuke yang masih sibuk menghubungi Yoshiro.
"YAMETE !!" perintah Minami pada wanita berkulit putih beberapa meter di depannya. Dari fisiknya, jelas ia bukan orang Indonesia. Kemungkinan terbesarnya ia berasal dari Jepang, sama sepertinya. Jadi ia memakai bahasa ibu untuk meminta wanita itu berhenti.
(STOP !!)
Wanita itu berhenti dan berbalik menatap Minami sambil mengacungkan pistol yang bersiap memuntahkan pelurunya.
"Selamat tinggal, Minami-chan.."
DOR
*******
See you next day, hope you'll enjoy it 😍😍🤗
Gomen ne, author kedepannya sibuk ngurus kerjaan nyata jadi mungkin akan slow update. Big thanks buat like, vote & comment kalian. Author baca kok komentar kalian, tapi belum bisa balas satu per satu.
Jaa mata ne,
__ADS_1
With love ♡
Hanazawa easzy ^^