
Aira tidak sadarkan diri akibat hipotermia/kedinginan. Untung saja Kaori sigap memberikan pertolongan pertama padanya, jika tidak maka nyawa wanita hamil itu bisa terancam.
Kaori menatap Aira yang masih berbaring di tempat tidur. Meski masih terlihat pucat tapi rona wajahnya sudah terlihat sedikit lebih segar sekarang. Dokter cantik itu membenahi selimut Aira sebelum beranjak pergi dari ruangan 6x8 meter ini.
"Bagaimana keadaan kakak?" tanya Mone menghadang Kaori. Ia sangat khawatir, terlihat dari suaranya yang bergetar dan tangannya yang saling bertaut di depan perut.
Kaori menatap gadis chubby ini dari ujung kaki hingga ke ujung kepala. Sekilas ia mirip dengan Aira, membuat Kaori menyunggingkan senyum manisnya. Tanpa melakukan tes DNA pun, bisa dipastikan mereka memiliki hubungan darah. Penampilannya terlihat kacau setelah pertempuran yang ia lakukan. Meski Kaori tidak tahu detail kejadiannya, tapi ia yakin gadis ini juga ikut dalam kekacauan yang menyebabkan Ken terluka.
"Dia baik-baik saja sekarang. Apa kamu terluka? Coba ku lihat." Kaori memeriksa gadis 153 cm itu dengan seksama. Mengamati kalau-kalau ada luka gores atau apapun itu.
"Tidak. Tidak ada luka sama sekali." jawabnya sambil menundukkan kepala, "Maaf." lirihnya merasa bersalah karena telah menyebabkan masalah untuk Aira.
"Istirahatlah. Dia tidak akan menyalahkan siapapun. Oh iya, ini sudah cukup larut. Kamar itu belum berpenghuni, kamu bisa memakainya jika mau." Kaori menunjuk kamar di samping tangga melingkar dan menepuk lengan Mone sebelum pergi.
Grep
Sebuah tangan melingkar di depan badannya, membuat Mone menegang seketika. Seseorang memeluknya dari belakang, membuat nafasnya tercekat detik itu juga.
'Aroma ini...'
Parfum beraroma citrus menelisik indera penciumannya. Meski tercium hanya samar-samar, bercampur dengan aroma darah, tapi dia bisa menebak siapa orang yang kini memeluknya. Aroma ini yang selalu membuatnya tenang setelah semua orang menjauhinya, bahkan membullynya habis-habisan. Aroma yang selalu membawa kedamaian untuknya kini tercium lagi, setelah sekian lama.
"Apa kamu tidak merindukanku?" tanya Shun semakin mendekatkan badannya pada punggung mungil Mone yang tertutup palto berwarna hijau lumut, warna kesukaannya.
"Aku selalu bertanya-tanya, apa yang akan aku tanyakan pertama kali saat bertemu denganmu lagi." bisiknya dengan suara yang terhenti di tenggorokan. Ia menahan luapan emosinya yang begitu bahagia bisa melihat adik angkat sekaligus gadis yang sangat ia cintai ini.
"Dimana kamu selama ini? Kenapa tidak menghubungiku? Tahukan kamu betapa aku sangat mengkhawatirkanmu? Aku mengelilingi Thailand selama 2 tahun namun tidak menemukan jejakmu di manapun. Aku mencarimu sampai gila rasanya dan selalu terjaga saat malam bulan purnama. Aku memandangnya sampai pagi, berharap bisa melihat wajahmu si sana. Apa kamu masih suka melihat bulan? Kamu suka bulan purnama kan? Masih suka kan?" Shun menuntut jawab atas pertanyaan beruntun yang dia ajukan.
Hening.
Tak ada satu kata pun yang terucap dari bibir gadis 20 tahun itu. Ia bimbang. Dua sisi hatinya seolah terbelah, antara menerima sambutan hangat pria ini atau mengabaikannya. Seolah ada dinding pembatas yang memisahkan mereka, ada hal yang belum bisa ia relakan jika melihat wajah Shun. Mone akan selalu ingat malam kelabu dimana ayahnya meregang nyawa untuk melindungi Shun. Malam yang takkan terlupakan seumur hidupnya.
"Mone-chan," panggil Shun lirih. Ini yang ia takutkan, Mone akan mengabaikannya.
Mone melepas pelukan Shun dengan paksa dan berjalan menjauh dari pria yang berbeda 8 tahun lebih tua darinya. Ia masih ingin menenangkan diri atas apa yang terjadi sebelumnya, menjernihkan pikirannya dari segala prasangka buruk yang sempat memenuhi otaknya tentang peristiwa lima tahun yang lalu. Mungkin ia harus meminta penjelasan dari Aira agar tahu duduk permasalahan yang membawa ke enam orang dari Jepang itu mengacau di kediaman ayah angkatnya. Juga tentang tes DNA itu, ia belum mendengar hasilnya.
Mone masuk ke dalam kamar yang ditunjukkan Kaori. Ia merebahkan badannya di atas ranjang dan segera terlelap. Berbagai pikiran yang memenuhi kepalanya membuatnya sedikit pening, belum lagi tubuhnya yang terasa begitu lelah setelah hari yang panjang ini. Hari yang akan mengubah haluan hidupnya, tak lagi terkekang oleh Takeshi Kaneshiro. Ia ingin lari kembali ke Jepang sejak bertahun-tahun lalu, tapi ia selalu mengurungkan niatnya saat melihat betapa besar kasih sayang Anna padanya.
Ah, apa yang terjadi pada ibunya saat kekacauan itu terjadi? Bukankah ia meninggalkannya begitu saja untuk melindungi Aira? Juga, bagaimana keadaan paman?
__ADS_1
Dan berbagai pertanyaan itu menjadi pengantar tidur untuk Mone. Ia kehilangan kesadarannya detik berikutnya. Meski menolak untuk terlelap, nyatanya kantuk yang menderanya mengalahkan segala pemikirannya yang semrawut seperti benang kusut.
Krekk
Pintu berwarna putih itu terbuka, menampilkan Shun yang kini berdiri dengan wajah terluka. Ia mendekat dan membenarkan tubuh Mone yang tidur dengan tertelungkup di atas ranjang. Dia pasti kelelahan. Shun tersenyum, kebiasaan adik angkatnya ini masih sama. Ia akan tertidur begitu saja tanpa melepas jaket atau bahkan sepatunya.
Shun mengangkat tubuh mungil itu perlahan dan melepaskan palto hijau lumut yang dipakainya, menyisakan sweater berwarna coklat yang membalut kemeja putih. Ia menyelimuti gadis itu sampai ke dada setelah melepas sepatu kets dari kedua kakinya.
Pria itu menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajah Mone, membuatnya menitikkan sebulir air mata. Wajah yang sama seperti lima tahun sebelumnya. Wajah tanpa dosa yang membuatnya jatuh cinta. Dan wajah itu juga yang sudah menghipnotisnya, membuatnya menggila sampai mengalami delusi, salah mengira Aira adalah dirinya.
"Bodoh!" umpatnya lirih, menyadari kesalahannya selama ini yang tidak masuk akal. Ia terjebak rindu pada adik angkatnya sendiri.
Shun mencium kening Mone sebelum berlalu dari kamar itu. Ia harus menjaga jarak dari Mone untuk sementara, memberikan waktu untuk gadis itu menyesuaikan diri di sini. Setidaknya Mone harus merasa nyaman sebelum ia menjelaskan kesalahpahaman lima tahun yang lalu. Ia tidak boleh terburu-buru.
Sementara itu, di ruangan lain Ken keluar dari kamar mandi dengan bath robe yang melingkupi badannya yang masih basah. Asap halus menguap dari tubuhnya, menandakan bahwa ia mandi air hangat yang memancar dari shower. Ia merasa lebih segar setelah semua yang terjadi hari ini.
*bathrobe : kimono/handuk mandi
Perlahan ia mengambil hairdryer yang tergeletak di meja dan mulai mengeringkan rambut hitam legamnya. Ia menatap pantulan cermin yang merefleksikan semua gerakan yang ia lakukan. Tak butuh waktu lama dan Ken sudah selesai dengan aktivitas pribadinya itu. Ia menatap Aira yang masih terlelap dari pantulan gambar yang terlihat di cermin.
Ken tersenyum kecut mengingat betapa tangguhnya Aira saat menghabisi lawan mereka saat di kediaman Takeshi tadi. Aura pembunuh melingkupi tubuhnya seolah ialah algojo yang bersiap mengeksekusi terdakwa yang ada di depannya. Tak ada gurat ketakutan sedikitpun di wajahnya. Ia seperti pengawal terlatih yang kakek siapkan untuk menjadi agen rahasia keluarga Yamazaki, sama seperti Minami.
Minami adalah asisten khusus ibunya. Saat kesehatan Aira memburuk setelah penculikan oleh pria bertato kala itu, kakek mengirimnya untuk mendampingi Aira hingga sekarang. Ia tidak takut mengorbankan nyawanya asal orang yang ia lindungi selamat. Dan aura itu pula yang muncul di wajah Aira. Ia bersedia melakukan apa saja asalkan bisa mengamankan Mone. Takut. Nampaknya satu kata itu cukup untuk menggambarkan perasaan Ken saat ini.
Ken menangkup wajahnya dengan kedua tangan. Ia tidak siap jika harus melihat aksi Aira yang berjibaku melawan musuh. Hal itu pasti akan membahayakan nyawanya, dan bukan itu yang Ken inginkan. Ken berharap Aira menjalani kehidupan normalnya kembali, hidup damai bersama anak-anaknya kelak. Tapi tampaknya itu hanya isapan jempol belaka, nyatanya Aira sudah terlibat dengan dunia gelap ini. Sudahlah...
Ken memakai piyama yang tersedia di dalam almari dan segera menyusul Aira di balik selimut. Ia berbaring menyamping, menatap wajah istrinya yang kini terlihat segar seperti biasanya. Bahkan sebulir keringat menetes melewati pelipisnya. Ken dengan sigap mengambil tisu di atas nakas dan menyekanya dengan lembut.
"Kamu bangun sayang?" tanya Ken lirih saat mendapati istrinya mulai mengerjapkan mata, menyesuaikan intensitas cahaya yang masuk ke dalam retina matanya.
"Ken," panggil Aira sambil menutup mata dengan kedua tangannya. Lampu yang berpendar di atas plafon membuatnya tidak nyaman karena begitu terangnya.
Klik
Ken mematikan lampu utama kamar ini dengan memakai remote control di tangannya dan hanya menyisakan dua lampu tidur di kanan kiri mereka. Ia setia mengamati ekspresi wajah istrinya yang terlihat lucu. Wanitanya itu seolah masih mengumpulkan nyawanya setelah tak sadarkan diri beberapa saat.
Ken mengambil segelas air putih hangat dan memberikannya pada Aira yang kini duduk bersandar di kepala ranjang. Gurat kelelahan terlihat jelas di wajahnya.
"Sudah merasa lebih baik?" tanya Ken tak lepas mengamati wajah Aira dari dekat. Aira hanya mengangguk mengiyakan.
__ADS_1
"Apa kamu lelah?" tanya Ken lagi.
Dan lagi-lagi Aira hanya menjawabnya dengan anggukan. Ia mulai melepas baju hangat yang melingkupi tubuhnya. Entah berapa lapis yang ia gunakan dan membuatnya kepanasan. Tampak Aira cemberut saat ia gagal melepas zipper jaketnya.
"Jangan marah. Kamu hampir mati kedinginan sebelumnya, jadi Kaori memakaikan baju berlapis-lapis agar kamu tetap hangat." jelas Ken.
"Ada yang sakit?" tanya Ken pada Aira. Ia meraih dagu istrinya, memaksa mata bulat berwarna coklat itu menatapnya.
Kali ini Aira menggeleng namun masih tetap tak bersuara. Tubuhnya masih lemah, bahkan untuk berbicara saja malas rasanya.
"Kemarilah." Ken meraih tubuh mungil Aira. Ia mendudukkannya di atas pangkuan dan membelai pipinya dengan sayang. Ia menyingkirkan helaian rambut curly istrinya yang tampak berantakan ke belakang telinga, membuat pipi chubby itu terlihat bulat sempurna tepat di depan matanya.
"Terima kasih." ucap Ken sembari mencium jemari Aira yang ia tarik ke depan mulutnya. Ken ingin menunjukkan betapa ia sangat mencintai Aira dan merasa begitu bersyukur karena nyawa Aira terselamatkan. Ia akan memanjakan istrinya untuk selamanya, itu tekadnya.
"Apa masih dingin?" tanya Ken sambil melepaskan syal yang melilit leher istrinya.
Aira menggeleng. Ia meletakkan kepalanya di bahu lebar suaminya, mencium aroma lavender yang menyeruak dari sana, "Apa kamu memakai parfum?" tanya Aira lirih namun masih bisa terdengar jelas di telinga Ken.
"Hmm.." gumam Ken, "Kamu tidak suka?" tanyanya kemudian.
"Aku suka." jawab Aira sebelum mendekatkan hidungnya di ceruk leher Ken, membuat libido pria itu naik seketika.
"Ai-chan, apa kamu sengaja menggodaku?" tanya Ken dengan suara berat. Ia menahan diri untuk tidak menyerang istrinya. Ken tidak ingin Aira kelelahan. Ia harus memastikan Aira istirahat dengan cukup agar anak-anaknya bisa tumbuh dengan baik di dalam sana.
"Hoam.." Aira menutup mulutnya dengan tangan saat menguap, menandakan ia mengantuk dan butuh istirahat.
Ken segera membaringkan Aira kembali ke atas ranjang, mereka tidur berhadapan, "Ayo istirahat. Sekarang hampir tengah malam, besok kita harus menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya pada Mone. Selain itu kita juga masih menunggu hasil tes pencocokan DNA yang Mone lakukan terhadapmu." ucap Ken.
Aira mengangguk dan menuruti perintah Ken. Ia memeluk pinggang Ken dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya.
"Oyasumi." ucap Aira lirih.
(Selamat istirahat)
...****************...
Oyasumi untuk author sendiri... Udah tengah malem beneran ini, istirahat yuk 🤗😄😄
See you another episode. Big thanks buat semua dukungan kalian selama ini. Maaf ngga bisa author balas komentarnya satu per satu, tapi author baca kok.
__ADS_1
Jaa,
Hanazawa easzy 💃