Gangster Boy

Gangster Boy
Gangster Boy : Benar-Benar Musnah


__ADS_3

Yu, Mone, Yoshiro dan Shun berada dalam misi penting. Bersama seorang pengawal bayangan utusan kakek Yamazaki, mereka merangsek masuk ke kastil tempat tuan Harada bersembunyi. Melalui jalur rahasia yang terhubung dengan bagian belakang kastil, mereka berhasil tiba di bangunan mewah ratusan tahun itu.


Langkah kaki mereka terhenti di persimpangan. Arah kanan adalah pintu masuk utama bangunan super besar ini, dan arah kiri menuju ruangan yang lebih dalam lagi.


"Saya akan membuka pintu gerbang. Kita berpisah di sini." Pengawal bayangan itu pergi tanpa menunggu jawaban dari muda-mudi yang datang bersamanya beberapa menit yang lalu. Dia mengambil sisi kanan seorang diri, sementara empat orang anak muda itu ia tinggalkan untuk mengambil jalan satunya. Itu adalah jalan yang akan membawa mereka ke sebuah ruangan yang sangat luas, tempat dimana jamuan dan pesta berlangsung, zaman dulu kala.


Dan ternyata 'jamuan' lainnya menunggu empat orang itu. Sekitar dua ratus orang menyerang empat muda mudi yang belum genap memasuki usia kepala tiga. Bahkan Si Gadis paling mungil, Mone, akhir tahun ini baru akan memasuki usia 21. Mereka mengantarkan nyawa pada malaikat maut yang standby di sana. Pengawal bayangan yang kakek Yamazaki utus, tak bisa membantu keempatnya. Dia punya misi tersendiri, yakni membuka gerbang utama agar orang-orangnya bisa menghabisi ratusan penjaga yang ada di luar kastil ini.


Tap tap tap


Langkah kaki pria empat puluh tahunan ini begitu mantap. Dia harus segera bergegas, membawa masuk pasukan elitenya yang siap memusnagkan geng kriminal ini. Sejak lama kakek Yamazaki ingin menyingkirkan orang-orang tak tahu diri ini. Namun momennya belum tepat. Dan sekarang adalah waktu terbaik untuk mereka, mencabut pemimpin Naga Hitam sekaligus akar-akarnya.


Dua orang penjaga tampak menundukkan kepala mereka masing-masing di atas meja. Udara terasa begitu menenangkan, membuat keduanya tak bisa lagi menahan kantuk. Keduanya tertidur di depan pintu utama kastil ini. Hari hampir pagi, jadi mereka pikir tidak akan terjadi apapun. Sepertinya mereka lupa, bahwa malaikat maut tak mengenal waktu pagi, siang, atau bahkan malam. Bagi makhluk Tuhan satu itu, mencabut nyawa di waktu pagi sama mudahnya dengan mencabut nyawa di malam hari. Tak ada bedanya sama sekali.


Pria berpakaian serba hitam ini terus mendekat. Ia berhasil berdiri di belakang salah satu penjaga.


Sret


Dengan gerakan tangan yang super cepat, sebuah belati hitam telah menusuk leher pria penjaga bertubuh gempal. Tubuhnya jatuh menghantam lantai berdebu di bawahnya.


"Ada penyusup!" Teriakan penjaga satunya terdengar. Dia membuka matanya saat mendengar bunyi gedebuk di dekatnya. Ternyata rekannya sendiri yang kini tengah meregang nyawa.


Sruk!


Belati berlumur darah itu berpindah korban. Setelah membunuh penjaga bertubuh gempal, kini rekannya juga limbung. Dia menatap perutnya dimana noda merah merembes ke baju hijau yang dipakainya. Seketika tubuhnya tertahan ke dinding, penyusup yang ia teriaki mendorongnya sekuat tenaga. Detik berikutnya, sebuah kain yang entah dari mana datangnya, menyumpal mulutnya yang siap berteriak meminta bantuan.


Hanya butuh beberapa detik saja, tubuh itu akhirnya luruh ke lantai. Dua penjaga berhasil dilumpuhkan oleh tangan kanan kakek Yamazaki tanpa perlawanan berarti. Entah pengawal bayangan ini yang terlalu mahir atau dua orang penjaga itu yang tidak memiliki kemampuan. Satu yang pasti, Tuhan telah menggariskan hidup mereka harus berakhir pagi ini, satu jam sebelum matahari terbit.


KRAKK KRAKK KRAKK


Bunyi rantai yang saling beradu satu sama lain segera menyapa telinga pria bernama Yamaguchi ini. Dia menurunkan tuas di depannya dengan sekuat tenaga. Dan di saat yang bersamaan, gerbang utama di bawahnya terbuka.


Beberapa penjaga yang berdiri di depan gerbang utama seketika menoleh. Mereka beradu pandang, bertanya-tanya siapa yang membuka dinding penghalang di belakang mereka. Di jam-jam seperti sekarang, seharusnya tak ada yang masuk. Pintu ini baru saja ditutup tiga jam yang lalu, sesaat setelah pasukan Naga Hitam memasukinya.


Pintu ini terbuat dari besi dengan ukiran di setiap sisinya, tingginya dua meter lebih. Ini adalah jalan masuk utama ke dalam kastil. Pintu ini bisa digunakan untuk masuk oleh dua puluh orang secara bersamaan. Jangan tanya berapa lebarnya, Yamaguchi tidak tahu pasti dan memang tidak ingin tahu.


Bersamaan dengan pintu besi yang terbuka dan para penjaga yang masih bertanya-tanya, sekumpulan ninja mulai melompati pagar batu setinggi dua meter dan segera bersembunyi di balik rumput ilalang yang tinggi. Gerakan mereka begitu cepat, hampir tak terlihat sama sekali.


Sejak awal mereka bersembunyi di atas pohon dan semak belukar. Saat mendengar suara gesekan rantai besi itu, artinya mereka dipersilakan masuk ke dalam area kastil ini. Melompati pagar batu setinggi dua meter bukan halangan yang berarti bagi mereka. Dengan berpijak pada batu, mereka naik ke salah satu dahan pohon. Detik berikutnya, pasukan pakaian hitam itu menggunakan jurus meringankan tubuh, menahan napas dan melompat melewati dinding.


Jangankan hanya dinding batu, bahkan pagar kawat berduri pun bukan halangan bagi mereka. Ada berbagai halang rintang yang lebih berbahaya pernah mereka lewati saat di akademi ninja. Dan hanya orang-orang tertentu saja yang bisa masuk ke akademi khusus ini. Setiap tahunnya, kakek Yamazaki merekrut setidaknya lima puluh orang berbakat untuk bisa mengenyam pendidikan super ketat di sana. Bayangkan, hanya lima puluh orang saja.


Di saat akademi lain berlomba-lomba mencari murid sebanyak-banyaknya guna mendapat keuntungan maksimalnya, kakek 77 tahun itu berpikir sebaliknya. Dia menginginkan kualitas, bukan kuantitas. Para ninja ini tidak lagi mengejar uang atau jabatan, mereka sengaja dipersiapkan untuk menyelesaikan satu misi tertentu, seperti sekarang ini.


Hening


Lengang


Tak ada siapapun yang keluar dari pintu gerbang besi yang terbuka beberapa menit yang lalu, membuat penjaga itu semakin bertanya-tanya. Tadinya mereka begitu waspada, takut ada penyusup ataupun musuh yang menyerang mereka. Detik berganti menit, tak ada yang terjadi. Ini terasa aneh.


Mereka tidak menyadari adanya gelombang serangan maha dahsyat yang akan menerjang mereka. Sama seperti proses terjadinya tsunami. Awalnya ada tanda-tanda seperti laut surut dan hewan-hewan air bergerak gelisah. Mereka mendengar gemuruh di dalam tanah yang siap mengutus air laut untuk meluluhkantakkan umat manusia. Namun, manusia sendiri tidak tahu apa-apa.


Itulah yang terjadi pada manusia-manusia di depan gerbang. Mereka kembali menghadap ke depan, berpikir bahwa pintu ini tidak sengaja terbuka. Atau mungkin dibuka karena rombongan besar akan segera melewati pintu ini begitu matahari terbit nanti. Lebih tepatnya, mereka abai akan tanda-tanda yang ada. Sama seperti manusia-manusia di tepi pantai yang menjadi korban tsunami.

__ADS_1


Tiga ekor burung gagak hitam terbang di angkasa sebelum kemudian menghilang ke arah yang berbeda. Lagi-lagi penjaga pintu itu tak peduli. Mereka benar-benar bodoh!


Sring


Ctakk


Dua buah shuriken atau pisau berbentuk bintang, senjata andalan para ninja itu, melesat cepat di udara dan akhirnya menancap tepat di kening penjaga bodoh tadi. Keduanya tak bisa menghindar. Jangankan menghindar, serangan itu bahkan tak dapat mereka lihat. Para ninja ini benar-benar lihai.


Tiga burung gagak hitam tadi hanyalah untuk mengalihkan perhatian. Namun nyatanya, tanpa burung itu pun, dua penjaga ini begitu mudah tumbang.


"Apa yang terjadi?" Seorang penjaga yang selesai patroli begitu terkejut saat melihat dua rekannya terbaring di tanah dengan darah mengucur dari keningnya. Pisau berbentuk bintang itu masih menancap di sana, menandakan adanya penyerang yang menumbangkan mereka.


Penjaga itu menekan tombol darurat pada sebuah alat kecil yang ada di tangannya, membuat alarm tanda bahaya segera menyala di seluruh kastil ini. Ratusan tukang pukul yang tadinya tengah tidur lelap di tempatnya masing-masing, segera bangun. Mereka segera mengelilingi kastil ini dengan berbagai senjata andalannya, ada yang membawa katana, pistol, nunchaku, tombak, palu godam bergerigi, dan berbagai senjata pemusnah lainnya. Jumlah mereka lebih dari seratus, membuat para ninja itu bersiap-siap.


NGIIIIIIING


Seketika terdengar bunyi melengking yang tidak tahu dari mana asalnya, membuat orang-orang menutup telinganya masing-masing. Konsentrasi mereka terpecah dan tidak menyadari adanya pergerakan dari balik padang ilalang yang terhampar luas di sekitar mereka.


"PENYUSUP! ADA PENYUSUP!!" Teriakan seseorang di menara kastil begitu terlambat. Dia memperingatkan teman-temannya saat jarak para ninja hanya tersisa sepuluh meter saja.


Tidak ada banyak waktu, beberapa dari mereka yang memiliki kemampuan refleks lebih baik, segera menundukkan badan, menghindari shuriken yang para ninja ini muntahkan. Namun, bagi para tukang pukul yang hanya bermodalkan otot saja, tidak tahu bagaimana harus merespon. Dan akhirnya mereka menjadi korban kedua orang-orang yang bergerak tanpa bayangan ini. Mereka menyusul dua orang penjaga pintu yang meregang nyawa lebih dulu.


Dan terjadi baku hantam lagi, sama seperti pertarungan yang Shun dan kawan-kawan lakukan di dalam sana. Pasukan khusus yang kakek Yamazaki kirimkan segera membantai siapa saja yang ada di hadapan mereka. Tak peduli tua muda, pria atau wanita, semua anggota kelompok ini harus dimusnahkan. Esok hari, geng Naga Hitam hanya tinggal nama. Jangan tanya di mana mereka, karena keberadaan orang-orang dengan tato naga berwarna gelap itu hanya akan ada di dalam memori saja. Tanpa jejak. Tanpa asa. Benar-benar musnah.


TRANG


BUK!


Suara pertikaian itu masih terus berlanjut. Tubuh-tubuh kumal itu mulai banyak yang tumbang, tergeletak di tanah bersama dengan luka mematikan yang bersarang di bagiam tubuh yang berbeda. Jangan tanya suara apa yang terdengar, teriakan dan deru napas terakhir orang-orang itu terdengar memilukan, membuat orang awam akan lari tunggang langgang. Bahkan mereka akan gemetar ketakutan saat itu juga dan tidak bisa bergerak kemanapun.


Para ninja itu masih berpesta pora, menikmati pertunjukan menakjubkan di hadapannya. Sudah cukup lama mereka tidak mendapat misi pembantaian seperti ini. Sejak Yamazaki Kenzo yang mengambil alih bisnis keluarga Yamazaki, tak ada pertumpahan darah besar-besaran seperti ini. Pria itu selalu bisa mengambil jalan tengah yang tidak menimbulkan perselisihan di antara dua pihak. Hampir tidak ada pertempuran bagi para ninja ini selama lima atau enam tahun ke belakang. Jadi, kesempatan kali ini mereka anggap sebagai momen langka yang harus dinikmati setiap detiknya.


Di saat yang sama, di dalam kastil nan megah itu, pertempuran masih berlangsung. Tuan Harada menghadap ke atas, menatap lampu kristal bercahaya yang berada tepat di tengah ruangan ini. Di bawahnya, Mone tak berpindah seinchi pun dari posisi awalnya melawan orang-orang Naga Hitam ini. Gadis 20 tahun itu berhasil menumbangkan puluhan orang yang menyerangnya.


Demi menghentikan aksi Black Diamond yang terkenal di dunia bawah tanah ini, cara ekstrim harus tuan Harada lakukan.


DOR!


Pria 55 tahun itu menembak rantai yang menggantung di langit-langit, membuat lampu kristal bersusun itu melorot jatuh dari tempatnya semula. Dengan ukurannya yang super besar, pasti akan membuat siapa saja yang tertimpa, meregang nyawa detik itu juga.


"MONE-CHAN!! AWAS!!" Teriakan Kaori menggema di ruangan tertutup ini, sepersekian detik setelah bunyi letupan senjata api terdengar. Dia menatap sekeliling, berpikir cepat tentang apa yang harus ia lakukan untuk menolong gadis mungil nan menggemaskan ini.


KLANG


"YUZUKI-CHAN!" Yoshiro membuang pedang di tangannya. Ia menarik satu musuh yang kini tengah menyerangnya. Dengan kekuatan penuh, dia mencengkeram lengan musuhnya dan melempar pria ini ke arah Mone. Yu yang menjadi penghalang di antara mereka, segera menundukkan badan serendah mungkin.


Pria itu terpelanting begitu saja, tubuhnya melayang di udara dengan kecepatan di atas rata-rata ke arah Mone berada.


BRUKK!


PRANGG!!!


Suara gaduh tak terhindarkan dari ruangan itu, membuat pertempuran ini berhenti seketika. Pecahan kristal kaca segera beterbangan ke berbagai arah, menancap pada apa saja yang ada di sekitarnya.

__ADS_1


Mone yang belum menyadari apa yang terjadi, menjadi tersadar saat sebuah pecahan kaya melewati sisi wajahnya. Ujung-ujungnya yang runcing menggores pipinya, membuat darah segar segera mengalir di wajah bulatnya yang chubby. Ya, Mone terselamatkan di detik akhir sebelum lampu kristal bersusun itu jatuh di lantai. Sebagai gantinya, pria yang tidak diketahui namanya menjadi penggantinya. Darah segar segera membanjiri seluruh tubuh pria malang itu, dari ujung kaki hingga ujung kepala. Mengenaskan.


"Daijoubu?" tanya Kaori yang kini berjongkok di dekat Mone. Dia memeriksa keadaan gadis ini sekilas, takut ada luka serius yang bersarang di tubuhnya.


(Kamu baik-baik saja?)


Mone mangangguk. Dia segera berdiri dan menyingkirkan pecahan kaca dari pakaian hitam yang ia kenakan. Matanya berkilat marah. Sisi monster di dalam dirinya menyeruak keluar. Dengan segera, dia mencabut senapan AK-47 yang ada di sisi badannya.


DOR DOR DOR


Rentetan suara tembakan segera menggema. Gadis mungil ini tidak peduli pada pandangan orang-orang di sekelilingnya. Dengan langkah mantap penuh percaya diri, dia menaiki tangga menuju keberadaan tuan Harada yang terduduk di atas kursi roda.


Di saat yang sama, Shun dan Yoshiro kembali disibukkan dengan puluhan musuh yang datang tiba-tiba. Mereka terpaksa harus melemparkan granat untuk menghalau kedatangan orang-orang ini. Sementara Yu, dia melindungi Mone jarak jauh. Orang yang membidik Mone dengan senapannya, segera Yu lumpuhkan.


Di atas sana, tuan Harada gemetar ketakutan. Dia melihat dengan mata kepalanya sendiri betapa ganas dan buasnya gadis yang kini tengah mendekat ke arahnya. Matanya berkilat tajam, siap mengambil nyawanya.


DOR


Dengan tangan gemetar, pria 55 tahun ini membidik Mone. Sayang sekali peluru yang melesat dari senapannya tak mengenai sasaran sama sekali. Langkah gadis itu masih terus berlanjut. Mata coklatnya berubah hitam pekat, layaknya berlian m hitam yang tersembunyi di dalam tanah selama ribuan tahun. Ya, dia benar-benar Si Black Diamond, monster dunia bawah tanah yang selalu menjadi mimpi buruk para mafia di Rusia. Mendengar kisahnya saja, membuat Harada bergidik ngeri. Dan sekarang, dia justru melihat dengan mata kepalanya sendiri. Black Diamond ini akan menjadi utusan malaikat pencabut nyawa, memisahkan jiwa dan raganya menjadi dua.


"PERGI!! MENJAUH DARIKU!!"


Tuan Harada membalik kursi roda miliknya. Dia berusaha kabur dari incaran Mone. Entah kenapa dia merasa begitu ketakutan seolah sedang berhadapan dengan monster paling menyeramkan di dunia ini. Tangannya yang licin tak mudah menggerakkan roda di samping tubuhnya. Benar-benar merepotkan.


Mone terus mengikuti pergerakan pria di kursi roda itu. Dia tidak menembaknya sama sekali, membiarkannya berada di puncak rasa takut yang tengah menderanya. Dia kabur melewati koridor panjang ini, disaksikan oleh orang-orang di bawah sana. Perlawanan mereka terhenti kala melihat pemimpin mereka tengah sibuk melarikan diri dari gadis mungil yang hanya memiliki tinggi badan 152 cm itu. Benar-benar keadaan yang diluar dugaan.


Waktu seolah berhenti berputar saat itu juga. Yoshiro, Yu, dan Shun terpana menatap iblis kecil itu memburu pengkhianat yang ingin kakek Yamazaki lenyapkan. Kekejamannya tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Mone sengaja membuat tuan Harada kelelahan, melewati koridor dengan kursi roda yang membawa tubuh lemahnya.


Keduanya tiba di ujung koridor ini. Jalan buntu. Tak ada tempat untuknya melarikan diri lagi, membuat Mone juga berhenti berjalan. Dia menatap pria ini tanpa ekspresi, membuat siapa saja mati kutu jika ada di posisi yang sama.


"Sudah puas, Harada-san?" suara lemah lembut itu seolah menghunjam tepat di dasar hati pria licik ini.


"Akan jadi kebanggan tersendiri bagiku untuk mencabut nyawamu, tapi mengingat bahwa kamu pernah membantu kakek selama bertahun-tahun, maka aku akan memberikan satu kesempatan untukmu. Silakan pilih caramu mengakhiri hidup!" Mone melemparkan belati dan sebuah pistol ke pangkuan pria ini. Dia berdiri dua meter darinya, tanpa takut pistol itu akan digunakan untuk menyerangnya. Itu tidak mungkin. Pria ini sudah kehabisan tenaga, sama sekali tidak akan bisa menyerangnya. Kalaupun itu terjadi, dia bisa menghindar dengan cepat.


"Aku bukan orang yang penyabar. Silakan berpikir dan aku akan menunggu beberapa detik untukmu."


Tuan Harada menatap dua buah senjata di pangkuannya. Dia menitikkan air mata untuk yang terakhir kali. Harga dirinya terluka mengingat betapa pengecutnya dia di depan seorang bocah ingusan ini. Pengkhianatannya pada kakek Yamazaki adalah sesuatu yang salah sejak awal. Ia tahu itu.


Dan kini, penyesalan itu sudah terlambat. Dia tidak bisa memutar waktu. Semuanya sudah terjadi.


SRETT


Belati warna hitam itu menembus perutnya sendiri. Tuan Harada melakukan seppuku atau yang lebih dikenal dengan istilah harakiri. Seppuku adalah suatu bentuk ritual bunuh diri yang dilakukan oleh samurai di Jepang dengan cara merobek perutnya sendiri dengan sebuah belati tajam untuk memulihkan nama baik. Hal itu sebagai suatu bentuk penyesalan setelah gagal saat melaksanakan tugas atau kesalahan untuk kepentingan rakyat. Seppuku dulu hanya dilakukan oleh samurai.


BRUKK


Tubuh pria itu limbung di lantai, membuat semua pengikutnya menundukkan kepala. Mereka berduka atas kepergian pemimpin geng Naga Hitam ini. Kelompok mereka benar-benar musnah. Ta ada lagi Naga Hitam hari ini, esok, atau nanti. Bersamaan dengan terbitnya matahari di ujung sana, lenyaplah pula sejarah panjang geng bawah tanah ini.


"Sayonara," bisik tuan Harada tepat sebelum nyawanya meninggalkan tubuhnya di dunia ini.


...****************...


Hwaaaa..... Adek Mone 🙌😍😍

__ADS_1


Gimana gimana? Puas enggak? Tulis komentar kalian di bawah yaa. Author tunggu. See you,


Hanazawa Easzy


__ADS_2