Gangster Boy

Gangster Boy
Gangster Boy : Pawang Serigala


__ADS_3

Mentari bersinar cerah. Udara hangat berembus menerbangkan tirai yang tergantung di belakang jendela. Satu dua dedaunan kering jatuh ke tanah kering di bawahnya.


"Sudah bangun, Istriku?" tanya Shun sambil meniup wajah istrinya yang masih tampak enggan untuk bangun. Sebuah selimut berwarna peach menutupi tubuh polosnya hingga ke dada, membiarkan bahunya terlihat dengan beberapa kissmark di sana. Dan tersangka utamanya tentu saja Sang Suami, Shun. Siapa lagi yang bisa membuat dokter wanita ini bertekuk lutut jika bukan pria tampan ini?


"Pergilah! Aku masih ingin tidur." Kaori mendorong wajah Shun yang hanya berjarak beberapa centimeter dari wajahnya sendiri. Ia kembali memejamkan mata, berharap bisa melanjutkan tidurnya lagi beberapa menit kedepan.


"Tidak bisa. Kamu harus segera bangun. Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat." Shun memainkan jemarinya di pipi Kaori, berharap wanita itu merasa terusik dan akhirnya beranjak dari ranjang king size mereka.


"Kamu pergi saja sendiri!" ketusnya sambil menarik selimut tebal itu menutupi kepalanya. Ia benar-benar lelah dan ingin istirahat total pagi ini.


"Baiklah kalau kamu tetap menolak untuk pergi." Shun berdiri dan membuka pintu kamar mereka lebar-lebar. Udara segar segera menyeruak masuk ke dalam ruangan ini. Suara gemericik air segera menyapa indera pendengaran Kaori yang masih memejamkan matanya.


Shun kembali ke belakang, menghampiri istrinya di balik selimut.


"Sudah waktunya mandi, Sayangku." Shun berusaha membujuk wanitanya sekali lagi.


Hening


Kaori bergeming, tak bergerak sama sekali. Ia pura-pura tuli dan mengabaikan Shun yang selalu memaksakan kehendaknya sendiri.


"Dasar pemalas!" ketus Shun dengan senyum iblis tergambar di wajahnya. "Jangan salahkan aku nanti. Kamu sendiri yang membuat semua ini terjadi. Bersiaplah."


Sret


Shun membopong istrinya yang terbalut selimut. Dia melangkah menuju pintu yang menghubungkan kamar mereka dengan private pool di luar sana.


BYUUURRR


Seonggok daging bernyawa yang tersembunyi di dalam selimut itu, kini jatuh ke dalam air kolam yang berwarna bening. Ya, Shun melemparkan istrinya ke kolam renang, lengkap dengan selimut yang membungkus tubuh wanita itu.


"Uhukk... uhukk," Kaori terbatuk-batuk sambil berusaha menyelamatkan diri. Ia berusaha melepaskan selimut yang mengurung tubuhnya dan segera menjejakkan kaki ke dasar kolam yang dilapisi batuan alam dengan motif bebatuan itu. Napasnya terengah-engah dengan hidung dan mata memerah. Entah berapa teguk air yang telah masuk melalui kerongkongannya, Kaori tidak sempat menghitungnya. Satu yang pasti, ia harus menyelamatkan dirinya lebih dulu.


"Uhukk... hukk.... APA KAMU GILA?!" teriak Kaori setelah berhasil menyeimbangkan kakinya untuk berdiri di dalam air. Ia menatap Shun di atas sana dengan pandangan membunuh. Suaminya itu justru sedang tersenyum sambil bersedekap. Ia tampak begitu bahagia sudah berhasil membangunkan istrinya. Benar-benar gila!


Bagaimana bisa seorang suami membangunkan istrinya yang tertidur dengan melemparnya ke dalam air? Tidak adakah cara yang lebih elegan untuk itu?


"Sudah bangun?" celoteh Shun sambil duduk di tepi kolam. Ia menjulurkan kakinya ke dalam air, menimbulkan riak tenang yang semakin membesar sebelum perlahan menghilang. "Aku sudah berbaik hati mengingatkanmu untuk mandi. Bahkan aku menggendongmu kemari agar tak perlu repot lagi untuk jalan kaki. Kenapa kamu marah? Apa salahku?" tanya Shun memasang wajah tanpa dosa di hadapan Kaori.


"Apa kamu berusaha membodohiku?" geram Kaori kesal. Ia semakin mendekat ke arah suaminya.


Sreett


Byurr


Kaori tiba-tiba menarik ujung kaki Shun, membuatnya terkejut dan berakhir dengan terjun ke dalam kolam dengan cara yang tidak biasa. Kepalanya terantuk tepi kolam, membuatnya gelagapan dan meminum air kolam tanpa terhitung jumlahnya, seperti yang terjadi pada Kaori beberapa menit yang lalu.


"Uhukk ... uhukk ...." Shun berdiri sempoyongan, sebelum akhirnya tenggelam lagi untuk kedua kalinya.


"Rasakan itu!" Kaori segera beranjak dari kolam, masuk ke dalam kamar mereka tanpa mempedulikan Shun yang menahan amarahnya. Dia mengeratkan rahangnya, membuat bunyi gemeletuk dari perpaduan gigi atas dan bawahnya. Dia sungguh tidak menyangka akan dikalahkan oleh istrinya. Sungguh dia harus berpikir matang-matang sebelum mengerjai Kaori, atau dia sendiri yang akan terkena imbasnya seperti sekarang.

__ADS_1


Matanya merah, pangkal bidungnya terasa pegal luar biasa akibat kemasukan air tanpa bisa ia cegah. Sepersekian detik yang menjadi penderitaannya itu karena kecerobohannya sendiri. Tidak seharusnya ia melempar Kaori ke dalam kolam.


Kaori segera masuk ke dalam kamar mandi guna membasuh badannya dengan air hangat. Kaori cukup sensitif sejak operasi pengangkatan rahim dulu. Dia akan mudah demam jika terlalu lama berenang. Dan udara tropis di Thailand ini yang terasa begitu hangat, membuat Kaori sedikit pusing. Ia tidak terbiasa dengan cuaca yang seperti ini dimana tiba-tiba bisa turun hujan kapan saja.


Krek krekk


Shun berusaha masuk ke dalam kamar mandi, tapi usahanya sia-sia. Kaori mengunci pintunya dari dalam, membuat Shun semakin kesal.


"Kaori-chan, buka pintunya!" pinta Shun dengan mengeratkan giginya, otot lehernya terlihat jelas, menandakan bahwa ia masih marah pada Sang Istri.


Tak ada jawaban dari dalam sana kecuali suara gemericik air dari shower. Sepertinya Kaori tidak mendengar perkataan Shun, membuatnya terus melanjutkan aktivitas pribadinya. Atau mungkin saja dia mendengarnya, tapi enggan menuruti perintah suaminya.


Shun mengangkat tangannya, siap mengetuk pintu di depannya agar Kaori membuka pintu, saat didengarnya suara ponsel berdering. Tangan Shun terhenti di udara. Dia mengurungkan niatnya dan berbalik menuju ranjang besar yang ada di ruangan ini.


Layar ponsel hitam miliknya menyala bersamaan dengan getaran yang terdengar menggelikan. Benda pipih itu bergerak perlahan, mendekati tepi nakas. Satu detik sebelum benda itu terjun bebas ke lantai, Shun lebih dulu menangkapnya. Keningnya berkerut demi melihat nama yang tertera di sana, Yamazaki Kenzo.


"Ada apa?" tanya Shun enggan. Dia sedang menikmati bulan madunya. Ini baru hari ke lima, masih ada sepuluh hari yang tersisa dalam rencana liburannya bersama Kaori. Ada begitu banyak tempat yang belum mereka kunjungi.


"Orang-orangku mengatakan bahwa 'dia' kabur ke Thailand. Jangkauan GPS yang aku tanamkan di tubuhnya sedikit sulit dibaca dari sini. Aku akan merepotkanmu lagi kali ini." Ken langsung mengucapkan perintahnya begitu Shun menjawab panggilan telepon darinya.


"Heih? Apa kamu pikir aku akan membantumu? Aku sudah menunda bulan madu demi mengurus 'orang itu'." Shun tidak mau menerima perintah Ken untuk mengawasi tawanannya yang kabur.


"Aku akan membiarkanmu menggunakan orang itu sebagai kelinci percobaan. Micro chip yang tertanam di tangannya, itu adalah inovasi terbaru dari Miracle. Aku akan kirimkan datanya lewat email. Aku harap itu tidak akan mengganggu liburan kalian. Sampai jumpa."


Tut tut tut


Ken memutuskan sepihak sambungan dua arah itu. Dia tidak menerima penolakan sama sekali, membuat Shun hanya bisa mengepalkan tangannya erat-erat.


"B*jingan tengik itu!!" Shun meninju tembok di depannya, menimbulkan bunyi yang membuat siapa saja terhenyak, termasuk Kaori yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk yang mengular di atas kepalanya.


"Ada apa?" tanya wanita tiga puluh tahun itu. Ia menaikkan sebelah alisnya, melihat kemarahan suaminya yang tidak biasa ini.


Bugh


Shun melempar ponselnya ke atas ranjang empuk di samping kanannya. Ia berjalan ke dalam kamar mandi tanpa menjawab pertanyaan Kaori. Suara guyuran air segera terdengar dari dalam sana, membuat Kaori mengerutkan kening cukup dalam.


'Apa yang terjadi? Siapa yang berani membuat serigala liar ini marah?' batin dokter cantik ini bertanya-tanya.


Ting


Terdengar bunyi notifikasi ponsel milik Shun, membuat layarnya menyala selama dua detik sebelum kembali padam. Kaori yang penasaran, segera memeriksa benda elektronik itu dengan seksama. Sebuah email masuk, dari akun milik seseorang di Miracle. Mereka adalah orang-orang yang bekerja di bawah kendali Yamazaki Kenzo, serigala liar lainnya yang bisa mengendalikan suaminya.


Kaori segera membuka email tersebut dan melihat kode unik yang terpampang di sana. Ia tidak begitu memahami dunia IT, membuatnya mengembuskan napas kasar. Ini bukan bidangnya sama sekali, mungkin ada baiknya dia menanyakan ini pada Aira. Ada urusan apa antara suami mereka ini?


Layar ponsel milik Kaori menunjukkan nama dan nomor telepon milik Aira. Kaori segera menekan ikon telepon, berharap segera mendapat jawaban atas berbagai pertanyaan di dalam kepalanya. Ia ingin tahu, siapa yang akan menjadi target mereka selanjutnya.


Panggilan Kaori sudah terhubung dengan ponsel milik Aira yang ada di Tokyo. Ia segera menyapanya dengan bahasa yang halus.


"Maaf, Nona. Nyonya Aira sedang sibuk dengan ketiga bayinya. Mereka sedang berjemur di taman belakang. Ada yang bisa saya bantu?" tanya salah satu asisten rumah tangga yang kebetulan tengah membereskan kamar pribadi puannya.

__ADS_1


"Bisakah aku berbicara padanya sekarang?" tanya Kaori di ujung telepon.


"Baiklah. Saya akan menyanpaikannnya pada beliau." Wanita empat puluh tahunan itu beranjak keluar dari kamar dan berjalan menuruni tangga dengan tergesa. Dengan langkag cepatnya, ia sudah sampai di dekat Aira beberapa detik kemudian.


"Maaf, Nyonya. Ada telepon untuk Anda."


Aira menolehkan kepalanya ke belakang dan mendapati salah satu asisten kepercayaannya di sana. Ia berdiri dua langkah di belakangnya sambil menundukkan kepala. Tangannya terulur, menyerahkan benda pipih di tangannya.


"Untukku?" tanya Aira memastikan. Ia menerima benda elektronik itu dan segera memeriksa siapa yang menghubunginya pagi-pagi begini. Yang pasti bukan Ken, karena pria itu baru saja menghilang dari pandangannya dua menit yang lalu. Mungkin dia masih ada di halaman rumah, bersiap masuk ke mobil yang akan membawanya ke perusahaan di pusat Kota.


'Dokter Kaori?' gumam Aira dalam hati. Ia tidak memiliki urusan dengan wanita ini.


"Ohayou, Kaori-san," sapa Aira setelah menempelkan benda pipih itu ke samping telinganya. Satu tangannya membenarkan penutup kepala Azami yang menutupi mata. Bayinya satu ini terlalu aktif bergerak di dalam box, seolah siap menari-nari di bawah hangatnya sinar mentari pagi.


(Selamat pagi)


"Aira, apa yang terjadi?" tanya Kaori to the point.


"Eh? Ada apa?" tanya Aira gagal paham dengan situasi yang ada. Bukankah dia yang seharusnya bertanya untuk apa Kaori menghubunginya lebih dulu?


Kaori menarik napasnya dalam-dalam sambil melirik pintu kamar mandi yang belum juga terbuka. Shun masih asik bermain air di dalam sana.


"Ken menghubungi suamiku barusan. Entah apa yang mereka bicarakan, tapi tampaknya Shun marah. Aku melihat ada satu email yang cukup aneh. Itu berisi kode atau semacamnya, perpaduan huruf dan angka yang tidak aku tahu. Apa Ken memerintahkan Shun untuk menyelidiki sesuatu?"


Aira tersenyum. Hatinya menghangat karena beberapa hal. Satu, Ken benar-benar menuruti perintahnya untuk melacak keberadaan tuan Harada. Dan yang kedua, kekhawatiran Kaori pada Shun menunjukkan bahwa dokter cantik itu sungguh-sungguh jatuh cinta pada pria yang sudah menjadi suaminya sejak dua minggu yang lalu itu. Aira merasa tenang karena satu serigala liar itu kembali mendapatkan pawangnya. Ia harus bersyukur karena hal ini. Jika Shun macam-macam, cukup konsultasikan pada pawangnya, maka semuanya beres.


"Nyonya Yamazaki, apa kamu masih di sana?" kejar Kaori karena Aira tak mengatakan apapun meski beberapa detik telah berlalu. Ia sengaja memanggilnya 'nyonya Yamazaki' untuk menegaskan posisi bahwa wanita Indonesia itu juga pengendali Ken. Dia tidak mungkin tidak tahu gerak-gerik dan rencana suaminya.


"Iya, aku masih di sini." Aira terkekeh geli mendapati Kaori yang biasanya selalu tenang, kini jadi gugup dan tak sabaran seperti sekarang. "Apa kamu sungguh ingin mendengarnya?" tanya Aira memastikan. Ia tahu latar belakang Kaori yang berhubungan dengan masalah ini.


"Ada apa? Apa ini terlalu rahasia dan aku tidak boleh tahu?" Nada bicara Kaori semakin terdengar khawatir.


"Bukan begitu. Aku hanya takut kamu akan mengingat masa lalumu jika mendengar misi satu ini." Aira beranjak pergi, menjauh dari anak-anaknya setelah memberikan isyarat pada Sakura untuk menjaga ketiga bayinya selama ia menelepon beberapa waktu kedepan.


Sakura menundukkan kepala, menyanggupi tugasnya. Aira segera menjauh, duduk di salah satu sudut taman dimana tidak ada siapapun di sekitarnya.


"Masa lalu?" Kaori mengerutkan keningnya, tidak mengerti kemana arah pembicaraan wanita yang sudah ia anggap sebagai sahabatnya ini.


"Ken ingin suamimu melacak keberadaan tawanan kami yang kabur. Aku sudah menanamkan microchip di punggung tangannya."


"Tawanan kalian?" tanya Kaori, tidak yakin dengan dugaannya.


"Ya. Mantan ayah mertuamu, Hayato Harada-san."


Deg!


...****************...


Kasus baru 🎉🎉

__ADS_1


See you,


Hanazawa Easzy


__ADS_2