Gangster Boy

Gangster Boy
Gangster Boy : Rumah Baru


__ADS_3

Ken menggendong Aira dengan paksa, keluar dari kamar anak-anak. Dia membawa wanita kesayangannya itu ke kamar utama rumah ini.



Hampir sama dengan kamar mereka saat di apartemen, warna gelap masih mendominasi ruangan ini. Namun, adanya cahaya lampu berwarna keemasan membuat ruang pribadi ini lebih terasa hangat.


Ken mendudukkan Aira di tepi ranjang dan membiarkan wanitanya melihat sekeliling. Ini adalah rumah yang ia persiapkan khusus sejak tahu istrinya tengah hamil enam bulan yang lalu.


Ya, Ken baru mengetahui kehamilan istrinya saat sudah berusia beberapa minggu, hampir dua bulan. Bahkan saat itu mereka masih bertengkar hebat. Ken menggigit bibirnya saat mengingat betapa kasar ia memperlakukan Aira saat itu, membuat hatinya berdenyut pelan, menyadari kesalahannya di masa lalu yang takkan terlupakan olehnya maupun oleh Aira sendiri. Karena itulah, sekarang Ken sangat ingin memanjakan istrinya, membuatnya bahagia sepanjang waktu sebagai penebusan dosanya yang amat besar kala itu.


"Ini kamar kita?" tanya Aira takjub. Ia memandang Ken dengan sorot mata senang, ragu, sekaligus tak percaya.


"Umm. Kamar kita. Rumah baru kita. Kamu suka?"


Aira mengangguk. "Su... suka." Aira terdiam beberapa detik. "Tapi bukankah ini berlebihan?"


"Apanya yang berlebihan? Kamu tidak menyukainya?"


"Bukan begitu. Kita masih bisa tinggal di apartemen seperti biasa, lagipula anak-anak masih terlalu kecil, mereka tidak masalah tinggal di sana sementara waktu," elak Aira.


"Justru karena masih terlalu kecil, jadi aku sengaja membawa mereka kemari." Ken duduk di samping Aira dan meraih lengan istrinya itu, membuat tubuh mereka tak lagi berjarak.


"Bukankah seharusnya kamu berterima kasih padaku? Apa semua ini tidak cukup membuatmu terkesan?" Ken menolehkan wajahnya, memaksa Aira menatapnya. Ia menahan dagu istrinya sambil menaik-turunkan sebelah alisnya, menantikan jawaban yang akan terucap dari bibir istrinya.


"Kamu terlalu berlebihan. Aku tidak suka," jawab Aira jujur. Ia mengalihkan pandangannya ke arah lain, lari dari dominasi suaminya dengan segala pesona yang akan membuat jantungnya berdetak kencang.


Ya, saat hanya berdua seperti sekarang, rasa-rasanya Ken akan memonopolinya dan entah kenapa Aira tidak bisa menolaknya. Satu-satunya cara adalah menjaga jarak aman selama masa nifasnya belum selesai.


"Apa semua ini pakaian milikmu?" tanya Aira sembari beranjak bangun, melepaskan kuncian Ken dengan paksa. Ia mengamati ruangan di sisi kiri ranjang besar tempatnya duduk semula.


Klik


Ken menyalakan lampu yang menyinari tempat yang khusus berisi keperluan pribadinya ini.



Sebuah ruangan dengan dekorasi yang terkesan klasik terpampang di hadapannya. Puluhan rak di sana berisi sepatu dan pakaian Ken, mulai dari kaus, kemeja, bahkan setelan jas yang ia gunakan saat bekerja. Sebuah sofa segi empat yang cukup besar ada di tengah ruangan, sebagai tempat duduk saat memakai sepatu.


"Hmm," jawab Ken bergumam. "Apa ini juga berlebihan menurutmu? Haruskah aku mengganti dekorasinya dengan yang lain? Katakan saja, besok aku akan membawa seseorang kemari dan merubahnya seperti kemauanmu," ungkap Ken, meraih jemari istrinya yang terasa dingin.


"Tidak perlu," jawab Aira cepat. Ia tidak ingin membuang waktu dan uang milik suaminya lagi. "Ini cocok denganmu," komentarnya lirih.


"Tapi tidak cocok denganmu?"


Aira diam, tak langsung menjawab pertanyaan suaminya. Kalau boleh jujur, ini memang tidak sesuai seleranya. Ken yang bagaikan anak sultan berada di kasta tertinggi status sosial di masyarakat, sedangkan ia sendiri? Mungkin ia ada di kasta terendah sejak kecil dan merangkak naik dengan kerja kerasnya sendiri, membuatnya bisa merasakan kehidupan yang lebih layak dengan membeli apartemen kecil di pinggiran ibukota.


Ya, kehidupannya saat itu biasa saja. Pergi pagi pulang petang untuk bekerja, bahkan tak jarang harus overtime di akhir bulan seperti saat kedua kalinya bertemu dengan Ken. Saat pria itu datang menanyakan ponselnya hampir tengah malam.


*overtime : kerja lembur


"Kamu melamun?" tanya Ken sembari mengibaskan tangannya di depan wajah Aira.


"Tidak ada. Aku hanya sedikit mengingat pertemuan kita dulu. Kehidupanku saat itu, sungguh berbeda 180° dibandingkan sekarang. Aku takut saat terbangun nanti, semua hanyalah mimpi," ungkap Aira sambil menggigit bibir bawahnya.

__ADS_1


"Apa yang kamu pikirkan? Kenapa jadi sedih seperti ini?" Ken menggerakkan tubuhnya dengan gesit, berdiri di depan Aira dan menundukkan sedikit badannya, menatap manik mata istrinya dalam-dalam. "Ini bukan mimpi. Ini semua nyata. Aku ingin membuatmu bahagia, itu saja. Lupakan semua yang pernah terjadi di masa lalu dan mulai kehidupan baru kita dengan anak-anak, hmm?" Ken menempelkan keningnya, membuat Aira tersenyum dan menganggukkan kepala.


"Terima kasih," ucap Aira dengan mata berkaca-kaca.


Ken segera meraih istrinya dalam pelukan, membiarkan bulir bening tanpa warna itu membasahi kemejanya.


"Sudah-sudah, aku masih punya kejutan untukmu." Ken mengurai pelukannya dan menarik Aira ke sisi lain ruangan.


"Kejutan? Untukku?" Aira mengerutkan keningnya, mengikuti arah langkah suaminya.


Cklekk


Pintu berwarna hitam di depan mereka terbuka, menampilkan ruangan lain yang sebelumnya tak tertangkap oleh indera penglihatan Aira.



"Anata no tame ni," ucap Ken, melepas genggaman tangannya, membiarkan Aira masuk ke ruangan yang tak kalah mewah dari lemari bersusun yang berisi pakaian Ken sebelumnya.


(Untukmu)


Arah pandang Aira langsung tertuju pada sepatu dan tas di tengah yang tampak begitu berkilau. Setidaknya ada tujuh bagian lemari di ruangan ini. Ia mendekat ke arah kanan ruangan pakaian ini dimana ada beberapa koper yang tersimpan rapi di bawah deretan baju hangat lengan panjang berbagai warna. Di atasnya, ada beberapa kotak yang entah apa isinya, Aira tidak tahu dan tidak ingin tahu. Ia tidak bisa menjangkaunya, biarlah.


Langkahnya berlanjut, mengusuri ruangan setengah lingkaran ini, memegang beberapa dress yang ada di hadapannya dengan tatapan tak percaya. Pakaian disini lebih banyak dan sepertinya lebih mewah dari ruang pakaian milik Ken sebelumnya.


Meski tidak tahu berapa harga keseluruhannya, tapi Aira yakin Ken menghabiskan cukup banyak uang untuk memenuhi ruangan ini dengan segala perlengkapan dan aksesoris berbau wanita.


"Kamu suka?" tanya Ken saat Aira kembali ke sisinya.


"Syukurlah," ucap Ken lega.


"Tapi, kapan kamu menyiapkan ini semua?"


Klik


"Semua siap dalam satu malam." Ken menjawabnya sambil menjentikkan jari, seolah semua adalah magic.


Hal itu membuat Aira tertawa. Ia memeluk Ken dengan erat.


"Terima kasih. Aku tidak tahu bagaimana harus membalas semua kebaikanmu ini."


Cup


Tiba-tiba Ken mengurai pelukan Aira dan mencium bibir istrinya sekilas, membuat mata wanita itu terbelalak.


Glek


Aira terpaksa menelan salivanya dengan paksa, terkejut dengan sikap agresif suaminya yang sempat tersembunyi dengan baik beberapa saat yang lalu. Bagaimana mungkin ia bisa lupa dengan sikap posesif suaminya ini? Ia terlalu bahagia dengan kejutan ini sampai melupakan 'bahaya' yang mengintainya.


Klap


Aira membekap mulutnya sendiri, membuat ciuman Ken mendarat di punggung tangannya. Hal itu tentu saja membuat mata Ken yang semula tertutup, kini terbuka lebar.


"Aku lapar." Aira menghindar dari suaminya, segera keluar dari ruangan ini dan duduk di kursi yang ada di dekat pintu dengan jantung berdetak cepat. Ia mengembuskan napas dengan mulutnya, berharap perasaannya bisa kembali tenang. Ia harus bisa menahan keinginan suaminya, atau serigala lapar itu akan bergerak semakin jauh.

__ADS_1


Ken mengepalkan tangannya dengan mata terpejam, menahan gejolak hasrat yang mulai menguasainya. Ia harus bisa mengendalikan dirinya, setidaknya sampai lima minggu ke depan.


'ARGHHH!!' geram Ken dalam hati. Ia hanya bisa meninju udara kosong di depannya, meluapkan emosinya yang tertahan. Ia harus bersabar, semua itu demi kebaikan istrinya.


Ken keluar dari ruangan itu beberapa detik berikutnya sambil tersenyum. Ia sudah bisa mengendalikan serigala liar di dalam dirinya.


"Maafkan aku," ucap Ken sembari mengacak puncak kepala istrinya, membuat beberapa helai rambutnya beterbangan.


"Hmm," gumam Aira lirih.


"Ayo makan. Kamu pasti menyukainya."


Ken membuka tudung saji yang menutupi makanan buatannya beberapa saat lalu.



Sebuah piring berisi steak ayam bumbu lada hitam tersaji di hadapannya, lengkap dengan potongan brokoli, wortel dan jagung yang direbus sesaat. Ada juga beberapa potong kentang goreng sebagai pelengkap karbohidratnya.



Di piring yang lain, ada yakiniku dengan brokoli dan mie yang terlihat menggugah selera. Semangkuk kecil nasi menyertai kedua hidangan kaya gizi itu.


*Yakiniku adalah istilah bahasa Jepang untuk daging yang dipanggang atau dibakar di atas api. Dalam arti luas, yakiniku juga mencakup berbagai masakan daging sapi, domba, ayam, atau jeroan yang dipanggang, seperti bistik. Teknik memasak ini terkenal dengan sebutan Japanesse barbeque.


"Aku harus menghabiskan makanan sebanyak ini sendirian?" tanya Aira menatap tak percaya pada hidangan di depannya, dimana ada dua porsi untuk setiap masakannya.


"Kamu harus memenuhi kebutuhan gizi ketiga putraku, itu artinya ada empat perut yang harus kamu kenyangkan. Ini cukup untukmu," canda Ken dengan smirk di wajahnya.


"Hah? Empat perut?" Aira tampak tertegun, tidak sanggup jika harus memakan dua mangkuk nasi, dua piring steak ayam dan dua piring yakiniku yang terlihat seperti mie ayam di matanya. Ya, hidangan satu ini memang terlihat mirip dengan makanan sejuta umat yang banyak ditemui di Indonesia. Meski itu semua makanan favoritnya, bukan berarti ia bisa menghabiskannya.


"Aku hanya bercanda. Ayo makan," ajak Ken tanpa menghapus senyum dari bibirnya. Ia mengambil pisau dan garpu, mulai mengiris potongan dada ayam di depannya.


"Ken, sepertinya kamu melupakan sesuatu."


"Apa?" tanya Ken sembari mengembalikan piring milik Aira, dengan daging yang sudah terpotong tipis-tipis. Ia mulai memotong steak miliknya.


"Ada sambal?"


"HAH?"


...****************...


Astaga... Ngakak aku Aira nyari sambal 😆😆😆


Lidah orang Indonesia mah gitu, udah banyak makanan di depannya, masih aja nyari yang ngga ada. Ngga lengkap rasanya kalo ngga makan sambal. Udah ada sambal, nyari kecap. Udah ada sambal sama kecap, nyari kerupuk 😅😂😂


Ada yang mau ngasih sambal, kecap atau kerupuk buat Aira? Yuk cap cuss kirim aja langsung, hahahaaa 😅😃😃


Dah ah, makin halu makin laper aja. Author ngga tanggung jawab yaa kalo kalian jadi laper abis liat pict di atas 🤗


Author tunggu like n komen kalian yaa. See you,


Hanazawa Easzy 😘

__ADS_1


__ADS_2