
Shun sedang menjalankan misi mencari keberadaan tuan Harada di Thailand. Dia meninggalkan Kaori di Zen Zen Massage and Spa. Siapa sangka, ternyata tempat itu jualah yang digunakan oleh tuan Harada untuk bersembunyi. Shun mencari istrinya di seluruh penjuru panti pijat itu, namun sayang tak ada jejak keberadaan Kaori sama sekali. Sepertinya mereka sengaja melakukan ini, menjebak Shun ke dalam perangkap dan menahan istrinya.
Shun terus mencari, dengan dibantu oleh dua orang polisi dan anjing pelacak andalan mereka. Para pengawal bayangan yang bertugas membantunya, kini sibuk melawan orang-orang berpakaian ninja yang sebelumnya menghadang Shun. Sebagian dari mereka mengatur pusat perbelanjaan ini agar tetap kondusif tanpa mengganggu proses pencarian dokter cantik itu.
Di sebuah ruangan yang gelap gulita, tampak Kaori dengan kaki dan tangan terikat. Ia membuka matanya dan merasakan tubuhnya tidak bisa ia gerakkan. Matanya mengerjap beberapa kali, mencoba menangkap sebanyak mungkin cahaya melalui retina matanya.
Kaori menggelengkan kepalanya kuat-kuat, menepis rasa kantuk yang masih menderanya. Matanya masih terasa berat seolah ingin kembali terpejam. Tapi dia sadar bahwa keadaannya tidak baik-baik saja sekarang. Kemungkinan besar dia diculik.
Ckiitt
Kaori menggigit bibir bawahnya sampai berdarah. Bau amis segera terasa di mulutnya. Hanya itu satu-satunya cara agar kesadarannya pulih total dan mengalahkan pengaruh aromaterapi yang membuatnya terlelap beberapa saat yang lalu.
Lengang. Tak ada suara apapun yang tertangkap oleh indera pendengarannya. Pastilah dia ada di tempat yang cukup jauh dari kebisingan. Namun ada aroma lain yang tetangkap oleh hidungnya, seperti bau aspal, kapur, semen, atau semacamnya. Selain itu, tempatnya berada saat ini begitu berdebu. Kemungkinan terbesar adalah dia berada di lokasi konstruksi atau semacamnya. Kaori berusaha mempertajam telinganya, berharap bisa mendengar suara atau bunyi lainnya.
Samar-samar terdengar suara langkah kaki mendekat, membuat Kaori kembali memejamkan matanya. Ia pura-pura masih tertidur dan akan mengamati orang-orang yang menculiknya. Dokter cantik itu berpikir, penculikannya ini pasti ada hubungannya dengan tuan Harada. Namun, sebelum memastikan kondisinya aman, Kaori tidak akan melawan. Dengan kaki dan tangan yang terikat seperti sekarang, ia tidak bisa membuat perlawanan berarti.
Cklek
Terdengar suara handle pintu terbuka, membuat sinar kekuningan segera menyergap ruangan gelap gulita ini untuk sesaat. Kaori sedikit membuka matanya, berharap bisa melihat penampilan Sang Penculik. Sayang sekali, pria itu datang dari arah cahaya, jadi wajahnya sama sekali tak bisa ia lihat. Dari postur tubuhnya, dia pasti seorang bodyguard atau mungkin tukang pukul. Tingginya sekitar 180 cm dengan tubuh tegap.
"Merepotkan saja!"
Ucapan pria itu membuat Kaori terhenyak. Ya, pria itu berbicara dengan bahasa Jepang. Kemungkinan besar, dia berasal dari negara yang sama dengannya. Dugaannya yang mengarah pada keterlibatan tuan Harada semakin kuat. Dia harus mencari petunjuk sebanyak mungkin.
__ADS_1
Pria yang tak diketahui identitasnya itu bergerak ke salah satu sisi ruangan, mengambil troli barang yang usang dan berdebu. Kaori memperhatikannya dengan jeli. Sepertinya orang itu akan membawanya ke tempat lain.
Kaori meraba pergelangan tangannya sendiri yang tertahan di punggung. Ia mencari jam tangan khusus pemberian Shun sebelum mereka berangkat berlibur ke Thailand. Dia bisa menyalakan sinyal darurat yang ada di sana. Tapi, Kaori harus menelan kekecewaannya saat tak mendapati arloji miliknya di manapun. Dia tidak lagi memakai jam pemberian suaminya itu. Sepertinya para penculik itu melepas semua aksesoris yang dipakainya. Gelang, cincin, jam tangan, bahkan kalungnya pun sudah raib. Sepertinya mereka curiga ada GPS di perhiasan itu. Yang tersisa hanya sepasang anting di telinganya.
DUK
BRUKK
Detik berikutnya, pria itu kembali. Dia mengangkat Kaori dan memindahkannya ke atas troli, membuat tubuh ramping itu seolah remuk redam. Pria ini memperlakukannya seperti sebuah barang, memindahkannya dengan kasar. Ia tak peduli pada kepala tawanannya yang terantuk besi di pinggir alat pengangkut ini. Kaori hanya bisa mengepalkan tangannya, menahan rasa sakit yang membuat kepalanya pening seketika.
Tampak pria itu mengambil ponsel dari saku bajunya dan menghubungi seseorang. Di lehernya tampak tato naga hitam, membuat jantung Kaori berdegup dua kali lebih kencang. Dugaannya benar, orang ini salah satu anggota geng Naga Hitam.
"Siapkan mobilnya. Aku keluar sekarang." Pria itu berbincang dengan sesorang di telepon.
"Apa? Anjing pelacak? Bodoh! Tahan mereka. Aku akan pergi lewat pintu belakang."
Pria itu tampak panik setelah menutup sambungan teleponnya, membuat Kaori meraba-raba apa yang terjadi. Mungkinkah anjing pelacak itu tengah mencarinya? Apakah Shun bisa menemukannya tanpa GPS? Atau dia memiliki petunjuk lainnya?
Detik berikutnya, tubuh Kaori terasa berguncang, melewati jalanan kasar yang membuat tubuhnya semakin tidak nyaman. Penculik ini benar-benar panik. Kaori kembali membuka sedikit matanya dan menangkap sebuah mobil box berwarna kelabu tengah menunggu mereka. Seorang pria keluar dari balik kemudi dan mendekat ke arah mereka.
BRUKK
Kali ini tubuh Kaori tergeletak di bagian belakang mobil ini, di antara tumpukan pakaian bekas yang ada. Meski terasa tidak nyaman, setidaknya terasa sedikit empuk. Detik berikutnya dua orang itu memasukkan beberapa keranjang pakaian bekas untuk menyembunyikan tubuh sanderanya. Kaori yang tak bisa bergerak dengan leluasa, terpaksa merelakan tubuhnya tertimbun pakaian berbagai jenis dan warna ini.
__ADS_1
BAMM
Krakk kraakk
Pintu besi itu tertutup sempurna, membuat Kaori kembali terjebak dalam kegelapan. Tampaknya mereka juga mengunci bagian belakang pintu ini, mencegah agar muatannya tidak tercecer di jalan.
Lagi-lagi Kaori menggelengkan kepalanya. Ia mengenyahkan segala prasangka buruk yang tiba-tiba menghinggapi pemikirannya. Dia harus bisa berpikir jernih untuk menyelamatkan diri. Dengan susah payah, dokter cantik itu mencoba duduk dan menyingkirkan pakaian-pakaian itu dari tubuhnya. Ia menatap sekeliling, ada lubang di sisi kotak tempatnya berada, membuat cahaya masuk melalui celah berukuran 4 x 5 cm itu.
Kaori mengambil napas dalam-dalam. Ia harus bisa beroikir dengan kepala dingin, mengamati jalanan di yang akan mereka lalui nantinya. Dengan begitu, dia bisa mencari cara untuk lolos dari para penculiknya ini.
Sebuah logam mengilat tertangkap oleh indera penglihatan Kaori. Itu sebuah aksesoris pakaian yang bisa ia gunakan untuk memotong tali yang mengikat tangannya. Dengan susah payah Kaori mendekat ke arah logam itu dan memotong tali di pergelangan tangannya. Setelah tangannya terbebas, Kaori segera melepas ikatan kakinya dan mendekat ke arah lubang di salah satu sisi box ini.
Tampak mobil yang ia tumpangi bergerak menjauh dari lokasi kontruksi yang terbengkalai ini. Samar-samar ia melihat sebuah mobil polisi terparkir di depan bangunan gudang. Ia juga melihat Shun ada di sana, namun tak ada yang bisa ia lakukan sekarang. Jarak mereka terlalu jauh, bahkan meskipun Kaori menggedor-gedor pintu mobil ini sekalipun, Shun tak akan bisa mendengarnya.
Kaori berpikir cepat. Ia segera melepas salah satu anting di telinga kirinya dan melemparnya melalui lubang kecil di depannya. Hanya itu satu-satunya cara agar Shun bisa menemukannya. Kaori menyisakan satu antingnya agar bisa ia buang untuk meninggalkan jejak lagi nantinya. Semoga Shun atau anjing pelacak itu bisa menemukan tanda yang ia tinggalkan.
Semoga saja.
...****************...
Semoga semuanya baik-baik saja. Kaori emang cerdas 😍
Hanazawa Easzy
__ADS_1