
Kejadian tak mengenakkan kembali menimpa Aira. Ken bertindak 'luar biasa' padanya dan membuat wanita 25 tahun itu memilih bungkam setelahnya. Tidak ada satu kata pun terlontar dari mulutnya. Dia tidak ingin berbicara apapun kepada siapapun.
Aira merentangkan alas sholatnya dan mulai khusyuk menjalani ritual ibadahnya. Ken masuk ke kamar mandi dan mulai menyucikan diri seperti yang dilakukan istrinya.
Ia menyalakan shower yang tergantung di dinding dan mulai membasuh seluruh tubuhnya dengan air hangat. Ia mengusap wajahnya dengan kasar mengingat apa yang terjadi sebelumnya. Kenapa ia bisa lepas kendali dan melampiaskan amarahnya pada Aira?
FLASHBACK
"Kamu ingin bermain kasar? Baiklah, aku mengabulkannya dengan senang hati, sayang." bisik Ken dengan smirk di wajah tampannya. Ia mulai menghujani wajah istrinya dengan kecupan di berbagai sisi.
Aira memalingkan wajahnya ke samping dan menutup matanya. Ia tidak ingin melihat Ken yang sedang diselimuti amarah. Perlahan sebulir air mata mengalir dari kelopak bulat indera penglihatannya. Ken yang seperti ini benar-benar sama seperti pria yang ia temui tujuh bulan lalu. Padahal semalam ia baru membahasnya dengan ibu, bagaimana Ken yang kasar dan pemarah berubah menjadi pria yang lembut dan manja.
Ken menghentikan aktivitasnya melihat keengganan yang ditunjukkan istrinya. Jiwa obsesifnya muncul, menginginkan Aira menuruti kemauannya. Tangan Ken dengan kasar menyingkirkan helaian rambut yang menutupi bahu Aira.
Aira menahan nafas mendapat serangan bertubi-tubi dari Ken. Ia mengepalkan tangannya di sisi kepala. Tidak bisa bergerak sama sekali karena Ken mengunci pergelangan tangannya dengan erat. Ia terus menutup mulut dan memejamkan mata hingga Ken selesai dengan urusannya.
"Kenapa kamu diam saja, sayang?" tanya Ken setelah memaksa Aira menatapnya. Tangannya meraih dagu mungil di depannya, kembali menekan kedua pipi chubby itu dengan keras.
Hening
Aira benar-benar tidak ingin berbicara dengan Ken sekarang. Ia sedih, marah, kesal, dan segala perasaan tidak menyenangkan lainnya. Ken yang ia cintai tetaplah seorang monster yang tak terkendali.
"Apa kamu membenciku?" tanya Ken kemudian namun masih tetap tak mendapat jawaban. Hanya bulir air mata yang mewakili betapa perasaan Aira tersakiti karena perlakuan suaminya.
"Kenapa menangis sayang?" Ken melepaskan cengkeramannya di pipi Aira dan menghapus kelopak mata istrinya yang basah. Kali ini ia memperlakukannya dengan sedikit lembut, namun tetap saja Aira enggan membuka matanya dan menatap Ken.
Ia kembali memalingkan wajah, menjauh dari jangkauan suaminya. Ken merasa terluka dan marah di saat yang bersamaan karena Aira tak merespon ucapan ataupun perlakuannya. Ia kembali menghujani Aira dengan perlakuan posesifnya, meninggalkan tanda di beberapa bagian tubuh istrinya.
Krukk krukk
Perut Aira berbunyi pertanda lapar, membuat Ken menghentikan aktivitasnya. Ia menatap wajah Aira yang masih menghadap ke samping dengan tampilan menyedihkan.
"Kamu lapar sayang?" Ken mengelus perut rata istrinya.
Deg
Sebuah palu godam terasa menghantam jantungnya detik itu juga, membuatnya melepaskan diri dari pergulatan panas yang terjadi beberapa saat sebelumnya. Ia tersungkur ke sisi Aira dan mengerjapkan matanya beberapa kali. Kesadarannya kembali, membuat logikanya bisa berpikir dengan jelas apa yang telah ia lakukan pada istrinya. Wanita yang tengah mengandung buah hatinya.
'Apa yang aku lakukan? Kenapa aku begitu kasar padanya?'
Aira yang mendapati perubahan sikap Ken yang tak lagi mengurungnya, memilih berbalik memunggungi suaminya dan meraih selimut guna menutupi tubuhnya sampai ke leher. Ia malu dan marah di saat yang bersamaan.
"Ai-chan, gomen..." ucap Ken lirih. Jemarinya meraih helai rambut istrinya yang tergeletak di atas bantal.
(maaf)
Aira menundukkan kepalanya menjauh dari jangkauan Ken, membuat pria itu menarik kembali tangannya yang terulur. Ia mengurungkan niatnya membelai puncak kepala istrinya.
"Ai-chan..." panggil Ken dengan penuh rasa bersalah.
Aira beranjak bangun setelah meraih ponselnya. Ia masuk ke kamar mandi dan mengirimkan pesan pada Minami.
Minami, tolong antarkan pakaian dan alat sholat untukku.
__ADS_1
FLASHBACK END
Ken keluar dari kamar mandi 30 menit kemudian. Ia melihat Aira tengah mengeringkan rambut panjangnya menggunakan hairdryer yang disediakan di penginapan & spa resort ini.
"Maafkan aku." ucap Ken merasa bersalah.
Aira melirik suaminya sekilas dari pantulan cermin di depannya.
"Apa kamu terluka? Bagian mana yang sakit?" Ken bersimpuh di sebelah kanan Aira, menengadahkan kepalanya menatap wajah istrinya. Ia benar-benar menyesal. Penyesalan yang sangat terlambat.
Aira memejamkan matanya, enggan menjawab pertanyaan itu. Tapi bagaimana pun ia juga bersalah pada Ken, ia pergi tanpa berpamitan yang membuat suaminya naik pitam. Jika saja ia meminta izin lebih dulu, mungkin tidak akan seperti ini kejadiannya.
"Penuhi kewajibanmu." ucap Aira sambil menunjuk alas sholat yang sebelumnya ia gunakan.
"Maafkan ayah." sesal Ken.
Cup
Ken mencium perut rata Aira yang tertutup sweater berwarna putih. Wangi lavender tercium di inderanya membuat Ken tersenyum, aroma khas istrinya.
*****
Sebuah mobil hitam keluaran perusahaan ternama di Jepang membelah jalanan di pusat kota Tokyo. Membawa penumpangnya melesat dari dataran tinggi bersalju ke arah pusat kota yang sedikit hangat. Tampak Kosuke di balik kemudi dan Minami duduk di kursi sebelahnya. Di belakang ada Ken dan Aira yang duduk berjauhan. Yah, sepertinya hubungan mereka tidak dalam keadaan baik sekarang.
Aira menatap keluar jendela tanpa ekspresi. Ia membiarkan netranya memandang apapun itu di luar sana, asalkan tidak memandang orang yang berbagi udara yang sama dengannya. Ya, ia marah pada Ken. Marah semarah-marahnya.
Bagaimana tidak? Beberapa jam lalu dia merangsek masuk dan mengusir ibunya dengan paksa. Ibunya, ibu kandungnya. Belum lagi sikap kasarnya yang lagi-lagi mengambil haknya sebagai suami dengan paksa, membuat Aira malas sekedar menatap wajahnya.
Kosuke dan Minami saling melempar pandang, tidak tahu bagaimana caranya untuk mendamaikan keduanya. Atau lebih tepatnya meredam amarah Aira, karena Ken tampaknya tidak marah sama sekali. Ia memasang wajah innocent andalannya seperti yang sudah-sudah.
"Nona, apa Anda menginginkan sesuatu untuk sarapan?" tanya Minami memecah keheningan yang mencekam sedari tadi. Seolah-olah mereka sedang syuting film horor saja.
"Pergi ke restoran di sebelah kantor saja." jawab Ken mendahului, padahal Aira baru saja ingin menjawab dia tidak lapar.
"Baik." jawab Minami pada akhirnya. Ia menatap Kosuke, meminta bantuan agar suaminya itu ikut berbicara. Tentang apapun itu asalkan bisa mencairkan suasana.
"Ah, pekan depan tuan Yamaken libur. Dia ingin mengajak Tuan muda dan Nona melihat film terbarunya di bioskop." ucap Kosuke ragu, ia tidak yakin Aira tertarik dengan hal itu.
"Istriku tidak suka ada di keramaian. Pastikan booking satu bioskop sebelum kami datang." lagi-lagi Ken yang berbicara, membuat Aira semakin tak suka.
Hening
Perjalanan berlanjut tanpa percakapan sampai mereka berhenti di restoran yang dimaksud Ken. Mereka berempat memasuki bangunan dua lantai itu dipimpin oleh Ken. Ia menggandeng jemari istrinya dengan erat, seolah tak mengizinkannya pergi sejengkal pun darinya.
"Nona, apa yang ingin Anda makan untuk sarapan?" tanya Minami yang masih tetap berdiri di samping meja. Sementara Ken sudah menarik Aira untuk duduk di sisinya. Pria itu tengah asik mengamati jemari istrinya yang ia letakkan di atas meja. Tentu tanpa melepas tautan mereka.
"Duduklah." pinta Aira pada kedua asistennya.
Minami dan Kosuke saling pandang. Mereka tidak nyaman makan satu meja dengan Ken, tapi Aira mengisyaratkan dengan tangannya. Meminta pasutri itu duduk di sisi lain meja.
"Terima kasih, Nona." ucap Minami dengan canggung, sementara Kosuke menunduk dalam sebagai bentuk hormatnya.
Seorang pramusaji dengan apron di pinggang mendekat untuk mencatat pesanan ke empat pelanggan pertama di restoran ini. Ya, ini masih terlalu pagi. Belum ada orang lain yang datang.
__ADS_1
Di Indonesia sendiri menu sarapan pagi umumnya adalah olahan nasi seperti nasi uduk, nasi kuning, bubur ayam dan lontong sayur. Tapi sedikit berbeda di negeri matahari terbit ini. Meskipun nasi menjadi makanan pokok mereka sama seperti di Indonesia, namun lauk pelengkapnya yang menjadikannya berbeda.
Tak lama kemudian, meja di hadapan mereka penuh dengan makanan yang Ken pesan. Lagi-lagi ia memutuskan sendiri tanpa menanyakan apa yang akan istrinya makan. Tampak onigiri (nasi kepal), tamagoyaki (telur gulung), yakitori (sate), sup miso, ubi madu dan beberapa butir buah.
"Silahkan nikmati makanannya." ucap pramusaji sebelum pergi.
Mungkin bagi kebanyakan orang, hidangan berbagai macam warna akan semakin menggugah selera makannya. Tapi tidak untuk Aira, ia tidak berselera sama sekali. Selain karena segelas susu coklat yang telah Minami berikan padanya sebelum pergi, ia juga tidak lapar. Rasanya sudah kenyang dengan segala perlakuan Ken yang terus saja mendominasi hidupnya. Bahkan sampai menjawab pertanyaan yang ditujukan untuknya saat di perjalanan tadi. Menyebalkan.
"Itadakimasu.." ucap Ken tanpa rasa bersalah. Ia mulai mengambil sepotong tamagoyaki dengan sumpitnya.
(Selamat makan)
Tamagoyaki merupakan makanan khas Jepang berupa telur dadar yang kemudian digulung. Olahan telur memang bergizi, terutama bagian kuningnya mengandung kolin yang merupakan vitamin penting untuk pembentukan sel-sel memori di otak. Selain itu, telur juga mengandung protein tinggi, zat besi, folat dan vitamin A yang semuanya merupakan nutrisi penting untuk pertumbuhan, perbaikan dan perkembangan sel. Salah satu makanan yang baik untuk ibu hamil.
"Buka mulutmu." pinta Ken pada Aira. Ia berniat menyuapi istrinya sambil memamerkan senyum di bibirnya.
"Aku tidak suka telur." jawab Aira mengambil mangkuk berisi sup di depannya. Tak menghiraukan perlakuan suaminya. Kosuke dan Minami menahan senyum melihat atasannya diabaikan oleh Aira
"Kalau begitu, coba ini." Ken mengulurkan yakitori pada Aira.
"Aku bisa ambil sendiri." jawab Aira seraya mengambil sate ayam yang dipadu dengan sayuran dan jamur dari atas piring. Lagi-lagi mengabaikan Ken.
Minami terpaksa menutup mulutnya dengan tangan sambil memalingkan wajah, takut Ken mengetahui jika ia tengah menertawakannya sekarang.
Hap hap
Ken menggigit makanan yang ada di tangannya dengan kesal dan malu. Aira sengaja menghindarinya, ia tahu itu.
Mereka melanjutkan makan dalam diam. Fokus dengan hidangan yang mereka nikmati sampai kemudian...
"Nona.." panggil Minami dengan wajah tegang seolah melihat hantu di siang bolong.
"Hmm?" jawab Aira bergumam.
"Selamat pagi Yamazaki-san..." ucap seorang pria yang kini berdiri di dekat meja segi empat itu.
'Suara ini...'
"Selamat pagi nyonya Yamazaki, Khumaira Latif..." sapa pria itu.
Deg
Matanya membulat sempurna saat melihat pemilik suara itu, seseorang yang pernah sangat berarti dalam hidupnya. Perasaannya kacau seketika, membuat jantungnya seolah berhenti berdetak detik itu juga.
*****
Siapa kira-kira yang dateng? Yuk main tebak-tebakan 😄🤗🤗
Hontou ni arigatou untuk semua like, vote, komen, share, favorit dan segala bentuk dukungan readers atas karya amatiran ini. Semoga kalian suka 🤗
See you later,
__ADS_1
Hanazawa easzy 💜