
Aira marah pada Ken yang sudah membodohinya. Pria itu tidak benar-benar pingsan. Ia hanya tertidur karena beberapa malam sebelumnya tidak bisa istirahat dengan baik.
Sebaliknya, Ken justru menagih janji Aira yakni untuk bisa membuatkan adik perempuan untuk putri mereka, Ayame.
"Masa nifasku belum selesai." Aira melepaskan pelukan suaminya dengan hati-hati, takut menyinggung perasaannya.
Ken terhenyak di tempatnya berdiri. Tubuhnya berubah kaku detik itu juga. Jawaban Aira mematahkan hasrat Ken yang bersiap melahap makan malam ekslusifnya ini.
"Maaf," lirih Aira sembari melangkah menjauhi Ken. Ia berjongkok di depan lemari penyimpanan dan mengambil beberapa buah untuk suaminya.
Ken memilih bungkam, beranjak ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Ia juga mencuci punggung tangannya dari noda darah akibat jarum infus yang tercerabut dengan paksa sebelumnya.
'Aku tidak pernah merasa begitu kesal seperti sekarang!' Ken mengepalkan tangannya, berbicara dalam hati kecilnya sambil menatap pantulan wajahnya di depan cermin. Ia tidak tahu sejak kapan Aira menjadi penyebab emosinya naik turun seperti ini. Dulu, jangankan terpengaruh oleh orang lain, justru ia yang akan mempengaruhi mereka.
'Apa aku jadi bodoh setelah jatuh cinta padanya?' geramnya lagi.
Swushh swuushh
Ken kembali membasuh wajahnya, berharap pikirannya bisa sedikit lebih segar saat ini. Ia harus bisa mengembalikan logikanya, tidak boleh membuatnya tidak nyaman, apalagi sampai membuatnya terluka. Tidak! Itu tidak boleh terjadi sama sekali.
Ken kembali menatap pantulan wajah basahnya di cermin. Ia sudah menjadi seorang ayah sekarang, bahkan bukan ayah biasa, melainkan ayah dari si Kembar Tiga : Akari, Ayame dan Azami. Itu artinya ia memiliki tanggung jawab tiga kali lipat dibandingkan ayah-ayah lain di luar sana.
Tanggung jawab di sini bukan hanya soal materi, tapi tentang hal-hal lain yang lebih penting dari itu. Jika ada orang yang berpikir bahwa tanggung jawab memiliki seorang anak hanya terbatas pada kebutuhan materi/finansial, maka orang itu benar-benar keliru pemahamannya.
Seorang anak diibaratkan sebagai sebuah buku baru, lembarannya masih kosong. Putih dan suci, tanpa noda sama sekali. Mereka akan meniru apa saja yang dilihat dan didengar dari orang-orang terdekatnya, terutama ayah dan ibu mereka. Jika kedua orang tuanya memberikan edukasi yang tepat pada anak-anaknya, maka mereka akan tumbuh menjadi seorang pribadi yang mengagumkan. Namun sebaliknya, jika yang mereka dapati adalah sesuatu yang tidak sesuai dengan perkembangan usianya, maka kondisi mentalnya juga akan terpengaruh.
Ken tentu saja ingin menjadi ayah yang bisa membimbing ketiga putra putrinya menjadi orang-orang yang luar biasa. Mereka tidak hanya mengagumkan dari segi fisik, namun harus bisa diperhitungkan kemampuan otak dan kepribadiannya di depan khalayak umum. Dan itu semua berawal darinya. Ia memegang peranan penting di sini, layaknya menjadi sebatang pohon rindang yang bisa digunkan untuk berlindung oleh ketiganya anaknya, juga untuk Aira-istrinya tercinta.
Dari segi finansial, Ken tidak memiliki kekhawatiran sama sekali. Dia bisa menopang hidup anak cucunya sampai generasi ketiga. Ya, ia yakin akan hal itu. Jadi, uang bukanlah perkara penting untuknya saat ini.
"Ken, ada apa?" tanya Aira saat mendapati suaminya tertegun di depan cermin kamar mandi.
"Tidak apa-apa," jawab Ken berusaha tersenyum simpul. Ia meraih handuk bersih di rak dan mengelap wajahnya yang basah.
__ADS_1
"Tanganmu terluka!" seru Aira saat melihat ada noda darah di punggung tangan suaminya.
"Hmm?" Ken mengikuti arah pandang istrinya.
"Maaf karena tidak memperhatikanmu," ucap Aira sembari membawa Ken kembali ke atas ranjang perawatannya. Ia segera mengambil tisu dan membersihkannya. "Aku akan memanggil perawat untuk memasang infusmu lagi."
Aira berbalik, ia melangkahkan kakinya dengan cepat, siap keluar dari ruangan ini untuk memanggil salah satu perawat yang berjaga di depan sana. Infus di tangan suaminya harus dipasang lagi untuk mempercepat pemulihan luka-luka di tubuhnya.
"Ai-chan," panggil Ken sembari menahan lengan istrinya. "Luka ini tidak akan membuatku mati," cetusnya dengan suara parau. Ia mengejar Aira dan berhasil menghentikannya tepat satu langkah sebelum mencapai pintu.
Srett
Brukk
"Eh?" Aira terkejut saat Ken menarik tangannya. Pria itu kembali mendudukkannya di atas pangkuan seperti sebelumnya. Tapi kali ini keduanya duduk di atas kursi sofa, bukan di atas ranjang.
"Apa aku selemah itu di matamu? Atau kamu begitu mengkhawatirkanku?"
Lagi-lagi Ken menanyakan hal-hal yang tidak penting pada Aira. Ia bahkan menyurukkan wajahnya di leher wanita ini, kembali menghirup aroma lavender yang bersemayam di sana. Aroma lembut yang bisa membuatnya mabuk kepayang. Ya, ia bisa mabuk bahkan tanpa meminum wine setetes pun, melainkan dengan menciumi area tertentu istrinya. Aroma memabukkan itu ada di bagian khusus seperti leher, belakang telinga dan pergelangan tangan bagian dalam. Disanalah tempat wanita itu mengoleskan parfum favoritnya.
"Satu menit saja." Ken semakin mempererat pelukannya di pinggang Aira.
Aira memilih diam. Ia harus sedikit bersabar demi meladeni tingkah bayi besarnya ini. Lagi pula, ia tahu sudah menjadi kewajibannya untuk membuat suaminya merasa senang dan tenang.
Wanita berjilbab ini tahu betul Ken adalah sosok pemimpin keluarga dan pengambil keputusan yang objektif. Ia akan mengambil keputusan terbaiknya jika itu menyangkut kepentingan keluarga kecilnya ini. Dan perannya sebagai seorang istri juga tidak kalah pentingnya, sebab ia akan menjadi penasihat dan teman bertukar pikiran yang akan mempengaruhi sebuah keputusan. Ia berharap apapun yang Ken pilih adalah pilihan terbaik untuk kelangsungan rumah tangga mereka yang harmonis.
"Sayang," panggil Ken dengan suara lirih, hampir tak terdengar.
"Hmm," gumam wanita berwajah bulat ini.
"Apa kamu mencintaiku?" tanya Ken ambigu.
"Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?" Bukannya menjawab, Aira justru balik bertanya. Ia melepas pelukan Ken dengan paksa dan menatap tepat di manik mata hitam pekatnya. "Ada apa?" tanya Aira dengan kening berkerut. Ia sedikit heran dengan sikap Ken yang terasa sedikit janggal.
__ADS_1
"Jawab saja!" paksa Ken dengan wajah sedihnya.
"Apa kamu lapar?" Aira menangkup wajah tampan di depannya. Ia menatap intens suaminya itu, mencoba mencari tahu apa yang ada di dalam pikiran suaminya.
Hening
Ken menampilkan wajah yang aneh, sulit untuk dibaca. Seperti anak kecil yang tengah merajuk pada ibunya.
"Haish." Aira mengembuskan napasnya dengan kasar. Bayi besarnya benar-benar merepotkan. "Aku menyayangimu." Aira tersenyum simpul pada suaminya. Ia menjawab jujur pertanyaan suaminya. Ia memang menyayangi pria ini setulus hatinya.
Cup
Sebuah kecupan mendarat di kening pria 28 tahun ini sebelum Aira melepaskan diri. Ia beranjak pergi mengambil buah-buahan yang sebelumnya ia cuci di washtafel.
"Kamu mau makan buah? Ibu sengaja membelikan buah persik kesukaanmu." Aira menatap suaminya dengan senyum terkembang sembari memotong buah persik di depannya. Bagaimanapun juga, Aira harus bermanis muka di depan suaminya yang sedang terluka ini.
Luka di lengannya akan sembuh setelah dokter menanganinya, tapi luka hatinya atas penolakan Aira mungkin akan sulit diobati. Terlihat jelas dari ekspresi pria itu yang seolah menampilkan wajah sedih, kecewa, kesal dan marah secara bersamaan. Namun Ken memilih tidak meluapkan emosinya. Semua yang ia rasakan tertahan dalam hati.
Aira tahu ia harus bisa menjaga mood baik suaminya. Ia kembali tersenyum meski tidak mendapat respon sama sekali dari Ken. Ia menyadari emosi Ken yang saat ini tidak stabil. Ia pernah belajar sedikit ilmu psikologi, perempuan terkadang memiliki mood yang tidak stabil, baik karena faktor biologis maupun non-biologis. Tapi agaknya hal itu juga bisa terjadi pada laki-laki. Untuk itu, salah satu kewajibannya sebagai seorang istri terhadap suami adalah dapat mengontrol dan mengelola emosi sebaik mungkin.
Hening
Lagi-lagi Ken mengunci mulutnya. Ia belum puas bermaja-manja dengan istrinya. Sikapnya benar-benar seperti seorang bayi. Ya, bayi besar yang menyebalkan di mata Aira.
'Apa lagi yang harus aku lakukan untuk bisa bermanja-manja lagi dengannya?' batin Ken.
Tring
Ken tersenyum dalam hati. Ia tiba-tiba mendapat satu ide brilian untuk membuat Aira memanjakannya. Ya, satu ide yang bagus.
...****************...
Abang Ken mau ngapain yaa kira-kira? Penasaran akutuh. Hehehe
__ADS_1
Jangan lupa like n komen. See you,
Hanazawa Easzy