Gangster Boy

Gangster Boy
Gangster Boy : Dunia Milik Berdua


__ADS_3

Misi pembantaian tuan Harada berakhir tanpa cela, meski harus membuat empat eksekutor itu terluka. Salah satunya, Mone. Gadis 20 tahun itu hampir saja meregang nyawa saat lampu kristal bersusun di tengah ruangan terputus dari rantai yang menggantungnya. Itu adalah ulah tuan Harada sendiri, ingin menyingkirkan Black Diamond yang disegani seluruh orang di dunia gelap. Identitasnya begitu rahasia, hingga akhirnya tuan Harada menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, betapa kejamnya mesin pembantai manusia ini.


Dan sepertinya Tuhan masih melindungi gadis berdarah Indonesia-Jepang ini, membuat Yoshiro berhasil melempar musuhnya demi menghancurkan kuda-kuda yang Mone pertahankan saat itu. Mone terpelanting ke lantai beberapa langkah dari pusat ruangan, tempat lampu kristal super besar itu jatuh. Tanpa refleks cepat Yoshiro, Mone takkan terselamatkan.


Namun, setelah misi itu berakhir, Mone berubah drastis. Dia yang tadinya begitu kejam seperti binatang buas yang siap melahap mangsanya, kini justru terlihat seperti seekor anak ayam yang kehilangan induknya. Dia terdiam sepanjang waktu. Silent mode-nya sedang diaktifkan.


Hal itu tentu saja membuat siapa saja canggung dan salah tingkah, seperti yang terjadi pada kekasihnya, Yamaken. Pria 28 tahun itu ikut terdiam sepanjang perjalanan meninggalkan bandara. Tak ada satu kata pun yang terucap dari mulutnya.


Kendaraan roda empat itu terhenti tepat di sebuah lahan parkir sebuah pasar, membuat Mone membuka kelopak matanya yang semula terpejam. Keningnya berkerut saat menyadari bahwa mereka berada tempat yang asing. Mone tidak tahu sama sekali dimana mereka berada.


Yamaken kembali memakai masker dan topi hitam miliknya. Dia keluar dari dalam mobil, memutari kendaraan silver itu dan terhenti di sisi lainnya.


"Ayo." Yamaken membuka pintu yang ada di samping Mone, meminta gadis itu untuk turun.


Mone menatap calon suaminya dengan pandangan yang sulit diartikan, antara malas dan heran. Dia tahu, tempat ini sama sekali tidak cocok untuknya.


Klik


Yamaken melepas sabuk pengaman yang sedari tadi melingkupi tubuh mungil gadisnya. Dia langsung menarik Mone masuk ke dalam pasar ikan ini begitu saja, mengabaikan rasa enggan yang ada di dalam hatinya.


Langkah kaki kedua muda mudi itu terhenti di depan pintu masuk. Yamaken berbalik dan memakaikan masker pada gadisnya.


"Bukankah aku sudah berjanji akan mengajarimu memasak. Ayo kita lakukan sekarang!" Yamaken lagi-lagi menunjukkan senyum hangatnya. Meski tak terlihat karena terhalang masker hitamnya, nyatanya ada kerutan di sisi matanya. Itu tandanya bahwa dia tengah tersenyum dengan tulus.



Seketika bau amis menyapa indera penciuman Mone meski sudah memakai masker. Seorang pria yang berdiri di depan box ikan menatap dua orang yang baru datang ini.


Ya, mereka sedang ada di Tsukiji fish market atau terkenal dengan nama lain pasar ikan Tsukiji. Tempat ini merupakan pasar induk yang berada di Tsukiji, distrik kota Chuo, Tokyo.


Pasar ini adalah pusat grosir hasil laut dan pertanian. Para pengunjung bisa mendapatkan berbagai macam seafood dan sayuran segar di saat yang bersamaan. Ada begitu banyak ikan segar berbagai jenis, seperti ikan tuna, ikan salmon, ikan kod, ikan layar, dan beberapa jenis lainnya. Selain itu, ada juga hasil laut seperti gurita, sotong, cumi-cumi, kepiting, udang, lobster, rajungan, dan masih banyak lagi.


Yamaken terus membawa Mone ke bagian belakang pasar ini, tempat para pedagang sayur dan buah berada. Mereka akan berbelanja bahan makanan kaya gizi ini lebih dulu sebelum mencari makanan laut. Mone masih tetap diam, menurut kemana saja Yamaken membawanya.

__ADS_1


"Paman, tolong berikan aku lobak dan brokoli," ucap aktor tampan itu saat langkah kakinya terhenti di satu titik. Ada berbagai macam sayuran segar dan buah-buahan yang ada di sana. Pemandangan berbagai warna itu membuat pikiran kalut Mone sedikit pudar.



"Tomat dan wortel kami baru saja datang. Kalian tidak ingin membelinya?" tawar paman penjual itu sambil menimbang lobak pesanan Yamaken dan memasukkannya dalam keranjang belanja.


"Ah, boleh. Berikan sedikit saja." Yamaken terlihat begitu lihai berbincang dengan orang ini, seolah dia sudah sering melakukan aktivitas ini. Mone mengamati wajahnya dari samping.


'Tampan.'


Blush


Pipi gadis 20 tahun ini merona merah. Dia malu pada komentar batinnya sendiri. Bagaimana bisa dia terpesona pada pria ini hanya karena dia bisa berbelanja di pasar seperti sekarang? Memalukan!


Yamaken menarik tangan Mone, melaju beberapa langkah sebelum berhenti di depan penjual sayur yang lainnya.



"Bibi, kita bertemu lagi," sapa Yamaken sambil melambaikan tangannya. Bibi penjual sayur organik itu mengerutkan keningnya sebelum tersenyum. Dia akhirnya menyadari siapa pemuda yang menyapanya ini setelah berpikir beberapa detik.


Yamaken kembali menarik tangan gadisnya. Satu tangannya memasukkan sawi hijau, kol merah, dan beberapa butir bawang bombay ke dalam keranjang belanjaannya yang sudah


"Kamu masak besar hari ini? Tidak ada pengambilan gambar?" Pertanyaan wanita paruh baya ini membuat Mone terhenyak. Dia tidak menyangka identitas Yamaken sebagai seorang aktor ternyata diketahui oleh wanita ini.


"Hari ini libur. Aku ingin menghabiskan waktu dengan kekasihku." Yamaken merangkul Mone, menunjukkan hubungan mereka di depan wanita yang terasa asing untuk Mone ini.


"Dia kekasihmu?" Wanita berumur itu memerhatikan penampilan Mone dari atas ke bawah. "Tidak buruk. Seleramu sama seperti kakakmu." Bibi itu masih berceloteh. Yamaken hanya bisa tertawa.


"Apa dia 'sama' seperti kakak iparmu?" bisik wanita itu di dekat telinga Yamaken, tapi Mone masih bisa mendengarnya.


"Benar. Mereka sama." Yamaken kembali tersenyum di balik penutup mulutnya.


"Pantas saja Si Tua itu diam saja. Sudah ku duga. Pasti memang begitu. Sudah tua masih saja memikirkan hal-hal seperti ini."

__ADS_1


Glek


Mone harus menelan ludahnya. Dia lagi-lagi terkejut, tidak menyangka bahwa wanita ini tahu banyak tentang Yamaken dan keliarganya. Selain fakta mengejutkan bahwa Ken juga biasa kemari, ternyata penjual sayuran segar ini juga tahu tentang kakak ipar Yamaken, yakni kak Aira. Dan jika dugaan Mone benar, maka Si Tua yang dimaksud oleh wanita lima puluh tahunan ini pastilah kakek Yamazaki.


Ada apa dengan para tuan muda Yamazaki ini? Apa mereka benar-benar pernah datang ke tempat seperti ini? Dan siapa wanita ini? Kenapa dia seolah tahu begitu banyak tentang keluarga yakuza ini?


Yamaken memberikan beberapa lembar uang dan kemudian berpamitan. Bibi itu memasukkan bonus beberapa buah paprika ke dalam keranjang yang aktor 28 tahun ini bawa. Ini benar-benar pemandangan yang terasa ganjil di mata seorang Mone Kamishiraisi.


"Ayo kesana!" Suara teduh dan menenangkan milik Yamaken berhasil mengoyak rasa heran yang menjalar di dada Mone. Pria itu melangkah dengan cepat, tanpa tahu berbagai pertanyaan yang muncul dalam benak gadisnya. Mereka terhenti di depan keranjang berisi berbagai macam buah-buahan segar.



"Coba ini." Yamaken menyuapkan sebutir anggur hijau di depan mulut kekasihnya. "Ayo buka mulutmu," pinta pria berpakaian serba hitam itu.


Mone membuka mulutnya, kemudian tertutup lagi setelah buah kaya vitamin itu berada di antara gigi-giginya yang sedang mencacah makanan.


"Manis?" tanya Yamaken kemudian. Mone hanya menjawabnya dengan anggukan.


"Benarkah?"


Cup


Yamaken menarik tengkuk gadisnya, ******* bibir itu dalam sekejap dan menerobos masuk ke dalam mulut Mone yang terbuka tiba-tiba karena terkejut. Waktu seolah berhenti seketika, tak ada suara, tak ada pergerakan. Hening. Serasa dunia hanya milik berdua.


...****************...


Hwaaaa... main sosor aja si Abang 😂😂


Jangan ditiru yaa gaess. Pamali!!


See you next part. Maaf jarang up, kerjaan dunia nyata beneran amazing akhir-akhir ini. Selain itu, Author juga mulai buka lapak di platform sebelah. Khusus cerita romance religi gitu 🤗😍


Mau tau? Sini Author bisikin 🙌😄

__ADS_1


Bye...


Hanazawa Easzy


__ADS_2