
Sebulir air berwarna bening menyeruak keluar dari ujung mata bulat Aira. Ia menangis dalam diam, mengingat perjumpaannya dengan Yudha saat tengah sarapan di restoran.
Ia tahu tidak seharusnya menangisi pria lain, padahal ia wanita bersuami. Tapi ia tidak bisa membendung perasaannya kali ini. Aira tidak tahu harus bagaimana menghadapinya. Mungkin ikhlas adalah yang terbaik, lagi pula Yudha tidak bersalah kan? Memang Aira yang menolaknya berkali-kali. Tapi tetap saja hatinya merasa sakit harus melepaskan sesorang yang pernah menghuni hatinya selama bertahun-tahun.
"Ai-chan..." lirih Ken memanggil istrinya yang masih memejamkan mata, padahal terhitung sudah 4 menit lamanya.
Ken membimbing istrinya untuk duduk di salah satu bangku yang ada di taman ini. Beberapa bangku yang lain tampak terisi oleh sepasang muda mudi, ah sepertinya mereka sedang berkencan. Bagaimana dengan Ken dan Aira? Apa ini bisa dikatakan kencan?
"Maaf." Aira berucap sambil menghapus air mata yang menuruni pipinya perlahan.
Ken menggeleng, "Aku yang seharusnya minta maaf. Aku out of control lagi dan lagi. Aku benar-benar minta maaf." ucapnya penuh sesal sambil menggenggam jemari istrinya yang mulai terasa dingin.
*out of control : lepas kendali
Aira mencoba tersenyum, tapi terasa hambar. Hampa. Ia tidak benar-benar tersenyum dari hatinya. Terasa kering, gersang, seolah hatinya menjadi berbongkah-bongkah seperti tanah di sawah saat musim kemarau.
"Apa kamu sudah makan?" tanya Ken perhatian. Ia mendapat pesan dari Kosuke sebelumnya bahwa Aira belum makan apapun sejak pagi. Minami membujuknya berkali-kali tapi tidak juga berhasil.
Aira menggeleng pelan. Ia tidak berselera makan. Hanya dua gelas susu ibu hamil yang ia konsumsi hari ini. Rasanya semua makanan sama saja, percuma makan jika tidak bisa menikmati rasanya kan? Begitu pikir Aira.
"Aku tidak mau anak-anakku kelaparan. Mereka harus tumbuh dengan baik dan akan ku ajak mereka membuat boneka salju." ucapnya sumringah. Ia mengeluarkan sebuah box bulat seukuran telapak tangan yang terbuka.
Aira tersentuh dengan perlakuan Ken, tapi entah kenapa ia belum bisa menunjukkan ekspresinya secara langsung. Seolah rahangnya terlalu kaku untuk sekedar tersenyum.
"Buka mulutmu." Ken bersiap menyuapi Aira dengan salad buah di tangannya.
'Kapan dia menyiapkannya?' batin Aira bertanya-tanya. Bukankah Ken selalu menggenggam tangannya saat ia terpejam tadi?
Atensinya tertuju pada pria berbaju hitam yang berdiri dua meter di belakang Ken. Pasti pria itu yang memberikan aneka buah dengan topping coklat keju ini. Aira memakannya beberapa suapan.
"Sudah." ucap Aira sembari menutup mulutnya dengan tangan. Ia merasa sedikit mual.
"Minumlah." Ken menyerahkan sebuah botol air hangat. Terlebih dahulu ia membuka tutupnya, sungguh perhatian. Berbanding terbalik dengan Ken yang kasar dan pemaksa.
__ADS_1
"Mau kemana lagi?" tanya Ken menatap langsung pada manik coklat istrinya.
Aira hanya mengangkat bahu, terserah. Ia tidak memiliki tujuan untuk pergi.
"Baiklah, aku yang akan menentukannya. Ayo, kamu pasti suka." ucap Ken percaya diri. Ia menuntun istrinya masuk kembali ke dalam mobil. Mengabaikan asistennya yang menunduk saat dilewati dan melajukan kendaraan roda empat itu menuju sebuah tempat yang akan membuat mood Aira membaik.
Mobil yang Ken kendarai berhenti di sebuah bangunan mirip museum. Beberapa pasang muda mudi tampak bergandeng tangan bersiap memasuki gedung berwarna silver itu.
"Tutup matamu." pinta Ken. Aira menurutinya tanpa protes.
Ken membimbing Aira yang tertutup matanya dengan hati-hati. Pria itu ingin membuat kejutan untuk istrinya dan membuat senyumannya kembali.
"Kita sudah sampai. Buka matamu." ucap Ken dengan senyum lebar di wajahnya. Ia sangat yakin Aira akan menyukainya.
Konica Minolta Planetaria Tokyo
Perlahan Aira membuka matanya dan menatap sekeliling. Cahaya yang masuk ke retinanya memaksa saraf yang terhubung dengan otaknya untuk bekerja. Ini.... Planetarium.
Di planetarium, kita bisa belajar mengenai pergerakan benda-benda langit di malam hari dari berbagai tempat di bumi dan sejarah alam semesta. Planetarium berbeda dengan observatorium. Kubah planetarium tidak bisa dibuka untuk meneropong bintang.
Aira melihat sekelilingnya, terdapat proyektor yang ada di tengah ruangan. Proyektor itu sebagai alat untuk memperagakan pergerakan benda-benda langit sesuai dengan waktu dan lokasi tertentu. Proyektor bintang berfungsi untuk memproyeksikan cahaya pada atap kubah planetarium, untuk menghasilkan cahaya benda-benda langit seperti bintang-bintang, planet, bulan dan lain-lain sehingga menghasilkan gambaran keadaan langit malam sebenarnya.
"Ayo duduk." Ken menarik Aira untuk duduk di sebuah kursi berbentuk bulat. Seperti belahan planet yang berjajar rapi di bagian depan ruangan ini.
Pertunjukan berlangsung dengan narasi yang diiringi musik. Aira menengadahkan kepalanya, membawa indera penglihatannya untuk mengamati layar di bagian dalam langit-langit kubah. Layar berbentuk setengah bola itu disusun dari panel aluminum membuatnya terlihat seperti langit sungguhan.
Lahirnya planetarium itu sendiri didorong oleh keinginan dari diri manusia yang senantiasa mencari tahu dan memahami hakikat kehidupan ini. Hal-hal yang terjadi di sekelilingnya berusaha dipahami dengan akalnya.
Sejarah mencatat bahwa manusia sudah mulai memperhatikan benda-benda langit dengan karakternya masing-masing sejak beberapa ratus tahun sebelum masehi, ribuan tahun dari sekarang. Pada waktu itu manusia telah mencoba membedakan benda-benda langit satu dengan lainnya. Manusia juga telah mengamati letak dan pergerakan benda-benda langit tersebut.
"Kamu suka?" tanya Ken yang melihat raut kesedihan di wajah Aira mulai memudar.
__ADS_1
"Ya. Terima kasih." jawab Aira sambil memandang suaminya sekilas sebelum berbalik kembali menghadap ke atas.
"Bersandarlah." pinta Ken sambil membimbing punggung Aira untuk menempel pada punggung kursi yang mereka duduki.
"Kamu tahu kenapa bintang hanya terlihat di malam hari?" tanya Ken sambil mengusap puncak kepala Aira dengan sayang.
"Kenapa?" tanya Aira menatap wajah suaminya yang hanya berjarak 50 cm darinya.
"Karena langit berwarna hitam." jawab Ken.
Aira mengerutkan kening, merasa heran dengan jawaban yang diberikan suaminya. 'Bahkan anak usia dini juga tahu bahwa langit malam berwarna hitam.' batin Aira.
Ken tersenyum. Jemarinya turun, meraih tangan Aira dan menggenggamnya dengan erat seolah tak ingin melepaskannya. Perlahan ia ikut bersandar di samping Aira, menatap langit-langit berbintang di atas mereka.
"Kamu heran dengan jawabanku?" tanya Ken seolah mengerti apa yang istrinya pikirkan. Ia menatap wajah Aira dari samping, menilik pipi chubby yang menggemaskan itu. Terlihat wanitanya mengangguk satu kali.
"Aku sungguh-sungguh dengan jawabanku. Bintang hanya terlihat saat malam hari, karena langit berwarna hitam. Saat langit berubah menjadi biru di siang hari, kita tidak bisa melihatnya karena mereka memiliki warna yang sama."
Aira memejamkan matanya, ia tidak peduli dengan jawaban Ken. Entah kenapa ia merasa ingin terlelap sekarang. Sejak hamil rasanya ia selalu ingin tidur lebih awal. Mungkin efek hormonal di dalam tubuhnya.
Matanya terasa semakin berat dan kantuknya tak tertahankan lagi. Aira tertidur detik berikutnya, masuk ke alam bawah sadarnya tanpa diminta. Melihat gugusan bintang yang terhampar di hadapannya membawa kedamaian tersendiri di hati Aira. Dan menghapus sedikit luka di hatinya.
Ken merengkuh kepala Aira, menjadikan lengannya sebagai bantal tidur istrinya. Wajah damai di hadapannya membuat hatinya buncah oleh rasa bahagia. Perlahan ia mengelus perut istrinya yang masih terlihat rata. Ah, ia harus menjaga mereka dengan baik. Jangan pernah bersikap kasar lagi. Seharusnya ia memperlakukan Aira dengan lebih baik lagi agar buah hatinya tumbuh dengan sehat di dalam sana.
Cup
Ken mencium kening Aira. Membatinkan doa terbaik untuk istri dan calon anaknya agar mereka selalu diberikan kesehatan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.
*****
Happy sunday 🤗
Udahan yaa sedih-sedihnya. Next episode tinggal bahagia-bahagianya mereka berdua. Jangan baper loh yaa besok, cukup author aja yang nangis di pojokan kamar sambil merenungi nasibb 😂😂
__ADS_1
Jaa mata ne,
Hanazawa easzy