
Waktu menunjukkan pukul 4 sore saat sebuah mobil berwarna merah tua berhenti di pelataran parkir salah satu rumah sakit yang ada di Moskwa. Ken keluar dari balik kemudi dan segera berlari membukakan pintu sebelah tempat Aira berada. Ia bahkan dengan sigap membentangkan payung untuk melindungi istrinya dari hujan salju yang semakin lebat. Ia tidak ingin istrinya kedinginan seperti sebelumnya.
Sementara itu, Mone menatap pasangan suami istri di depannya sambil tersenyum. Ia ikut berbahagia melihat Aira memiliki suami yang begitu mencintainya. Bagaimanapun juga, dua orang ini juga ikut ambil bagian dalam membebaskannya dari Takeshi.
Ketiga orang itu masuk ke dalam bangunan dengan dominan warna putih dan biru itu. Bau cairan antiseptik segera menyapa indera penciuman mereka, aroma khas medis. Ken dan Aira duduk di kursi tunggu sementara Mone menghampiri petugas yang ada di depan sana.
"Selamat sore. Ada yang bisa kami bantu?" sapa seorang wanita di balik meja resepsionis ketika Mone berdiri di depannya.
Pakaian biru dan topi dengan warna yang senada melekat di kepala wanita itu menunjukkan ia karyawan di rumah sakit ini, atau mungkin saja seorang perawat. Mone melihat seragam yang sama juga dipakai oleh beberapa orang yang lalu lalang di koridor tadi.
"Saya memiliki janji temu dengan dokter Marco sore ini." ucap Mone dengan bahasa Rusia yang fasih. Ia memberikan kartu nama miliknya pada wanita itu.
"Mone Kamishiraishi?" wanita itu membuka buku register di depannya dan menemukan catatan janji temu dokter dengan gadis berwajah Asia ini, "Beliau baru saja keluar dari ruang operasi. Silahkan tunggu sepuluh menit lagi. Saya akan memanggil Anda jika dokter sudah ada di ruangannya." ucap wanita itu sopan.
"Terima kasih." jawab Mone seraya menyimpan kartu namanya lagi ke dalam saku. Ia berjalan menghampiri Aira yang duduk bersebelahan dengan Ken, suaminya.
"Kita tunggu sebentar lagi." ucap Mone yang ditanggapi Aira dengan sebuah anggukan.
Krukk krukk
Perut Aira berbunyi membuat Mone tersenyum sambil menutup mulutnya, kebiasaannya itu sama seperti Aira. Sedangkan Ken menatap istrinya yang kini tertunduk malu. Mereka baru saja makan sebelum datang kemari, bagaimana mungkin istrinya itu sudah merasa lapar lagi?
"Kamu lapar kak? Aku akan membelikan sesuatu untukmu. Tunggu sebentar." Mone bersiap berdiri saat Ken sudah mendahuluinya.
"Aku saja. Dimana tempatnya?" tanya Ken pada Mone.
"Di sebelah sana." tunjuk Mone ke arah timur, "Lewat koridor ini, lalu belok kanan. Cafetaria ada di sebelah kiri."
Ken pergi setelah memberikan anggukan tanda ia memahami petunjuk yang Mone berikan. Tak lupa ia mencium puncak kepala Aira sebelum pergi.
"Dia sangat mencintaimu." ucap Mone dengan mata berbinar karena bahagia.
"Hmm.. Aku sangat beruntung bisa bersanding dengannya." jawab Aira mengiyakan.
Keduanya diam beberapa saat, hingga akhirnya Mone meraih jemari Aira. Tangannya menggenggam jari-jari yang tertutup sarung tangan berbulu itu dengan erat, "Terima kasih." ucapnya.
__ADS_1
"Berapa kali lagi kamu akan mengucapkannya?" tanya Aira sambil tersenyum, "Terhitung ini ketiga kalinya kamu berterimakasih padaku." ucap Aira sambil mengelus pipi Mone perlahan.
"Kak Aira.." panggil Mone menahan tangan Aira di pipinya. Mereka saling berhadapan, tak peduli pandangan orang lain pada mereka.
"Hmm?"
"Bahkan jika kita tidak bersaudara sekalipun, bolehkah aku tetap memanggilmu kakak?" tanya Mone sangsi. Ia khawatir tes DNA mereka hasilnya negatif.
"Um, tentu saja. Kamu tetap adik kecilku yang manis." Aira menempelkan keningnya pada Mone, membuat gadis itu tersenyum.
"Terima kasih kak." ucap Mone sambil memeluk wanita hamil di depannya, "Aku tidak punya siapapun lagi di dunia ini. Aku harap kakak tidak akan meninggalkanku." ucapnya lirih. Matanya berkaca-kaca merasakan kebahagiaan yang menyelimuti hatinya.
Aira menepuk punggung Mone dengan lembut, memberikan ketenangan pada gadis 20 tahun itu. Kehangatan sikap Aira membuat Mone semakin menyayanginya.
"Ayo kembali ke Jepang." ajak Aira setelah pelukan keduanya terurai.
"Hmm, ayo." jawab Mone bersemangat.
"Apa aku terlalu cepat kembali?" canda Ken saat melihat Mone dan istrinya kembali saling berpelukan.
Ken tersenyum simpul mendapati interaksi dua wanita yang terlihat mirip satu sama lain. Aira menarik tangan Ken untuk kembali duduk di sampingnya.
Pria itu menyerahkan sebuah kotak berisi roti Pirozhki. Pirozhki mempunyai arti “pai kecil” dalam bahasa Rusia. Cemilan ini merupakan cemilan yang bisa dibilang sederhana. Pirozhki terbuat dari adonan semacam roti dengan resep khas Rusia dengan isian yang bervariasi mulai dari keju, potongan buah, selai ceri, daging (biasanya daging sapi) atau bisa juga berisi sayuran (kentang tumbuk, jamur, bawang dan telur, atau kubis).
Aira mengambil roti itu dan memakannya dengan lahap. Ia berusaha menyuapi Ken tapi ditolak. Melihat Aira yang cemberut, Ken terpaksa memakannya.
"Nona Mone." panggil wanita resepsionis itu sambil menatap ke arah Mone dan dua orang di sampingnya. Ia mengangguk dan memberikan isyarat dengan tangan bahwa Mone bisa masuk ke dalam ruangan sekarang.
Aira segera memberikan roti di tangannya kepada Ken, membuat pria itu membulatkan matanya.
"Uhuk uhuk." Ken terbatuk karena tersedak roti di mulutnya. Ia belum menelan makanan yang terbuat dari terigu itu ketika Mone dan Aira beranjak masuk ke ruang dokter. Meninggalkannya dengan makanan di mulut dan tangannya. Jangan lupakan pandangan orang-orang yang tersenyum padanya, membuat pria 27 tahun itu semakin malu.
Sial! Seharusnya ia mendengarkan saran Aira yang ingin mengajak Minami. Mereka sempat berdebat sebelum pergi karena Aira bersikeras ingin Minami ikut tapi Ken menolaknya. Ken pikir mereka hanya pergi sebentar jadi tidak membutuhkan asisten pribadi istrinya itu. Lain kali ia akan menuruti Aira tanpa mendebatnya lagi.
__ADS_1
Mone dan Aira duduk di kursi yang ada di depan meja dokter. Seorang pria dengan rambut memutih seluruhnya tampak membuka dokumen berwarna putih yang ia ambil dari dalam laci.
"Bagaimana kabarmu, nona?" tanya dokter Marco basa-basi.
"Baik dok."
"Jadi, dia..." pria berusia 53 tahun itu menatap Aira dan Mone dengan seksama, menilai kemiripan kedua wanita di depannya.
"Benar. Dia pemilik sampel yang saya berikan kemarin." jawab Mone antusias.
"Bahkan tanpa menggunakan tes DNA sekalipun, kalian memang terlihat mirip. Hanya selisih usia saja yang membedakannya."
Mone dan Aira tersenyum. Detik berikutnya Ken masuk dengan wajah memerah menahan malu. Ia berhasil lolos dari pandangan orang-orang yang ada di ruang tunggu tadi dan kini mendapat tatapan keheranan dari dokter Marco.
"Saya suaminya." ucap Ken tanpa menunggu pertanyaan dari pria Rusia itu. Ia berdiri di belakang kursi Aira, memegang pundak istrinya dan mencubitnya pelan. Aira menatap Ken yang masih memasang wajah masam, sepertinya ia akan kena hukuman dari Ken. Ah biarlah. Itu urusan nanti.
"Baiklah. Saya akan menjelaskan hasil laboratorium dari dua sampel yang anda berikan kemarin. Ada beberapa lokasi genetic marker yang perlu untuk diperiksa. Walaupun tidak ada satupun tes yang dapat menawarkan akurasi 100 persen, akurasi 99,9-99,99 persen yang memeriksa sekitar 16-23 lokasi sudah dapat diterima secara ilmiah,"
"Hasilnya dok?" tanya Mone tidak sabar.
"Sampel A dan B positif memiliki kemiripan 99,99 persen. Itu berarti pemilik sampel A dan B benar memiliki hubungan kekerabatan yang dekat." jelas pria berbaju putih dengan kacamata di atas hidungnya itu. Ia menyerahkan selembar kertas yang menerangkan hasil uji laborat seperti yang Mone minta.
"Jadi, dia kakakku?"
Dokter itu mengangguk, mengiyakan pertanyaan Mone. Gadis itu langsung memeluk Aira dengan erat.
...****************...
Dikit banget yaa? Maaf cuma bisa update segitu dulu.
Ada yang kangen adegan sweet Ken-Aira? atau Kosuke-Minami? Atau mungkin Yoshiro sama Yu?
Gimana kalo Mone sama Shun? Lah Kaori sama siapa dong 😂😂 Kasian dia 😄
See you next day,
__ADS_1
Hanazawa easzy 💜