Gangster Boy

Gangster Boy
Hukuman Ken (2)


__ADS_3

Aira terjaga dari tidurnya dan mendapati Ken ada di depannya. Ia beranjak bangun dan meminta penjelasan Kosuke.


'Semua orang tahu ia ingin menghindari Ken, tapi kenapa Kosuke justru mengantarkannya kemari?' batin Aira kesal.


"Ai-chan.." Ken berlari menghambur ke arah Aira dan segera memeluknya. Berkali-kali ia mencium puncak kepala istrinya dengan sayang.


"Jangan menyentuhku !" Aira mengurai pelukan Ken dan mundur 2 langkah. Sejujurnya ia masih belum ingin bertemu dengan suaminya secara langsung.


"Ai-chan.."


"Berhenti memanggilku seperti itu !" Aira menatap Ken dengan enggan.


Ken terpaku di tempatnya berdiri. Aira semakin melebarkan jarak di antara mereka.


"Lukaku bahkan belum sembuh, apa kamu pikir semudah itu melupakannya?" Aira membuka lengan bajunya dan terlihatlah luka bekas ikatan yang Ken lakukan malam itu di pergelangan tangannya. Sebuah luka memar juga tampak disana, itu terjadi saat Aira mencoba melawan dan akhirnya terbentur ujung nakas yang terbuat dari kayu.


Ken menunduk tak bisa berkata-kata. Itu memang salahnya. Kesalahan yang fatal dan tak termaafkan.


"Apa aku harus menunjukkan bekas yang lain agar kamu mengingatnya?" Aira duduk di lantai sambil menutup wajah dengan kedua tangannya. Ia ingin melupakan kejadian itu dengan perlahan, tapi Ken tiba-tiba datang dan mengacaukan segalanya. Padahal ia baru merasa sedikit tenang disini.


Minami segera mendekat dan memeluk puannya untuk meredam emosi. Aira bersembunyi di pelukan Minami sambil menggenggam erat jas hitamnya.


"Tolong biarkan nona sendiri." pinta Minami, membimbingnya masuk kembali ke dalam kamar.


Ken bimbang. Ia ingin minta maaf pada Aira secepatnya, tapi keadaan emosional istrinya belum stabil sekarang. Ia takut Aira akan semakin menjauhinya. Tapi jika begini terus, ia tidak akan bisa mendapatkan maafnya. Aira pasti akan terus menghindarinya. Ken menarik tangan Aira tepat sebelum wanitanya itu masuk ke dalam kamar. Aira berontak dari cengkeraman suaminya.


"Lepas.." pintanya.


"Kau boleh membenciku, kau boleh mengabaikanku atau bahkan memukulku, tapi kau tidak berhak menjauhkanku dari anakku."


Seketika mata bulat itu terbelalak. Jantungnya seolah berhenti berdetak. Perlawanannya melemah. Lidahnya mati rasa, tak bisa mengucapkan sumpah serapah untuk Ken yang sebelumnya tersimpan di kepalanya.


Ken yang menyadari sudah kelepasan bicara juga tak bisa berbuat apapun. Ia melepaskan tangan Aira dan menatap wajah pucat istrinya dengan iba. Ia selalu saja out of control saat di depan Aira.


(*out of control : lepas kendali)


"Gomen ne." lirih Ken bersiap meraih tangan istrinya yang masih tergantung bebas di udara.


(Maaf)


Aira mundur satu langkah dan membuka telapak tangannya, memberi tanda agar Ken diam saja, jangan bicara lagi. Dia tidak ingin mendengar apapun sekarang.


Ken berusaha mendekat, membuat Aira kembali melangkah ke belakang.


"Tetap disana. Jangan mendekat." ucapnya dengan nafas tercekat. Sebenarnya ia juga tidak yakin dengan perkataan biksu kemarin, tapi perkataan Ken barusan membuatnya harus berpikir dua kali. Apa benar ia hamil?


"Minami-san..." panggil Aira, pandangannya tertuju pada wanita berambut sebahu di belakang suaminya. Jika Ken saja tahu, berarti Minami pasti mengetahuinya lebih dulu.


"Itu benar nona, anda hamil." jelasnya singkat. Ia tertunduk merasa bersalah karena telah menyembunyikan fakta itu. Di sisi lain, berarti ia gagal menjalankan perintah Yoshiro yang memintanya mencegah berita ini sampai ke telinga Aira.

__ADS_1


Bagai terjerat akar berduri, Aira merasakan ngilu di seluruh persendiannya. Ia bersandar pada tembok di belakangnya dan mulai menutup mata. Menyandarkan kepalanya ke belakang dan menghirup oksigen sebanyak-banyaknya, berharap semua yang ia dengar tidak benar.


"Ai-chan..." panggil Ken khawatir melihat istrinya semakin pucat dengan hidung memerah. Sepertinya demamnya kemarin belum sembuh total, atau istrinya itu mulai kedinginan. Ia hanya memakai sweater biru dan jilbab navy, tanpa jaket atau baju hangat lainnya. Ia melepas jaket bersiap memakaikannya pada Aira.


"Berhenti disana," perintah Aira, membuat Ken membatu.


"Sebelum lukaku sembuh, jangan mendekat, jangan berbicara padaku, dan jangan menyentuhku. Pikirkan kesalahanmu." Aira masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu kayu itu rapat-rapat. Ia tidak ingin melihat wajah suaminya untuk sementara. Ia harus menenangkan diri.


Ken menatap pintu di depannya dengan getir. Ia tidak menyangka Aira akan berlaku seperti ini padanya. Bagaimana mungkin ia bisa menjauh dari istrinya, sedangkan ia justru ingin selalu ada di sisinya. Melarangnya mendekat, berbicara apalagi menyentuhnya sama saja membuatnya mati secara perlahan. Itu adalah hukuman untuk Ken


*******


Aira duduk di sebuah bangku kayu yang menghadap ke bukit. Ia kembali ke kediaman Yamazaki dua jam yang lalu. Tangannya menggenggam cincin yang Minami berikan beberapa saat sebelum mereka meninggalkan penginapan. Wanita itu mengatakan bahwa kakek lah yang menyuruh Ken menjemput Aira.


"Nona, semua orang menunggu anda di ruang makan." Minami membuyarkan lamunan Aira.


"Aku akan segera kesana." Aira membenahi syal di lehernya dan segera memasuki rumah utama yang terpisah dengan kamarnya. Sebuah ruangan 4x6 meter dengan meja panjang yang telah terisi penuh oleh makanan.


"Aira-chan, kemarilah. Ayo kita makan bersama." ajak nyonya Sumari membimbing menantunya agar duduk di sebelahnya. Sebuah panci besar berisi berbagai sayur seperti sawi putih, lobak, bayam, akar teratai dan potongan ikan tampak di sebuah mangkuk tanah liat besar yang terlihat mengkilap. Sepertinya nama makanan itu nabe seperti yang pernah Minami jelaskan sebelumnya. Asap mengepul di atasnya begitu ibu mengaduknya.


"Ibu, apa boleh aku yang menyajikannya?" Aira menyela kegiatan ibu mertuanya yang bersiap mengambil sup khas musim dingin itu dan memberikannya pada mangkuk setiap orang, ada kakek, Naru, Yamaken, ayah, ibu dan tentu saja Ken yang duduk berhadapan dengan Aira sekarang.


"Oh, kau mau melakukannya? Kemarilah," Sumari memberikan sendok bulat di tangannya pada menantu kesayangannya itu sambil tersenyum, "Hati-hati dengan tanganmu, itu panas."


Aira hanya mengangguk dan memberikan sup itu pada kakek. Mangkuk berikutnya ia berikan untuk ayah mertuanya, Tsuguri-san.


"Kakak ipar, berikan aku lebih banyak ikan." pinta Naru sambil menyerahkan mangkuknya.


"Hmm, tentu saja." Aira tersenyum hangat. Ia benar-benar menikmati kebersamaan ini.


"Ah, aku tidak mau bayam. Tolong tinggalkan itu untukku," pinta Yamaken dengan kedua tangan di dadanya. Berharap kakak iparnya itu mengabulkan permintaannya.


"Hmm, tidak boleh." Aira menggeleng mantap dan memasukkan lebih banyak bayam ke dalam mangkuk adik iparnya itu, "Sayuran hijau bagus untuk kulit wajahmu. Itu akan membuatmu semakin bersinar di depan kamera." titah Aira tak terbantahkan membuat semua orang tertawa, tak terkecuali Ken yang menyunggingkan senyum simpul.


"Aku suka semuanya." ibu menerima mangkuknya yang telah terisi penuh dengan gembira. Ia tidak menyangka Aira membuat suasana makan kali ini lebih menyenangkan.


Ken menyodorkan mangkuknya dalam diam, ia menatap jemari manis Aira dengan seksama. Gadis itu memakai cincin pernikahannya lagi, itu membuatnya tenang. Kakek mungkin akan membunuhnya jika ia tidak bisa membawa Aira kembali ke keluarga ini.


"Itadakimasu..." ucap semuanya dan mulai makan. Ken memandang istrinya yang mulai menikmati makanannya. Hatinya menghangat melihat senyumnya yang merekah, meski senyum itu bukan untuknya. Yamaken memperhatikan kakaknya denga iba.


*******


Mentari mulai beranjak ke barat saat Aira memutuskan untuk berjalan-jalan di samping pagar tinggi yang menjadi pembatas rumah ini dengan dunia luar. Ia melangkah dengan tenang, meninggalkan jejak sepatu di atas hamparan salju dan menghitungnya saat berbalik.


"Kakak ipar." panggil Yamaken sembari mendekat.


"Nani?" tanya Aira sambil berbalik


(Apa?)

__ADS_1


Pukk


Sebuah bola salju seukuran bola tenis yang Yamaken lesatkan tepat mengenai lengan Aira yang tertutup coat abu-abu.


"Aku akan membalaskannya untukmu, kakak ipar." Naru datang dari belakang Aira dan melempari Yamaken dengan bola salju yang ada


di tangannya.


"Ini." Naru menyerahkan 2 bola salju pada Aira untuk membalas perbuatan kakaknya.


"Hei, mana boleh curang begitu. 2 lawan 1, itu tidak adil." protes Yamaken berusaha menghalau serangan Naru dan Aira.


Pukk


Aira melempar bulatan putih di tangannya ke arah Yamaken dan tepat mengenai dada sebelah kirinya.


"Sugee, lemparan yang tepat sasaran." puji Naru.


(Hebat)


"Aaghh..." Yamaken memegang jantungnya, sebelum terbaring di atas hamparan salju. Kedua gadis itu tertawa bersama dan melakukan hi five di udara.


"Game over." ucap Naru bersemangat.


Naru dan Aira kembali membentuk bulatan salju untuk menyerang Yamaken lagi, tapi beberapa menit berlalu tak ada tanda-tanda pergerakannya. Aira dan Naru saling pandang, mereka ingat Yamaken punya masalah dengan fisiknya, lemah jantung. Keduanya berlari mendekati Yamaken dan berniat memeriksa keadaannya.



Yamaken bangun dan tertawa terbahak-bahak melihat dua gadis di depannya yang terlihat panik. Beberapa butir salju menempel di jaket hitam yang senada dengan warna rambutnya. Ia bangkit dan memeluk dua wanita yang paling berharga selain ibunya. Naru di sebelah kanan dan Aira di sebelah kirinya.


"Surprise." ucapnya dengan senyum terkembang di wajahnya.


"Menjengkelkan." Naru merajuk sambil mempoutkan bibirnya.


Aira tersenyum menatap adik iparnya dari samping. Mengingatkannya pada wajah suaminya. Seketika ia memandang ke arah lain dan terlihat Ken sedang memperhatikan mereka dari balkon lantai 2.


Senyum gadis itu memudar dan Yamaken menyadarinya. Ia segera membalikkan badan kakak iparnya dan mengajaknya membuat boneka salju. Ia ingin mengalihkan kesedihan wanita berjilbab ini. Yamaken tahu keduanya sedang dalam keadaan yang sulit setelah Ken mengaku telah kelepasan bicara di depan istrinya.


"Boneka salju?" tanya Aira heran. Ia belum pernah melihatnya sama sekali.


"Ayo." ajak Naru dengan bersemangat.


*******


See you next part. Sebenernya author mau buat adegan sweet Aira sama Ken, tapi belum dapet feel. Nantikan yaa 😄


Arigatou gozaimashita 🤗🤗


Hanazawaeaszy ^^

__ADS_1


__ADS_2