
"Bersiaplah menerima hukumanmu," ucap Aira kemarin siang saat di rumah sakit.
Dan disinilah Ken sekarang. Ia menatap langit-langit kamarnya dengan latar suara penghangat ruangan yang berderum halus. Tangannya meraba ke samping, tetap saja tidak ada Aira di sana. Ia berbaring sendirian di atas ranjang king size yang biasanya selalu ia gunakan bersama Aira.
"Ai-chan, aku merindukanmu.." ucapnya lirih sambil menutupi kebodohannya. Dia menyesal karena sudah bersedia menerima hukuman ini.
Ya, hukuman yang Aira katakan kemarin adalah mengundang Mone untuk menginap di rumah saat Ken sudah diizinkan pulang dari rumah sakit. Dan siang ini dokter Hugo mengizinkannya pulang.
Ken begitu bahagia karena berpikir akan memiliki waktu yang menyenangkan dimana ia bisa bermanja-manja pada istrinya. Tapi, ternyata itu hanya khayalannya saja. Nyatanya ia terbaring sendirian dan merasa kesepian. Andai saja kakinya tidak dibalut gyps, tentu dia berjalan sendiri menuju kamar tamu dan menarik Aira untuk kembali ke kamar mereka. Tapi sebagai seorang pria, tentu dia harus menepati janjinya tentang menerima hukuman ini.
Sementara itu di kamar yang lain, Aira tengah menatap wajah manis adik sepupunya, Mone Kamishiraishi. Mereka berbaring saling berhadapan satu sama lain. Mone datang atas permintaan Aira, bahkan memaksanya untuk menginap malam ini.
"Kak, dia pasti marah," ucap Mone takut-takut. Bagaimanapun juga kakak iparnya itu pemarah dan suka menindas siapa saja. Ia takut saat kakinya sudah sembuh nanti, Ken akan menghukumnya atau Aira.
"Tidak akan. Itu adalah hukuman karena dia sudah melanggar janjinya sendiri," jawab Aira yakin.
"Tapi itu hanya segelas saja. Lagipula bukan alkohol berkadar tinggi. Jika itu aku, aku tidak akan mabuk. Kakak ipar benar-benar payah. Sudah tahu tidak tahan alkohol, kenapa nekat meminumnya?"
"Aku juga tidak mengizinkanmu minum minuman keras!" ucap wanita hamil itu serius, tanpa ekspresi sama sekali.
"Eh? Tapi..."
"Tidak ada toleransi sedikitpun. Tidak setetes, apalagi segelas. Tidak sama sekali!" titah Aira pada adiknya.
"Kenapa?"
"Minuman itu merusak tubuh kalian. Terlebih lagi, Ken seorang muslim sekarang. Bagi kami, minuman keras tidak boleh dikonsumsi sama sekali. Jadi aku tidak akan mengampuninya jika itu terjadi lagi," jelas Aira.
"Ayolah Kak, jangan terlalu kaku. Kami meminumnya untuk menghangatkan badan. Tidak ada yang lain."
"Dia suamiku. Ayah dari anak-anakku. Tentu saja aku harus memastikan dia layak menjadi panutan untuk mereka. Jika hari ini aku tidak memberikannya hukuman, mungkin saja dia bisa melakukannya lagi di lain kesempatan. Aku tidak mengizinkan suamiku mendekati alkohol sama sekali." Aira bersikeras dengan kemauannya.
"Kak, itu hanya hal sepele. Semua orang di negara empat musim tentu saja minum alkohol. Kakak seperti nenek-nenek saja," gerutu Mone sambil membalikkan badannya, memunggungi Aira.
__ADS_1
"Mone-chan..." panggil Aira lembut, ia membelai rambut hitam adik sepupunya dengan sayang.
"Ada hal-hal yang kamu sukai tapi itu tidak baik untukmu, dan ada sesuatu yang sangat kamu benci padahal itu adalah yang kamu butuhkan. Tidak masalah jika itu orang lain, tapi aku tidak ingin orang-orang tersayangku menghancurkan diri mereka sendiri."
Mone terdiam mendengar alasan kakaknya. Apa yang dia katakan ada benarnya, tapi rasanya itu terlalu kolot. Semua orang di Jepang boleh minum alkohol jika berusia di atas 20 tahun, itu bukan sesuatu yang dilarang oleh negara. Itu yang terbersit dalam benak Mone.
"Agama kalian menyeramkan. Itu hanya minuman dengan sedikit kandungan alkohol. Kenapa kepercayaan yang dianut kakak justru melarangnya? Bukankah itu menyebalkan? Makan minum saja dilarang. Aneh. Agama hanya tradisi, tidak perlu mempersulit kehidupan kita," gerutu Mone.
"Bukan begitu. Agama ada untuk mengatur kita, bukan untuk mengekang. Sama halnya seperti peraturan di sekolah, itu agar semua lebih tertata rapi. Tuhan Maha Pengasih pada semua makhluk-Nya di bumi, itulah kenapa diciptakan aturan agar semua terkendali dan tidak menyakiti satu sama lain."
Hening.
Mone tidak menanggapi ucapan Aira. Hampir sama seperti sebagian besar orang Jepang yang lain, pandangan Mone terhadap agama adalah sebagai ikatan budaya dan tradisi. Memiliki dua atau lebih agama dalam kehidupan seseorang adalah sesuatu yang wajar, dan hal tersebut menjadikan salah satu karakteristik warga Jepang.
Dalam sejarahnya yang panjang, agama telah mengalami perkembangan, agama asli tetap dipertahankan walaupun muncul agama-agama baru. Agama asli tetap hidup dengan harmonis meskipun terjadi sinkretisme. Ada beberapa agama yang ada di Jepang selain Shinto sebagai folk belieft dan sebagai kepercayaan, antara lain Budha, agama-agama Samawi, Shinshukyo dan agama-agama lainnya yang berdampingan secara harmonis. Meskipun dikatakan bahwa agama tidak penting dalam kehidupan orang Jepang, namun pada kenyataannya mereka tetap meneruskan kehidupan keagamaan sebagai “penjaga tradisi” kebudayaan mereka.
*sumber : neliti.com
Tidak sedikit orang Jepang yang terlahir sebagai penganut Shinto seperti agama orang tuanya, dimana mereka pergi ke kuil untuk berdoa. Namun setelah dewasa mereka hidup bebas kemudian menikah di gereja. Pada akhirnya, diadakan upacara Budha pada kematian dan penghormatan terhadap leluhur.
"Kembalilah ke kamarmu, Kak. Aku ingin sendiri," ucap Mone. Ia merasa sedikit tidak nyaman saat Aira berkeras dengan pendapatnya. Bagi gadis sepertinya yang menganut paham ateis bertahun-tahun di Rusia, keyakinan Aira tentang Tuhan membuatnya sedikit tidak nyaman.
*Ateis adalah sebuah pandangan filosofi yang tidak memercayai keberadaan Tuhan atau dewa-dewi.
Aira menghembuskan nafasnya kala mendengar Mone mengusirnya. Ia mendekat ke arah adik sepupunya itu dan mencium pelipisnya yang tertutup helai rambut hitamnya, "Oyasumi..."
*oyasumi biasa diucapkan seseorang sebagai bentuk salam sebelum tidur.
"Hmm," gumam Mone sambil memaksakan senyumnya. Ia tidak ingin mengecewakan kakaknya. Meskipun keyakinan mereka berbeda, bukan berarti hal itu membuatnya harus menjauh dari Aira.
Selain wanita Indonesia ini, Mone tidak memiliki kerabat lain sama sekali. Meskipun Shun masih menganggapnya sebagai adik angkat, kenyataannya mereka tidak lagi bersama sekarang. Dia sibuk di laboratoriumnya sepanjang hari. Entah apa yang dia kerjakan di sana, Mone enggan untuk mencari tahu. Mereka sekadar mengirim pesan menanyakan sudah makan atau belum. Selebihnya tidak ada yang lain lagi.
Aira kembali ke kamarnya dan mendapati Ken yang tengah berguling ke kanan dan ke kiri, membuat posisinya membelakangi pintu masuk. Ya, Aira sengaja tidak bersuara karena takut membangunkan suaminya. Ia pikir Ken sudah terlelap karena jam digital di atas nakas menunjukkan pukul sebelas malam.
__ADS_1
Aira diam di tempatnya mengamati apa yang Ken lakukan di ruangan gelap ini. Ia sengaja mematikan semua lampu agar Ken bisa istirahat total, tapi kenyataannya pria itu justru sedang bergerak-gerak tak teratur seperti cacing kepanasan. Kaki dan tangannya dipasang perban membuatnya hanya bisa berguling ke kanan kiri berkali-kali. Aira tersenyum mengamati sambil menyandarkan punggungnya ke dinding.
"Ai-chan...," panggil Ken lirih namun masih terdengar jelas di telinga Aira.
Ken kembali menggulingkan badannya ke samping dan terkejut sejadi-jadinya saat melihat Aira yang berdiri di sisi ranjang tempatnya berbaring.
"Whooaaa.. Aa.. Ai-chan?! Sejak kapan kamu ada di sana?" tanya Ken gugup. Ia harus menetralkan detak jantungnya dengan segera sebelum Aira tahu, atau wanita itu akan mencemoohnya yang begitu terkejut seperti melihat hantu.
"Sejak tadi." jawab Aira sengaja mendekatkan diri, mengamati wajah Ken.
Klik
Aira menghidupkan lampu tidur yang ada di atas nakas membuat wajah suaminya yang memerah sempurna terlibat dengan jelas. Hal itu membuat Ken segera berbalik memunggungi istrinya.
"Matikan lampunya!" perintah Ken dengan kesal. Ia berusaha menutupi rasa gugupnya dengan pura-pura marah.
"Tidak mau. Matikan saja sendiri," goda Aira.
Ken diam di tempatnya dan mengambil nafas dalam. Berusaha segera menguasai situasi canggung ini. Ia berbalik dan menatap Aira dengan senyum yang dipaksakan.
"Apa hukumanku sudah berakhir?" tanya Ken penuh harap.
"Siapa bilang? Aku datang untuk menghukummu," ucap Aira sembari memasang selimut berwarna biru itu menutupi setengah badan suaminya, "Bayi besarku begitu aktif sampai membuat selimutnya terjatuh di lantai. Jadi, aku akan menghukummu sekarang. Are you ready?"
Glek
Ken hanya bisa menelan salivanya sendiri, ia harus menyiapkan mental untuk menerima hukuman dari Aira yang ternyata belum berakhir.
"Lakukan apa saja yang kamu inginkan," ucap Ken pada akhirnya, pasrah pada keadaan.
...****************...
Segitu dulu, see you 😂😘😘
__ADS_1
Hanazawa Easzy