Gangster Boy

Gangster Boy
Season 2 : Fluktuasi Hormon


__ADS_3

Aira mengerjapkan matanya saat merasa sesuatu menyentuh hidungnya. Ia mendapati Ken yang sedang asik memainkan wajahnya, mulai dari hidung, mata, alis, hingga merapikan beberapa anak rambutnya yang sedikit berantakan.


"Ohayou Ai-chan." ucap Ken.


(Selamat pagi)


"Ohayou.." jawab Aira, membuka mulutnya tapi tidak mengeluarkan suara. Ia masih mengantuk dan kembali menutup matanya lagi. Ia tidur hampir tengah malam setelah menikmati ubi panggang kesukaannya.


"Kamu masih mengantuk?" tanya Ken sambil membawa helaian rambut istrinya ke belakang telinga. Menampilkan pipi chubbynya yang menggemaskan.


"Hmm.." gumam Aira menganggukkan kepalanya. Ia bergerak kecil demi mendapat kenyamanan lebih, menyelipkan kedua tangannya di bawah kepala dan berharap masuk ke alam mimpi lagi.


"Sejak kapan istriku jadi pemalas seperti ini?" sindir Ken. Ia memainkan jari telunjuknya di pipi Aira, menekannya beberapa kali seolah sedang bermain squishy.


*Squishy adalah mainan yang bisa kembali pada bentuk semula sekalipun diremas-remas, karena memiliki tekstur yang lembut dan kenyal. Bahan dasarnya terbuat dari spons (busa) yang lembut, fleksibel dan empuk. Squishy biasanya berupa karakter-karakter lucu, boneka, kue, makanan, permen dan sebagainya.


Aira menepis jemari Ken sebelum membalikkan badan. Ia memunggungi suaminya dan menarik selimut berwarna hitam itu sampai ke lehernya. Menyembunyikan tubuh mungilnya dan menyisakan kepalanya saja yang terlihat.


"Ai-chan..." panggil Ken sembari memainkan helai rambut Aira yang tergeletak bebas di atas bantal. Ia menariknya perlahan untuk menggoda istrinya. Ken ingin Aira merespon perlakuannya, bukan mendiamkannya apa lagi memberikan punggung seperti sekarang.


"Ayo tunjukkan wajahmu. Jangan bersembunyi dariku." bujuk Ken dengan seringai jahil di wajahnya.


"Pergilah. Jangan menggangguku." jawab Aira enggan. Ia masih ingin terlelap. Ken tersenyum melihat penolakan istrinya. Tangannya semakin iseng memilin ujung rambut istrinya yang sedikit ikal. Ia bahkan tidak segan menariknya pelan agar Aira menoleh ke arahnya.


Aira menarik rambutnya, menyimpan helaian hitam itu di bawah kepala. Ia berharap Ken tidak lagi berbuat iseng padanya. Ia benar-benar masih ingin tidur sekarang, matanya masih terasa berat.


"Semakin kamu menolak, semakin aku ingin mengganggumu." ucap Ken. Ia justru ikut masuk ke dalam selimut dan mengikis jarak dengan istrinya. Sebelah tangannya mulai beraksi, menyusup ke bawah leher Aira. Sementara tangan yang lainnya ia pakai untuk memeluk perut istrinya.


"KEN?!" Aira refleks berbalik dan segera membuat jarak dengan mendorong dada suaminya. Tapi tenaganya yang tidak sebanding dengan berat tubuh Ken justru membuatnya terdorong ke belakang dan hampir jatuh.


Ken dengan sigap menahan lengan Aira, membuatnya tidak jadi jatuh terjungkal ke belakang. Senyumnya semakin lebar melihat wajah istrinya yang terlihat tegang.


Ya, siapa yang tidak panik saat hampir jatuh dari ranjang? Membayangkan tubuhnya akan membentur ubin marmer di bawahnya membuat jantung Aira berdetak dua kali lipat lebih cepat dari biasanya. Ia takut membahayakan kandungannya yang masih sangat muda ini.



(Astaga bang 😍😍 kamu cute sekalii... Author mau dong di kelonin 😂😂 *abaikan, hahaha)


Ken mengembalikan Aira ke posisinya semula. Detik berikutnya ia sedikit mengangkat badannya. Menyangga kepalanya dengan satu tangan agar posisinya lebih tinggi dari Aira dan bisa mengamati wajah istrinya dengan leluasa. Ia membelai wajah bulat istrinya dengan sayang untuk menenangkannya.


Interaksi dengan pasangan akan merangsang parasimpatik atau sistem relaksasi. Sistem relaksasi ini dapat membuat tubuh melepaskan hormon serotonin, dopamin, dan oksitosin. Ketiga hormon tersebut yang dapat meningkatkan imunitas kekebalan tubuh. 


Dalam dunia medis, hormon oksitosin dipercaya dapat membuat suasana hati lebih tenang dan bahagia. Hormon tersebut terbukti dapat membantu menurunkan tekanan darah diastolik dan sistolik agar dapat terhindar dari risiko penyakit jantung dan stroke.


Tekanan darah diastolik adalah tekanan ketika jantung dalam keadaan istirahat, yaitu saat terjadi pengisian darah ke jantung. Sementara, sistolik adalah tekanan ketika jantung memompa darah ke seluruh tubuh.


"Bukankah sudah ku bilang jangan membahayakan dirimu sendiri?" ucap Ken sembari menyingkirkan helaian rambut dari wajah istrinya yang masih terdiam. Nampaknya ia masih syok dengan kejadian barusan. Jika saja Ken tidak sigap menahannya, ia pasti sudah terjatuh.


"Terima kasih." ucap Aira dengan canggung. Ia masih berusaha menetralkan rasa takutnya.


"Apa kita se-asing itu?" tanya Ken meraih dagu istrinya agar mereka saling bertatapan.

__ADS_1


"Gomen.." ucap Aira kemudian. Ia menundukkan wajahnya, tidak berani bersitatap lebih lama lagi dengan suaminya.


"Ayolah sayaaang..." Ken menempelkan hidungnya pada Aira, "Apa ada yang mengusik pikiranmu?"


Aira mengangguk sekali.


"Ada apa? Katakan padaku. Aku suamimu dan kamu istriku. Tidak ada yang perlu di sembunyikan lagi." pinta Ken kemudian.


"Aku tidak tahu bagaimana mengatakannya." gumam Aira lirih.


"Katakan apa saja, semuanya. Aku akan mendengarkanmu." Ken membelai pipi istrinya dengan lembut.


"Aku.. tiba-tiba.. membencimu." ucap Aira terbata-bata. Ia kesulitan untuk menyampaikan perasaannya sendiri.


"Apa?"


"Aku ingin ada di sisimu, tapi di saat yang sama aku tidak ingin melihatmu. Bahkan mencium bau badanmu saja membuatku benci. Aku ingin kamu memperhatikanku, tapi di saat yang sama aku juga sebal saat kamu berusaha mengusikku. Aku bahkan tidak ingin melihat wajahmu." Aira mengucapkannya dengan mata tertutup.


"Heih?" Ken semakin tidak mengerti arah pembicaraan istrinya, terlihat dari keningnya yang berkerut. Wanita di hadapannya seolah sedang kebingungan dengan keadaannya sendiri.


"Ada apa denganku?" tanya Aira.


Dan disinilah mereka sekarang. Pagi-pagi buta Ken membawa Aira menemui Kaori di kediaman pribadinya. Kaori sampai menggelengkan kepalanya karena heran. Ia masih bergulung di bawah selimut saat asisten rumah tangganya mengatakan ada dua orang tamu yang datang. Padahal ia tidak merasa memiliki janji temu dengan siapapun.


"Kehamilan yang dialami oleh seorang wanita, diisi dengan banyaknya hal yang berubah. Dimulai dari perubahan dari hal kecil yang tidak kentara hingga hal besar seperti membenci suaminya sendiri." ucap Kaori sambil tersenyum.


Ken, Aira dan Kaori duduk di beranda apartemen yang menghadap ke laut. Pemandangan yang indah, membuat siapa saja betah berlama-lama di sini.


"Jadi perubahan Aira tidak masalah?" tanya Ken. Raut kekhawatiran di wajahnya perlahan memudar. Penjelasan dokter wanita di depannya cukup masuk akal dan membuatnya tenang.


"Ini tentu normal. Tubuh seorang wanita berubah secara drastis dan hormon-hormonnya berfluktuasi. Tapi terkadang perasaan ini juga bisa disebabkan oleh perlakuan dari si suami sendiri. Ini bisa dikatakan sebagai masalah yang cukup rumit. Mungkin kamu sendiri yang membuat masalah dengan istrimu." Kaori menatap tajam pada Ken, seolah mencari tahu apa yang mungkin Ken lakukan pada istrinya.


Mata Ken membulat, 'Apa? Aku tidak melakukan apa-apa.' belanya dalam hati.


"Ada beberapa faktor yang menyebabkan ibu hamil membenci suaminya." Kaori menghidangkan teh hijau buatannya pada Aira dan Ken, "Salah satunya cemburu." lanjutnya.


"Cemburu?" tanya Aira heran.


"Ya. Kebanyakan ibu hamil mengakui bahwa kadang sulit untuk tidak merasa iri pada sang suami. Saat ibu hamil sulit menikmati makanan dengan bau yang tajam, suami mereka justru dapat menikmatinya tanpa merasakan masalah.


Faktanya, ibu hamil cemburu karena suami mereka dapat terus memiliki kehidupan yang normal, sementara dia merasa kesusahan dengan kehamilannya.


Dalam beberapa kasus, solusi terbaik adalah suami perlu mengakui perubahan pada istrinya dan menyesuaikan diri. Misalnya, setuju untuk melakukan rutinitas yang sama seperti sang istri, mendampinginya pergi jogging, membantunya memasak makanan enak atau menghabiskan akhir pekan bersama." jelasnya panjang lebar.


"Mungkin bukan itu penyebabnya. Aku tidak cemburu sama sekali padanya." sangkal Aira sambil melirik Ken sekilas.


"Apa kamu membenci aroma tubuh suamimu?"


"Heih?" Aira terkejut, bagaimana Kaori bisa tahu. Kaori tersenyum melihat reaksi Aira, tebakannya benar.


"Beberapa wanita indra penciumannya menjadi sangat kuat saat hamil. Rata-rata bumil ini tidak suka dengan aroma makanan yang kuat, misalnya makanan laut. Atau terkadang mereka membenci aroma tubuh suaminya sendiri. Bukan aroma keringatnya, melainkan aroma mereka setelah mandi juga dibenci oleh sang istri."

__ADS_1


"Aira tidak bermasalah dengan badanku. Dia baik-baik saja meski berdekatan denganku." Ken coba membela istrinya. Bagaimana pun juga ini berhubungan dengannya, khususnya aroma tubuhnya.


"Benarkah?" tanya Kaori memastikan pada Aira yang dijawab dengan anggukan.


"Meskipun sedikit tidak nyaman, tapi aku baik-baik saja dengan hal itu." jawab wanita berjilbab kelabu itu. Sedikit memberikan muka untuk suaminya.


"Itulah kenapa aku mengatakan itu masalah yang rumit. Keadaan masing-masing orang pasti berbeda, karena fluktuasi hormon yang terjadi. Ada yang begitu ingin melihat wajah suaminya saat itu juga, tapi begitu suaminya pulang ia justru merasa mual dan tidak ingin melihatnya. Itu wajar sebagai salah satu bentuk perubahan psikologis wanita hamil. Terlebih lagi di trimester pertama seperti sekarang ini." Kaori membuka toples berisi biskuit chocho chips kesukaannya.


"Bersiaplah Ken. Jangan kaget atau geleng-geleng kepala bila nanti sifat Aira jadi berubah 180° dari sebelumnya." Kaori mengolok-olok Ken yang begitu panik tadi pagi.


"Kaori-chan, sebenarnya apa penyebab perubahan psikologis pada ibu hamil? Apa hanya karena hormon di dalam tubuhnya?" tanya Aira penasaran.


"Terlepas dari perubahan fisiologis (fisik), kehamilan bersinggungan dengan fenomena kompleks yang mencakup perubahan psikologis dan sosial. Kehamilan, terutama pada kehamilan pertama, merupakan peristiwa psikologis yang kuat. Di sini bumil mengalami banyak perubahan psikologis dalam hidupnya.


Contohnya, mulai dari ambivalensi (perasaan tidak sadar yang saling bertentangan terhadap situasi yang sama), perubahan suasana hati, kecemasan, kelelahan, kegembiraan, hingga depresi."


"Ah, Aira bilang ingin membunuhku." ucap Ken spontan.


Plakk


Aira memukul tangan Ken yang tergeletak di meja, memintanya tidak menyela penjelasan dokter Kaori. Ia meletakkan jari telunjuknya di depan bibir, meminta Ken diam. Kaori tersenyum melihat betapa manisnya interaksi kedua tamunya ini.


"Ada studi menarik yang bisa kita simak mengenai kehamilan dan perubahan psikologi ibu hamil, berjudul Pregnancy as a Psychological Event, yang dipublikasikan dalam US National Library of Medicine National Institutes of Health.


Ahli di sana berkata, kehamilan diidentifikasi sebagai pemicu yang memengaruhi status psikis ibu hamil selama periode perinatal. Hal itu juga akan mempengaruhi kesehatan bayi di dalam kandungan dan ketika lahir nanti.


Studi tersebut juga mengatakan, hubungan yang tepat dari pasangan dan dukungan dari masyarakat, memainkan peran penting dalam mengatasi stres selama kehamilan."


"Jadi, bisa dibilang aku stres?" tanya Aira ragu-ragu.


"Itu yang sering terjadi. Aku bukan dokter kandungan, hanya sedikit mempelajari ilmu perubahan psikologi pada wanita hamil. Alangkah baiknya jika kita berkonsultasi langsung pada dokter kandungan yang memeriksamu kemarin. Ah, bukankah hari ini jadwal untuk check up rutinmu?" tanya Kaori mengingatkan.


Aira melihat tanggal di ponselnya, "Iya benar. Aku tidak mengingatnya sama sekali." jawab Aira.


"Baiklah. Ayo pergi kesana." ajak Kaori.


*******


Hai minna-san. Jumpa lagi sama author-chan yang kawaii ini 🤗😄


Khusus episode ini author sengaja bahas tentang kehamilannya Aira. Kenapa dia uring-uringan, benci sama Ken, sampe kemarin ngancam mau bunuh suaminya segala 😨


Btw, informasi yang author cantumkan di sini diambil dari berbagai sumber di google. Jadi mohon maaf jika ada yang keliru, karena author juga bukan praktisi medis. Author ngga tahu info diatas bener apa cuma opini dari redaksi artikel online yang author baca. Semoga bermanfaat untuk tambahan pengetahuan kita.


Jadi, kalian ngga akan bertanya-tanya lagi kenapa Aira kaya gitu, kasian Ken, Aira plin plan, Aira kejam, atau apapun itu. Karena menurut author perubahan hormon kan bisa terjadi sama semua orang ya. Misalnya cewe PMS aja bisa jadi garang kaya singa apalagi bumil muda dengan segala kondisi psikologisnya. Author emang sengaja bikin Aira labil 😋


Thanks buat semua waktu kalian yang mau menyempatkan baca episode ini. Ngga kerasa udah episode 102 🤗😍😍


Like, comment & vote kalian adalah energi baru buat author 😘😘


Mata ashita ne (sampai jumpa besok)

__ADS_1


Hanazawa easzy 😉


__ADS_2