Gangster Boy

Gangster Boy
Gangster Boy : The Only One


__ADS_3

Yamaken meninggalkan Mone seorang diri di dalam apartemennya dengan berbagai penyesalan yang menghunjam tepat di hatinya. Gadis itu memberanikan diri mengakui kesalahannya yang sempat memiliki rasa pada pria lain. Dia juga meminta maaf pada aktor 28 tahun itu. Tapi agaknya Yamaken yang sedang sensitif perasaannya karena demam, justru merasa semakin tersakiti. Dia pergi tanpa mengatakan apapun, membuat tubuh Mone seketika luruh ke lantai.


Di tempat yang lain, Si Orang Ketiga yang mereka bicarakan juga tengah menyesali perbuatannya. Bukan menyesal karena kembali ke Jepang demi gadis mungil itu, justru ia menyesal karena tidak datang lebih awal.


Kesibukannya di laboratorium pusat, membuat dia harus menekan ambisinya untuk mencari Mone. Dan setelah kontrak kerjanya selesai, tak ada jejak sama sekali tentang gadis yang ia tolong saat tersesat itu. Sungguh hal yang membuatnya frustrasi.


Hanya berbekal nama, tentu saja begitu sulit mencari salah satu orang Asia di antara ratusan juta orang Eropa yang ada di benua putih itu. Pada akhirnya ia menyerah dan memilih kembali ke Jepang setahun yang lalu.


Dokter Takeshi mencari informasi tentang keluarga Kamishiraishi, namun fakta mencengangkan yang ia dapatkan. Menurut detektif khusus yang dibayarnya, ternyata keluarga Kamishiraishi sudah tak ada dalam catatan sipil negara ini.


"Tuan Kamishiraishi Shu tewas saat perayaan ulang tahun putrinya. Dan nona Mone juga menghilang saat itu. Tidak ada informasi sama sekali dimana keberadaannya. Maaf, hanya itu yang bisa saya dapatkan. Jika suatu saat nanti ada informasi lain, saya akan menghubungi Anda."


Kata-kata detektif itu masih teringat jelas di kepalanya. Dan seperti mendapat angin segar, detektif itu memberitahukan bahwa nama Mone Kamishiraishi kembali tercantum dalam daftar catatan sipil. Dia bekerja di sebuah panti jompo, menjadi relawan yang mengurus para lansia. Dokter Takeshi tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia segera mengajukan dirinya menjadi dokter di panti asuhan yang ada di bawah yayasan yang sama dengan panti jompo itu.


Pria 32 tahun ini membuat pertemuan mereka seolah kebetulan dan berusaha merebut perhatian gadis muda ini. Perbedaan usia tak menjadi halangan untuknya. Dia yakin Mone akan menerima perasaannya. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Dia tidak tahu bahwa gadis chubby itu sudah menjadi calon istri seseorang.


"Hari ini terasa begitu melelahkan, atau hanya sekadar perasaanku saja?' batin dokter Takeshi sembari melangkah melalui koridor panjang di panti lansia dan anak-anak terlantar ini. Ia berjalan dengan kepala tertunduk ke bawah sampai tidak menyadari gadis mungil yang kini berpapasan dengannya.



"Dokter," panggil sebuah suara yang membuat pria itu menghentikan langkahnya. Ia menoleh ke belakang dan sedikit terkejut dengan sosok di hadapannya.


"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya pria yang mengenakan kaus turtle neck warna hitam ini. Ia menunjukkan ekpresi wajah yang terlihat aneh. Tidak bersahabat sama sekali, merasa tidak nyaman dengan kemunculan gadis ini.


"Bisakah kita berbicara sebentar?"


"Apalagi yang perlu dibicarakan? Calon suamimu sakit 'kan? Rawat dia sampai sembuh. Aku tidak ingin menjadi perusak hubungan kalian. Mulai sekarang jangan menemuiku lagi!" ketusnya jengkel. Ia benar-benar tidak ingin terlibat dengan Mone lagi.


Dokter Takeshi beranjak pergi, meninggalkan Mone dalam perasaannya yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Sungguh semuanya terjadi di luar dugaan. Dia dicampakkan oleh kedua pria yang ia sayangi.


Mone hanya bisa menatap punggung dokter tampan itu menjauh. Dia tidak bisa berbuat apapun lagi. Semua ini murni kesalahannya yang tidak bisa menjaga hati untuk satu orang saja.


...****************...



Di sebuah kamar dengan dekorasi berwarna gelap, Ken mengerjapkan kelopak matanya beberapa kali. Ia mengurut pelipisnya yang terasa sedikit tidak nyaman. Dengan kesadarannya yang belum sempurna, ia menatap arloji di pergelangan tangannya. Netranya membola begitu melihat perpaduan jarum pendek dan jarum panjang yang ada di sana, pukul 16.15 sore.


"HAH?" Ken beranjak duduk dan menatap sekitar. Dari jendela kaca yang ada di sisi kanan tubuhnya, tampak bahwa matahari sudah mulai turun ke peraduannya.


"Berapa lama aku tidur? Kenapa Kosuke tidak membangunkanku?!" geram Ken kesal. Ia berniat pergi dari ranjang berwarna hitam ini saat pintu terbuka dan menampilkan Aira dalam balutan gaun hijau lumut yang menutup hingga mata kakinya. Ia terlihat cantik meski agak sedikit kurus dibandingkan saat ia baru datang setahun yang lalu.


"Sudah bangun, Sayang?" tanya Aira sembari mendekat ke arah suaminya.


"Apa yang kamu lakukan di sini?" Ken mengerutkan keningnya, merasa tidak suka dengan kehadiran wanita kesayangannya ini. Tidak seharusnya ia berada di sini dan melihatnya dalam keadaan yang lemah seperti sekarang.


"Aku mengantarkan makan siang dan kamu sedang tertidur. Jadi aku menunggumu bangun." Aira meletakkan beberapa wadah berisi makanan di atas meja. Ia tersenyum seolah tidak tahu bahwa Ken sedang sakit. Ia ingin melihat apakah suaminya itu akan mengaku atau terus menutupi fakta ini darinya.


"Pergi basuh wajahmu. Aku akan hangatkan makanannya." Aira kembali berucap, membuat Ken beranjak bangun dan pergi ke kamar mandi detik berikutnya.

__ADS_1


Swushh


Swushh


Ken mencuci wajahnya dan menatap pantulan dirinya di dalam cermin setelah menggulung lengan bajunya sampai siku. Ia menatap siku bagian dalamnya yang terdapat kain kasa kecil yang ditutup plester. Keningnya berkerut, bertanya-tanya siapa yang berani mengambil sampel darahnya tanpa izin?


"Kenapa lama? Ada masalah?" tanya Aira yang tiba-tiba muncul di belakang Ken. Ia melongokkan kepalanya di balik pintu, membuat Ken terkejut dan segera menurunkan lengan kemejanya lagi. Dia tidak ingin Aira tahu tentang hal ini. Ia pikir pastilah Kosuke yang sudah berani melakukannya saat ia terlelap tadi.


"Tidak ada," jawab Ken tergesa. Ia keluar sambil memeluk puncak lengan istrinya.


"Apa yang terjadi? Kamu di sini sejak siang tadi?" selidik Ken. Ia curiga, mungkin saja kedatangan Aira kemari karena Kosuke ataupun Minami memberitahukan keadaannya yang sedikit memburuk.


"Apa yang terjadi?" Aira berbalik menatap suaminya. Ia mengambil handuk kecil di dalam tasnya dan menyeka wajah suaminya yang masih basah. "Aku meminta tolong pada ibu untuk membuatkan makanan kesukaanmu. Tapi ternyata kamu sedang tidur, jadi aku tidak ingin mengganggumu."


Aira melepas dasi yang melingkari leher suaminya dengan lemah lembut dan mulai melucuti kancing kemeja suaminya satu per satu.


"Apa yang kamu lakukan?!" Ken menahan jemari istrinya yang berusaha melepas kemeja putih di tubuhnya ini.


"Bajumu basah. Kamu bisa sakit." Aira melepaskan genggaman tangan Ken dan mengambil satu kemeja baru dari dalam lemari. Disana ada beberapa stel pakaian yang bisa digunakan untuk cadangan saat Ken ingin berganti baju sebelum pergi ke pertemuan tertentu.


Ken mengamati kemejanya yang memang terkena percikan air saat dia membasuh wajahnya tadi.


"Pakai ini." Aira menyerahkan baju di tangannya pada Sang Suami.


"Aku bisa memakainya sendiri." Ken mengambil kemeja warna navy itu dan bersiap pergi ke kamar mandi. Dia tidak ingin Aira melihat sikunya dimana terdapat plester di sana.


Aira berdiri di depan pintu kamar mandi, menghalangi suaminya agar tidak masuk ke dalam lagi dan menghilang dari pandangannya.


"Apa aku ini orang asing untukmu? Kenapa harus menghindariku?" tanya Aira pura-pura marah. Ia ingin melihat bagaimana Ken berdalih untuk menyembunyikan bekas jarum di siku dalamnya. Ia tahu pria ini pasti akan mencari alasan untuk menyembunyikannya. Padahal faktanya, Aira sendiri yang mengambil sampel darah suaminya beberapa jam yang lalu.


"Aku tidak menghindarimu. Bukankah kamu yang memintaku untuk menggantinya dengan yang baru?" Ken menunjuk kemejanya yang basah di bagian dada.


"Lakukan di depanku!" titah Aira dengan wajah kanak-kanak yang sedang memaksakan sesuatu.


Ken mengerutkan keningnya dalam-dalam. Ia heran melihat sikap istrinya yang sedikit aneh dan agresif ini.


'Mungkinkah dia tahu apa yang sebenarnya terjadi?' batin Ken menduga-duga.


"Aku hanya tidak ingin kamu melihat tato di punggungku. Bukankah itu akan mengingatkanmu pada Erina? Aku tidak ingin kamu marah ataupun cemburu." Ken masih berusaha mencari alasan, membuat Aira tertawa dalam hati.


"Kenapa aku harus cemburu pada orang yang sudah tidak ada di dunia ini lagi? Apa kamu malu padaku? Bagian mana dari tubuhmu yang belum aku lihat?!"


Blush


Wajah dan telinga Ken seketika memerah. Ia malu mendengar rentetan pertanyaan Aira yang begitu frontal ini. Rasanya Aira yang ia kenal tidak pernah seperti ini, kecuali saat trimester kedua kehamilannya dimana dia menjadi begitu agresif dan dominan akibat lonjakan hormon di dalam dirinya. Ken masih ingat betul bagaimana dominasi Aira saat itu dan ia tidak bisa menahannya sama sekali.


"Apa yang kamu katakan? Aku tidak mengerti." Ken berbalik menuju salah satu kursi di dekat jendela. Ia meletakkan kemejanya di sana dan mulai melepas pakaiannya sendiri. Pria itu sedikit memiringkan badannya, berusaha menutupi sikunya agar tak terlihat oleh Aira.


"Pfftt ...." Aira menutup mulutnya dengan tangan, menahan tawa yang siap meledak saat itu juga. Ken benar-benar berganti pakaian di ruangan ini. Ia tidak memaksakan kehendaknya masuk ke kamar mandi agar Aira tidak curiga.

__ADS_1


Grep


Aira memeluk Ken dari belakang saat pria itu masih sibuk memasukkan mata kancing di bagian depan kemejanya ke dalam lubang masing-masing.


"Ai-chan," panggilnya lirih. Ia tidak tahu kenapa Aira tiba-tiba memeluknya.


"Sampai kapan kamu akan menyembunyikannya dariku?" tanya Aira lirih. Ia semakin mengetatkan jalinan tangannya di depan perut Ken. Aroma lavender segera menyapa indera penciumannya. Wajahnya ia tempelkan pada punggung bidang pria ini yang terasa begitu pas untuk bersandar.


Hening


Ken tak bisa berkata-kata. Gerakan tangannya terhenti, menyisakan dua kancing teratas kemejanya yang belum tertaut sempurna dengan pasangannya.


"Apa yang kamu katakan?" Ken berusaha menetralkan wajahnya yang sempat terkejut beberapa detik yang lalu. Ia berbalik dan menatap wajah bulat Aira yang kini ada di hadapannya. "Apa yang aku sembunyikan darimu?"


Bukannya menjawab pertanyaan Ken, Aira justru kembali memeluk suaminya dengan erat. Ia tidak ingin mengatakan apapun. Pasti suaminya ini bisa merasakan kekhawatiran yang melanda hatinya. Dia bukan pria bodoh yang tidak bisa membaca situasi yang ada.


"Ai-chan," panggil Ken lagi. Ia mengelus puncak kepala wanitanya dengan penuh kasih sayang.


"Kenapa kamu menyembunyikannya dariku? Aku istrimu dan kamu suamiku. Semuanya harus dibicarakan bersama. Apa aku begitu tidak pentingnya untukmu?" pancing Aira lagi. Ia terbawa suasana dan ingin mendengar pengakuan dari mulut Ken sendiri. Wanita itu ingin Ken terbuka padanya, tanpa ada yang ditutup-tutupi.


Deg!


Pertanyaan terakhir Aira membuat Ken merasa bersalah. Tidak seharusnya ia menyembunyikan fakta ini dari istrinya.


"Sayang, maafkan aku. Aku tidak bermaksud menyembunyikannya darimu. Aku hanya tidak ingin kamu khawatir. Tentu saja kamu dan anak-anak penting bagiku. Sangat penting melebihi nyawaku sendiri." Ken melepas pelukan Aira dan menatap manik mata istrinya dalam-dalam.


"You're the one for me. The only one."


(Kamu seseorang yang ditakdirkan untukku. Hanya satu-satunya.)


Cup


Ken mencium istrinya dengan lembut, menyalurkan segenap perasaan cintanya pada wanita yang telah ia nikahi setahun lalu. Wanita yang rela bertaruh nyawa demi membawa ketiga buah hati mereka ke dunia ini.


Cup


Cup


Cup


...****************...


Hwaaaa.... Single tutup muka 😅😆😆😆


Unchhh, Si Abang so sweet sekali 😍😘😘😘😘


Maaf yaa kalo masih ada typo. See you,


Hanazawa Easzy

__ADS_1


__ADS_2