Gangster Boy

Gangster Boy
Gangster Boy : Penyesalan Kaori


__ADS_3

Jam dinding menunjukkan pukul 08.15 pagi saat Kaori membuka matanya. Dia menatap tirai warna biru yang ada di sebelah kanannya. Kain halus nan mengilap itu sesekali bergoyang tertiup angin, membuatnya seolah menari-nari di udara.


Kaori merasakan sesuatu yang tidak nyaman dengan punggungnya, terasa pegal. Dia coba mengingat-ingat apa yang terjadi sebelumnya, sampai membawanya terbaring di ranjang single bed seperti yang ada di rumah sakit pada umumnya. Ini bukan kamar hotel yang ia tinggali semalam.


Dokter cantik itu memilih duduk, menyingkirkan selimut yang menutupi kakinya sampai ke perut. Netranya berpendar ke sekeliling, mengamati tampilan kamar ini yang terasa asing. Penilaiannya tidak salah, ini ada di rumah sakit, terbukti dari adanya tabung oksigen di pojok ruangan dan beberapa perlengkapan medis lainnya.


Kaori mengingat semuanya, sejak Yu dan rombongannya datang untuk mencari tuan Harada hingga Shun yang pergi bersama mereka. Dia juga ingat saat hatinya terasa begitu gusar dan ingin menghubungi Yuki atau nyonya Suzuki. Dia harus memberitahu kedua orang itu bahwa nyawa tuan Harada dalam bahaya. Namun, niatnya gagal dan kini justru dia ada di sini. Apa yang sebenarnya terjadi?


Perlahan Kaori menyentuh tengkuknya, meraba bekas pukulan yang diterimanya pagi ini. Kilasan memori itu berputar kembali. Beberapa jam yang lalu, dia memutuskan turun dari kamarnya karena listrik padam. Sampai di lobi hotel, semua gelap gulita dan mendapati dua orang di belakang meja resepsionis.


Kaori berniat menanyakan situasi yang terjadi saat seseorang melumpuhkannya, membuatnya hampir terhuyung ke lantai jika seseorang tidak menangkap tubuhnya. Samar-samar dia melihat seorang pria memanggulnya di pundak. Dan setelahnya semua gelap. Dia tak sadarkan diri.


Krekk


Pintu kamar mandi terbuka, menampilkan tubuh atletis Shun dalam balutan handuk sebatas pinggang. Kaori berusaha menelan segala pertanyaan yang membebani pikirannya. Siapa yang telah melumpuhkannya? Mungkinkah orang-orang suruhan Shun? Atau ada pihak lain yang tidak mengizinkannya menghubungi Yuki maupun nyonya Suzuki?


Detik berikutnya Kaori hanya bisa menelan ludah saat menatap pria yang kini berjalan mendekat ke arahnya. Ada begitu banyak luka di tubuh bagian atasnya yang tak terhalang sehelai benang pun. Hati Kaori mencelos, ada perasaan gamam dan lega di saat yang bersamaan.


Satu sisi dia merasa lega karena pria yang menikahinya dua minggu yang lalu ini dalam keadaan baik-baik saja. Tapi di sisi lain, dengan kembalinya Shun, itu artinya mantan ayah mertuanya pasti sudah berhasil dimusnahkan. Ada pergulatan batin yang tidak bisa ia cegah, bagaimanapun caranya. Ada dua persimpangan, antara mendukung Shun atau marah karena pria ini pasti sudah membunuh tuan Harada, itu pikirnya.


Cup


"Bagaimana keadaanmu? Kamu baik-baik saja? Petugas hotel mengatakan kamu pingsan di lobi saat lampu padam, jadi mereka membawamu kemari." Shun mendekat dan mengecup kening wanitanya.


Kaori mengangguk, mengiyakan pertanyaan Shun tentang kondisinya.


"Syukurlah." Shun menjauhkan diri dan membuka lemari yang menempel di salah satu dinding kamar ini. Dengan gerakan cepat, dia memakai kaus lengan panjang yang menutupi luka-luka bekas pertempurannya pagi ini. Ada luka sayat di lengan, punggung bagian atas, dan dada kanannya. Pria itu sepertinya sudah mendapat pertolongan sebelumnya, terlihat dari luka-lukanya yang mulai mengering dan tak lagi mengeluarkan darah.


"Lain kali, tetap di tempat apapun yang terjadi. Aku pasti akan segera kembali untukmu." Shun masih sibuk dengan aktivitas pribadinya. Dia membenahi helai rambutnya yang masih basah. Detik berikutnya, pria itu sudah berdiri di depan Kaori yang menundukkan wajahnya dalam-dalam.


"Apa kamu takut? Maaf karena meninggalkanmu seorang diri." Shun duduk di tepi brangkar perawatan istrinya. Dia mengelus kepala Kaori dengan sayang, tanpa tahu apa yang ada di dalam kepala wanita ini.


"Apa kamu lapar?" Shun mengambil makanan yang tersaji di atas meja. Dia memeriksa hidangan yang disediakan oleh petugas rumah sakit pagi ini.

__ADS_1


"Ah, ini sudah dingin. Aku akan meminta yang baru untukmu." Shun berdiri, dia menghubungi perawat melaui telepon yang tertanam di dinding. Pria itu benar-benar meminta makanan baru untuk istrinya. Bahkan dia juga meminta beberapa potong buah segar untuk dikirimkan bersama makanan untuk wanita kesayangannya.


Kaori kembali merebahkan badannya di atas ranjang. Dia bersembunyi di balik selimut dan membelakangi suaminya. Entahlah, bagaimana dia harus bersikap pada suaminya.


"Apa kamu marah padaku?" Shun mengelus puncak lengan Kaori yang tertutup pakaian khusus pasien.


Lengang. Kaori tak menjawab pertanyaan Shun. Dia masih tidak tahu tentang perasaannya sendiri, katakanlah dia labil. Meski usianya sudah memasuki kepala tiga, nyatanya dia masih tidak bisa melepas masa lalu indahnya bersama keluarga Harada.


Shun memutari ranjang dan kini jongkok bertumpu lutut di samping ranjang perawatan istrinya. Wajahnya hanya berjarak beberapa jengkal dari kepala Kaori. Pria ini merasa bersalah dan menganggap keterdiaman istrinya karena marah padanya.


"Apa yang harus aku lakukan agar kamu memaafkanku, hem?" Shun menempelkan hidungnya, sesekali mengecup bibir tipis istrinya, sengaja menggoda wanita itu. Biasanya dia akan marah saat Shun sengaja mempermainkannya seperti ini.


Kaori diam tak merespon. Ia belum bicara sama sekali. Entah kenapa dia merasa tidak nyaman ada di sisi pria ini. Sejak awal dia paham bahwa Shun seorang gangster, sama seperti Ken dan juga Yoshiro. Pria ini sudah terbiasa membunuh musuh-musuhnya. Tapi, Kaori merasa tidak suka karena target Shun kini adalah mantan ayah mertuanya, Hayato Harada. Tak masalah jika orang lain yang menjadi sasaran targetnya, tapi seharusnya bukan ayah kandung pria yang ia cintai beberapa tahun yang lalu.


Dalam hati kecilnya, Kaori menyesal saat menyanggupi permintaan Aira untuk membujuk Shun dalam misi ini. Bagaimanapun juga, dia sudah bertekad akan membantu wanita Indonesia itu, menjadi penyokongnya dalam semua misi yang ada. Itu sebagai bentuk penebusan atas kesalahannya di masa lalu yang pernah mencelakainya, bahkan membahayakan nyawa bayinya juga.


"Kaori-chan," panggil Shun dengan suara yang lembut. Dia benar-benar tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada istrinya yang terus bungkam. Bahkan di detik-detik terakhir, kekasih hatinya ini terlihat melamun, merenungkan sesuatu.


"Ada apa? Apa yang terjadi?" Kening Shun berkerut dalam. Ia khawatir saat melihat mata Kaori berkaca-kaca.


Grep


Kaori kembali mendudukkan diri dan menahan tangan suaminya, mencegah pria itu untuk pergi. Kepalanya menggeleng kuat saat Shun menatapnya dengan oandangan bingung.


Tanpa aba-aba, Shun mendekap istrinya dalam pelukan. Dia tahu emosi wanita ini belum stabil. Entah apa yang ada dalam kepalanya, namun ada begitu banyak kejadian yang bisa menjadi faktor penyebab wanita ini bersikap aneh. Penculikannya semalam yang membuatnya harus tenggelam, pasti membuat trauma tersendiri baginya.


"Menangislah. Aku akan selalu ada untukmu." Shun mengelus punggung Kaori, membiarkan kaus lengan panjangnya basah oleh air mata. Menangis bukan hal yang memalukan, melainkan bisa membuat seseorang merasa lebih lega.


Beberapa menit berlalu, tangis Kaori akhirnya mereda. Emosinya naik turun tidak jelas, membuatnya tak bisa menahan air mata yang ia bendung dengan susah payah. Dan Shun tetap ada di sana, menjadi sandaran wanita yang pernah menjalani operasi pengangkatan rahim beberapa tahun yang lalu.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu membuat gerakan tangan Shun terhenti. Dia menoleh ke arah sumber suara dan mendapati seorang petugas berdiri di depan pintu. Dari celah yang ada di antara dua keping kayu itu, Shun bisa melihat wanita berpakaian biru itu membawa nampan di tangannya.

__ADS_1


Mau tak mau, Kaori melepas dekapannya dan membiarkan Shun membukakan pintu. Dengan bantuan tisu di atas meja, dia membersihkan pipi tirusnya dari bekas air mata yang menggenang di sana.


"Mau makan sekarang?" Shun menyanyai istrinya yang hanya mengangguk lemah. Pria itu mengambil satu meja lipat yang tersimpan di bawah ranjang dan segera memasangnya di depan tubuh Kaori. Dengan telaten, Shun menyuapi istrinya. Ia tahu, ini bukan waktu yang tepat untuk menanyai wanita ini.


"Shun," panggil Kaori saat ia selesai menelan suapan terakhir makan paginya, membuat Shun memerhatikannya. "Apa kamu akan meninggalkanku?"


DEG!


Pertanyaan Kaori terasa seperti lecutan cambuk bagi pria 29 tahun ini. Perih dan meninggalkan bekas yang terasa hingga ke relung hatinya.


"Itu tidak akan terjadi. Kamu terlalu banyak berpikir. Istirahatlah, aku akan ada di sini menemanimu." Shun membaringkan tubuh ramping istrinya kembali ke ranjang.


"Bagaimana jika aku mengkhianati kepercayaanmu?"


Hening beberapa saat. Shun lagi-lagi terhenyak mendengar penuturan istrinya. Namun, dia segara menetralkan wajahnya dengan cepat.


"Aku akan mendorongmu jatuh ke dalam jurang, meracuni makananmu, atau bahkan menusukmu dari belakang." Kaori mengungkapkan kejahatan pribadinya yang justru membuat Shun tersenyum.


"Aku tahu," jawab Shun santai.


"Eh?"


"Itu karma untukku. Aku sudah menyakiti begitu banyak orang di luar sana. Itu berarti akan ada satu waktu dimana Tuhan akan membalikkan keadaan yang ada, membuat akulah yang terluka. Karma pasti berlaku di dunia ini. Dan apapun yang terjadi nanti, aku tidak akan membiarkanmu pergi. Aku milikmu, kamu milikku. Itu fakta yang bahkan Tuhan saja tak bisa menyangkalnya."


Kaori tersentuh. Dia memeluk Shun dengan segenap perasaan berbunga yang kini memenuhi hatinya. Ia kembali jatuh cinta pada pria yang sama untuk kedua kalinya. Dan dengan otomatis, perasaannya untuk Yuki kembali terkikis. Penyesalan Kaori begitu besar. Dia hampir mengkhianati Shun, namun pria itu tak marah sama sekali.


Mulai saat ini, dokter cantik itu semakin menyadari benih-benih cinta di hatinya semakin tumbuh dan berkembang. Semoga kebahagiaan berpihak pada mereka berdua. Semoga saja.


...****************...


Hambar yaa? Maaf yaa benar-benar sibuk jadi Author baru sempet up. Itupun berasa belum maksimal, belum dapet feel di sini. Maafkan 🙏😢😭😭


See you,

__ADS_1


Hanazawa Easzy


__ADS_2