
WARNING 18+!!
Bacaan di bawah ini mengandung konten 18+. Untuk para pembaca di bawah usia 18 tahun, mohon untuk tidak membacanya. 🙏
Cerita ini hanya fiktif belaka. Dilarang meniru adegan di bawah ini! Bijaklah dalam memilih bacaan. Author sudah mengingatkan.
Terima kasih.
...****************...
Kaori menangis di atap rumah sakit. Ia mengingat luka masa lalunya tiga tahun yang lalu. Tiba-tiba Shun datang dan mendekapnya dari belakang. Bukannya menghibur dengan kata-kata manis atau menenangkannya, pria itu justru mengucapkan kata-kata yang membuat Kaori merasa sebal.
"Menyebalkan seperti ini juga kamu suka 'kan?" tanya Shun sombong, membanggakan dirinya sendiri. Memang begitulah pembawaannya.
"HAH?" Kaori melongo, heran dengan pertanyaan yang terucap dari mulut pria yang satu tahun lebih muda darinya ini. Ia menatap Shun yang tengah memamerkan senyum di wajah tampannya.
"Aku tahu kamu terpesona padaku. Tidak perlu menunjukkannya dengan jelas seperti itu." Shun masih berusaha menghilangkan kesedihan Kaori dengan caranya sendiri.
Krik krik krik
Kaori mematung di tempatnya berdiri. Ia memutar bola matanya, merasa jengah dengan over confidence yang dimiliki oleh pria ini.
*over confidence : percaya diri berlebihan
"Apa kamu gila?" ketus Kaori. Ia memilih pergi dari tempat ini, menghindar dari pria aneh yang tiba-tiba ada di depannya.
Srett
Shun menarik pinggang Kaori yang baru melangkah, mengikis jarak di antara mereka. Ia menahan tubuh gadis itu dengan erat, tak membiarkannya pergi sejengkal pun dari jangkauannya.
"Benar aku gila. Aku tergila-gila padamu, Yamada Kaori-chan," ucap Shun dengan mata berkilat penuh cinta. Sebuah senyum terukir di wajah putihnya, kulit khas orang-orang asia timur yang memiliki empat musim.
Kaori berusaha melepaskan diri. Ia enggan berdiri di dekat pria ini. Entah kenapa jantungnya berdegup kencang saat Shun ada di dekatnya. Apalagi pandangan pria ini yang seolah ingin melahapnya sekarang juga. Ia merasa seperti seekor kelinci yang terjebak di depan serigala kelaparan, siap santap. Dan tentunya ia tidak ingin hal itu terjadi.
"Apa kamu takut padaku? Pria yang kamu sebut gila ini?" tanya Shun penuh arti.
Glek
Kaori menelan salivanya dengan paksa. Tenggorokannya terasa kering, ia bahkan tak bisa berkata-kata sama sekali saat pria ini mendominasinya.
"Aku akan menunjukkan seberapa gilanya seorang pria saat mencintai wanitanya." Shun menggendong Kaori di atas pundak, membawanya turun dari atap yang kini mulai gelap.
BUGH
BUGH
"Apa yang kamu lakukan? Turunkan aku!" Kaori memukul-mukul punggung Shun, berharap pria ini menurunkannya.
"Diamlah dan nikmati pertunjukkannya!"
__ADS_1
Shun tak menggubris protes Kaori. Ia bahkan semakin bersemangat membawa tubuh wanita ini memasuki ruang pribadinya di lantai empat. Itu adalah lantai khusus dimana ada kamar berderet layaknya hotel bintang tiga sebagai tempat istirahat para dokter dan beberapa staf penting rumah sakit ini. Pekerjaan mereka yang begitu padat membuat pihak rumah sakit menyediakan tempat ini.
BRUKK
Shun menghempaskan tubuh Kaori ke atas ranjang single size yang ada di depannya. Ia melangkah kembali ke arah pintu, menguncinya dan membuang benda logam itu ke luar jendela. Membuat mereka berdua terperangkap di ruangan ini.
"Apa yang kamu lakukan?" Kaori beranjak bangun dan menatap ke luar jendela. Matanya menatap halaman belakang rumah sakit yang luas. Kunci yang Shun lemparkan terlihat di bawah sana, sangat jauh dari jangkauannya.
"Kamu benar-benar gila!" geram Kaori. Ia menatap Shun yang berdiri di belakang pintu dengan tangan bersedekap. Dokter cantik ini benar-benar marah dengan sikap sewenang-wenang yang lagi-lagi pria ini lakukan. Ia berusaha mencari ponsel di saku bajunya, sayang sekali benda itu tak ada di mana pun. Matanya tertuju pada telepon yang ada di meja.
Srakk
Shun berjongkok, menarik kabel yang ada di depannya, membuat benda itu terputus seketika. Tak ada alat komunikasi lagi yang bisa calon istrinya gunakan. Hal itu tentu saja membuat Kaori berang. Wajahnya semakin merah, menahan gemuruh emosi yang kini menguasainya.
Dokter wanita itu melangkah cepat menuju salah satu sisi ruangan ini, bersiap menekan tombol merah tanda kebakaran yang terpasang di dinding.
"Berapa ratus pasien yang harus keluar dari rumah sakit ini jika alarm kebakaran berbunyi? Aliran listrik yang terputus mungkin bisa membunuh pasien yang sedang menjalani operasi," cetus Shun penuh percaya diri. Ia yakin ucapannya akan menghentikan niatan Kaori menekan tombol merah itu.
Deg!
Langkah Kaori terhenti. Ia terhenyak di tempatnya berdiri. Hampir saja ia kehilangan logikanya dengan membuat alarm kebakaran menyala. Semua yang Shun katakan benar adanya. Akan ada kepanikan yang luar biasa jika alarm tanda bahaya ini berbunyi.
Kaori menutup matanya, mencoba mengembalikan akal sehatnya perlahan-lahan. Ia harus bisa berpikir jernih untuk menghadapi pria gila ini.
"Apa yang kamu inginkan?" tanya Kaori pada akhirnya, setelah berhasil menguasai diri. Ia tahu Shun membuatnya marah seperti ini karena memiliki maksud dan tujuan tertentu.
Kaori menutup matanya dengan tangan, tak habis pikir apa yang pria di belakangnya ini inginkan. Dia benar-benar tak mengerti jalan pikirannya.
"Aku menginginkanmu," bisiknya tepat di telinga Kaori, membuat bulu romanya meremang seketika. Entah sejak kapan Shun mulai bergerak, Kaori sama sekali tidak mendengar langkah kakinya yang mendekat.
Tangan kekarnya kembali merengkuh tubuh ramping di depannya dalam pelukan, membuat dada bidangnya menempel pada punggung Kaori yang menegang.
"Kenapa kamu seperti ini? Kamu takut?" tanya Shun dengan tangan yang mulai aktif bergerak mengelus perut rata Kaori. Shun merasakan tubuh wanitanya yang kaku seketika, pasti terkejut dengan perlakuannya ini.
"Kamu sudah lama mengenalku. Aku tidak mengizinkan siapapun merebut milikku. Apapun yang ada di hadapanku, tak boleh disentuh oleh orang lain," bisiknya seduktif.
"Shun, jangan seperti ini." Kaori menahan jemari yang berusaha masuk ke dalam pakaian yang ia kenakan. Napasnya mulai tak beraturan, seirama detak jantungnya yang berdetak semakin cepat.
"Bagaimana kalau ini?"
Cup
Shun menyingkirkan helai rambut di depannya dan mencium bagian belakang daun telinga Kaori, menghirup parfum yang wanita ini oleskan disana beberapa jam yang lalu.
Mata Kaori membola seketika. Ia merasakan geleyar aneh di tubuhnya saat Shun mencium titik sensitifnya itu. Ia sungguh tak bisa menahan serangan yang tiba-tiba ia rasakan, membuat kakinya lemas seketika. Ciuman itu terus berlanjut, mulai turun menuju lehernya.
"Ya... yamete!" ucap Kaori dengan terbata-bata. Ia berusaha menguasai libidonya yang melonjak pesat atas perlakuan Shun. Tangannya berusaha menjauhkan kepala Shun dari lehernya. Ia tak boleh membiarkan pria ini menyerang titik-titik sensitifnya yang lain.
(Hen... hentikan!)
__ADS_1
"Kenapa aku harus berhenti? Kamu juga menginginkanku 'kan?" bisik Shun. Ia meraih jemari Kaori dan menjilati ujungnya satu per satu.
Blush
Wajah putih itu memerah seutuhnya. Ia merasakan tubuhnya melemah saat itu juga. Perlakuan Shun yang begitu intensif membuatnya tak bisa lagi berdiri dan hampir melangsai di lantai. Untung saja pria ini masih memeluk pinggangnya.
Sebulir air mata jatuh begitu saja, menetes tepat di punggung tangan Shun yang tengah membelai wajahnya dari belakang.
Deg!
Kali ini tubuh Shun yang menegang seketika. Ia terkejut mendapati calon istrinya menangis dalam diam atas perlakuannya.
"Gomenasai, Kaori-chan," ucap Shun merasa bersalah. Ia menggendong tubuh wanita kesayangannya itu detik berikutnya.
(Maafkan aku)
Shun membaringkan Kaori di atas ranjang dengan hati-hati. Ia duduk di sampingnya, mengelus pipinya dengan lembut.
"Maaf membuatmu ketakutan seperti ini." Shun menatap manik mata kecoklatan di depannya dalam-dalam, menyampaikan kesungguhan ucapannya ini.
Kaori menggeleng. "Bantu aku melupakannya," ucapnya lirih.
"Hmm?" gumam Shun, heran dengan permintaan wanitanya.
"Hapus semua jejak Yuki dari tubuhku," pintanya mengiba. Sebutir air tak berwarna kembali jatuh dari ujung matanya.
Deg!
Detak jantung Shun berhenti satu waktu. Ia terkejut dengan permohonan yang Kaori ucapkan. Ia sudah menyerah saat Kaori menitikkan air matanya barusan. Tapi kenapa wanita ini justru meminta sebaliknya?
"Apa kamu yakin?" tanya Shun dengan suara tercekat di tenggorokan.
Kaori mengangguk mantap. Ia sangat yakin dengan permintaannya ini. Ia sungguh-sungguh ingin melupakan mantan suaminya dengan segala kenangan buruk yang menghantuinya. Sudah saatnya ia melangkah ke depan, menutup lembaran kelamnya di masa lalu dan membuka hari yang baru bersama Shun. Ia siap melanjutkan hidupnya.
Shun mendekat ke arah Kaori, bersiap menuruti permintaan calon istrinya.
"Kaori-chan, aishiteru," bisiknya sebelum mencium wanita yang telah berhasil meruntuhkan hatinya itu.
(Aku mencintaimu)
...****************...
Ugh, baper author tuh 😥😢😢
Dilarang meniru apa yang dilakukan Shun dan Kaori yaa. Itu cuma fiktif belaka. Bukan untuk ditiru sama sekali. Kita punya norma agama, tidak diizinkan sama sekali sebelum sah jadi suami istri. Sstt... Dosa! 😇
See you,
Hanazawa Easzy
__ADS_1