
Ken dan Aira duduk di taman belakang sambil menunggui ketiga anaknya berjemur di bawah sinar matahari. Waktu berjemur yang paling baik adalah mulai pukul 7 hingga 9 pagi. Lebih dari waktu itu, justru akan membahayakan kesehatan bayi.
Setidaknya Aira akan ada di sana selama 15 menit kedepan. Sinar matahari pagi dipercaya akan membawa dampak yang baik untuk merangsang pertumbuhan bayi. Para perawat di rumah sakit juga rutin menjemur bayi kembar tiga ini, dua hari setelah mereka dilahirkan. Aira yang saat itu masih terbaring di ranjang perawatan, hanya bisa melihatnya melalui jendela kaca yang transparan.
Salah satu manfaat dari menjemur bayi di bawah sinar matahari adalah mencegah kulit kuning. Bayi yang baru lahir berisiko mengalami penyakit kuning, karena kadar bilirubin mulai naik pada hari ke 3 sampai hari ke 5 dan menurun pada saat bayi berusia 7 sampai 10 hari. Penyakit kuning juga dapat terjadi akibat fungsi hati yang tidak terkontrol.
Dengan menjemur bayi, sinar matahari pagi dapat membantu memecah bilirubin dalam darah bayi, sehingga kadarnya menurun dan kembali normal. Selain itu, cahaya pagi juga mengandung spektrum cahaya biru yang dapat mengurangi kadar bilirubin yang berlebihan di dalam tubuh.
Kandungan vitamin D yang terkandung dalam sinar matahari dapat membantu kalsium mudah diserap dalam darah sehingga vitamin tersebut akan menyatu dengan tulang.
Sinar matahari dapat merangsang tubuh untuk meningkatkan produksi zat serotonin yang dapat mengirimkan sinyal antar sel-sel saraf dan mengatur emosi hingga keterampilan motorik. Serotonin disebut juga 'hormon bahagia' karena dapat meningkatkan perasaan bahagia dan aman. Selain itu, bayi juga akan mengalami tidur yang lebih nyenyak dan pencernaan yang lebih baik, serta menjauhkan dari Seasonal Affective Disorder.
"Ai-chan," panggil Ken lirih. Ia menatap wajah istrinya dari samping sebelum wanita itu menoleh menghadapnya.
"Hmm?" Aira menunggu kalimat berikutnya yang akan diucapkan oleh suaminya.
"Terima kasih." Ken meraih pinggang istrinya, membuat mereka tak lagi berjarak. Tubuh mereka saling menempel di bawah pohon sakura yang mulai merontokkan bunganya.
"Untuk?" tanya Aira dengan kening berkerut, tak mengerti untuk apa suaminya berterima kasih. Ia merasa tidak melakukan apapun, hanya membawa ketiga anaknya berjemur, tak ada yang lainnya. Bahkan Aira belum sempat menyiapkan sarapan untuk ayah dari anak-anaknya ini.
"Semuanya."
"Eh?" Kerutan di kening Aira semakin dalam.
Ken tersenyum lebar, menampakkan gigi-giginya yang rapi. Salah satu perbedaan Ken dan adiknya, Yamaken, adalah susunan giginya. Semua orang yang mengenal Yamaken, mengetahui bahwa aktor itu memiliki gigi gingsul yang menggemaskan. Namun Ken tidak. Semua giginya rata, normal.
Gigi gingsul adalah sebutan bagi gigi taring yang tidak menempati posisi yang benar. Penyebab gigi gingsul adalah kurangnya ruang akibat lengkung rahang yang terlalu sempit.
Aira diam, tidak tahu bagaimana harus merespon pernyataan. suaminya ini. Ia memilih kembali menatap lurus ke depan, tak ingin memikirkan kalimat suaminya barusan.
"Ai-chan." Ken kembali memanggil istrinya.
"Apa lagi?" Aira membenahi sarung tangan putranya yang terlepas.
"Terima kasih."
"Kamu sudah mengatakannya tadi. Tidak perlu berterima kasih. Aku tidak melakukan apapun untukmu." Aira menatap tepat di manik mata hitam suaminya.
"Terima kasih sudah mau bertahan di sisiku. Terima kasih karena mencintaiku. Terima kasih karena membawa mereka bertiga ke dunia ini. Terima kasih untuk semuanya."
Deg
__ADS_1
Aira tertegun. Dadanya merasa sesak mendengar pernyataan suaminya. Ini pertama kalinya Ken mengungkapkannya. Berbagai memori sejak pertemuan pertama mereka kembali berkelebat. Aira tidak pernah bisa melupakan apa yang sudah terjadi. Bahkan, meski puluhan tahun berlalu pun, ia akan tetap mengingat luka dan air mata yang akibat perbuatan Ken.
Sebulir air mata keluar membasahi pipi tembamnya, namun segera Aira hapus. Semua kesedihan yang melintasi kepalanya, segera tertutup oleh kehangatan sikap Ken padanya. Ken yang sekarang berbeda dengan sosoknya yang dulu. Bahkan mungkin bisa dikatakan bahwa sikapnya berubah drastis 180°.
"Kenapa menangis? Apa aku membuatmu sedih?" tanya Ken, menangkup wajah istrinya.
"Tidak apa-apa. Mataku hanya terkena debu." Aira berkilah. Ia tidak ingin membuat romansa yang Ken ciptakan hancur begitu saja.
Kali ini Ken yang tersenyum. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri saat sebulir air tanpa warna itu keluar dari ujung mata istrinya. Bagaimana mungkin itu karena tiupan angin berdebu?
"Tetaplah di sisiku. Apapun yang terjadi, jangan pernah meninggalkanku." Ken menempelkan keningnya pada kening Aira, menyalurkan perasaannya yang penuh cinta.
Aira mengangguk. Ia tersenyum, menyanggupi permintaan suaminya.
"Ah, omong-omong, kamu belum memberikan hadiah anniversary untukku." Ken meraih dagu istrinya, bersiap mengecup bibir tipis di depannya ini.
"Ugh, sepertinya aku datang di waktu yang salah." Suara seorang wanita menginterupsi keromantisan Ken dan Aira, membuat keduanya segera menjauhkan diri satu sama lain. Aira pura-pura sibuk dengan bayinya dan Ken segera menatap ke arah lain sambil memegang tengkuknya.
"Ibu juga pernah muda, jadi ibu tahu rasanya orang jatuh cinta." Nyonya Sumari menyindir anak dan menantunya yang kini terdiam dengan wajah memerah karena malu.
"Kenapa ibu tiba-tiba datang?" tanya Ken basa basi.
Sebuah tepukan mendarat di sisi kiri tempurung kepala Kenzo. Nyonya Sumari menepuk kepala putra sulungnya dengan kesal.
"Aku ini ibumu. Mereka cucu-cucuku. Kenapa aku tidak boleh datang menjenguk mereka? Dasar anak tidak tahu diri!" Nyonya Sumari memaki Ken, membuat Ken menundukkan kepala. Ia tidak bisa berkutik saat berhadapan dengan ibunya.
Namun kemarahan nyonya Sumari justru mendapat respon yang tak terduga. Ketiga cucunya tersenyum bersama-sama, seolah menertawakan ayah mereka yang tengah ditindas oleh Sang Nenek. Baby triplet ini sungguh cucu yang menggemaskan.
"Mwaa... cucu-cucuku manis sekali," puji wanita yang memakai dress dibawah lutut. Ia mengambil Azami dari dalam box dan menimang-nimangnya dengan gemas.
"Apa ASImu masih cukup?" tanya nyonya Sumari pada Aira.
"Masih, Bu."
"Syukurlah. Ibu sempat khawatir karena badanmu begitu kurus tapi harus menyusui tiga orang anak sekaligus. Apalagi ada dua jagoan di sini, mungkin si cantik ini akan kekurangan asupan," canda wanita 52 tahun itu sambil mengembalikan Azami ke dalam box. Azami tertawa lebar sedangkan Aya tengah sibuk menghisap ibu jarinya.
"Lihat Aya. Dia memainkan jarinya, itu artinya dia tumbuh dengan baik. Umumnya, pada usia 7 minggu, bayi mulai tertarik pada benda-benda berwarna cerah dan mainan yang bisa berbunyi. Mata mereka mulai dapat mengikuti pergerakan obyek ke sana-kemari. Kamu bisa menstimulasi mereka dengan menggerakkan mainan di depan matanya." Nyonya Sumari sibuk menggerak-gerakkan jemarinya di depan ketiga cucunya, membuat Aya dan Azami tertawa. Akari tampak tenang di tempatnya. Ia membuka dan menutup genggaman tangannya, bermain dengan imajinasinya sendiri.
Azami seolah berusaha meraih jari neneknya, membuat nyonya Sumari semakin semringah.
"Lihatlah! Dia ingin meraih jariku!"
__ADS_1
Aira ikut merasa takjub. Ia baru menyadarinya.
"Aira, kamu harus banyak belajar. Pada usia 8 minggu, leher anak-anakmu semakin kuat. Mereka dapat menegakkan kepala sampai 45 derajat dengan topangan tangan dan bergerak menyerupai orang push-up saat dibaringkan tengkurap. Pada akhir 2 bulan, mereka mulai berusaha meraih benda di hadapannya saat ingin diperhatikan. Seperti ini." Nyonya Sumari sengaja memainkan jemarinya di depan wajah Azami, membuat bayi itu bergerak tak beraturan tapi tetap terlihat menggemaskan.
"Kamu pasti tidak tahu bahwa anak-anakmu mulai berkomunikasi sejak usianya lima minggu," cetus nyonya yang paling disegani di kediaman kakek Yamazaki ini.
"Lima minggu, Bu?" tanya Aira sangsi.
"Iya, lima minggu. Pada usia lima minggu, bayi dapat mengenali suara dan makin dapat mendengar bunyi-bunyi di sekitarnya. Ia juga mulai membuat suara-suara bayi dan ekspresi wajahnya mulai dapat berubah-ubah sesuai yang dirasakan, misalnya menaikkan alis mata, melotot, atau meniup. Hal ini dilakukan bayi untuk memberi tahu jika ada sesuatu yang tidak nyaman, seperti popok yang basah, merasa lapar, atau merasa lelah."
Aira terkejut. Ini ilmu baru baginya. Saat di kelas parenting dulu, ia tidak mendengar penjelasan sedetail ini. Ia harus mengagumi ibu mertuanya ini. Beliau memiliki jam terbang yang tinggi sebagai seorang ibu dari tiga orang anak.
"Kamu bisa membacakan cerita atau memijat mereka dengan lembut. Itu menjadi aktivitas pengantar tidur yang membuat bayi rileks. Mereka memiliki banyak perkembangan yang akan bisa kamu lihat dan rasakan. Saat memasuki usia tiga bulan, umumnya bayi sudah dapat meraih apa pun di dekatnya yang menarik perhatian. Selain itu dia sudah memiliki kemampuan menggulingkan badannya saat sedang berbaring. Di satu sisi hal ini menyenangkan, tapi kamu tidak boleh lengah. Hal itu dapat membahayakan jika tidak didampingi," tutur nyonya Sumari menasehati menantunya.
"Terima kasih, Bu. Aku benar-benar tidak menyadarinya jika ibu tidak mengatakannya."
Nyonya Sumari tersenyum. Ia mengelus kepala menantunya dengan sayang. Wanita paruh baya itu kembali menciumi pipi tembam cucunya dengan gemas. Ia tak bisa menahan diri dan mengayun-ayunkan tubuh Azami di udara. Nampaknya Si Bungsu akan menjadi cucu kesayangannya.
"Hati-hati, Bu." Aira mengingatkan ibu mertuanya.
"Kamulah yang harus berhati-hati! Suamimu itu licik, jangan sampai kamu termakan rayuannya!"
"Eh?" Aira terkejut dengan pernyataan ibunya.
"Dia sudah membodohimu berkali-kali tapi kamu tidak menyadarinya."
"Membodohiku?" tanya Aira heran. Ia semakin tak mengerti dengan perkataan ibu mertuanya.
"Aku akan mengatakan semuanya. Kamu berhak marah dan menghukumnya setelah itu."
Glek
Ken yang sedari tadi terdiam, hanya bisa menelan salivanya dengan paksa. Mungkinkah ibu akan membongkar kebohongannya selama ini pada Aira? Apa yang akan terjadi padanya nanti?
...****************...
Hayoh lhoo... Si abang boongin apa yaa sama bininya. Ada yang penasaran? Ugh, Author juga penasaran loh 😋😋
Jaa mata ne,
Hanazawa Easzy
__ADS_1